[Chaptered] Stay With Me Tonight (Chapter 1)

STAY WITH ME TONIGHT

{ a fanfiction by Atatakai-chan }
poster by 
Atatakai-chan

|| AURomance — Chaptered — ||

.

starring
SHINee Jonghyun as Kim Jonghyun
TVXQ Max as Shim Changmin
Original Character (OC) Jung Hyesoo



– Chapter 1 –



 

“Hyesoo! Jung Hyesoo!”

Mendengar namanya dipanggil, sang empunya nama bukannya menghentikan langkah melainkan mempercepatnya. Sambil sesekali menoleh ke belakang ia terus berjalan menembus keramaian di bandar udara internasional Jeju.

“Jung Hyesoo, berhenti kataku!” Kembali suara yang sama ditangkap oleh indra pendengar Hyesoo.

Gadis itu semakin mempercepat langkahnya, kali ini ia sama sekali tak menoleh ke belakang. Tangan kecilnya menggenggam erat gagang koper seolah melampiaskan emosinya pada benda mati berwarna hitam pekat itu.

“JUNG HYESOO!”

Langkah Hyesoo tak cukup cepat sehingga sang lelaki yang semula tertinggal jauh di belakangnya kini berada hanya beberapa langkah di belakangnya. Baru Hyesoo hendak berlari namun usahanya itu terlambat karena kini pergelangan tangannya tengah dipegang erat oleh sang pengejar –genggamannya sangat kuat menyebabkan sedikit saja Hyesoo menggerakan tangan ia akan merasa kesakitan.

“Lepaskan—“ tak menyerah pada rasa sakit di pergelangan tangannya, kini Hyeso tengah mengibaskan lengannya, mencoba membuat genggaman sang lelaki terlepas dari pergelangan tangannya.

“Aku bilang lepaskan aku, Kim Jonghyun!”

Jonghyun mengerenyitkan keningnya, dahinya berkerut, “tidak. Tidak akan aku lepaskan sampai kau berhenti mencoba untuk pergi sebelum mendengarkan penjelasan dariku!” ia menyentak lebih keras kali ini.

Kim Jonghyun dan Jung Hyesoo adalah sepasang pasangan yang sudah menjalin hubungan asmara semenjak keduanya masih menuntut ilmu di universitas. Perbedaan status tak menghentikkan keduanya untuk melanjutkan hubungan ke tingkat pertunangan. Jung Hyesoo adalah anak bungsu keluarga Jung. Gadis yang saat ini masih tinggal bersama dengan kakaknya, Jung Yunho, baru saja lulus dari universitas dan bekerja paruh waktu sebagai seorang shop assistant. Di sisi lain, Anak tunggal keluarga Kim, Jonghyun, adalah seorang model sekaligus aktor yang tengah naik daun selama satu tahun terakhir. Dan semenjak itu juga lah hubungan keduanya seakan menjadi sangat rumit dari sudut pandang siapapun yang melihat.

Hyesoo kembali mengibaskan lengannya dan Jonghyun menyerah –namun tak sepenuhnya. Lelaki bermata cokelat itu memperlonggar genggamannya pada pergelangan tangan sang tunangan yang tampak sudah jauh lebih tenang dibandingkan beberapa saat lalu.

Dada keduanya sama-sama turun naik, menandakan keduanya tengah menahan emosi yang mungkin meluap di sembarang waktu.

“….”

“….”

Keduanya saling bertukar pandang dalam diam hingga helaan napas Jonghyun memecah keheningan.

“Ayo kita berbincang sambil makan di cafe di depan. Kau pasti lapar. Kau belum makan apapun pagi ini ‘kan?” Jonghyun secara perlahan-lahan mulai melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Hyesoo.

Warna merah tipis terlihat menghiasi pergelangan tangan Hyesoo membuat Jonghyun kembali menghela napas. Tak dapat dipungkiri lagi, lelaki dengan tinggi sekitar 177cm itu tidak menyukai apa yang dilihatnya –rasa bersalah kini ikut membebaninya di pagi hari setelah rasa lelah akibat mengejar-ngejar sang tunangan.

Jonghyun mengambil alih koper Hyesoo yang sudah tak lagi dikuasai oleh sang empunya. Ditariknya gagang koper mendekati kakinya, “kkaja? Aku juga lapar. Aku belum sempat menyelesaikan sarapanku.”

Rasa tidak enak hati mulai tumbuh pada Hyesoo. Gadis berambut hitam itu merasa tidak enak karena telah membuat lelaki ketiga yang disayanginya setelah sang kakak dan sang ayah tidak dapat menyelesaikan sarapan. Ia tahu betul betapa Jonghyun adalah seorang lelaki karir yang sibuk, kalau saja hari ini bukan jadwal libur, bisa saja lelaki yang tengah memegangi gagang kopernya itu tidak akan dapat kembali melanjutkan sarapan karena jadwal padat yang sudah menanti.

Ne. Kkaja.” Pada akhirnya Hyesoo merespon ajakan dari Jonghyun, dan lelaki itu memberikannya sebuah senyum yang membuatnya sanggup bersedia melupakan kejadian pagi tadi untuk sejenak.

 

Sementara itu di jantung kota Seoul…

Hiruk pikuk kendaraan sudah mulai memenuhi jalanan. Ketepatan waktu adalah sebuah peraturan yang wajib diikuti oleh pekerja manapun, tak terkecuali para pekerja di kota Seoul. Di antara mobil-mobil yang melaju pesat di jalan raya, sebuah mobil SUV terlihat mengambil jalur kiri dan melaju lebih lambat dibandingkan mobil-mobil lainnya.

“Baiklah, baiklah…”

“Iya, baik. Saya akan mencoba menyelesaikannya secepat mungkin, pak editor.”

“Baik. Saya mengerti. Sekarang kalau boleh, izinkan saya kembali mengemudi. Saya akan menelepon Anda kembali setelah saya tiba di rumah. Selamat pagi. Semoga hari Anda menyenangkan!”

Shim Changmin menghela napas setelah memutuskan telepon dari editornya. Lelaki yang berprofesi sebagai penulis novel sekaligus penulis naskah itu melempar ponsel miliknya ke jok belakang mobil, tak peduli apakah benda tersebut mendarat tepat di atas jok atau tidak.

Setelah menerima klakson yang kesekian kalinya dari mobil-mobil lain, ia memutuskan untuk menginjak pedal gas dan membiarkan mobilnya melaju melintasi jalanan dengan kecepatan yang hampir mencapai batas maksimal toleransi peraturan kecepatan yang telah ditetapkan.

.

.

.

Changmin memarkirkan kendaraan roda empat miliknya di pekarangan rumahnya, terlalu malas untuk memasukannya ke dalam garasi. Lelaki bertubuh jangkung itu bergegas masuk ke dalam rumah, cuaca dingin bukanlah kawannya.

Di dalam kediamannya yang baru saja ia tempati beberapa hari lalu, perabotan-perabotan masih tampak berantakan. Meskipun kenyataan tersebut terpapar di depan matanya, Changmin memutuskan untuk melangkah menuju ke kamarnya yang terletak di ujung bangunan. Bukannya tak peduli, hanya saja lelaki berambut cokelat gelap itu memiliki prioritas –yaitu naskahnya yang sudah ditagih semenjak dua hari lalu oleh pihak editor.

Bagi beberapa orang, keseharian anak bungsu keluarga Shim itu pastilah nampak membosankan karena yang ia lakukan sehari-harinya hanyalah menatap layar laptop dan mengetik-ketik naskah. Kegiatan di luar menulis naskah dan kelanjutan novel juga memang dilakukannya, seperti makan, mandi, dan tidur. Hanya saja, berduaan dengan laptop adalah kegiatan yang paling mendominasi kesehariannya.

Jemari Changmin dengan lincah menari di atas keyboard laptop. Jalan-jalan pagi baik dengan kaki maupun kendaraan selalu berhasil membuatnya memiliki ide-ide baru yang segar di benaknya. Pada kenyataannya ada dua kegiatan yang dapat membantunya untuk menjernihkan pikiran, yaitu dengan berjalan-jalan dan menghabiskan quality time bersama dengan orang-orang terdekatnya –namun pilihan kedua bersifat opsional, dalam artian tidak akan ia lakukan kalau ia tengah dikejar oleh deadline karena dengan menghabiskan quality time bersama dengan orang-orang akan membuatnya lelah dan berujung pada penundaan pengetikan naskah.

TING TONG!

Changmin mengatupkan rapat-rapat mulutnya dan tangannya nampak mengetik dengan kaku –sebuah tanda yang dengan jelas menandakan bahwa siapapun yang menekan bel akan harus menunggu beberapa saat untuk dibukakan pintu. Ia tengah berfokus pada pekerjaannya, ia tidak akan membiarkan siapapun yang berada di luar pintu rumahnya mengganggu proses pemindahan ide di benaknya ke dalam naskah yang tengah dikerjakannya.

TING TONG!

Kembali bunyi bel terdengar dan Changmin semakin cepat mengetik naskahnya.

“SHIM CHANGMIN AKU TAHU KAU DI DALAM! BUKA PINTUNYA SEKARANG ATAU PINTU RUMAH BARUMU AKAN KUDOBRAK!”

Dengan amat jelas terdengar teriakan yang berasal dari sang penekan bel tepat sesaat setelah Changmin selesai menuangkan ide yang ada di benaknya untuk saat ini.

Changmin menghela napas lega seraya memejamkan kedua matanya yang terasa lelah. Dipijat-pijatnya batang hidung bagian atasnya untuk mengurangi rasa pegal pada matanya.

“HEY! SHIM CHANGMIN!”

Teriakkan yang terdengar jelas berasal dari luar pintu membuat Changmin tertawa kecil. Ia tahu betul siapa yang berada di luar sana dan membuatnya semakin tidak ingin membukakan pintu –untuk menjahili sang pengunjung.

 

-oOOo-

 

Alunan musik klasik di cafe makin mengentalkan suasana pagi hari. Ditemani dengan dua cangkir kopi dan dua piring roti panggang, Jonghyun dan Hyesoo duduk saling berhadapan di tempat duduk yang terletak persis di samping kaca jendela.

Dalam diam keduanya menyantap sarapan pagi. Tak dibutuhkan waktu yang lama bagi keduanya untuk menyelesaikan sarapan –Jonghyun selesai terlebih dulu.

Jonghyun bersandar pada sandaran kursi, kedua tangannya ia letakkan di atas meja, tepat di samping kanan dan kiri piring bekas roti panggang pesanannya. Arah pandangannya tertuju kepada Hyesoo yang menunduk –menghindari tatapan Jonghyun.

“…. Hyesoo-ah, setiap kali kau menghindari tatapanku, aku selalu berpikir apakah hubungan kita akan berakhir begitu saja. Namun, setiap kali kau menghindari tatapanku, pada akhirnya kau akan kembali membalas tatapanku dan itu adalah sebuah tanda bagiku untuk menjadi Kim Jonghyun yang lebih baik lagi karena aku tahu aku tidak berjuang sendiri mempertahankan hubungan ini,” kedua tangan Jonghyun bergerak menjauhi piring, semakin mendekat pada kedua tangan Hyesoo yang juga berada di atas meja.

“… Aku mohon. Tataplah aku. Tatap ke dalam kedua mataku. Kau dapat melihat seberapa besar aku—”

“Aku juga menyayangimu, oppa.” Hyesoo memotong ucapan Jonghyun, kedua matanya menatap Jonghyun.

“Maka dari itu aku—maka dari itu aku merasa sangat kecewa padamu.”

Jonghyun hanya diam, kedua tangannya menggenggam erat tangan Hyesoo. Tatapan matanya mengisyaratkan Hyesoo untuk terus melanjutkan apapun yang hendak dikatakan.

Tanpa keraguan sedikitpun Hyesoo melanjutkan, “aku sangat kecewa karena kaulah yang mengundangku untuk menghabiskan hari Sabtu ini bersama denganmu di Jeju ketika kau sedang mendapatkan waktu libur. Aku begitu bersemangat hingga aku langsung membeli tiket dan terbang kemari dini hari. Tetapi sesampainya di sini kau sama sekali tidak menjemputku dan—” Hyesoo berhenti. Ragu haruskah ia membawa kembali topik ini.

“Aku saat itu hendak berangkat ke bandara dan menunggumu di sana, aku tidak bohong.”

Kini Hyesoo yang diam. Ia mengigiti bibir bagian bawahnya namun kedua matanya memberikan sinyal pada Jonghyun untuk terus melanjutkan.

“… Namun kebetulan ketika keluar dari hotel aku berpapasan dengannya. Kau juga tahu ‘kan ia tengah dilanda sebuah skandal besar? Ia memohon padaku untuk mendengarkan ceritanya agar ia merasa lebih baik. Sebelum kau berangkat ke sini kau ‘kan bilang padaku kau akan meneleponku begitu tiba. Maka dari itu, karena saat itu aku belum juga menerima panggilan darimu, aku memutuskan untuk membantu seorang teman lama. Aku sama sekali tidak tahu baterai ponselmu habis.”

“….”

“Maafkan aku, ya?” Jonghyun mempererat genggamannya pada tangan Hyesoo dan menarik keduanya mendekati dadanya yang bidang.

“Maafkan aku juga soal pergelangan tanganmu. Aku benar-benar tak bermaksud menyakitimu… Aku—aku hanya tak ingin kejadian waktu itu terulang.” Kedua mata Jonghyun terpejam seraya ia membawa kedua tangan Hyesoo mendekati bibirnya.

Didaratkannya sebuah kecupan hangat pada punggung tangan kanan Hyesoo yang kini tengah dipeganginya dengan erat menggunakan kedua tangan.

“Kejadian waktu itu?” Hyesoo bertanya, dari nada bicaranya jelas sekali bahwa gadis itu tak tahu, atau lebih tepatnya tak mengingat, kejadian yang dimaksudkan oleh sang tunangan yang saat ini telah membuka kedua mata dan menatapnya.

“Kau lupa? Itu waktu acara kelulusanku. Kau marah padaku karena aku meninggalkanmu untuk berfoto bersama teman-temanku. Dan saat itu aku membiarkanmu pergi—aku benar-benar menyesali hal itu, bahkan sampai saat ini aku masih menyesal telah membiarkanmu pergi begitu saja. Pada malam harinya aku sama sekali tidak bisa tidur sekejap pun, kau tahu?”

Sebuah senyum mengembang di wajah Hyesoo membuat Jonghyun memberikannya tatapan heran. Memang sangat mengherankan, tak seharunya Hyesoo tersenyum apabila mengingat kejadian itu. Namun, penyebab senyumnya nampak bukanlah karena mengingat hal yang baru saja diceritakan oleh Jonghyun melainkan karena ia tahu betapa Jonghyun sangat mempedulikannya.

 

TBC.

 



author’s note:

Halo! Akhirnya tersampaikan juga untuk meremake fanfiksi yang sudah kugarap sejak lama ini!

Jujur aja, pada awalnya aku ragu apakah aku harus meremake atau tidak karena ughh.. mau dirombak sayang tapi kalau ga dirombak ceritanya mati.

Untuk kalian yang sudah pernah membaca fanfiksi buatanku ini sebelumnya, aku hanya ingin menyampaikan bahwa jalan cerita/alur secara garis besar sama sekali tidak diubah, yang diubah hanya event/kejadiannya saja.

Selamat membaca! ❤

Jangan lupa untuk berikan komentar kalian, ya ^^

With love,
Atatakai-chan

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s