[Oneshot] I Like Her

I LIKE HER

{ a fanfiction by Atatakai-chan }
poster by Atatakai-chan

|| AU, Surrealism — Oneshot — ||

.

starring
Toppdogg Xero as Xero
ESTeem model Joonyoung as Choi Joonyoung

.

Aku menyukainya. Bagiku yang tidak pernah melihat sesuatu yang indah, dirinya adalah definisi dari keindahan walaupun yang lain bilang bahwa keindahan lebih dari itu. Aku duduk di tepian sofa berwarna abu-abu sambil menatap ke arah gorden berwarna abu-abu yang menghalangi jendela. Rasanya membosankan sekali. Sudah dua hari aku tidak berjalan-jalan di luar karena hujan. Kapan hujan itu akan datang, aku tidak pernah tahu. Karena ketidaktahuanku itulah mungkin Yang Maha Kuasa mempertemukanku dengan dirinya yang hanya dengan menatap keluar jendela langsung dapat mengetahui apakah hujan akan turun atau tidak.

“Sepertinya sore ini hujan akan turun lagi ya,”

Aku menoleh kepadanya yang sudah duduk di sisi sofa satunya dengan sebuah cangkir berwarna hitam di genggaman tangannya.

“Rasanya ada yang berbeda darimu.” Aku berujar, merujuk pada rambut hitamnya yang kini panjangnya hanya sebahu.

Ia tersenyum padaku, menyebabkan kedua matanya membentuk lengkungan sempurna, “apakah kau menyukai rambut baruku?” Tanyanya seraya meletakan cangkir dalam genggamannya di atas meja.

Aku mengangguk. Tentu saja aku menyukai gaya rambutnya yang pendek itu. Menurutku ia terlihat jauh lebih segar dan jauh lebih muda dengan potongan rambut itu. Lagipula aku tidak tega. Pasti kepalanya terasa sakit setiap kali rambut panjangnya ia tarik dan ikat ke atas menyerupai ekor kuda.

“Ayo, kemari. Mendekatlah padaku. Kita nonton televisi saja.”

Tangan yang dilengkapi jemari lentik miliknya menepuk-nepuk ruang kosong yang berada di sampingnya, mengisyaratkan aku untuk mendekat selagi mulutnya berucap hal yang sama. Tanpa keraguan setitik pun aku mendekat padanya, membiarkan kepalaku merebah di atas pahanya yang terbalut celana kesayangannya yang berhiaskan motif bunga-bunga.

Celana itu mengingatkanku pada kejadian beberapa saat lalu, awal pertemuanku dengannya. Ketika itu hujan turun deras dan diriku yang tidak tahu harus kemana memutuskan untuk berteduh di bawah sebuah pohon. Aku tidak sadar bahwa pohon itu berada di dalam pekarangan rumah seseorang sampai aku melihatnya berlari mendekatiku. Awalnya aku takut ia akan mengusirku tetapi ternyata tampang panik muncul di wajahnya karena melihat pakaiannya yang sedang dijemur kebsahan. Aku merasa tidak enak hanya berdiam saja di sana memperhatikan sementara dirinya diguyur air hujan dan mengangkat jemuran sehingga, aku berinisiatif membantunya. Seumur hidup tidak akan kulupakan wajah berserinya ketika  ia mengutarakan rasa terima kasihnya padaku. Dan aku juga ingat bahwa aku tidak pernah tersenyum selebar itu sebelumnya —menjadi berguna memang rasanya menyenangkan— karena selama ini aku merasa seperti ditolak oleh kehidupan. Aku tidak tahu siapa ayahku. Dan ibuku? Ia meninggalkanku begitu aku lahir, begitulah kata paman yang merawatku sampai sebesar ini.

“Hey, apa kau lapar? Mau makan sesuatu?” Suaranya yang lebih besar dari volume televisi menyadarkanku dan membawaku kembali pada saat ini.

Aku menoleh dan mendapati dirinya masih menatap layar televisi. Aku tidak mengerti apa bagusnya siaran yang ditayangkan karena menurutku semua siaran itu sama saja dengan apa yang kulihat dalam keseharian.

“Kau harus lebih sering menghabiskan waktu denganku.” Gumamku sambil menatap lantai.

“Hm?” Ia menolehkan wajahnya menatapku, kedua mata indahnya mengerjap-ngerjap seperti bintang di langit malam. “Jadi kau lapar?”

Aku mendesah, “bukan itu yang tadi kukatakan,” tapi aku tidak bisa menyalahkannya kalau ia tidak mendengar gumamanku yang tidak jelas itu.

“Baiklah, aku lapar. Aku mau makan sesuatu.” Aku berujar cukup lantang, bukan karena aku marah maupun kesal melainkan untuk mengurangi kemungkinan ia salah mengartikan perkataanku.

 

.

.

.

 

Di hadapanku terhidang makanan favoritku namun aku diam, menunggunya untuk duduk dan menyantap makan siangnya yang terlambat. Ia memang tak pernah menyuruhku untuk melakukan hal-hal seperti ini tapi, yah, aku memang mau menunggunya. Bagiku, makan itu akan lebih baik bila dilakukan bersama-sama apalagi dengan satu-satunya orang yang aku miliki.

“Xero? Kau menungguku ya?” Ia duduk bersila di atas sofa sementara aku duduk di lantai beralaskan karpet berbulu. Aku tidak menjawab karena seharusnya tanpa jawabanku pun ia tahu bahwa aku menunggunya.

“Selamat makan, Xero!”

Untuk sesaat aku memperhatikannya dan ketika ia menyuap masuk sesendok nasi ke dalam mulutnya barulah aku menyantap makananku.

 

.

.

.

 

 

Aku dapat mendengar suara guyuran hujan di atap tempat tinggal kami semakin lama semakin kencang —menandakan hujan turun semakin deras— dan suara petir terdengar menggelegar. Tampaknya hari ini langit sedang murka dan mungkin salah satu penyebabnya adalah gumpalan asap yang semakin hari semakin banyak dihasilkan oleh mesin-mesin kendaraan. Sekali lagi suara petir terdengar, lebih kencang dari yang sebelumnya sehingga berhasil membuatku terperanjat.

“Xero? Apa kau baik-baik saja?”

Dari arah tangga, Joonyoung muncul dalam balutan pakaian tidurnya. Tangan kirinya ia gunakan untuk menggosok matanya yang pasti masih terasa sepet sementara tangan kirinya memegangi senter —ternyata listrik padam dan aku sama sekali tidak menyadarinya karena semuanya nampak sama bagiku.

Aku berlari ke arahnya, suara petir tadi benar-benar membuatku kaget sekaligus takut.

“Sst. Semua baik-baik saja, Xero. Semua baik-baik saja.” Ia mengusap pelan kepalaku berkali-kali sebelum akhirnya menuntunku untuk menaiki tangga dan menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.

 

.

.

.

 

Di atas tempat tidur, aku berbaring tepat di sampingnya. Selimut tebal melapisi tubuh kami membuat rasa dingin yang disebabkan oleh cuaca perlahan tidak terasa dan kemudian menghilang. Seringkali teman-temannya ketika berkunjung kemari menganggapnya aneh karena tidur bersamaku, bahkan beberapa di antara mereka mengatakan bahwa kebiasaan ini tidak sehat. Meskipun begitu, ia tidak pernah sekalipun melarangku untuk naik ke ranjangnya dan berbaring di sampingnya. Bahkan ketika aku diam-diam melakukannya dan tertangkap olehnya, ia hanya akan tersenyum kemudian tertawa kecil dan ia akan mengisyaratkanku untuk semakin mendekat —selalu berakhir dengan tubuhku berada dalam pelukannya.

Malam ini pun sama, entah siapa yang terlebih dahulu memulai, kini kami dapat dikatakan sedang saling berpelukan, memberikan kehangatan melebihi dari yang bisa diberikan oleh selimut dan perapian manapun. Aku dapat merasakan hembusan tipis napasnya menerpa wajahku.

Listrik kembali menyala —aku tahu dari bunyi air conditioner yang menyala— menyapu pergi kegelapan yang tak kulihat karena saat ini pun semuanya tampak sama saja.

 

=====

“Ia menderita buta warna, nona Choi.”

“Apa penyebabnya, pak dokter? Apakah faktor genetika atau karena suatu penyakit?”

“Aku rasa faktor genetika. Ia tidak pernah menderita suatu penyakit ‘kan sebelumnya?”

“Entahlah, ia baru bersamaku kurang lebih satu minggu lamanya. Aku tidak tahu apakah sebelumnya ia mempunyai riwayat penyakit.”

Pria berbaju putih itu menoleh kepadaku kemudian ia tersenyum, “anak baik. Kau akan baik-baik saja. Tidak ada apa-apa.” Pria yang dipanggil pak dokter oleh Joonyoung itu mendaratkan telapak tangannya di atas kepalaku, memberikan beberapa tepukan ringan di sana.

“Apa yang pak dokter katakan itu benar, Xero. Kau tidak perlu khawatir, ya?”

 

 

=====

 

 

Aku selalu iri setiap kali mendengarkan yang lainnya bercerita mengenai hal-hal yang berkaitan dengan apa yang tidak bisa kulihat, seperti betapa cerahnya hari, betapa hijaunya rerumputan di taman kota, dan betapa gelapnya langit ketika hujan akan turun. Aku tidak pernah tahu bagaimana cerah itu, seperti apa hijau itu, dan seperti apa rupanya gelap. Hanya abu-abu, hitam, dan putih. Hidupku selama ini hanya dipenuhi oleh ketiga warna itu.

Tak dapat kupungkiri bahwa aku sangat menginginkan kehidupan milik yang lain yang dikatakan penuh oleh hal bernama warna. Aku ingin merasakan seperti apa hidup di bawah pelangi. Delusi. Ya, sebelum bertemu dengan Joonyoung, melihat warna hanyalah sebuah delusi.

Aku memejamkan kedua mataku, mencoba mengingat-ingat apa warna pertama yang aku tahu. Dan ingatan akan itu pun muncul…

 

“Xero!”

Aku menoleh, mencari tahu siapa yang memanggilku karena jelas sekali itu bukan suara Joonyoung.

“Hey, apa kau ingat aku?”

Aku menggeram. Bagaimana bisa aku melupakan wajah lelaki yang pernah menampar Joonyoung di hadapanku? Dengan sekuat tenaga aku mendorongnya, mencoba mengusirnya dari dalam rumah.

“Whoaa, whooa! Ada apa, Xero? Mengapa kau jadi sama sepertinya? Mencoba mengusirku dari sini, huh?” Dengan mudahnya aku terdorong kemudian tersungkur di kaki meja dapur.

“PERGI KAU!”

Aku menengadah. Joonyoung sudah berdiri tak jauh dari tempatku. Di tangannya ada sebuah alat dengan ujung lancip yang biasanya ia gunakan untuk memasak. Aku sangat kagum bagaimana ia bisa terus melangkah maju dengan mantap ketika seluruh tubuhnya bergetar dalam ketakutan.

 

Gelap. Warna yang pertama aku ketahui dan pelajari adalah gelap. Itu muncul setiap kali dirinya merasa ketakutan dan cemas. Warna berikutnya adalah terang. Warna yang muncul pada saat-saat seperti ketika ia menonton acara televisi yang menarik, atau ketika ia berhasil membuat sesuatu yang lezat. Hanya dua warna itu yang kutahu. Hanya dua warna itu yang kupahami.

Inilah alasan mengapa aku benar-benar menyukai Joonyoung: Ia membuatku mengenal dua warna yang mengajarkan bahwa hidup tidak hanya abu-abu.

 

END.

 


author’s note:

Ini adalah pertama kalinya aku menulis fanfiksi dengan genre surrealism.
Pada awalnya fanfiksi ini aku buat dalam rangka memeriahkan event yang sempat diadakan oleh IFK beberapa waktu silam.

Bagaimana menurut kalian? Apakah aku sudah berhasil dengan genre ini?

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s