(Not) An Easy Love [Ficlet]

an-easy-love-copy

(NOT) AN EASY LOVE

story and poster designed by Atatakai-chan

.

A ficlet with AU, Angst, slight!school-life, and slight!romance genre ]

.

starring
B.I.G Benji as Bae Jaewook
and
4TEN Hyejin as Baek Hyejin

.

.

.

Apa yang lebih mudah dibandingan memahami orang yang sudah kau kenal belasan tahun lamanya?

“Hyejinie!”

“Jaewook oppa!” Baek Hyejin berlari menghampiri lelaki yang adalah tetangganya sekaligus teman semasa kecilnya, bahkan keduanya masih berteman sampi saat ini meskipun umur keduanya terpaut empat tahun.

Hujan rintik-rintik yang membasahi kota Seoul mengharuskan siswi SMA tingkat akhir itu untuk menempatkan tas sekolahnya di atas kepala, mencegah air hujan untuk langsung mengenai kepalanya.

“Ayo naik,” Jaewook mengisyaratkan agar Hyejin naik ke atas boncengan sepedanya.

Senyum Hyejin mengembang, gadis itu terpekik girang seraya menaiki boncengan sepeda. Setelah yakin pasti gadis itu sudah duduk dengan nyaman, Jaewook menyerahkan payung lipat berwarna abu-abu miliknya, “sepertinya akan turun hujan lebat. Payungi aku selama perjalanan pulang, oke?”

“Baiiiik!” Hyejin menyanggupi dan ia pun mengambil alih payung lipat tersebut, mulai membukanya ketika Jaewook mulai mengayuh pedal sepeda, membiarkan payung itu menjadi atap bagi keduanya.


Apa yang lebih mudah dibandingkan bertamu ke rumah tetangga pada malam hari melalui balkon yang saling bersebelahan?

Tok!Tok!

Suara ketukan pada jendela kamar mengalihkan konsentrasi Hyejin yang semula berfokus dari ributnya suasana di ruang keluarga yang berada satu lantai di bawah kamarnya.

Dengan mata yang memerah, dan air mata yang memasahi pipinya, gadis itu berlari ke arah jendela kemudian membukanya dengan tangan yang gemetar.

“Sudah, sudah, tidak usah takut, oke?” Jaewook melangkah masuk secara perlahan, tidak ingin kedatangannya diketahui oleh pasangan yang tengah berkelahi di lantai bawah tempatnya berada sekarang.

“Aku takut…” Hyejin berujar pelan, suaranya parau. Baginya tidak ada hal yang lebih mengerikan dibandingkan dengan pertikaian kedua orangtuanya.

“Semua akan berakhir, tidak usah takut, aku ada di sini.” Dengan kedua lengannya, Jaewook mendekap erat gadis di hadapannya, berusaha membuat gadis itu merasa tenang. Ia berusaha mengusir rasa takut Hyejin dengan memberikan usapan-usapan pelan pada rambut panjangnya.


Adakah yang lebih mudah dibandingan mengajari pelajaran yang sudah pernah dipelajari?

“Aku tidak bisa….”

“Ayo, coba lagi. Jangan menye—”

“Pokoknya aku tidak bisa!” Hyejin mendengus kesal, dibantingnya buku catatan miliknya ke atas meja perpustakaan umum yang secara otomatis membuat dirinya dan Jaewook diusir keluar.

Keduanya duduk di atas tangga pintu masuk perpustakaan umum. Pohon rindang yang membayangi keduanya membuat rasa kantuk perlahan datang menghampiri.

“Jangan tidur di sini. Kita pulang ke tempatmu, baru kau boleh tidur siang,” Jaewook beranjak berdiri, perlahan menarik lengan Hyejin yang sudah entah berapa kali menguap. “Lalu setelah kau bangun nanti, hubungi aku. Aku akan mengajarimu.”

Hyejin mengangguk-angguk.


Tidak ada yang lebih mudah dibandingkan menjadi orang pertama yang memberikan hadiah ulang tahun serta ucapan selamat.

Hari berganti malam, bulan dan bintang terlihat menghiasi langit malam. Di saat ketika semuanya tampak beristirahat, di lantai dua kediaman keluarga Baek, sinar remang-remang dari lilin-lilin kecil menghidupkan suasana di sana.

Jaewook dan Hyejin duduk bersila saling berhadapan dengan seloyang kue ulang tahun berukuran sedang berada di antara keduanya.

Samar-samar terdengar nyayian selamat ulang tahun —dilantunkan oleh Jaewook— yang ditujukan pada Hyejin yang usianya kini sudah bertambah bersamaan dengan pergantian hari.

“Selamat ulang tahun, Baek Hyejin.”

Tidak ada yang lebih mudah bagi seorang Bae Jaewook untuk menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun pada Hyejin ketika tak ada satu orang pun di rumah gadis itu yang peduli.

Tidak ada yang lebih mudah bagi seorang Bae Jaewook untuk memutuskan menjadi pelindung gadis kesepian yang saat ini memejamkan mata dan berdoa agar harapan ulang tahunnya terkabul.

Oppa,”

“Ya?”

Di tengah kegiatan memakan kue ulang tahun yang tengah dilakukan oleh keduanya, Hyejin memutuskan untuk berhenti. Ia meletakkan piring kecil berisi potongan kue di atas paha kirinya.

“Aku benar-benar bersyukur dan aku ingin berterima kasih padamu. Kau selalu ada di saat aku membutuhkanmu. Bagiku kau benar-benar seseorang yang pantas untuk dijadikan sebagai role model.”

Dengan pencahayaan ruangan yang seadanya, Jaewook dapat melihat senyum pada wajah Hyejin —dan tidak ada yang bisa mengalahkan rasa bahagia yang ia rasakan setiap kali melihat gadis itu tersenyum.

“Aku tak mengerti kenapa eomma dan appa melarang kita untuk bertemu…”

Keheningan yang tak nyaman memenuhi ruangan sampai Jaewook akhirnya membuka mulut untuk berbicara.

“… Yah, mungkin mereka khawatir? Maksudku, kau kan anak satu-satunya dan lagi kau anak perempuan. Mereka tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu.”

“Apa menurutmu mereka sepeduli itu padaku?”

“Maksudnya?”

“Apa menurutmu mereka sepeduli itu padaku…” Hyejin kembali mengulang pertanyaannya, “… Walaupun aku anak angkat?”

“Anak angkat?”

“Jangan pura-pura bodoh, kau pasti tahu…”

Jaewook membisu. Ia memang tahu akan hal itu namun ia memilih untuk tak mengatakan apapun, khawatir akan membawa pembahasan menjadi terlalu jauh.

“… kau tidak mungkin tidak tahu, kau kan kakak kandungku.”

Jaewook mengalihkan pandagannya. Ia beranjak berdiri, “aku rasa sebaiknya aku kembali ke—”

“Jangan! Aku tidak mau kau pergi.” Pelukan erat di pinggangnya membuat Jaewook mengurungkan niatnya untuk pergi. Sejauh pengalamannya, pelukan yang seperti ini bertanda bahwa Hyejin benar-benar membutuhkannya —bagaimana mungkin ia sampai hati untuk meninggalkan, seperti yang sudah dikatakan oleh Hyejin, saudari kandungnya sendiri?

“Kalau aku kembalikan kado darimu, apa kau mau mengabulkan permintaanku yang lain?”

Jaewook membalikkan badannya untuk menatap Hyejin. Ia mengangguk kemudian mengusap pelan rambut gadis di hadapannya tersebut, “tentu saja. Tidak usah kau kembalikan pun aku tetap akan mengabulkan permintaanmu, Hyejinie.”

“Kalau begitu,” Hyejin melepaskan pelukannya dari pinggang Jaewook, megalihkan kedua lengannya untuk memegang kedua sisi bahu tegap Jaewook. “… Permintaanku adalah jangan lagi menahan semuanya, karena…” Hyejin berjinjit dan mengalungkan kedua lengannya di sekitar leher Jaewook.

Di saat yang bersamaan, Jaewook secara refleks melingkarkan kedua lengannya di sekitar pinggang Hyejin agar gadis itu tidak kehilangan keseimbangan lalu terjatuh. Posisi lengannya berubah menjadi cengkraman pada pinggang Hyejin ketika bibir Hyejin menyentuh bibir miliknya.

“…. aku juga menyukaimu.”

Hyejin kembali berjinjit. Dan saat kecupan kedua kali di bibir didapatkan oleh Jaewook, ia menjadi lupa daratan.

Bagi Jaewook, tidak ada yang lebih mudah daripada jatuh cinta kepada Hyejin namun, cinta ini bukanlah cinta yang mudah.

THE END

 


 

author’s note
Halo! Setelah sekian lama tak berjumpa
akhirnya aku kembali dengan fanfiksi ‘panas’ ini.
Entah kenapa sukaaaa banget sama pairing yang satu ini walaupun
sama sekali belum ada interaksi di antara keduanya
dalam kehidupan nyata hehehe.
Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca karya ini.
Reviewcommentand like will be so much appreciated

with love,
Atatakai-chan

Iklan

Satu tanggapan untuk “(Not) An Easy Love [Ficlet]

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s