Before Love (Chapter 1)

before-love-2

BEFORE LOVE

story and poster designed by Atatakai-chan

.

A chaptered fanfiction with AU, slight!Friendship, school/college-life, and romance genre ]

.

starring
Shiraishi Shunya
and
Ishihara Satomi

.

Supporting casts mentioned:
Kirei Miritani, Suzuki Nobuyuki, Yamaguchi Nonoka, and Sakurada Dori

.

# CHAPTER 1 #

A NEW START!

.

“Iya, iya… Baik… Aku mengerti. Sudah ya, aku berangkat dulu.”

Tahun ajaran baru kali ini disambut dengan rasa semangat oleh Shunya yang menyandang nama keluarga Shiraishi. Lelaki yang kini duduk di bangku sekolah menengah atas tingkat satu itu tampak bersemangat sambil menenteng tas sekolah miliknya yang senantiasa menemani sedari ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Setelah memastikan seragamnya ia kenakan dengan rapi, lelaki berwajah tirus itu langsung berjalan keluar dari kamar kontrakannya yang berada di suatu tempat di kota Tokyo yang besar. Tak lupa ia mengunci ruangan tersebut sebelum benar-benar melangkahkan kakinya menjauhi gedung baru yang didominasi oleh warna putih tersebut.

Wajahnya yang menawan —bawaan lahir— memang selalu membuatnya menjadi sorotan di kalangan para kaum Hawa, khususnya mereka yang memimpikan sosok pangeran berkuda putih.

Pada awalnya keadaan hiruk pikuk di kota Tokyo membuat lelaki asal Kanagawa ini cukup tercengang. Rush hour di kota Tokyo adalah salah satu hal yang menyebabkannya terserang culture-shock dan ia beruntung memutuskan untuk membiasakan dirinya dengan kehidupan Tokyo selama dua minggu sebelum sekolah dimulai.

“Yosh!” Shunya menatap gedung SMA Tokyo Gakugei dengan rasa takjub.

Sudah dari lama ia ingin menginjakkan kakinya di SMA kaliber itu dan akhirnya hari itupun tiba. Tanpa sedikitpun keraguan, lelaki yang sudah menarik perhatian beberapa siswi di gerbang masuk itu berjalan memasuki pekarangan sekolah sambil menenteng tasnya di pundak.

.

.

.

“Nama saya Sakurada Dori. Sebagai ketua OSIS SMA Tokyo Gakugei saya mengucapkan selamat datang pada kalian semua . . .”

Bukan bermaksud tidak sopan tetapi Shunya memang tidak pernah begitu menyukai upacara penyambutan karena itu membuatnya bosan dan setelah rasa bosan yang ia rasakan mencapai puncaknya, ia otomatis menguap. Suara yang dihasilkannya memang tidak begitu kencang namun cukup untuk terdengar oleh sang ketua OSIS yang tengah memberikan penyambutan pada para pelajar baru karena ia duduk di barisan terdepan dan persis berhadapan dengan podium aula.

Wewenang untuk mempermalukan pelajar baru di depan para pelajar lainnya selalu dimiliki oleh ketua OSIS dan Sakurada Dori tidak pernah menggunakan kesempatan itu hingga hari ini tiba.

Bisikan para pelajar angkatan baru mulai terdengar mengisi aula begitu Dori menunjuk Shunya dan menyuruhnya untuk naik ke podium setelah mengatakan bahwa ia akan menunjuk acak murid baru untuk turut memberikan penyambutan pada yang lainnya.

“Kurasa salam penyambutanku begitu membosankan ya sampai kau menguap?” Dori berbisik tepat di telinga Shunya, “kalau begitu, silakan lakukan penyambutan versimu sendiri…” Dori menjauhkan kepalanya sejenak untuk melihat tag nama pada sepatu sekolah yang dikenakan oleh Shunya, “… Shiraishi Shunya-kun.” Lelaki berkulit putih itu kemudian menyerahkan mic dalam genggamannya pada Shunya.

Gelombang atmosfir rasa permusuhan seketika itu juga muncul dari keduanya, membentuk tembok tak kasat mata yang apabila bersinggungan akan menimbulkan percikan api yang bisa memicu kebakaran. Dengan eskpresi datar, Shunya menatap sang ketua OSIS yang sudah dicapnya sebagai musuh sebelum mengambil alih mic yang untuk beberapa saat sempat menganggur di genggaman tangan Dori.

Keadaan aula lantas hening begitu suara napas Shunya terdengar memancar melalui speakerspeaker yang berada dalam ruangan luas tersebut.

“Selamat pagi saya ucapkan pada kepala sekolah SMA Tokyo Gakugei, para pengajar, dan para pelajar sekalian. Shiraishi Shunya desu…”

Senyum kemenangan terpampang di wajah Shunya begitu terdengar sahutan terdengar sementara itu, di sebelahnya Dori berdiri dengan tampang masam.

“… Pada hari ini… Saya merasa sangat bahagia dan bersemangat karena setelah sekian lama belajar dan belajar semenjak saya berada di sekolah dasar, akhirnya saya dapat memijakkan kedua kaki saya di Tokyo Gakugei.”

“Untuk para pengajar, saya mohon bimbingannya selama tiga tahun ke depan, begitu juga untuk para kakak kelas dan kawan-kawan seangkatan. Marilah kita saling membantu satu sama lain agar kegiatan belajar dan mengajar di Tokyo Gakugei dapat menjadi efektif.”

Shunya meletakkan mic  di atas meja podium sebelum membungkuk sembilan-puluh derajat pada arah yang berbeda —yang pertama pada arah kirinya di mana para pengajar berdiri, kemudian yang kedua ke arah siswa Tokyo Gakugei berada, dan terakhir ke samping kanannya di mana para anggota OSIS berdiri.

Shunya berjalan menuruni tangga panggung dengan langkah dan perasaan yang ringan.



“Permisi! Permisi! Saya num— Aduh!”

Di dalam padatnya bus kota, seorang perempuan yang mengenakan kemeja putih polos dipadu dengan rok span berwarna hitam tengah bersusah payah untuk menembus kepadatan.

‘Klep’

Pintu bus yang secara otomatis tertutup membuat kedua mata perempuan tadi membulat. Deru mesin bus yang terdengar menandakan bahwa bus sudah kembali akan melaju.

“Tu—!” Belum selesai perempuan itu berteriak, bus sudah melaju, meninggalkannya putus harapan sehingga ia kembali menuju ke tempat duduknya semula.

Paras cantik perempuan itu kini dinodai oleh warna merah yang timbul dari campuran antara rasa kesal dan tangis yang tertahan. Perempuan yang bahkan tingginya tidak tembus seratus-tujuh-puluh sentimeter itu menghela napas sebelum menyeka kedua tepian matanya di mana bulir air mata sudah mulai bermunculan.

Tiba-tiba saja, perempuan yang tengah menahan tangisnya itu meraskan jok kosong di sampingnya amblas —menandakan ada seseorang yang duduk di sana. Perlahan ia menoleh ke sampingnya dan dalam hitungan sepersekian detik berikutnya, rasa sedihnya digantikan oleh rasa kaget ketika orang yang duduk di sampingnya mencengkram kuat kedua bahunya.

“Ishihara Satomi-chanDaisuki!”

“E-eh!?” Kedua mata Satomi kembali membulat begitu indera pendengarannya menangkap kalimat pengungkapan perasaan yang keluar dari mulut seorang lelaki yang bahkan tak dikenalnya.

Aano… Kau siapa?” Tanya Satomi sambil berusaha melepaskan kedua bahunya dari cengkraman kuat lelaki yang bertatapan dengannya itu.

Dalam sekejap, keantusiasan sang lelaki dapat  Satomi rasakan mulai perlahan-lahan sirna —hal tersebut nampak jelas sekali dari sinar matanya yang semakin lama semakin redup.

“Satomi-chan tidak mengenalku?”

Anak sulung keluarga Ishihara itu menggelengkan kepalanya sebagai respon.

“… Oh, begitu… Tolong abaikan saja kokuhaku yang barusan.”

“Heee!? Kokuhaku!?” Satomi memekik saking kagetnya dan tentu saja ia berhasil menarik perhatian orang-orang yang mendengar suara kencangnya.

Perempuan berambut cokelat gelap itu langsung menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya. Kedua matanya dengan lincah melirik ke sana ke mari sambil dalam hatinya ia berharap tidak ada satu orangpun yang mengenalnya di dalam bus tersebut.

“Aku menyukaimu sudah sejak lama.” Lelaki di hadapan Satomi tersenyum simpul, “oh iya, perkenalkan. Namaku Suzuki Nobuyuki. Kau bisa memanggilku Suzuki-kun. Aku juga mahasiswa fakultas ekonomi.”

Satomi tercengang. Kejadian kokuhaku tadi benar-benar tak pernah terbayangkan olehnya bahkan di dalam mimpi sekalipun. Dan juga mengetahui faktanya bahwa lelaki yang sudah meminta untuk dipanggil dengan nama depan pada pertemuan pertama itu adalah juga seorang mahasiswa fakultas perekonomian —dapat dikatakan bahwa mereka berasal dari rumpun penjurusan yang sama— benar-benar membuatnya sedikit tersentak.

“A-apakah Nobuyuki-sa—”

“Suzuki-kun.” Potong Suzuki sembari menganggukan kepalanya, mengisyaratkan pada Satomi kalau ia mengizinkan perempuan bertubuh mungil itu memanggilnya dengan nama depan.

“E-eh,” Satomi balas mengangguk. “A-apakah… Apakah Suzuki-kun dan aku berada di angkatan yang sama?” Walaupun merasa canggung perempuan yang tumbuh di kota besar itu tetap memanggil lelaki di hadapannya sesuai dengan keinginan sang pemilik nama.

Suzuki terkekeh, “kau bercanda?” Perlahan, semangat yang semula surut itu kembali menyala, ditandai dengan sebuah senyuman lebar yang memamerkan deretan rapi gigi mahasiswa universitas tingkat tiga tersebut.

“Apa kau benar-benar belum pernah melihatku sebelumnya?”

.

.

.

Satomi mempercepat langkahnya pada setiap lorong bercabang di universitas ia lewati namun usahanya untuk menjauhkan diri dari Nobuyuki Suzuki yang sedari tadi mengekorinya tidak menghasilkan buah apapun. Lelaki yang tingginya ia perkirakan di atas seratus delapan-puluh sentimeter itu masih saja berada di belakangnya —sambil mengoceh; melanjutkan perbincangan yang keduanya mulai sedari mereka masih berada di dalam bus.

“Hei! Sato-chan! Tunggu sebentar!”

Langkah Satomi mendadak terhenti begitu seorang perempuan, yang tingginya sepantaran dengannya, muncul dari balik pintu ruang kelas dan menarik lengannya.

Perempuan berambut hitam itu kemudian menghadang Suzuki yang hampir saja ikut masuk ke dalam ruang kelas. “Etto. Maaf, boleh kupinjam dulu Sato-chan sebentaaa~r saja?”

“Mirei-chan!” Satomi menyentak ketika sahabatnya itu meminta izin yang menurutnya sangatlah tidak perlu. Ia menghentakkan kakinya, mengisyaratkan sahabatnya yang bernama lengkap Kiritani Mirei itu untuk menghentikkan basa-basi murahannya dengan Suzuki Nobuyuki —yang sekarang telah berhasil membuatnya merasa sedikit ngeri.

Mirei menarik Satomi ke pojok ruang kelas. Ia benar-benar memojokkan Satomi. Kedua mata Mirei membulat bersamaan dengan senyum yang perlahan semakin tampak jelas terukir pada wajahnya. “Sejak kapan kau punya pacar, hah?” Mirei menaik-naikkan kedua alisnya selagi bertanya.

Kok tidak cerita ‘sih?” Nada girang terdengar dari cara bicara Mirei dan hal itu membuat Satomi menghela napas.



 

Kejadian yang amat langka tengah terjadi di lorong kelas satu SMA Tokyo Gakugei. Para pelajar, khususnya siswi angkatan atas, berbondong-bondong mengintip ke dalam ruang kelas 10-2, kelas di mana si siswa baru yang tampan berada.

Ya, siswa baru yang tampan itu tak lain dan tak bukan adalah Shunya. Lelaki asal Kanagawa itu berhasil menarik perhatian seluruh siswi di SMA Tokyo Gakugei akibat pemberian kata penyambutan di aula yang dilakukannya pagi tadi.

Jam sekolah yang sudah berakhir pada hari itu tidak membuat para guru ambil pusing dengan gerombolan siswi yang menghalangi pintu keluar ruang kelas 10-2 tersebut, menyebabkan beberapa siswa kelas 10-2 mengerang frustasi seraya mereka berjalan keluar ruang kelas —karena kerumunan di luar ruang kelas membuat mereka kesulitan untuk keluar dari kelas.

Di sisi lain, yang dikagumi malah cuek dan tidak mempedulikan pujian-pujian yang sudah jelas-jelas ditujukan untuknya. Dengan ekspresi wajah datar, Shunya memanggul tasnya di pundak dan berjalan di tengah-tengah kerumunan yang mengelilinginya seolah-olah laki-laki pendatang baru itu adalah harta karun SMA Tokyo Gakugei.

Langkah Shunya terhenti tepat di depan papan majalah dinding yang terletak tak begitu jauh dari ruang kelas 10-2, menyebabkan puluhan gadis yang mengekorinya ikut berhenti mendadak —menyebabkan ‘kecelakaan beruntun’ pada para gadis yang berada di bagian belakang.

Nampaknya pengumuman dari OSIS yang dipajang di papan majalah dinding begitu menarik perhatian Shunya sehingga ia memicingkan matanya seraya membaca baris demi baris kalimat yang tertera di sana.

“Oh? Perekrutan anggota OSIS baru? Sepertinya menarik.” Gumamnya perlahan.

Suara miliknya yang khas membuat beberapa orang gadis yang berdiri persis di belakangnya merasakan lemas pada bagian kaki. Shunya hanya menoleh sekilas begitu mendengar suara racauan yang begitu keras di belakangnya. Dikelilingi para gadis bagaikan bahan tontonan adalah hal yang biasa baginya.

.

.

.

Shunya mengintip dari balik tiang lampu jalanan tempat ia bersembunyi. Perasaan lega dirasakannya begitu kedua indera penglihatannya tidak lagi menangkap sosok para gadis yang dari tadi mengekorinya dari pintu gerbang sekolah. Yang namanya penggemar ngotot memang selalu ada di manapun dan ia sadar akan hal itu. Dalam hatinya ia bertekad untuk lebih hati-hati agar tak diikuti sampai ke kediamannya.

Setelah memastikan situasi benar-benar aman, Shunya keluar dari tempat persembunyiannya dan sambil bersiul, menyenandungkan lagu favoritnya.

 



 

Malam itu, langit kota Tokyo sangatlah bersih, menyebabkan sinar-sinar bintang terlihat dari bawah jalanan dan juga dapat terlihat melalui jendela-jendela kamar. Satomi berdiri di balkon rumahnya, menengadah menatap langit yang begitu indah.

Hari ini bukan kali pertamanya menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswi tetapi tetap saja sedikit rasa takut dan tertekan dirasakan oleh perempuan berambut hitam bergelombang yang tengah mengadu keluh kesahnya dalam diam pada sang bulan.

Dalam diamnya, ia menatap langit sambil menuturkan betapa membosankan kesehariannya sebagai seorang mahasiswi. Jauh di dalam hatinya ia berharap akan adanya sebuah perubahan. Tidak perlu perubahan yang besar, cukup perubahan kecil seperti menemui orang-orang baru.

“Aaah~ Melakukan hal ini menyenangkan sekali. Lebih manjur daripada mengeluarkan keluh kesah di dalam buku harian.” Dengan nada ceria Satomi berujar.

Sekali lagi ia menengadah menatap langit sebelum masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu balkon dari dalam.

Dan saat itu juga, di bagian lain langit yang tak terlihat olehnya, sebuah bintang jatuh melintas dengan kecepatan yang tidak memungkinkannya untuk benar-benar terlihat.

 

TBC.

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s