Love Story (Chapter 3)

Love Story

LOVE STORY

story by Atatakai-chan
poster by Alkindi @ Indo Fanfiction Arts

.

A chaptered fanfiction with AU and romance genre ]

.

starring
Ishihara Satomi
and
Shiraishi Shunya


Previous Chapters
Chapter 1 ✦ Chapter 2 ✦

 

.

✦ Chapter 3: Turning Back ✦

.

Satomi lagi-lagi terbangun tetapi kali ini bukan karena ia mendengar suara perbincangan. Kedua mata Satomi berkerjap-kerjap dan pada kerjapan ketiga kalinya, indera penglihatan itu menangkap wajah Shunya dalam pandangannya.

“AH! APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI!?”

Shunya mendengus kesal sambil dengan sengaja mengorek telinga kirinya menggunakan jari kelingking, “tidak perlu teriak seperti itu. Aku bukan pencuri.”

Kini posisi Satomi sudah duduk, punggungnya bersandar pada sandaran kepala ranjang rumah sakit dengan bantal kepala sebagai ganjalan. Kedua tangannya menggenggam erat ujung selimut yang selama ini menutupi tubuhnya dari bagian leher sampai ujung jari kaki.

Shunya duduk di tepi ranjang rumah sakit dan mengarahkan lengan kanannya mendekati kening Satomi. Ia menempelkan telapak tangan kanannya tepat di kening Satomi.

“Sudah turun.” Shunya bergumam seraya menarik kembali lengannya. Kini lelaki ini menunduk menatap lantai dengan kedua tangan diletakkan di atas kedua pahanya.

“I-iya sudah turun.” Satomi menyahut pelan.

Kemudian hening. Tidak ada satupun diantara keduanya yang berbicara —masing-masing memiliki alasan tersendiri dan keduanya tidak berniat untuk mengutarakan alasan tersebut.

“Sekarang kau tinggal di mana?” Akhirnya, setelah selama satu menit berada dalam diam, Shunya mulai memecah keheningan dengan sebuah pertanyaan.

“E-eh? Tinggal di mana? Memangnya kenapa?” Bukannya menjawab, Satomi malah bertanya balik.

“Ayo, kuantar pulang. Demammu sudah turun ‘kan?” Shunya kembali bertanya dan kali ini ia melakukannya sambil menatap Satomi tepat di kedua matanya.

Satomi balas menatap mata lelaki bersurai hitam itu. Sosok yang sudah lama tak dijumpainya itu membuatnya sedikit gugup —ditambah lagi karena lelaki itu tadi menjadi saksi adegan pelukannya dengan Tomohisa.

Satomi menelan ludah, menyadari Shunya tak akan menyahut kalau ia tidak merespon perkataannya barusan. “Aku sekarang tinggal di blok apartment M di daerah Minato-ku.”

Tanpa banyak bicara Shunya berdiri dan mengulurkan lengan kanannya pada Satomi, mengisyaratkan agar perempuan yang demamnya baru turun tersebut menggunakan lengannya sebagai topangan untuk berdiri.

“… Kenapa kau ingin mengantarku?” Satomi sendiri tidak tahu bagaimana bisa pertanyaan seperti itu terpikirkan olehnya. Ia berpegangan erat pada lengan Shunya yang terulur kemudian perlahan-lahan berdiri..

“Kenapa? Tidak ada alasan khusus. Aku hanya tidak tega kalau kau kesepian sampai Yamashita-san datang menjemputmu.” Shunya menjawab ketus sambil berjalan secara perlahan menuju ke pintu ruangan tempat Satomi dirawat siang tadi.

“Oh…” Satomi mengangguk, “kenapa tidak temani aku saja di sini sampai dia datang?” Betapa Satomi berharap jawaban yang akan diberikan oleh Shunya adalah karena lelaki itu merasa cemburu. Tetapi harapan Satomi pupus ketika lelaki yang usianya empat tahun lebih muda darinya itu menjawab, “Tidak bisa. Aku ada pekerjaan paruh waktu di tempat lain.”

“Oh…” Satomi berujar lemah. Senyum pedih muncul menghiasi wajahnya.

“Aku cemas meninggalkanmu sendiri di tempat asing.”

Satomi mengangkat wajahnya yang tertunduk dan menatap Shunya seolah tidak percaya akan apa yang baru saja dikatakan oleh lelaki yang menuntunnya itu.

“A-ap—”

“Aku menyukaimu, Ishihara-san.”

Kedua mata Satomi membulat dan wajahnya memerah, tetapi kali ini warna merah itu bukan disebabkan oleh demam tinggi. “H-haa— Kau ini a—”

“Tidak usah shock segala. Dulu juga aku pernah bilang ‘kan?” Shunya menghentikan langkahnya dan seperti domino effect, Satomipun mau tak mau berhenti melangkah.

Shunya menoleh pada Satomi yang masih menatapnya dengan sepasang mata indah, “aku menyukaimu, Ishihara-san.” Ulangnya lagi sambil menatap kedua manik Satomi.

Tidak memberikan Satomi kesempatan untuk merespon, Shunya kembali berjalan. Lelaki berkulit agak gelap itu kini mengapit lengan cinta pertamanya dengan erat sambil keduanya berjalan menuju ke stasiun kereta bawah tanah.

.

.

.

Keduanya berjalan dalam diam. Suara deru kendaraan di jalanan yang mereka lewati menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Sebelum menuruni tangga menuju stasiun kereta bawah tanah, Shunya menghentikan langkahnya sejenak dan menengadah ke arah langit.

“Ada apa Shiraishi-kun?”

Iie. Tidak ada apa-apa.” Sahutnya perlahan sebelum kembali melanjutkan langkahnya.

Sebenarnya, lelaki berusia dua-puluh dua tahun itu bukan tanpa alasan berhenti dan menengadah ke arah langit. Ia ingin mencari tahu apakah matahari tengah bersinar di sore hari menjelang malam karena, ia merasakan sebuah kehangatan musim gugur.

Tanpa sepengatahuan Shunya, perempuan yang tengah digandeng olehnya itu juga merasakan hal serupa. “… Hangat,” ujar Satomi.

“Hee?” Shunya menoleh pada Satomi.

“Hangat.” Kembali Satomi mengulang ucapannya barusan sambil tersenyum hangat.

“… Apa mungkin—” Shunya kembali menghentikan langkahnya. Ia memegang erat kedua sisi lengan Satomi dan menyenderkan perempuan itu ke tembok stasiun kereta bawah tanah.

Kedua mata Satomi melebar dan ia dapat mendengar degup jantungnya sendiri yang begitu menderu. Detak jantungnya menjadi cepat setiap kali Shunya mempersempit jarak antara wajah keduanya. Satomi memejamkan erat kedua matanya begitu ia merasa jarak mereka terlalu dekat —ia dapat merasakan hembusan napas Shunya di wajahnya.

Tak juga merasakan mendaratnya bibir Shunya di bibirnya membuat Satomi membuka kedua matanya perlahan. Shunya membalas tatapan Satomi dengan sebuah tawa halus, “apa yang kau harapkan? Dasar tante-tante.”

Rupanya, tadi Shunya sedang mengecek suhu tubuh Satomi dengan cara menempelkan keningnya sendiri pada kening perempuan itu. Menurut Ibunya, itu adalah cara terbaik untuk mengecek suhu tubuh seseorang.

“T—tante katamu!? Sembarangan! Aku bukan tante-tante, tahu!”

✦ Love Story ✦ Chapter 3 ✦



✦ Turning Back 

 

Kereta bawah tanah telah berhenti di stasiun Minato-ku dan begitu pintu gerbong terbuka, Shunya dan juga Satomi keluar dari dalam kereta bersamaan dengan para penumpang lain. Masih bergandengan tangan, keduanya menaiki eskalator stasiun yang akan membina mereka pada jalanan.

“Dia kekasihmu?” Tanya Shunya.

Pertanyaan yang tiba-tiba itu tentu direspon oleh Satomi dengan, “hee?”

“Apakah Yamashita-san itu kekasihmu?” Kembali Shunya bertanya.

Satomi menggelengkan kepalanya, “bukan ‘kok. Kami hanya…”

“Kalian berkencan?”

Satomi kali ini menganggukan kepalanya.

“Tapi ia belum melakukan kokuhaku* ‘kan?” Kembali Shunya bertanya dan pertanyaan itu dijawab Satomi dengan gelengan kepalanya.

“Sudah berapa kali berkencan?”

“D-dua kali. Ia baru mengajakku bul—”

“Kalau begitu tandanya kau masih boleh pergi dengan yang lain ‘kan?”

Di Jepang ada sebuah tradisi yang bernama kokuhaku di mana kaum pria menyatakan perasaannya pada wanita yang sudah dikencani beberapa kali. Dan apabila si wanita menerima pernyataan tersebut barulah keduanya menjadi pasangan secara resmi. Jadi, bagi mereka, berkencan tidak sama dengan berpacaran.

Chrismast Eve.” Ujar Shunya kemudian.

“Hah?”

“Aku akan menjemputmu pada Christmas Eve.”

Kedua mata Satomi kembali melebar, “t—tunggu dulu! Memangnya aku sudah menyetujuinya?!” Satomi melepas pegangannya pada tangan Shunya dan ia berhenti berjalan.

Shunya menghentikan langkahnya juga, “kau tidak suka padanya ‘kan?” Ia menoleh pada Satomi yang berada satu langkah di belakangnya. “Walaupun aku tadi melihat kalian berpelukan, aku tahu kau tidak menyukainya. Kau masih menyukaiku, ‘kan?”

Berharap membuat seseorang terlihat lemah dan Shunya tidak ingin dilihat lemah. Namun, sebagaimanapun dirinya berusaha untuk tak terlihat berharap, nada bicaranya malah menunjukkan hal itu.

“Dasar anak bodoh.” Satomi telah berdiri tepat di hadapan Shunya dan ia mengarahkan kedua tangannya untuk menyentuh kedua pipi lelaki yang sempat terlihat sedih itu.

“Kau pikir kemarin di dalam kereta kenapa aku sampai berlari begitu melihatmu di luar sana? Kau pikir kenapa aku sampai kembali ke Ginza dan duduk di bangku tunggu stasiun sampai malam hari sampai aku terserang demam?”

Shunya memegang tangan kanan Satomi yang mendarat di pipinya, “aku memang bodoh dari dulu. Beritahu aku alasannya, Ishihara-san.”

Satomi tersenyum tipis, “itu karena aku sangat ingin menjumpaimu lagi. Dan hanya ada satu alasan mengapa aku ingin menjumpaimu, itu karena aku masih menyukaimu.”

Shunya tersenyum dan Satomi bersumpah senyum yang diberikan oleh lelaki yang berhadapan dengannya itu dapat membuat tiupan angin bulan Desember tak terasa.

“Tapi, jawaban untuk pertanyaanmu tadi adalah tidak bisa. Aku tidak bisa mengencani seorang lelaki saat aku masih menjumpai pria lain.”

Shunya membuka mulutnya untuk protes tetapi niatnya untuk protes lenyap begitu menyadari apa maksud dari pernyataan yang diberikan oleh Satomi. Penggunaan kata lelaki dan pria pasti merujuk pada umur —lelaki selalu lebih muda dari pria dan itu menandakan lelaki yang dimaksudkan adalah dirinya.

“Ngomong-ngomong, pukul berapa pekerjaan paruh waktu lainnya milikmu itu dimulai?”

Shunya melirik jam tangannya, “GAWAT! SETENGAH JAM LAGI!” 

Satomi tertawa melihat kepanikan di wajah Shunya.

“Ayo! Kalau begitu kita harus bergegas!”

“Eh?” Satomi kebingungan melihat Shunya yang sudah berjongkok membelakanginya.

Lelaki yang pernah menjadi kapten tim sepakbola di sekolah menengah pertama itu menoleh untuk menatap Satomi yang kebingungan, “ayo, cepat naik. Aku akan menggendongmu.”

Satomi menahan tawanya yang hampir meledak, “baiklah, baiklah, aku akan naik.” Ia berujar seraya berjalan mendekati Shunya dan kemudian melingkarkan kedua lengannya di sekitar leher lelaki itu.

“Yosh!” Shunya perlahan-lahan berdiri dan mulai berjalan sambil menggendong Satomi di punggungnya.

Satomi menyenderkan kepalanya di samping kanan kepala Shunya. Ia menutup kedua matanya. Ia merasakan detakan jantung, tapi itu bukan miliknya dan senyum kembali menghiasi wajahnya.

 


To be continued . . .


 

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s