Love Story (Chapter 2)

Love Story

LOVE STORY

story by Atatakai-chan
poster by Alkindi @ Indo Fanfiction Arts

.

A chaptered fanfiction with AU and romance genre ]

.

starring
Ishihara Satomi
and
Shiraishi Shunya


Previous Chapter
Chapter 1 ✦

 

.

✦ Chapter 2: Seeing Is Believing ✦

.

KRIIIIIIINNGGGGGG!

Suara jam weker yang terletak di atas meja di samping tempat tidur berbunyi nyaring memenuhi ruangan. Dari balik selimut tebal, Satomi menglurukan tangannya dan meraba-raba meja, mencoba mencari di mana jam weker tersebut berdiri. Tak butuh waktu lama bagi perempuan itu untuk menemukan benda berwarna perak yang senantiasa membangunkannya di pagi hari semejak ia masih mahasiswi universitas.

“Hmm~” Satomi melengguh pelan seraya memaksakan kedua matanya untuk terbuka.

Bunyi jam weker masih memenuhi ruangan sampai si pemilik menekan tombol yang berada persis di bagian tengah atas benda nyaring itu. Suasana di dalam ruangan langsung hening, yang terdengar hanyalah suara mesin penghangat ruangan yang terus dibiarkan menyala sedari malam.

“Uuh… Dingin…” Satomi meringkuk di balik selimut miliknya setelah meletakkan jam weker kembali ke tempatnya.

Demam mendadak yang dialami Satomi membuat perempuan itu meraskan kepalanya berat sekali dan rasa pening akan muncul setiap ia bangkit dari tempat duduk seperti malam tadi ketika ia hendak ke kamar mandi.

‘Apa aku minta jemput Yoshikawa-san ya?’ Batin Satomi dalam hati sembari kembali memejamkan matanya.

Sudah menjadi prinsip perempuan berambut hitam itu untuk tetap berangkat kerja selama keadaannya masih memungkinkan. Lagipula demam yang dialaminya kali ini masih lebih baik daripada demam yang pernah dialaminya dulu ketika masih menjadi mahasiswi tahun kedua.

Satomi mengubah posisinya menjadi duduk secara perlahan. Sedikit rasa pening yang ia rasakan ia abaikan seraya membuka laci meja tempat ponselnya ditaruh. Dinyalakannya beda itu sebelum mulai menulusuri kontak yang terdapat dalam ponslnya.

.

.

.

Satomi menghela napas setelah panggilannya yang sebanyak tiga kali tidak juga dijawab oleh rekan kerjanya yang tinggal beberapa blok dari tempatnya mengontrak. Laki-laki yang satu itu memang tidak begitu bisa diandalkan namun meskipun begitu keduanya tetap berteman baik.

“Pasti ia belum bangun. Dasar. Mentang-mentang Minato-ku tidak terlalu jauh dari Ginza.” Satomi bergumam pada dirinya sendiri seraya berjalan menuju ke kamar mandi.

Kini giliran suara keran air wastafel yang memenuhi ruangan. Satomi menatap kaca sambil menggosok giginya. Gerakan tangannya tiba-tiba terhenti ketika dirinya mencoba mengingat bagaimana ia bisa terserang demam mendadak.

FLASHBACK

Kemarin sore . . .

Kereta api bawah tanah berhenti di stasiun pemberhentian Satomi dan Hiroki. Keduanya ikut berhamburan keluar dari dalam kereta bersamaan dengan penumpang yang lain dan mulai menuju ke kediaman masing-masing.
“Ishihara! Kau ini tadi kenapa ‘sih? Apa laki-laki yang ketinggalan kereta itu kenalanmu?”
Satomi tidak menjawab. Bukannya karena ia tidak mau menjawab, kini benaknya tidak berada di tempat sehingga tidak ada satupun pertanyaan Hiroki yang diterima oleh indera pendengarannya.
“Oy, Ishihara!” Hiroki terpaksa menepuk pundak Satomi yang masih terus berjalan hampir meninggalkannya yang sudah berhenti karena ia sudah tiba di blok apartmentnya.
“E-eh?” Merasakan tepukan pada pundaknya membuat Satomi berhenti dan menoleh pada Hiroki yang menatapnya dengan tatapan khawatir.
“Kau tidak apa-apa ‘kan?” 
Satomi memamerkan senyumnya seraya menggelengkan kepalanya, “aku tidak apa-apa. Tenang saja.”
Hiroki tidak sepenuhnya percaya karena berdasarkan pengalamannya selama menjadi rekan kerja Satomi, perempuan periang itu sangat pandai berakting.
“Sudah ya. Aku pulang dulu. Sampai jumpa besok pagi!” Satomi berpamitan pada Hiroki dengan nada ceria sebelum akhirnya pergi dari tempatnya semula berdiri tanpa menengok ke belakang.
Angin yang berhembus di sore hari bulan Desember membuat Satomi menggigil. Setebal apapun pakaian yang ia kenakan sudah pada dasarnya ia tidak tahan udara dingin. Blok apartmentnya tinggal sudah dapat terlihat dari tempatnya sekarang tetapi langkahnya terhenti.
“Shiraishi-kun…” Ia sendiri dapat mendengar gumamannya dan ia langsung berbalik arah. Sambil setengah berlari, perempuan itu menuju ke stasiun kereta bawah tanah.
Lelaki yang tadi dilihatnya dari dalam kereta pastilah Shiraishi Shunya dan kali ini ia ingin melihatnya sekali lagi bukan untuk memastikan kebenaran hal tersebut melainkan untuk menemuinya. Satomi sangat ingin bertemu dengannya.

END OF FLASHBACK

 

Tawa sinis terlontar keluar dari mulut Satomi yang masih berisi sikat gigi berwarna merah muda. Ia rasanya ingin membuang jauh-jauh ingatan bagaimana ia bisa terserang demam kali ini.

‘Bodohnya aku ini.’ Pikirnya sebelum sekali lagi menatap pantulan dirinya sendiri dalam cermin, menghela napas.

✦ Love Story ✦ Chapter 2 ✦



✦ Seeing Is Believing 

Sejauh ingatannya, hari ini adalah kali pertamanya bangun sangat pagi sekali dan sudah menyusuri distrik Ginza untuk mencari lowongan pekerjaan. Udara dingin bulan Desember tak terlalu mengganggunya karena ia mengenakan kemeja putih lengan panjang dan juga celana kain berwarna hitam, lagipula udara di Fukuoka jauh lebih dingin daripada di Tokyo.

Shunya secara seksama memerhatikan satu demi satu etalase pertokoan sambil berharap menemukan selebaran lowongan kerja tertempel di kaca etalase maupun pintu masuk.

Petualangannya sore kemarin yang berlangsung sampai malam hari untuk mencari kontrakan tidak sia-sia karena pada akhirnya lelaki yang bertubuh cukup tinggi itu berhasil menemukan tempat kontrak yang pemiliknya sangat murah hati dan mengizinkannya untuk menempati dahulu tempat itu sebelum membayarnya. Dalam doanya sebelum tidur kemarin malam, nama pemilik kontrakan itu ia sebutkan —ia sangat berterima kasih pada wanita bernama Suzuki Ami, si pemilik kontrakan.

Shunya memang jarang tersenyum, dan hal tersebut menambah kesan bahwa ia adalah orang yang bengis pada wajahnya yang sudah berwatak keras —bawaan lahir

Di masa remajanya lelaki yang sebenarnya atletis ini memiliki banyak penggemar di sekolahnya dan tak pernah sekalipun ia tersenyum pada para penggemarnya walaupun mereka menyebutnya tampan atau keren. Hanya satu kali ia tersenyum ketika seseorang menyebutnya tampan —walaupun waktu itu orang tersebut sedang mabuk— dan orang itu adalah perempuan yang membuatnya mengejar kereta api bawah tanah seperti orang bodoh.

Ia tidak meragukan penglihatannya. Ia seratus persen yakin bahwa perempuan yang dilihatnya berada di dalam kereta adalah Ishihara Satomi —perempuan yang usianya empat tahun lebih tua sekaligus cinta pertamanya.

“…” Mulut Shunya sudah terbuka, jelas sekali ia hendak menggumamkan sesuatu tetapi kemudian mulut itu kembali tertutup.

Di pintu masuk sebuah gedung perkantoran tempat ia tak jauh berdiri, terdapat selembaran kertas putih yang tertempel dan berisi mengenai lowongan pekerjaan sebagai asisten bagian perkakas —tentu saja baik pemilik perusahaan dan Shunya sama-sama tahu bahwa maksud dari asisten bagian perkakas adalah office boy.

‘Baiklah. Dengan begini aku bisa mengambil pekerjaan juga di tempat lain.’ Pikirnya sebelum memantapkan langkahnya memasuki gedung perkantoran tersebut.

 .

.

.

“Wah! Kebetulan sekali! Kami memang membutuhkan tenaga kerja muda sepertimu untuk menjadi… err.. untuk menjadi…”

Shunya tersenyum tipis sekilas, “… asisten bagian perkakas.” Ujarnya kemudian karena tahu pria berkemeja yang mewawancarainya tidak tahu harus menyebut apa lowongan pekerjaan yang saat ini sudah resmi diisi oleh Shunya.

“Anu… Maaf sebelumnya. Pekerjaan ini paruh waktu ‘kan?” Tanya Shunya sebelum keluar dari ruangan interview.

Pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Hisashi Akira itu mengangguk, “ya. Pekerjaan ini paruh waktu. Kau hanya perlu bekerja setiap harinya dari pukul dua siang sampai enam sore, kecuali rekan kerjamu mengajukan pergantian shift.” Jelas Akira sambil berjalan mengantarkan Shunya ke pintu keluar.

“Nah, sampai bertemu siang nanti, Shiraishi-kun.”

✦ Love Story ✦ Chapter 2 ✦



✦ Seeing Is Believing 

 

Semua berawal dari suara mesin pencetak tua tempat Satomi bekerja yang terdengar sampai ke ruangannya. Perempuan yang tengah terserang demam itu semakin sulit untuk berkonsentrasi padahal, berkas-berkas yang harus ia teliti sudah menumpuk tinggi di atas meja kerjanya.

Satomi kembali menatap layar komputer kerjanya setelah beberapa saat mengalihkan pandangannya ke luar jendela kantor. Pemandangan di bawah sana tidak seindah pemandangan musim panas dan musim gugur yang penuh warna tetapi setidaknya hal itu membantu mengurangi rasa jenuhnya.

“Ishihara-san!” Tiba-tiba saja, salah seorang pekerja kantor masuk ke dalam ruang kerja Satomi, “sudah waktunya istirahat makan siang. Apa kau tidak mau istirahat?”

“Hee?” Satomi melongo sebelum melirik jam tangannya dan benar saja waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lewat, pantas saja rasanya ia semakin lemas.

“Terima kasih sudah mengingatkanku, Chiba-san.”

Lelaki yang dipanggil Chiba itu tersenyum pada Satomi yang adalah atasannya sebelum meninggalkan ruang kerja Satomi dan berlari kecil menuju ke lift yang kebetulan pintunya masih terbuka.

.

.

.

Setelah mengisi perutnya dengan makanan bergizi seimbang, Satomi kembali ke kantornya. Demam yang dialaminya membuatnya tidak merasa kenyang tak peduli sudah berapa banyak ia makan. Dan bukannya semakin membaik, ia merasakan suhu tubuhnya semakin meningkat, penglihatannya juga menjadi sedikit kabur —menandakan feelingnya tepat: demamnya semakin menjadi.

Dengan langkah sedikit terhuyung-huyung Satomi berjalan meyusuri blok gedung kantornya. Di saat seperti ini, Satomi memilih untuk tinggal di sebuah kota kecil yang orangnya saling memerhatikan satu sama lain ketimbang di kota besar yang orangnya acuh tak acuh terhadap sesama. Begitu banyak orang yang berlalu-lalang di sekitarnya dan tak ada satupun yang menyadari bahwa ia sudah sangat lemas.

Sementara itu, di bagian lain distrik Ginza, Shunya dengan tergesa-gesa menerobos kerumunan Ginza yang ramai untuk segera tiba di tempat kerja barunya. Ia berangkat sedikit terlambat dari yang direncanakannya karena interview kerja yang berlangsung di sebuah cafe tempat lainnya ia akan bekerja paruh waktu memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan.

Setelah menghabiskan hampir setengah kalori yang ia makan siang ini, akhirnya Shunya tiba di dalam gedung kantor di mana ia akan bekerja sebagai asisten bagian perkakas.

Keadaan lantai satu gedung yang masih sepi menandakan masih banyak pekerja kantoran yang belum kembali dari istirahat makan siang dan hal itu menyebabkan langkah kaki Shunya terdengar menggema di lorong lantai satu. Di ujung lorong terdapat enam buah lift yang dapat digunakan sebagai alat transportasi dari satu lantai ke lantai lainnya dan di depan jejeran lift, berdiri seorang perempuan yang tengah menghadap ke arah lift.

Satomi menolehkan kepalanya begitu mendengar suara langkah kaki yang bergema di lorong lantai satu. Kedua matanya yang telah berair akibat demam, membuat penglihatannya kabur. Namun, manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk dapat mengenali seseorang melalui postur tubuh orang tersebut secara keseluruhan dan otak Satomi mengenali sosok tersebut yang semakin lama berjalan semakin mendekat.

“Shi… Shiraishi-kun…”

Kedua mata Shunya melebar melihat Satomi berada di depan matanya dan kedua matanya semakin melebar ketika melihat perempuan itu perlahan mulai rubuh. Secara refleks Shunya mendekatkan dirinya pada Satomi dan menahan tubuh mungil perempuan itu agar tidak mengenai lantai.

“Oy! Ishihara-san! Kau kenapa?! Bertahanlah!” Rasa panik terpancar di wajah Shunya. Lelaki yang semula tidak mengeluarkan keringat itu entah sejak kapan mulai berkeringat.

“Ishihara-san!” Shunya kembali memanggil Satomi sembari memberikan sedikit guncangan pada Satomi yang sudah tak sadarkan diri.

.

.

.

 

Satomi membuka kedua matanya. Ia terbangun karena medengar suara percakapan. Kedua maniknya memerhatikan sekeliling dan ia langsung tahu bahwa ia tidak sedang berada di kontrakannya. Dengan bertumpu pada sebelah tangan, ia bangun dari tempat tidur.

“Oh! Syukurlah kau sudah sadar, Ishihara! Apa kau baik-baik saja?”

Satomi tersenyum dan mengangguk ke arah pria yang ia kenal sebagai Yamashita Tomohisa, mengisyaratkan bahwa dirinya merasa baik-baik saja.

“Syukurlah! Aku sangat khawatir. Teramat sangat khawatir!” Tomohisa menghampiri Satomi yang duduk di ranjang rumah sakit dan memeluknya erat.

Sudah menjadi refleks bagi Satomi untuk menyambut pelukan dari orang lain dan saat itu juga, dari balik bahu Tomohisa yang membelakangi pintu, Satomi melihat Shunya berdiri di depan pintu.

Shunya menatap ke dalam kamar tempat Satomi dirawat dan ia melihat perempuan itu berpelukan dengan orang kantor yang tadi mengenalkan dirinya sebagai Yamashita. Ia hanya menatap ke dalam sana tanpa berkata-kata sebelum menghela napasnya seraya mengangkat kakinya dari tempat itu.

“T-tunggu!” Satomi berseru setelah melepaskan kedua tangannya dari Tomohisa. Tentu saja seruan itu ditujukan pada Shunya yang sudah berjalan dengan cepat menyusuri lorong rumah sakit sampai ke pintu keluar.

Tomohisa menoleh ke arah pintu ruang rawat, “oh… Iya tadi di depan ada pekerja paruh waktu yang mengantarmu ke sini. Untunglah setelah mengantarmu ke sini ia segera kembali ke kantor dan menanyakan pada orang-orang apakah ada yang mengenal Ishihara Satomi. Aku jadi tahu kau ada di sini, Ishihara.” Tomohisa kemudian mengusap rambut Satomi dengan lembut.

“Aku… Aku benar-benar khawatir.”

Satomi diam saja ketika Tomohisa kembali memeluknya. Demam yang dideritanya sudah turun tetapi kini ia merasakan sakit. Rasa pening akibat demam tinggi masih ia anggap lebih baik daripada rasa sakit yang kini ia rasakan.

 

 

✦ Love Story ✦ Chapter 2 ✦



✦ Seeing Is Believing 

 

Jam sudah menandakan pukul setengah tujuh malam namun Shunya masih mengantarkan paket ke lantai dua-belas yang dimiliki oleh sebuah perusahaan publishing. Hal ini ia lakukan karena keterlambatannya datang tadi siang —walaupun sebetulnya itu bukan kesalahannya tetapi ia tetap merasa harus bertanggung jawab dan keputusannya itu diterima sangat baik oleh kepala bagian perkakas.

Berbeda dengan para pegawai kantoran yang bekerja pada perusahaan masing-masing, sebagai anggota bagian perkakas Shunya bertanggung jawab pada semua perusahaan yang menempati gedung kantor tempatnya bekerja.

“Oh! Hey, kau! Kemari!”

Shunya yang sedang tidak enak hati merasa kesal ketika dirinya yang sudah bersiap-siap pulang dipanggil oleh seorang pegawai kantor —terlebih lagi yang memanggilnya adalah Tomohisa yang beberapa saat lalu dilihatnya berpelukan dengan Satomi.

“Ada apa?” Shunya bertanya dengan logat Kanagawa-nya.

“Sebagai ucapan terima kasih dariku karena kau sudah mengantarkan Ishihara-san  ke rumah sakit terdekat, aku hendak mentra—”

“Terima kasih tetapi kau tidak perlu melakukannya.” Potong Shunya cepat.

“Ah, sou desu ne… Sayang sekali… Oh iya, ngomong-ngomong kau sudah mau pulang ya? Nanti kau akan melewati rumah sakit tidak?”

Shunya mendengus pelan, “memangnya kenapa?”

“Bisa tolong temani Ishihara-san? Aku akan menjemputnya sedikit agak malam karena ada meeting mendadak. Itupun kalau kau lewat sana dan kau tidak keberatan.” Tomohisa tersenyum pada Shunya tanpa mengetahui bahwa lelaki yang tengah diajaknya berbicara sudah menganggap Tomohisa sebagai rival.

 


 To be continued . . .


 

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s