Love Story (Chapter 1)

Love Story

LOVE STORY

story by Atatakai-chan
poster by Alkindi @ Indo Fanfiction Arts

.

A chaptered fanfiction with AU and romance genre ]

.

starring
Ishihara Satomi
and
Shiraishi Shunya

.

✦ Chapter 1: All Over Again ✦

.

Langit sore di bulan Desember memang selalu tampak lebih gelap dibandingkan langit sore di bulan-bulan lainnya. Suasanya hari raya Natal yang begitu identik dengan bulan terakhir di tiap tahunnya itu terlihat jelas dari dekoran-dekoran setiap etalase pertokoan yang berjejer di sepanjang jalan distrik Ginza yang berada di kota Tokyo.

Di antara orang-orang yang sibuk berlalu lalang, seorang perempuan tengah berjalan perlahan menelusuri trotoar. Jemari lentiknya bergerak mengikuti lekuk setiap etalase toko yang dilewatinya. Terkadang senyum mengembang di paras cantiknya apabila pakaian yang menurutnya indah di pajang di etalase.

“Ishihara-san, cepatlah sedikit!”

Perempuan bersurai hitam itu mengalihkan pandangannya dari etalase sebuah butik pakaian. Senyum sempat hilang dari wajahnya namun langsung kembali bersamaan dengan saat kedua irisnya menatap partner kerjanya yang berjarak lima langkah di depannya.

“Santai saja, Yoshikawa-san. Kereta bawah tanah ‘kan akan tiba setiap lima menit sekali. Tidak usah terburu-buru seperti itu.” Meskipun berkata demikian, perempuan bernama lengkap Ishihara Satomi itu berjalan menghampiri Yoshikawa Hiroki yang kini menunjukkan tampang jengkel.

“Kalau bisa lebih cepat mengapa tidak? Lagipula bukankah kau yang waktu itu bilang kalau waktu adalah uang?” Hiroki mendesah sebelum kembali melanjutkan langkahnya.

Satomi tersenyum simpul seraya mengangguk pelan. Apa yang dikatakan oleh partner kerjanya memang benar adanya. Waktu adalah uang dan lebih cepat lebih baik —waktu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Perihal seperti ini awalnya tidak pernah terpikirkan sekalipun oleh perempuan yang kini menjabat sebagai manajer divisi sumber daya manusia tersebut.

Keadaan stasiun kereta bawah tanah yang ramai membuat sepasang partner kerja itu agak sedikit kewalahan. DI saat-saat yang seperti ini, Satomi merasa cukup beruntung karena ukuran tubuhnya yang terbilang mungil dapat membuatnya menerobos keramaian tanpa perlu extra effort.

Pada layar LCD yang terpalang di bagian atas sepanjang pintu gerbang terpampang tulisan berjalan berwarna kuning yang menyatakan bahwa kereta bawah tanah berikutnya akan tiba tiga menit lagi. Bersamaan dengan pengumuman itu, Satomi telah berdiri di belakang garis kuning. Ia dengan sabar menanti kedatangan kereta bawah tanah dan juga kedatangan partner kerjanya.

“Hey! Christmas Eve  nanti kau jalan dengan dia tidak?”

Satomi perlahan menoleh ke sebelah kanannya. Di sana berdiri dua orang perempuan yang nampaknya masih berusia belasan —berdasarkan pengamatan mengenai gaya pakaian keduanya. Kegiatan saling menyikut perlahan yang dilakukan oleh keduanya kembali membuat senyum di wajah Satomi kembali hadir.

“Apaan ‘sih? Kami ‘kan tidak pacaran! Mana mungkin ia mengajakku menghabiskan Christmas Eve bersamanya?”

Sudah menjadi semacam tradisi para perempuan di negeri Sakura ini untuk menghabiskan Christmas Eve dengan orang yang spesial atau sebut saja kekasih. Tak mengherankan banyak sekali perempuan yang tertarik mengikuti gōkon* menjelang hari Natal. Di usianya yang bisa dibilang sudah tidak muda lagi, Satomi belum pernah sekalipun mengikuti gōkon walaupun teman-teman dekatnya sudah berupaya membujuknya.

Bagi kebanyakan orang, khususnya kaum Hawa, belum memiliki kekasih di usia yang hampir tiga-puluh tahun itu benar-benar adalah hal gawat. Dan situasi inilah yang sedang terjadi pada Satomi. Tepat satu hari sebelum Natal pada tahun ini usianya akan menginjak dua-puluh enam tahun —inilah yang membuat khawatir orang-orang disekitarnya, sementara yang dikhawatirkan sama sekali tidak memikirkannya.

Sebenarnya, sebutan single juga tidak begitu tepat untuk Satomi karena pada kenyataannya perempuan itu sedang dalam status pendekatan dengan salah seorang pegawai di kantornya bekerja hanya saja, laki-laki berusia tigapuluh tahun itu belum melakukan kokuhaku* yang membuat status hubungan keduanya belumlah resmi. Penyebab utamanya bukan hanya karena kesibukan pria yang menjabat sebagai ketua divisi keuangan itu saja melainkan juga sebuah keraguan tidak berdasar yang dirasakan oleh Satomi.

Suara kereta bawah tanah yang terdengar semakin mendekat dari kejauhan membuat Satomi berhenti memerhatikan para gadis. Pandangannya menatap lurus ke arah terowongan sambil menanti pintu gerbang otomatis terbuka.

✦ Love Story ✦ Chapter 1 



✦ All Over Again 

Cuaca dingin di bulan Desember membuat seorang lelaki berpakaian tipis sedikit mengigil di antrian taksi yang berada di airport. Pakaian yang dikenakannya sangat menarik perhatian orang-orang sekitar yang berpikiran bahwa lelaki itu tidaklah normal —siapa yang menggunakan hanya sehelai kaos di musim dingin?

Lelaki berkulit cokelat itu mengabaikan pandangan-pandangan yang tertuju kepadanya, walaupun rasa canggung sedikit ia rasakan, dan dengan sabar menunggu gilirannya untuk menaiki taksi.

Lelaki itu melengguh pelan, menimbulkan uap udara dingin muncul di sekitar mulutnya, “ck. Menyebalkan,” gumamnya pelan sambil berusaha menghilangkan rasa dingin yang dirasakannya dengan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

Tas ransel yang bertengger di kedua pundaknya terlihat penuh, seakan-akan tas itu bisa saja memuntahkan isinya apabila tersenggol sehelai kapas. Benda berwarna biru laut itu pada kenyataannya memang berisi terlalu penuh dari batas normal —entah bagaimana lelaki itu membuat barang-barang yang berada di dalam sana tidak berhamburan keluar. Kalau disuruh mencoba untuk mengepak tas yang sama dengan barang-barang yang sama untuk kedua kalinya, lelaki itu mungkin tidak akan bisa melakukannya.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya lelaki itu bisa masuk ke dalam taksi. Diletakannya tas yang selama ini dipanggulnya di samping tempat duduknya sebelum ia menutup pintu taksi dan mengenakan sabuk pengaman.

“Tolong antarkan aku ke distrik Ginza.” Setelah komando ia berikan, supir taksi bergegas melajukan kendaraan beroda empat itu menuju tempat tujuan.

Helaan napas lega terdengar seraya lelaki itu menyenderkan punggungnya yang terasa pegal ke sandaran kursi mobil taksi. Ia menopang dagunya pada tangan kirinya yang bertengger di pintu taksi yang sudah tertutup rapat. Kedua indera penglihatannya tertuju pada sisi jalan. Laju taksi yang cepat membuat pemandangan juga berlalu cepat, otomatis membuat lelaki itu pusing dan iapun akhirnya berhenti memandangi sisi jalan.

Jarak dari bandara Haneda ke Ginza berkisar sekitar delapan-belas kilometer dan dengan bantuan taksi, jarak tersebut dapat ditempuh selama kurang lebih sembilan-belas menit saja, dengan catatan tidak ada kemacetan terjadi. Lelaki bersurai cokelat gelap itu memaksakan kedua matanya untuk tetap terbuka karena sembilan-belas menit adalah waktu yang cukup singkat.

Argometer kendaraan umum itu berhenti dan si lelaki yang berperan sebagai penumpang itu bergegas merogoh saku celananya untuk mengeluarkan dompet miliknya. Dikeluarkannya sejumlah uang yang sesuai dengan yang tertera pada argometer dan menyerahkannya pada sang supir.

“Terima kasih. Selamat bekerja,” pamitnya pada supir taksi sebelum menutup pintu dari luar.

Seulas senyum tergores di wajah lelaki yang baru saja tiba dari Fukuoka itu. Distrik Ginza adalah tempat favoritnya di kota Tokyo. Walaupun ia lahir dan tumbuh di Kanagawa, masa remajanya ia habiskan di Tokyo —tempat ia menuntut ilmu sebagai siswa sekolah menengah atas.

Sebenarnya bisa saja ia mengendarai taksi dari bandara Haneda langsung sampai ke Kanagawa tetapi dompetnya berpendapat bahwa hal itu berarti pemborosan.

Dengan langkah yang lebar, lelaki itu berjalan menuju ke stasiun bawah tanah yang terletak tak jauh dari tempat taksi yang mengangkutnya tadi berhenti. Sambil bersiul-siul, ia menuruni tangga menuju ke stasiun dengan hati-hati. Bisa sangat merepotkan kalau ia sampai jatuh dan seluruh isi tasnya berhamburan.

✦ Love Story ✦ Chapter 1 

 



✦ All Over Again 

 

Gerbong kereta bawah tanah terbuka. Orang-orang berhamburan keluar dari dalam sementara penumpang yang hendak naik dengan sabar menunggu di belakang garis kuning. Sudah peraturannya untuk membiarkan penumpang yang akan turun keluar terlebih dahulu.

Satomi beserta rekan kerjanya, Hiroki, langsung memasuki gerbong kereta begitu para penumpang yang hendak turun sudah keluar dari gerbong. Keduanya langsung memosisikan diri mereka di dekat tiang penyangga. Hiroki menjulurkan tangannya ke atas untuk meraih handrail, sembari melakukan hal itu, tak lupa ia tersenyum jahil pada Satomi. Perempuan itu mendengus, kesal karena Hiroki menjahilinya, dan langsung berpegangan pada tiang penyangga.

“Ishihara-san. Apa Yamashita-san menagajakmu keluar pada Christmas Eve nanti?”

Satomi menggeleng sebelum menatap Hiroki, “tidak. Memangnya kenapa?”

“Wah, kalau begitu aku harus minta maaf. Aku kira ia menolak ajakan kami untuk hang out bersama karena sudah ada janji denganmu.”

Satomi terkekeh geli melihat raut wajah Hiroki yang tampak kebingungan, tidak tahu harus meminta maaf seperti apa Yamashita Tomohisa yang jabatannya jauh lebih tinggi daripadanya.

“Perhatian kepada para penumpang. Pintu kereta akan segera tertutup.”

Suara pengumuman itu bergema di dalam kereta dan seperti biasanya, setelah pengumuman itu terdengar pintu kereta akan segera tertutup beberapa saat kemudian. Di saat para penumpang sudah memposisikan dirinya masing-masing di dalam kereta dan masinis sudah besiap-siap untuk melajukan kereta, tiba-tiba saja seorang lelaki berlari dari kejauhan semakin lama semakin mendekat pada pintu kereta yang sudah setengah tertutup.

“Tunggu!”

Namun terlambat, pintu kereta sudah tertutup dan kereta mulai melaju perlahan.

Kedua mata Satomi membulat. Ia langsung menoleh ke luar jendela —dari tempatnya berdiri ia dapat melihat sosok lelaki pemilik suara yang sama dengan seseorang yang ia kenal.

Kereta sudah melaju semakin cepat dan pada saat itulah kedua mata Satomi bertatapan dengan mata lelaki itu. Bukan hanya suaranya saja yang sama, tetapi lelaki itu memanglah orang yang dikenalnya.

Sepersekian detik berikutnya, lelaki itu sudah berlari mengejar kereta yang semakin lama semakin cepat. Ia melemparkan ranselnya ke sembarang arah agar bisa menyeimbangi laju kereta.

Sementara itu, di dalam kereta, Satomi juga berlari ke arah gerbong belakang. Keluhan penumpang lainnya membuat perempuan itu merasa tidak nyaman tetapi ia harus melakukannya. Ia ingin memastikan ia tidak salah lihat.

“Ishihara-san! Kau ini ke—”

“Shiraishi-kun!”

“Hee?” Hiroki yang memegangi erat kedua bahu Satomi untuk mencegahnya bergerak, menatapnya dengan tatapan bingung.

“Itu Shiraishi-kun!” Satomi kembali mengulang ucapannya tanpa menatap Hiroki karena saat ini pandangannya masih tertuju ke luar jendela kereta —masih menatap lelaki yang sudah berhenti mengejar kereta.

✦ Love Story ✦ Chapter 1 

 



✦ All Over Again 

Lelaki bernama lengkap Shiraishi Shunya itu berhenti mengejar kereta. Napasnya sudah tersengal-sengal dan kedua kakinya sudah pegal. Lagipula, ia tidak akan berhasil menyusul kereta sehingga ia menghentikan usaha sia-sianya. Setelah kereta bawah tanah tadi tidak terlihat lagi, ia membungkuk dan menempatkan kedua telapak tangannya di atas kedua lutut. Ia mencoba mengatur napasnya yang tak beraturan.

“Sial,” ia bergumam pelan di antara hembusan napasnya.

Shunya berbalik arah dan berjalan cepat menuju ke tempat di mana tadi ia melemparkan tasnya. Ia menghela napas lega karena tas miliknya itu masih berada di tempat yang sama dan isinya tak berhamburan.

Kebali ia mengabaikan padangan orang-orang yang tertuju kepadanya dan bergegas menggendong kembali tas ranselnya sambil melangkah ke belakang garis kuning, menunggu kereta bawah tanah berikutnya tiba.

.

.

.

“Perhatian kepada para penumpang. Pintu kereta akan segera tertutup.”

Pengumuman akan tertutupnya pintu kereta membuat Shunya tertegun. Lelaki berusia dua-puluh dua tahun itu tampak bimbang. Beberapa detik sebelum pintu kereta benar-benar tertutup, ia melangkah keluar dari dalam gerbong dan kemudian melangkah menuju pintu keluar stasiun.

Beberapa detik yang lalu ia telah membulatkan tekadnya bahwa ia tidak akan pulang ke kediaman keluarganya di Kanagawa selama cuti kuliahnya berlangsung. Ia memutuskan untuk tinggal di Tokyo sampai semester berikutnya tiba. Keputusan itu tidak diambilnya begitu saja semudah membalikkan telapak tangan.

“Nah,” Shunya menghela napasnya seraya menengok ke sekelilingnya tempat di mana gedung-gedung perbelanjaan saling berdiri bersebelahan.

“Sebaiknya mencari kontrakan terlebih dahulu atau tempat kerja dulu ya?” Gumamnya pada diri sendiri seraya berjalan menyusuri trotoar.



TO BE CONTINUED . . .


author’s note :

* gōkon : berarti kencan buta (more )
*kokuhakulove confessing (more)

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s