[Season Change] [Summer] Every Summer Has A Story

Every Summer Has A Story

EVERY SUMMER HAS A STORY

by Atatakai-chan

 

|| AU, Romance — Oneshot — ||

.

starring
Dream/E-girls Shizuka as Nishida Shizuka
Doberman Infinity SWAY as Nogae Shuhei

.

Musim panas akan segera berakhir. Hal tersebut ditandai oleh coretan spidol merah yang sudah hampir memenuhi kolom tanggal kalender bulan Agustus. Shizuka menghela napasnya seraya mematikan lampu kamarnya sebelum melangkah keluar kamar sambil menenteng helm berwarna hitam kesayangannya.

VROOM! VROOM!

Deru suara mesin motor asli keluaran negeri Sakura itu terdengar jelas di jalanan yang masih sepi. Shizuka mengenakan helmnya sebelum mengendarai kendaraan beroda dua itu menuju ke jalan besar. Nishida Shizuka adalah seorang gadis yang suka melakukan petualangan dan melihat dunia dari atas motor pemberian Ayahnya meskipun begitu, gadis berkulit sawo matang itu tidak menghilangkan sisi feminimnya sehingga kedua orangtuanya sering dibuat khawatir apabila ia berkeliaran sendiri.

Awalnya, Shizuka lebih suka menghabiskan waktu liburan musim panasnya bersama dengan keluarganya di kampung halaman sang Ayah namun, rutinitas itu berubah semenjak musim panas dua tahun lalu.

Angin yang bertiup dari arah yang berlawanan dengan laju motor Shizuka sama sekali tidak mengganggu gadis itu karena helm senantiasa melindungi indera penglihatnya dari terpaan angin. Setelah sekitar setengah jam berkendara, Shizuka memperlambat laju motornya, tak lupa ia menyalakan lampu sen kiri —mengisyratkan bagi siapapun pengendara maupun pengemudi yang berada di belakangnya bahwa ia akan berbelok ke sebuah pom bensin yang terletak di sisi kiri jalan.

Tepatnya, pom bensin itu terletak tak jauh dari perbatasan wilayah N —tempat Shizuka tinggal— dengan wilayah S. Banyak sekali pengemudi dan pengendara yang menghentikan kendaraan mereka di sana baik hanya untuk mengisi bensin atau sekadar ke toilet —ada juga yang berhenti untuk membeli makanan. Namun, tujuan anak tunggal keluarga Nishida berhenti di sana bukan untuk ketiganya.

OhaAh. Halo, Nishida-chan.” Sebuah sapaan diberikan oleh penjaga kasir mini-market begitu Shizuka memasuki tempat yang buka selama duapuluh-empat jam setiap harinya itu.

Ohayou, Sakamoto-san.” Shizuka balas menyapa, tak lupa ia memberikan senyum terbaiknya pada Sakamoto Ichiro yang berusia sepuluh tahun lebih tua.

“Ah~ Aku benar-benar iri pada pasangan muda.”

Shizuka yang tengah mencondongan bagian depan tubuhnya pada meja kasir langsung menatap Ichiro dengan tatapan bingung, “eh?” Lengkaplah sudah tanda bahwa gadis itu tidak mengerti apa yang dimaksud oleh penjaga kasir yang berada di hadapannya.

“Kalian pasti mau berkelana lagi ‘kan? Kau dan Nogae-kun.”

Wajah Shizuka memerah. Nama yang baru saja disebutkan oleh tuan Sakamoto bagaikan sebuah mantra sihir.

“Tidak pantas untuk dikatakan berkelana. Kami hanya akan pergi ke wilayah H.” Tiba-tiba saja, entah kapan datangnya, Nogae Shuhei —lelaki yang baru dibicarakan— muncul dari balik salah satu lorong rak makanan sambil memegang sebungkus roti di tangan kanannya.

“Wah! Sejak kapan kau ada di sini, Nogae-kun?”

Shuhei terkekeh pelan seraya meletakkan barang belanjaannya di atas meja kasir. “Sudah dari tadi. Kau tidak tahu, Sakamoto-san?” Shuhei mengeluarkan selembaran uang dari dalam dompet miliknya dan meletakannya juga di atas meja kasir.

“Kembaliannya untukmu saja, Sakamoto-san. Anggap saja itu ucapan terima kasih dariku karena kau selalu menggantikan shift kerjaku di musim panas.” Shuhei tersenyum ke arah tuan Sakamoto sebelum mengarahkan wajah tersenyumnya itu pada Shizuka, “wah. Hari ini rambutmu digerai? Ternyata kau benar-benar serius berniat mengubah penampilanmu ya?”

Shizuka, dengan wajah berseri-seri —senang karena sang kekasih menyadari perubahan pada penampilannya— menatap Shuhei dan menganggukkan kepalanya sebanyak dua kali.

“Bagaimana menurutmu?”

“Hm…” Shuhei memerhatikan Shizuka secara seksama sebelum kemudian membuka mulutnya untuk berkata, “kalau mau digerai, poninya jangan kau naikkan. Keningmu jadi terlihat makin lebar.” Senyum geli dipamerkan oleh lelaki berambut abu-abu tidak natural itu pada sang kekasih sebelum mencubit gemas pipi Shizuka yang tengah cemberut.

“Ayo kita berangkat sekarang mumpung matahari belum terik.” Shuhei menggandeng lengan Shizuka dan keduanya melangkah keluar dari mini-market, meninggalkan Sakamoto Ichiro tersenyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya secara perlahan.

.

.

.

“Oy, Nishida-chan. Kemarilah.”

Shizuka yang tengah berjongkok dan berbincang dengan penjual kerang di pinggir pantai langsung menoleh begitu namanya dipanggil. “Sebentar, Nogae-kun.” Gadis bermata cokelat terang itu kembali menoleh pada sang penjual kerang, “saya permisi dulu ya,” dan ia berpamitan sebelum bangkit berdiri dan menghampiri Shuhei yang tengah menatap lautan.

“Ada apa, Nogae-kun?” Kini keduanya berdiri bersebelahan menatap ke arah lautan biru.

“Aku punya dua kabar yang harus kusampaikan padamu,” Shuhei berujar sambil masih menatap ke arah laut walaupun dirinya tahu bahwa kini Shizuka tengah menatapnya dengan sepasang manik penuh kehidupan. Ia mendesah, “satu kabar baik dan satu lagi…. kabar yang tidak begitu baik.”

Shizuka menyelipkan tangannya di sela-sela lengan kanan Shuhei yang kekar sebelum merangkulnya dengan lembut, “lanjutkan. Sampaikan padaku kedua kabar itu.” Shizuka mendongak untuk menatap Shuhei, menunggu laki-laki itu untuk melanjutkan kalimatnya.

“Kabar gembiranya, kedua orangtuaku sudah menyetujui jurusan kuliah yang aku inginkan da—”

“Wah? Hontou niOmedetou, Nogae-kun.” Shizuka memotong ucapan Shuhei seraya menyenderkan kepalanya pada lengan Shuhei. Ia memberikan jeda untuk mempersiapkan mentalnya dalam menerima kabar kurang baik apa yang akan disampaikan oleh sang kekasih.

Mengetahui apa yang menjadi tujuan Shizuka memotong ucapannya, Shuhei melepaskan lengannya dari rangkulan Shizuka dan kini kedua lengannya yang kuat memeluk erat tubuh Shizuka, menarik gadis itu ke dalam dekapannya.

“Aku harus pindah ke Fukuoka untuk melanjutkan studiku.” Ujar Shuhei setengah berbisik seraya mempererat pelukannya.

“Aku mengerti. Mungkin hanya bisa bertemu beberapa tahun sekali ‘kan?”

Shuhei mengangguk. Jarak dari Fukuoka ke Tokyo yang terbilang cukup jauh memakan waktu kurang lebih 13 jam menggunakan keretan dengan biaya yang kurang lebih seharga duaribu yen —terhitung mahal.

Shizuka balas memeluk Shuhei dan ia memejamkan matanya. Pikirannya kembali ke dua tahun lalu, pada saat itulah ketika awal bulan Juli ia bertemu Shuhei untuk pertama kalinya. Pertemuan pertama mereka terbilang tidak menyenangkan —Shuhei menyerempet motornya sehingga kendaraan beroda dua itu perlu diperbaiki berminggu-minggu. Namun, kejadian itu adalah awal manis dari segalanya. Mulai saat itu, Shuhei yang memiliki harga diri tinggi, merasa bertanggung jawab dan setiap harinya mengantar-jemput Shizuka.

Waktu berjalan begitu cepat dan pada musim panas tahun berikutnya, saat keduanya resmi menjadi pasangan kekasih, mereka menghabiskan liburan musim panas mereka dengan mengendarai motor menelusuri ibu kota.

Shizuka membuka kedua matanya dan mendongak menatap Shuhei dan lelaki itu balas menatapnya sebelum membuka mulutnya untuk berkata, “aku tidak sabar untuk menghabiskan liburan musim panas berikutnya denganmu. Sampai saat itu tiba, jagalah dirimu baik-baik ya?”

Shizuka tersenyum lebar seraya menganggukkan kepalanya, “aku juga. Aku akan sangat merindukanmu.”

FIN.

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s