The Sea

Gif belongs to
©Pinkocean.co

THE SEA

by Atatakai-chan

.

starring
OMG Hyojung
and
B1A4 Baro

|| AUFantasyRomance — Ficlet — General ||

.

Disclaimer:
I own nothing except the plot/storyline.
Inspired by a popular Cornish folk: Mermaid of Zennor

=====================

“You’re like a sweet fantasy that came with the white sunlight
You’re my dream, though we’re at different places.”

====================

Bel berbunyi, memanggil para penduduk untuk melaksanakan ibadan Minggu. Ada sebuah gereja kecil sederhana dengan menara granit yang dibangun untuk menahan angin kencang dan udara yang datang dari laut.

Cha Sunwoo berdiri di tempat paduan suara dan melihat bangku baru yang sedang diukirnya. Bangku itu hampir selesai, hanya satu sisi lagi yang perlu diukir.

Saat para jemaat bernyanyi, terdengarlah suara lembut yang indah. Belum ada yang pernah mendengar suara semerdu itu. Saat para jemaat meninggalkan ibadah Minggu itu, di belakang gereja kecil itu berdirilah seorang gadis yang sangat cantik yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Bajunya terbuat dari sutera lembut; kadang warnanya hijau laut dan lain waktu biru langit. Di sekeliling leher gadis itu terpajang sebuah kalung mutiara yang bersinar.

Sunwoo melangkah keluar dari gereja, kedua maniknya langsung terpaku pada gadis itu. Sebuah senyuman manis diberikan oleh gadis itu pada sang penatap, membuat wajah lelaki itu memerah.

“Halo nona, senang bertemu denganmu di hari Minggu yang cerah ini.” Chanwoo memberanikan dirinya untuk menyapa sang gadis yang menurutnya adalah gadis tercantik sejagad raya.

“Wah, terima kasih, tuan. Senang juga bertemu denganmu di hari Minggu yang cerah ini ketika ombak lautan berdesir lembut.” Sang gadis menyahut sambil masih memamerkan senyumnya.

Keduanya kemudian berjalan berdampingan menjauhi gereja. Tak ada satupun diantara mereka yang berbicara, yang terdengar hanyalah suara kicauan burung dan suara hempasan ombak. Sunwoo mencoba merangkai kata untuk memulai perbincangan, namun ketika ia menoleh ke sebelahnya, gadis itu telah hilang.

Esok harinya, bagaikan mimpi, ketika Sunwoo tengah melanjutkan pahatannya pada bangku di gereja, si gadis cantik yang kemarin ia temui itu memasuki gereja, masih mengenakan pakaian yang sama dengan kemarin.

“Oh, rupanya bangku itu kau yang mengukirnya, ya? Indah sekali.”

Sunwoo hanya tersenyum mendengar pujian yang dilontarkan pada hasil karyanya. Lelaki itu kembali memahat bangku, ia mengukir bentuk daun menjalar di sekeliling pinggiran bangku.

“Apa yang akan kau ukir di sisi bangku itu, Sunwoo?” Tanya gadis itu, setengah berbisik ketika ia menyebut nama Sunwoo.

Lelaki yang dipanggil itu tertegun ketika namanya dibisikkan oleh si gadis. Ia kemudian untuk sekejap mencium aroma laut yang sangat kuat seperti saat ia sedang berdiri di pinggir pantai. Begitu ia menoleh ke arah yang ia yakini tempat gadis itu berada, kembali gadis itu tak terlihat.

“Jangan datang ke gereja lagi.” Itu yang dikatakan oleh kedua orangtua Sunwoo begitu mendengar cerita anak tunggal mereka dan Sunwoo pun dibuat kebingungan oleh perkataan kedua orangtuanya.

“Kenapa? Apa aku tidak diperbolehkan untuk menemui gadis itu?”

Nyonya Cha menatap suaminya, namun tatapannya tak berbalas. Ia kemudian menatap anak semata wayangnya dan berkata, “kau boleh bertemu dengannya tetapi jangan kau menatap ke dalam matanya.”

“Kenapa?” Kembali Sunwoo bertanya, kali ini dengan sedikit nada memaksa.

Namun kedua orangtuanya tidak menjawab.

Waktu berlalu, dan setiap Minggu gadis itu datang ke gereja. Dan setiap Minggunya Sunwoo bagaikan bermimpi karena sepulangnya dari gereja gadis itu menunggunya sambil mengenakan senyuman di paras rupawannya.

“Jangan kau menatap ke dalam matanya.” 

Nasihat sang ibu selalu Sunwoo ingat, ia selalu menjadi anak yang baik dan penurut sampai pada hari minggu terakhir di bulan November. Sunwoo mulai tergoda untuk menatap mata sang gadis yang telah lama mencuri perhatiannya. Ketika sepasang maniknya menatap kedua indera penglihatan sang gadis, kewarasannya beserta akalnya tidak lagi bersamanya.

Malam itu, Sunwoo tidak tidur di tempat tidurnya, dirinya juga kemudian tidak terlihat lagi di pulau maupun sekitarnya. Gadis jelita itu pun tidak pernah lagi datang ke gereja.

Hanya para nelayan yang menggeleng-gelengkan kepala saat duduk berbincang-bincang di malam musim dingin. Mereka membicarakan putri duyung yang mereka lihat di laut dan seorang pemuda yang selalu berenang di sisinya.

“Janganlah kau menatap ke dalam matanya… Karena dialah sang lautan.”

FIN.



author’s note:

Happy birthday, belated, for my beautiful Choi Hyojung! ❤

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s