The Aftermath (Part 1)

The Aftermath copy

THE AFTERMATH

a sequel from Sinister

.

starring
SEVENTEEN Hoshi as Sano Hoshi
and
Sano Reo as Sano Reo

.

|| Oneshot – AU, FamilyDark!Thriller – PG-13 ||

.

.

.

Aku merasakan panas dari luka yang terbentuk di sepanjang lenganku. Darah merembes keluar, membasahi lengan baju berbahan linen yang masih melekat di tubuhku. Aku pun membuka mulutku untuk berteriak ketika sosok itu semakin mendekat.

“AAAAAHHHH!”

Aku terhenyak mendengar suaraku sendiri. Peluh membasahi sekujur tubuhku, membuatku tampak baru saja mandi. Aku melihat ke sekelilingku. Sinar matahari masuk melalui celah jendela tanpa gorden. Aku berada di dalam kamarku di panti asuhan.

Ohayou*~.” Terdengar suara parau Reo, menandakan anak itu pasti baru saja bangun.

Mou*, Reo.” Sahutku seraya kembali merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.

Aku merasakan kehadiran Reo di atas tempat tidurku dan aku mau tak mau menggeser posisiku, memberi tempat baginya untuk ikut berbaring.

“Masih memimpikan hal itu?”

Suara parau Reo kembali terdengar, kali ini ia bertanya. Aku menjawab pertanyaannya dengan anggukan, masih terlalu lelah untuk membuka mulutku karena hell, mimpi itu selalu saja terasa nyata.

Aku membalikkan tubuhku menghadap Reo yang kedua matanya tengah terpejam. Sepertinya teriakkanku tadi membangunkannya. Ku arahkan tanganku pada rambut hitamnya kemudian mengusapnya pelan. Anak lelaki yang kini entah siapanya diriku itu sudah besar, bahkan tinggi kami sekarang sepantar.

“Reo-kun*, apakah kau masih menganggapku kakakmu?” Gumamku pelan, tentu saja aku tidak mau ia mendengar pertanyaan bodohku itu tetapi, aku benar-benar menginginkan jawabannya.

Selepas malam bertahun-tahun lalu itu, kami tinggal di panti asuhan tempatku dulu dirawat. Aku dan Reo menceritakan kisah kami pada pengurus panti asuhan namun beliau hanya menganggap kami bercanda, beranggapan bahwa kami hanyalah kabur dari rumah karena merasa tidak nyaman. Meskipun begitu, aku merasa berterima kasih karena beliau memberikan izin bagi kami untuk tinggal di tempat ini.

Selepas malam itu pula, aku menjadi bimbang apakah aku masih seorang Sano Hoshi yang memiliki tanggung jawab penuh atas adik angkatku, Sano Reo? Ataukah hubungan yang mengikat kami berdua sudah putus?

.

.

.

“Hoshi-nii*! Ayo kita main!” Mendengar namaku dipanggil, aku refleks menoleh.

Senyum mengembang di wajahku ketika aku melihat salah satu anak panti asuhan, Taiki, yang sudah seperti adikku sendiri berlari kecil menghampiriku dengan membawa sebuah bola plastik di tangannya.

“Tunggu sebentar ya, Tai-tan*. Niichan harus membantu mengangkat jemuran terlebih dahulu.”

Penolakan dariku membuat bibir Taiki mengerucut. Sambil menggerutu, anak itu berlalu daripadaku menuju ke ruangan tengah tempat di mana biasanya anak-anak berkumpul setelah sarapan pagi.

Saat ini, di panti asuhan, aku menjadi satu-satunya anak yang tergolong remaja. Sisanya masih sangat kecil bahkan Reo pun usianya hanya sebelas tahun, empat tahun lebih muda dariku. Namun, jabatan ini tidak akan berlangsung lama.

Aku melangkah menuju ke halaman belakang tempat di mana pakaian-pakaian kami dijemur. Sesampainya di sana aku dikejutkan oleh pemandangan yang tidak biasa, membuatnya menjadi luar biasa. Di sana sudah berdiri Reo namun, ia hanya tidak sekadar berdiri. Anak lelaki yang tingginya sudah sepantaranku itu tengah mengangkat jemuran, melipatnya dan kemudian memasukannya ke dalam keranjang yang terbuat dari rotan.

Entah feelingnya yang kuat atau ia memiliki mata ketiga di belakang kepalanya, ia langsung menoleh ke arahku sepersekian detik setelah aku memerhatikannya. Tatapan matanya masih tetap sama seperti dulu hanya saja kini aku sama sekali tidak merasa takut melihat tatapan yang bagaikan milik sang Elang itu.

“Kalau niichan mau bantu, ya bantu. Jangan hanya berdiri di sana.” Dari nadanya yang selalu monoton dan seringkali terdengar serius, sulit sekali bagi orang-orang untuk menemukan candaan terselip di setiap perkataannya namun itu tidak berlaku padaku. Aku berani mendeklarasikan bahwa aku sangat mengenal Sano Reo sebagaimana seorang kakak mengenal adiknya, bukan sebatas saudara tiri.

“Baiklah, baiklah. Aku bantu. Kau bawa saja dulu ke dalam jemuran yang sudah kau masukkan ke dalam keranjang. Biar aku yang membereskan sisanya.”

Aku berjalan ke arahnya sementara ia berjalan ke arahku, dan ketika kami bersimpangan, sayup-sayup aku mendengarnya mengucapkan salam perpisahan. Aku menghentikan langkahku untuk menoleh ke arahnya namun, Reo tidak berhenti melangkah. Mungkin ada yang salah dengan pendengaranku.

.

.

.

Waktu berlalu dengan sangat cepat. Hari tiba-tiba saja sudah malam. Semua anak-anak sudah terlelap di dalam kamar masing-masing. Aku tahu karena aku yang mengantarkan satu per satu dari mereka ke kamar masing-masing, semuanya beranggapan aku adalah sang kakak tertua sehingga semuanya mengandalkanku, bukan hanya anak-anak saja tetapi pengurus panti asuhan juga.

Aku memasuki kamar yang kubagi berdua dengan Reo semenjak bertahun-tahun sejak malam itu. Aku menengok ke arah tempat tidurnya ketika mendapati lampu kamar masih menyala. Di sana Reo duduk sembari memainkan PSP miliknya.

“Hey, anak kecil, sudah jangan bermain lagi. Tidurlah.” Aku menekan sakelar lampu kamar dan cahaya yang tersisa di dalam kamar kini hanya berupa sinar dari layar PSP yang masih berada dalam genggaman Reo.

Aku berjalan menuju ke tempat tidurku kemudian merebahkan diriku di sana. Kutarik selimut sampai sebatas leherku dan kupejamkan mataku. Tak lama setelah itu, tidak lagi terdengar suara dari PSP Reo. Yang terdengar hanyalah kesunyian.

“…”

Aku mendengar helaan napas Reo. Baru ketika aku hendak membuka mataku dan bertanya ada apa, suara Reo telah terlebih dahulu memecah kesunyian.

“Kau harusnya memberitahuku lebih awal. Percuma saja menyembunyikannya dariku.”

Aku tertegun. Memang sih belum pasti kejelasan akan apa yang dikatakan oleh Reo namun, aku bisa menduga hal itu merujuk pada hal sehubungan dengan akan diadopsinya diriku oleh sebuah keluarga yang berasal dari Osaka.

Oyasumi*.”

Suara tempat tidur yang sedikit bersinggungan dengan tembok menandakan bahwa kini Reo sudah merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Kedua mataku masih terbuka. Aku hendak berbicara namun, sepatah katapun tidak dapat keluar dari mulutku —rasa bersalah sudah membebani mulutku terlebih dahulu.

Baik diriku maupun Reo tidak ada yang mengeluarkan suara. Padahal aku tahu ia masih terjaga dan ia pun pasti tahu aku belum tertidur. Aku tidak tahu mana yang lebih buruk —dulu ketika ia sering memberikanku tatapan sinis atau sekarang saat kesunyian janggal yang tidak jelas kapan akan berakhir tercipta di antara kami— sehingga aku memutuskan untuk memejamkan mata, mencoba untuk terlelap.

 

Hoshi memasuki ruang kerja pengurus panti asuhan. Di sana telah duduk sang pengurus panti asuhan di balik meja kerjanya. Senyum ramah menghiasi wajahnya seraya ia mempersilakan Hoshi untuk duduk.

“Apa kau tahu mengapa kau dipanggil kemari, Hoshi?”

Hoshi menggeleng pelan walaupun dalam hati ia sudah menebak apa yang akan dibicarakan.

“Ini soal permintaanmu waktu itu. Kalau dipikir-pikir kau ada benarnya. Umurmu sudah sebesar ini dan kau masih belum merasakan kasih sayang sebuah keluarga, tentu itu bisa membawa dampak buruk untuk perkembanganmu.”

Hoshi mengangguk, tanda mengerti.

“Kami sudah mencari kemana-mana dan ternyata cukup sulit untuk menemukan keluarga yang bersedia mengadopsi anak yang umurnya sudah termasuk remaja. Ada satu keluarga yang berasal dari Osaka dan mereka bersedia mengadopsimu sebagai anak mereka.”

Hoshi menggigiti bibir bawahnya, “apakah… Apakah memungkin apabila kau meminta mereka untuk juga mengadopsi Reo?”

Pengurus panti asuhan menghela napas mendengar pertanyaan Hoshi, “maafkan aku, Hoshi. Aku sudah menanyakan hal itu pada mereka tetapi mereka menolak. Katanya mereka pernah dulu mengadopsi anak yang bukan murni yatim piatu dan anak itu menolak mentah-mentah keberadaan mereka karena masih terbiasa dengan keluarga lamanya….”

 

Aku menghela napas. Aku tidak tahu darimana ia bisa mengetahui hal yang tidak kuceritakan pada siapapun. Aku sudah berusaha untuk bertingkah normal seperti biasanya semenjak pengurus panti asuhan memberikanku kabar itu. Apakah mungkin karena aku terlalu berusaha bertingkah normal sehingga hal itu malah terlihat janggal di matanya?

Inilah alasan mengapa aku ingin mendapat jawaban dari Reo, “apakah kau masih menganggapku kakakmu, Reo?” Karena dalam hitungan hari, aku sudah bukanlah bagian dari panti asuhan ini lagi.

 


 

“Pakaian sudah… Perlatan menulis juga sudah…”

Hoshi menelaah ke dalam kopernya yang kini sudah berisi barang-barang miliknya yang akan dibawa pindah ke Osaka, memastikan segala barang yang dibutuhkannya sudah berada di dalam sana sehingga dia tidak akan begitu merepotkan keluarga barunya untuk membelikan barang-barang baru.

“Hoshi? Apa kau sudah siap?”

Hoshi menoleh kepada pengurus panti asuhan yang sudah berdiri di ambang pintu kamar. Ia mengangguk, menandakan dirinya sudah siap.

“Baiklah. Kami menunggumu di ruanganku, ya.”

Hoshi menyahut dengan senyuman. Ia berdiam di sana sampai pengurus panti asuhan berjalan menjauhi kamar. Helaan napas lolos dari mulutnya. Ia menengok ke arah tempat tidur Reo yang masih berisi sang pemilik. Padahal sudah pukul sepuluh tetapi anak itu belum juga bangun —satu-satunya kemungkinan adalah karena Reo tidak ingin mengatar kepergiannya.

“Reo-kun, nii-chan pergi dulu, ya.” Hoshi berujar seraya duduk di tepian tempat tidur Reo.

“…”

“Maafkan aku. Kita masih bisa saling berkirim surat, bukan?”

Reo membalikkan tubuhnya, kini anak itu memunggungi Hoshi.

“Suatu hari nanti kau pasti juga akan menemukan sebuah kelu—”

“Jadi selama ini bagimu aku bukan keluarga?”

 

Sepanjang perjalanan, aku pun mulai berpikir apakah keluarga harus terdiri dari ayah, ibu dan anak saja? Aku memang terlalu naif. Kedua mata Reo yang membengkak akibat menangis masih terbayang di benakku —ia pasti menangis semalaman.

“Jadi, namamu Hoshi ya, nak?”

Aku menoleh ke sebelah kiriku, tempat ayah angkatku duduk sambil tersenyum memandangiku. “Iya. Nama saya Hoshi.” Aku pun membalas senyumannya.

“Hahaha. Tidak perlu seformal itu dengan otousan*, Hoshi.” Telapak tangan besar pria dengan nama keluarga Nakajima itu mendarat di kepalaku, memberikan beberapa tepukan ringan.

“Oh iya, ngomong-ngomong, otousan minta maaf mengenai adi—”

“AH!” Aku berseru sedikit kencang.

“Tidak apa-apa ‘kok. Tidak apa-apa.” Aku memaksakan sebuah senyum untuk menyembunyikan kepedihan yang aku rasakan —mengenai keputusan dan pemikiran naifku yang membuat Reo kutinggalkan di panti asuhan. Seharusnya aku tidak melakukannya.

Saat ini tidak ada yang bisa aku lakukan selain mendoakan kebahagiannya dengan keluarga barunya kelak. Aku berharap keluarga yang nantinya mengadopsi Reo akan menyayanginya seperti mereka menyayangi anak mereka sendiri.

“Oh iya, Hoshi-kun, apa kau tahu arti dari nama keluarga kita?”

Untuk sesaat aku menatap ayah angkatku. Entah mengapa rasanya aku pernah melihat senyuman itu di suatu tempat bahkan kalau boleh jujur, wajahnya terasa tak asing. Sempat terpikirkan olehku kemungkinan kalau pria ini adalah seorang kriminal atau buronan.

Aku menggelengkan kepalaku untuk mengusir jauh-jauh prasangka buruk yang aku miliki. Ini pasti efek kejadian malam itu. Sejak saat itu, aku mulai tidak memercayai siapapun kecuali Reo dan seluruh penghuni panti asuhan —termasuk para pengurus.

“Oh? Aku kira waktu itu pengurus panti asuhan mengatakan kau anak yang pintar. Tapi tidak mengherankan ‘sih, nama keluarga Nakajima memang jarang digunakan.”

 


 

Hujan lagi-lagi turun. Sudah tiga hari berturut-turut hujan mengguyur kota Osaka. Aku duduk termenung memandangi keadaan di luar kaca jendela kelas yang menjadi buram akibat derasnya hujan yang turun.

“Nakajima!”

Aku tersentak. Kualihkan pandanganku dari kaca jendela dan aku terkejut bukan main mendapati Ishii sensei* sudah berdiri tepat di samping tempat dudukku. Ia berkacak pinggang, ekspresinya lebih galak dari biasanya —membuatku menegak ludah. Habislah aku. Pasti aku akan dihukum lagi karena bengong saat pelajaran.

“Rangkum materi pelajaran minggu kemarin dan minggu ini. Kumpulkan di meja saya lusa!”

Kudengar seisi kelas tertawa dan aku pun hanya bisa menghela napas sebelum berujar, “ha’i*, sensei.”

 

.

.

.

Kelas terakhir sudah usai. Satu per satu murid meninggalkan ruang kelas sementara aku terjebak di dalam kelas karena Ishii sensei memberikanku hukuman tambahan untuk membersihkan seisi kelas. Wali kelas yang satu ini memang benar-benar tegas, tetapi menurutku agak sedikit keterlaluan —hukumannya terlalu berat untuk sekadar tidak memerhatikan ketika kelas berlangsung.

Di luar sana hujan turun semakin deras dan rasa gundahku semakin menjadi. Aku masih belum menemukan alasan yang sebaiknya kuberikan pada otousan atas keterlambatanku pulang hari ini. Sudah semenjak minggu lalu aku terus-menerus terlambat pulang dari sekolah karena dihukum guru.

Akhir-akhir ini aku menjadi sulit berkonsentrasi. Sudah selama kurang lebih dua tahun aku rutin melakukan kegiatan surat menyurat dengan Reo. Terakhir kali aku mengirimkan surat padanya adalah minggu lalu —biasanya balasan dari Reo akan tiba satu atau dua hari kemudian— namun balasannya tak kunjung datang sampai hari ini. Aku tidak dapat berhenti memikirkan skenario-skenario buruk yang mungkin dapat terjadi padanya. Semakin hari, rasa cemasku akan keadaan Reo semakin menjadi.

“Tuan muda Nakajima! Ada surat untuk Anda!”

“Surat?” Hoshi menatap pelayan keluarga barunya dengan heran.

“Iya. Suratnya dialamatkan untuk Anda, tuan muda.” Pelayan itu menyerahkan sebuah amplop pada Hoshi dan dengan sedikit ragu Hoshi menerima amplop tersebut.

Dalam perjalanannya menuju ke kamar, ia membuka segel amplop berwarna putih salju itu dan menarik keluar secarik kertas yang terdapat di dalamnya. Senyumnya mengembang begitu ia melihat nama yang tertera pada pojok kanan bawah surat. Tertulis nama Reo.

Sudah seminggu terhitung semenjak Hoshi tak lagi menjadi anggota panti asuhan. Di dalam surat yang kini berada di genggaman tangannya, Reo menanyakan keadaannya.

Tak terasa bus yang kunaiki sudah berhenti di halte tujuanku. Terlambat sedikit saja, aku bisa dibawa ke kota berikutnya dan akan semakin terlambat tiba di rumah. Hujan sudah sedikit mereda, menyisakan rintik-rintik yang membasahi permukaan tanah sehingga aku tidak perlu membuka payungku. Aku berlari kecil menyusuri jembatan penyebrangan jalan dan dari atas tempat itu aku melihat seseorang yang aku kenal —salah seorang dari pengurus panti asuhan tempat dulu diriku ditampung— tetapi sepertinya aku salah orang karena tidak mungkin ia berada di Osaka.

Tadaima!*”

Okaeri*, tuan muda!”

“Apa otousan sudah pulang?” Tanyaku setengah berbisik sembari menyusuri lorong ruang tamu dengan mengendap-endap.

Prasangka burukku mengenai ayah angkatku waktu itu benar-benar keliru. Wajahnya dan senyumannya terasa familiar karena ia adalah pemilik sebuah perusahaan besar di Jepang sehingga mungkin aku pernah melihatnya beberapa kali di koran dan juga televisi.

“Oh, kalau itu, tuan besar sudah sedari tadi menunggu Anda di ruang kerjanya.”

Aku menegak ludah mendengar bisikan sang pelayan rumah.


# 3rd person’s P.O.V #

Saking cepatnya shinkansen* melaju membuat suara di luar yang terdengar hanyalah angin lewat. Hoshi memejamkan matanya karena toh tidak ada pemandangan yang bisa dilihatnya melalui kaca jendela.

Ia sudah menyiapkan mentalnya untuk menempuh perjalanan yang kurang lebih memakan waktu enam jam, sama seperti perjalanan yang ia tempuh ketika ia datang ke kota Osaka bersama ayah angkatnya. Perjalanan kali ini tidak jauh berbeda hanya saja tanpa kehadiran sang ayah dan juga arah perjalanannya adalah dari Osaka menuju Tokyo.

Lelaki yang kini berusia tujuh belas tahun itu, dengan memohon, akhirnya berhasil mendapatkan izin dari ayahnya untuk mengunjungi kota Tokyo pada liburan sekolah. Dan yang lebih menyenangkannya, Hoshi diberikan izin untuk menginap di panti asuhan sampai liburan berakhir —kurang lebih dua minggu lamanya— dan tentu saja kabar bahagia itu ia beritakan pada Reo melalui surat begitu izin tersebut ia dapatkan.

Setengah jam kemudian, Hoshi memutuskan untuk berhenti mencoba tidur karena sia-sia saja, ia sama sekali tidak bisa tidur. Dibukanya tas ransel berwarna jingga yang diletakkan di sampingnya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah amplop tebal yang berisi kumpulan-kumpulan surat yang ia terima dari anak laki-laki yang kini berusia tigabelas tahun.

“Tunggu niichan, Reo-kun. Sebentar lagi niichan akan sampai.” Ia mendekap erat amplop lusuh itu sebelum memasukannya ke dalam saku jaket yang ia kenakan.

.

.

.

Hoshi tercengang begitu melangkahkan kakinya memasuki gerbang panti asuhan yang bagaikan rumah keduanya itu. Bangunannya tampak sudah lama tidak dirawat. Debaran jantung Hoshi semakin kuat ketika menangkap sosok garis polisi mengitari bangunan itu.

‘Apa yang terjadi?’ Ia bertanya pada dirinya sendiri walau ia tahu jawaban atas pertanyaannya tidak akan datang.

Sementara langkah Hoshi terhenti di gerbang panti asuhan, kediaman Nakajima di Osaka dihebohkan oleh sirine mobil polisi dan ambulance. Nakajima Ryuhei ditemukan tewas oleh pelayan rumah. Jasadnya dipenuhi luka tusukan dan pada bagian lehernya ditemukan sebuah sayatan lebar yang otomatis membuatnya terbunuh. Darah milik korban membanjiri lantai kayu, tetesannya yang merembes ke ruang tamu membuat sang pelayan rumah mengecek ruangan Ryuhei yang berada tepat di atas ruang tamu sehingga ia akhirnya menemukan jasad tuannya yang sudah tak bernyawa.

.

.

.

“Hoshi? Sedang apa kau di sini?”

Hoshi menoleh. Tak jauh dari tempatnya berpijak, berdiri salah seorang pengurus panti asuhan.

“Ah, lama tak berjumpa, Yamaguchi-san*!” Hoshi membungkuk, memberi salam pada orang yang dulu pernah merawatnya itu.

“Bagaimana kehidupanmu di Osaka, Hoshi?”

Hoshi mengangguk-anggukan kepalanya, “yah, menyenangkan. Tapi, apa yang terjadi di sini? Apakah… Apakah telah terjadi sesuatu?”

“Pembunuhan telah terjadi di sini.”

Kedua mata Hoshi melebar. Ia tidak memercayai indera pendengarannya, “a-apa?” Ketakutannya dan kecemasannya akan keberadaan Reo terbukti. Tetapi skenario ini sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya.

“Lalu… Lalu bagaimana Reo?! Apakah dia sela—”

“Reo masih buron, Hoshi.”

Botol minum plastik yang berada dalam genggaman Hoshi terjatuh ke permukaan tanah, membuat barang itu retak dan membuat air yang berada di dalamnya meleber membasahi aspal tempatnya berpijak.

# End 3rd person’s P.O.V #

TBC



author’s note:

  • Ohayou : berarti ‘selamat pagi’
  • Mou : semacam ‘you too
  • kunhonorific yang digunakan untuk memanggil laki-laki yang sederajat/derajatnya lebih rendah/sudah dikenal dekat
  • HoshiniiNii merupakan singkatan dari niichan yang artinya kakak (laki-laki)
  • tanhonorific yang umumnya digunakan untuk memanggil anak kecil baik laki-laki maupun perempuan
  • Oyasumi : salam untuk mengatakan ‘selamat malam/tidur’
  • Otousan : ‘Ayah’ dalam bahasa Jepang
  • Sensei : ‘Guru’ dalam bahasa Jepang
  • Ha’i : dapat diartikan sebagai ‘ya’ atau ‘baik!’
  • Tadaima : dapat diartikan sebagai ‘Aku pulang!’
  • Okaeri : dapat diartikan sebagai ‘Selamat datang kembali!’
  • Shinkansen Bullet train / kereta cepat
  • sanhonorific yang digunakan untuk memanggil orang yang derajatnya lebih tinggi/lebih tua/belum dikenal dekat -menunjukkan kesopanan
Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s