Unconditional Love / Hirai Momo Ver.

Unconditional Love (Momo Ver.) copy

 

UNCONDITIONAL LOVE

 

ficlet by atatakai-chan

starring
TWICE Momo as Hirai Momo
and
Hirai Ken as Hirai Ken

|| AU, Family — PG ||

Another “Unconditional Love” stories:
(Kim Haesol Ver.) (Boo Seungkwan Ver.)

“Love is an unconditional commitment to an imperfect person.
To love somebody isn’t just a strong feeling.
It is a decision, a judgement, and a promise.”

— source: Lovequotepics / Tumblr



“Momo, sudah waktunya bangun, sayang.”

Si gadis empunya nama meregangkan tubuhnya yang masih dalam posisi berbaring di atas tempat tidur. Kedua maniknya ia buka secara perlahan dan langsung disambut oleh sinar matahari yang masuk dari jendela tak bergorden.

Momo mendengus pelan ketika sinar matahari yang masuk melalui jendela sedikit menyakiti matanya yang belum seratus persen terbuka.

Terdengar suara kekehan pelan ketika Momo kembali menutupi wajahnya dengan selimut merah muda kesayangannya.

“Hey, ayo bangun, anak manis. Kau mau terlambat sekolah?”

Gadis Hirai itu kembali mendengus pelan, “baiklah, baiklah. Aku… Tidak mau terlambat, lagi.”

 

oOOo

Bel tanda masuk berbunyi, para siswa memasuki kelasnya masing-masing. Ada yang berjalan memasuki kelas sembari berbincang dengan temannya, ada pula yang sambil membaca buku teks pelajaran. Hirai Momo memasuki kelas 10-7 sambil menenteng tas miliknya yang berbahan kulit. Panjang rok seragamnya yang pas selutut selalu membuatnya menjadi pusat perhatian khususnya kaum lelaki. Tetapi, gadis bersurai pirang sintesis itu tidak begitu memperhatikan karena tujuannya berada di sekolah adalah untuk menuntut ilmu meskipun terkadang ia ketiduran di tengah-tengah pelajaran.

“Hirai-san!* Lagi-lagi kau mengenakan rok sependek itu! Sudah berapa kali saya bilang belilah rok seragam baru! Dan juga, astaga! Rambut itu kan sudah saya suruh cat hitam dari bulan lalu!”

Momo membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan sang guru yang sudah memberinya ceramah bahkan sebelum pelajaran mulai. Meskipun ia benci diperlakukan seperti ini, ia bukanlah tipe yang suka memperpanjang masalah sehingga ia melakukan hal yang menurutnya akan membungkam mulut sang guru tanpa perlu melakukan hal yang membuang-buang tenaga.

“Maafkan saya, sensei*. Mulai besok saya akan mengenakan rok lebih panjang dan akan mengecat hitam rambut saya.”

.

.

.

Pada jam pelajaran keenam, rata-rata siswa sudah mulai merasakan kantuk dan rasa bosan. Momo termasuk ke dalam salah satu siswa tersebut. Berkali-kali kepalanya sudah hampir terantuk ke atas meja namun ia melawan rasa kantuk itu sebisanya karena ia sudah bertekad untuk mengikuti pelajaran hari ini dari awal hingga akhir, dalam keadaan sadar.

“Apakah ada yang ingin ditanyakan?” Seperti layaknya guru kebanyakan, Tsukumo sensei si pengajar Kimia bertanya pada seisi kelas setelah selesai menyampaikan materi.

Beberapa siswa menggelengkan kepala, ada juga yang hanya diam saja —menandakan tidak ada yang ingin mereka tanyakan— dan Tsukumo sensei menghela napas, entah lega atau kecewa yang dirasakan oleh pengajar berusia tiga puluh dua tahun itu.

“Baiklah kalau semuanya sudah jelas.” Pria yang mengenakan kemeja putih itu kemudian menutup buku yang berada di atas meja guru dan melangkah semakin dekat pada para siswa.

“Sebagai wali kelas kalian, aku ingin mengingatkan kalian agar tidak sekalipun mendekati yang namanya obat-obatan terlarang. Belakangan ini kasus kaum pelajar yang mengonsumsi obat-obatan terlarang semakin banyak…”

Berbeda dengan keadaan kelas sebelumnya, bisikan demi bisikan mulai terdengar.

Tsukumo sensei melanjutkan, “kalau kalian merasa stres belajar, berolahraga lah! Itu akan membuat rasa stres kalian berkurang. Jangan malah beralih pada obat-obatan terlarang. Aku tahu kalian semua sudah tahu bahwa rasa tenang yang ditawarkan oleh obat-obatan itu hanyalah bersifat sementara. Jauhilah obat-obatan terlarang.”

Momo yang duduk di barisan ketiga berdecak. Menurutnya ceramah singkat sang wali kelas sama sekali tidak ada artinya.

“Jauhilah obat-obatan terlarang dengan cara menjaga pertemanan kalian karena para pengedar obat-obatan terlarang itu sudah bagai virus, menyebar di mana-mana.”

BRAK!

Semua mata tertuju pada Momo yang kini sudah dalam posisi berdiri. Kedua tangannya menghantam permukaan meja yang terbuat dari kayu menyebabkan alat-alat tulis miliknya menggelinding jatuh dari atas meja ke permukaan lantai.

.

.

.

Bel tanda pulang berbunyi, murid-murid di kelas 10-7 mulai membereskan barang-barang mereka dan satu persatu berjalan keluar kelas untuk pulang menuju ke rumah masing-masing.

“Momo-chan*!”

Mendengar namanya dipanggil, gadis yang tengah menghapus papan tulis itu menoleh. Di ambang pintu kelas berdiri Minatozaki Sana, siswi dari kelas seberang yang merupakan teman Momo semasa SMP.

“Ada apa Sana-chan?”

Sana melangkah masuk ke dalam kelas 10-7, ia menarik sebuah kursi dan menempatkannya di sebelah Momo. “Malam ini kau ada acara tidak?” Ia bertanya seraya duduk di atas kursi. Pandangannya tertuju pada gadis teman masa SMPnya itu.

“Memangnya kenapa?” Momo meletakan penghapus papan tulis pada tempatnya kemudian duduk di atas meja guru sambil menatap balik pada Sana.

Sana mengerjapkan kedua matanya sebelum tersenyum malu-malu, “aku… Aku diundang ke acara ulangtahun Yamada-san.”

Momo terbelakbak. Ia tidak menyangka temannya itu sudah dengan mudah menarik perhatian senpai* favorit mereka semasa SMP, “benarkah? Wah! Kalau begitu kau pergi saja dengannya! Kan dia yang mengajakmu.” Momo tersenyum lebar, ikut berbahagia atas kebahagian Sana.

.

.

.

Langit dihiasi cahaya tenggelamnya matahari, pemandangan yang wajar ditemui oleh setiap pelajar yang baru pulang dari sekolah. Momo berjalan menyusuri pinggiran jembatan yang menghubungkan kota tempatnya bersekolah dengan kota tempat tinggalnya. Waktu yang perlu ditempuhnya dengan berjalan kaki kurang lebih empat puluh lima menit dan ia lebih memilih melakukannya daripada mengendarai kereta bawah tanah yang hanya memakan waktu lima belas menit. Ia sangat suka melihat langit senja.

Tadaima~*” Momo berujar seraya memasuki kediamannya.

Gadis jelita itu kemudian menutup pintu dari dalam dan bergegas menuju ke ruang tamu untuk sekadar meletakkan tasnya di atas meja berkaki empat yang terdapat di tengah-tengah ruang untuk bersantai itu sementara dirinya melanjutkan perjalanannya menuju ke taman belakang tempat cucian-cuciannya dijemur.

Sambil bersiul, gadis bertubuh langsing itu mengangkat satu per satu cucian yang sudah kering dan memasukannya pada keranjang yang terbuat dari rotan. Kegiatannya tiba-tiba terhenti ketika ia mendengar bel rumah dibunyikan. Diletakannya keranjang rotan berisi cucian yang telah kering itu di dekat tiang jemuran sebelum ia kembali masuk ke rumah untuk membukakan pintu.

Wajah berseri Momo kini muram mendapati tamu yang tak diharapkannya di depan rumah. Seharusnya ia mendengar kata ayahnya untuk selalu melihat siapa yang membunyikan bel sebelum membukakan pintu.

“Ada apa kau kemari?” Tanya Momo. Dari nadanya siapapun tahu bahwa ia jengkel bahkan, gadis itu sama sekali tidak memaksakan sebuah senyum.

“Momo-chan… Apa ayahmu ada di rumah?”

Momo memutar kedua bola matanya sambil mendengus, “tidak ada. Kalau kau ada perlu dengannya kusarankan kau meneleponnya saja karena ia sangat sibuk.” Selesai berkata, Momo langsung menutup pintu namun terhalang oleh si tamu yang menahan agar pintu tidak tertutup.

“Momo-chan, tunggu. Jangan tutup pintunya. Biarkan ibu berbicara! Mumpung ayahmu tidak ada di rumah, ayo lekas bereskan barang-barangmu dan pindah ke tempat ibu!” Dari nadanya, tamu wanita yang adalah ibunya itu tengah memohon.

“Pindah ke tempatmu? Jangan bercanda!” Momo mendorong pintu semakin kuat dan akhirnya berhasil menutup pintu dari dalam. Ia langsung mengunci knop pintu.

“… Kau masih terlalu muda untuk mengetahui keputusanmu itu salah, Momo. Ibu mohon, dengarkan perkataan ibu! Kau akan menyesal di kemudian hari kalau kau terus tinggal dengan pria brengsek itu.”

Momo mengerenyitkan keningnya. Amarah meluap keluar dari dalam dirinya hingga kedua tangannya yang mengepal sedikit bergetar.

KAU YANG BRENGSEK! JANGAN PERNAH DATANG KEMARI LAGI!

Momo membanting rak sepatu ke pintu, membayangkan untuk mengenai orang di balik pintu rumahnya itu dengan rak sepatu. Dadanya naik turun, hembusan napasnya tak beraturan. Ia tidak suka —bahkan bisa dikatakan benci— siapapun yang menjelek-jelekkan ayahnya, pria yang selama ini senantiasa merawatnya penuh dengan kasih sayang. Satu-satunya orang di dunia ini yang ia telah bersumpah untuk cintai dan lindungi seumur hidup.

.

.

.

Kejadian beberapa waktu lalu masih diingat Momo namun gadis itu memutuskan untuk mengabaikannya karena ia tidak ingin termakan emosinya sendiri. Gadis yang kini sudah mengenakan pakaian santai itu menuju ke dapur untuk memasak makan malam. Ia mulai memotong-motong sayuran di atas talenan berukuran sedang. Menu malam ini adalah kare, kesukaannya.

Dentangan jam ruang tamu menandakan waktu sudah menujukkan pukul tujuh malam dan bersamaan dengan itu, Momo menyajikan kare dari dalam panci ke dalam dua buah piring yang sama besar. Ia menutupi kedua piring itu dengan tudung saji dan beranjak ke ruang tamu untuk menonton televisi sembari mengerjakan tugas sekolah.

Tadaima!” Terdengar suara nyaring yang tidak asing di telinga Momo. Gadis itu menengok ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit.

Okaeri*!” Senyum menghiasi wajah Momo ketika ia menyambut kepulangan ayahnya dari pintu belakang.

Pria yang mengenakan pakaian tebal ala musim dingin itu tersenyum balik pada Momo. Ia merentangkan kedua tangannya, mengisyaratkan agar anak semata wayangnya itu mendekat dan memeluknya.

Momo memeluk erat sang ayah, membiarkan wajahnya terbenam pada dada bidang lelaki itu. Bau rokok yang sudah familiar di indera penciumannya sama sekali tidak mengganggu. Bahkan, setiap kali ia mengirup bau itu, ia merasa tenang.

“Bagaimana sekolah hari ini, anak manis?”

Momo mendongak kemudian mengangguk, “daijobuotousan*”



EPILOGUE

“Hirai Ken! Anda ditangkap atas tuduhan memperjualbelikan obat-obatan terlarang! Anda berhak diam, segala bentuk pernyataan yang Anda berikan akan digunakan untuk melawan Anda di pe—”

DOR!

Polisi berseragam itu jatuh tersungkur di aspal jalanan sambil mengerang.

DOR!

Kembali suara tembakan terdengar dan petugas berwajib itu terkapar tak bernyawa. Peluru kedua menembus jantungnya.

Pria yang diketahui bernama Hirai Ken itu menoleh ke belakang. Senyum lelah muncul di wajahnya, “Mou-chan, tolong lepaskan borgol ini. Tanganku terasa sakit.”

Momo mengangguk, “ha’iotousan*”


FIN.


author’s note:

  • Hirai-san: Untuk menunjukkan kesopanan, di Jepang disarankan untuk memanggil seseorang yang tidak dikenal dekat dengan nama keluarga dan menambahkan honorific ‘-san
  • Sensei: Bahasa Jepang dari ‘Guru’
  • Momo-chan: Apabila sudah dekat dengan seseorang, diperbolehkan memanggil nama depan (dengan persetujuan) dan honorific ‘-chan‘ digunakan pada orang yang jabatannya setara/lebih rendah; bisa juga digunakan pada orang yang sudah dikenal dekat
  • Senpai: Bahasa Jepang dari ‘Senior’
  • Tadaima: Salam yang dikatakan ketika seseorang sudah pulang (artinya: “Aku pulang!”)
  • Okaeri: Salam yang digunakan untuk menyambut orang yang sudah pulang (bisa diartikan sebagai: “Selamat kembali!”)
  • Daijobu, otousanDaijobu artinya “baik-baik saja” dan Otousan adalah bahasa Jepang dari ‘Ayah’
  • Ha’i: Bisa diartikan sebagai, “Baik” atau “Ya”
Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s