Gloomy Sunday

gloomy sunday copy

Gloomy Sunday

.

an oneshot by atatakai-chan

.

starring
iKon Junhoe and Destiana (OC)

.

mentioned
Seo Chulgoo and Wen Liu (OC)

.

genre
Angst, Romance, slight!Frienship

.

rating
General



Diperuntukkan bagi kakdes. Semoga fanfiksi ini bisa memperbaiki mood kakak.

With love,
Atatakai-chan



.

.

“Wen Liu? Kau mau kemana?” Seo Myungwon atau yang lebih dikenal sebagai Seo Chulgoo sedikit terperangah ketika kekasihnya berjalan keluar dari kamar tanpa selapis riasan pun pada wajahnya —tidak pernah gadis itu keluar rumah tanpa mengenakan riasan wajah apalagi ketika keluar untuk berkencan— tapi tetap saja sih menurutnya gadis asal Beijing itu tetaplah cantik.

“Aku mau menemui teman. Ada kode merah.” Wen Liu menjawab seadanya sambil mengenakan sneakersnya dengan susah payah.

“Hah? Kode merah?”

“Sudahlah, kau tidak perlu tahu. Mungkin aku akan pulang agak malam.”

Untuk kedua kalinya Chulgoo terperangah, kali ini karena rasa kaget yang luar biasa. “M-mwo?! Kalau begitu tidak jadi nonto—”

“Maafkan aku ya, pacarku tersayang, tapi urusan ini benar-benar urgent,” Wen Liu berjalan mendekat ke arah kekasihnya sebelum mendaratkan sebuah kecupan ringan di pipi kanan lelaki berwajah bulat itu.

“Kita nonton besok, oke?” Wen Liu mengusap-usap kedua pipi Chulgoo seraya tersenyum manis dan Chulgoo amatlah lemah —senyum gadis itu adalah kelemahannya yang lain selain melakukan rap dengan beat— dan ia hanya menganggukan kepalanya.

“Baiklah. Apa perlu aku antar?”

Wen Liu menggeleng, “aniya. Tidak perlu kok. Tempatnya dekat,” sebenarnya tempat tujuannya tidak terlalu dekat, hanya saja ia merasa tidak enak hati pada sang teman yang akan ditemuinya apabila membawa serta sang kekasih.

“Sampai jumpa nanti malam. Hati-hati di jalan!” Chulgoo berujar seraya mengantar kepergian kekasihnya dengan lambaian tangan.

Sementara itu di luar sana, berlawanan dengan cuaca cerah hari ini, seorang gadis duduk, bahunya bergetar dan ia mengigiti bibir bawahnya sendiri —menahan tangin yang tertahan semenjak pagi datang. Ia meremas roknya dengan erat sembari menunggu kedatangan temannya yang katanya sudah on the way. Lantunan musik klasik yang memenuhi ruang cafe membuat perasaan sedihnya semakin menjadi, namun ia tidak menyerah menahan tangis karena ia hanya harus menahannya sebentar lagi sampai temannya tiba. Setelah itu, ia bisa menangis sepuas hati.

Wen Liu dengan sedikit terengah-engah memasuki cafe tempat perjanjiannya dengan seorang teman yang sama-sama bukan penduduk asli Korea, namanya adalah Destiana, seorang gadis yang sebentar lagi resmi menjadi anggota Black Label yang dicetus oleh Teddy, Zion T, dan Kush.  Wen Liu kaget bukan main ketika mendapat pesan chat dari Destiana yang mengatakan bahwa dirinya sedang patah hati —padahal sejauh pengetahuan Wen Liu, temannya yang satu itu adalah gadis yang periang— sehingga Wen Liu langsung menyimpulkan bahwa ini adalah kode merah, alias keadaan darurat.

Kedua manik Wen Liu menelaah cafe  satu tingkat itu untuk mencari di mana temannya berada, untung saja ia cukup jeli sehingga dengan cepat ia menemukan Destiana yang duduk di bagian pojok cafe. Dengan langkah yang lebar ia berjalan menuju ke tempat Destiana sedang duduk dengan posisi kepala menungkul.

“Des! Apakah kau baik-baik saja?” Tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu, Wen Liu langsung mendekap Destiana dengan erat. Urusan duduk bisa ia lakukan belakangan.

“…” Yang didekap tak menjawab namun, bulir air mata mulai mengalir dari kedua pelupuk matanya. Suara isak mulai terdengar dan Wen Liu berupaya semampunya untuk menenangkan gadis swag itu. Dalam hati Wen Liu bertekad untuk memberi pelajaran pada si lelaki yang membuat temannya yang ceria menjadi segloomy ini.

 

.

.

.

 

Tangis Destiana sudah berhenti. Kini gadis berambut panjang itu tengah mengaduk secangkir hot chocolate menggunakan sendok teh cafe. Tepat di hadapannya, Wen Liu duduk sambil memandanginya dengan tatapan cemas.

“… Apa… Apakah kau sudah merasa lebih baik, Des?” Wen Liu bertanya dengan takut-takut, khawatir ia bisa memancing lagi tangis Destiana.

Jawaban diberikan oleh Destiana dengan sebuah senyum tipis dan anggukan kepala pelan, “aku rasa… aku sudah merasa lebih baik. Aku… Aku akan baik-baik saja ‘kan?” Ia kini menatap Wen Liu dan gadis itu dapat melihat genangan air mata kembali muncul di kedua matanya.

Eung! Aku yakin kau akan baik-baik saja, kau kan gadis yang ku—”

Belum selesai Wen Liu berujar, air mata Destiana kembali menetes, “tapi kenapa ia tega melakukan ini? Kenapa?!” Lagi-lagi tangisan Destiana pecah, sempat membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka namun, baik dirinya maupun Wen Liu tidak peduli akan tatapan-tatapan yang mereka terima.

“Memang apa yang telah dilakukannya padamu? Katakan padaku.” Kini Wen Liu pindah posisi duduk. Ia duduk di samping Destiana sambil mengusap-usap pelan bahu yang bergetar itu.

“Kush… Dia…”

Wen Liu terus mengusap-usap bahu Destiana, secara tidak langsung memberikan kekuatan serta dorongan bagi gadis kelahiran tahun 1992 itu untuk melanjutkan ceritanya.

Destiana mengigiti bibir bawahnya sebelum melanjutkan, “aku… Tadi pagi, aku melihat instagramnya dan… Dia… Dia berfoto dengan seorang perempuan. Captionnya dengan gadisku, Vivi.” Destiana merebahkan kepalanya di bahu Wen Liu sambil terus sesenggukan.

Gadis yang mendadak menjadi sandaran itu mengerenyitkan keningnya. Dari ekspresinya terpancar amarah yang luar biasa. Dalam hati ia merutuki Kush keras-keras, menyebabkan sedikit geraman lolos dari mulutnya yang terkatup rapat.

“Sialan! Laki-laki seperti itu ‘sih lupakan saja! Dasar PHP! Untuk apa dia memberikan harapan padamu sebesar itu kalau ternyata sudah punya kekasih? Sudahlah, Des, lelaki seperti dia lupakan saja! Lagipula apa bagusnya dia ‘sih? Seperti buntelan kapuk juga!” Tanpa sadar, Wen Liu berujar cukup kencang namun tidak sampai terdengar oleh orang-orang —kau tahulah ukuran kencang bagi seorang Wen Liu.

“Kenapa dia tega melakukan ini? Kenapa? Apakah aku pernah berbuat salah padanya?” Destiana yang masih sesenggukan kini tidak lagi bersandar pada Wen Liu. Ia mengusap-usap kedua matanya sendiri dengan secarik tissue secara bergantian.

Wen Liu menggeleng, “tidak. Kau tidak pernah berbuat salah apapun padanya. Kenal juga baru ‘kan? Aku rasa dia hanya mempermainkanmu, Des. Lelaki seperti itu lupakan sa—”

Kali ini Wen Liu tidak melanjutkan kalimatnya karena terdengar suara dentuman cukup keras yang berasal dari pintu cafe. Tidak hanya dirinya dan Destiny saja yang langsung menoleh ke arah sumber suara, pengunjung cafe lain juga melakukan hal yang sama.

Wen Liu ternganga melihat siapa yang ada di ambang pintu cafe, Goo Junhoe, anggota boygroup iKon. Untuk sesaat mereka bertemu pandang dan seolah menemukan apa yang dicarinya, lelaki itu berjalan ke arah Wen Liu dan Destiana.

“Ayo, kau ikut aku!” Tiba-tiba saja Junhoe menarik lengan Destiana. Gadis itu mau tak mau tertarik berdiri karena tenaga Junhoe luar biasa kuat.

Menyaksikan kejadian di depan matanya, Wen Liu gusar. Ia tidak peduli jika Junhoe adalah seorang artis, menarik temannya seperti itu benar-benar hal yang tidak bisa ia terima. Wen Liu pun bangkit berdiri dan berjalan cepat menyusul Junhoe yang sudah menarik Destiana menuju ke pintu keluar.

“Tunggu!” Wen Liu menarik lengan Destiana yang satunya untuk mencegah keduanya bergerak.

“Apa-apaan kau mendadak datang dan membawa pergi temanku?”

Sisi galak Wen Liu —yang sempat membuat Chulgoo takut— muncul, kali ini di hadapan Junhoe.

Junhoe menatap galak pada Wen Liu, “aku ada urusan dengannya.”

“Hee?! Apa kau tidak lihat ia se—”

Destiana menatap Wen Liu dan menggeleng-gelengkan kepalanya, mengisyaratkan gadis asal Beijing itu agar tidak melanjutkan perkataannya. “Aku akan baik-baik saja, Wen. Aku akan pergi dengannya. Besok kita ketemuan ya?”

Wen Liu kaget mendengar ucapan Destiana, “t-tapi ‘kan…”

Junhoe hanya menyeringai kemudian menarik Destiana keluar dari cafe, meninggalkan Wen Liu terpaku di ambang pintu cafe melihat kepergian kedua orang yang sempat ia cegah untuk pergi.

 

oOOo

Di bangku taman kota, Destiana dan Junhoe duduk bersebelahan. Sudah sekitar dua puluh menit lamanya namun tidak ada satupun di antara keduanya yang berujar walupun begitu sama sekali tidak ada hawa canggung dan hawa takut. Sepertinya keduanya memang tidak ada yang berniat mengeluarkan satu patah kata pun.

Detik demi detik berlalu hingga sudah dua puluh lima menit lamanya mereka duduk di sini dalam diam.

“Hey, Des. I am sorry for—” Akhirnya Junhoe berujar namun, ia berhenti di tengah-tengah membuat Destiana mau tak mau menoleh ke arahnya untuk mempersilakannya melanjutkan.

“… Aku hendak mengatakan ‘I am sorry for your lost‘ tapi ini sama sekali bukan kehilangan ‘kan? Kush-nim sama sekali bukan hal yang hilang darimu karena sejak awal dia bukan milikmu…”

Destiana tersenyum getir. Dari awal bertemu, Junhoe memanglah sudah mengesalkan baginya —mengesalkan sampai pada tahap aku-ingin-menendangmu-sampai-kau-terjatuh, sama sekali tidak membahayakan— namun ia tahu Junhoe adalah orang yang baik sehingga ia bersedia ikut dengannya walaupun ia masih tidak mengerti mengapa ia bersedia.

“Aku tadi bertengkar dengannya.”

“Dengan siapa?” Destiana akhirnya tidak menjadi tembok, ia menyahut.

Junhoe menatap Destiana, “dengan Kush-nim.”

“Kenapa? Apa kau naksir Vivi dan kau marah ia mendapatkannya lebih dulu daripadamu?”

“Bukan karena itu. Perempuan seperti itu bukanlah tipeku.”

“Lalu? Kenapa?”

Junhoe menghela napas, rasanya ia ingin sekali mengatai gadis di hadapannya ini bahwa ia adalah gadis terbodoh yang pernah ia temui namun ia mengurungkan niatnya, ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan hal yang seperti itu.

Ada jeda cukup panjang sebelum Junhoe membuka mulutnya untuk berkata “karena kau sebegitu berharganya bagiku, Des.”

Destiana mendengus sambil memutar kedua bola matanya. Tentu saja ia tidak percaya kata-kata itu. Sejak awal bertemu Junhoe adalah orang yang paling sering membullynya —bahkan ia sempat berpikir untuk mengundurkan diri sebagai kru Black Label karena hal itu. Sementara itu di benak Junhoe, lelaki itu merutuki dirinya sendiri yang tidak pernah bisa memperlakukan gadis yang disukainya seperti para lelaki lain yang bisa dengan tulus mengungkapkan dan menunjukkan perasaan.

“Aku tidak punya waktu untuk ini, Junhoe. Kau tahu ‘kan aku sedang merasa tidak enak hati?” Destiana bangkit berdiri dan mulai melangkah.

“Des, tunggu! Aku—” Junhoe menahan Destiana dengan memegang pergelangan tangan gadis itu namun dengan mudahnya Destiana menepis tangan Junhoe.

“Kumohon, berhentilah menggangguku.” Begitulah Destiana mengakhiri percakapannya dengan Junhoe pada hari Minggu cerah itu tanpa sadar bahwa ia sebenarnya meninggalkan Junhoe sama kalutnya dengan dirinya.

FIN

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s