Hello, Twins (Prologue – Heejun’s Ver.)

hello twins


“Being a twin, and being my sister’s twin,
is such a defining part of my life
that I wouldn’t know how to be who I am.”


“Hey, Heemin,” ruangan yang senyap itu tiba-tiba saja diisi oleh sebuah suara berat khas lelaki.

“Apa?” Terdengar suara seorang gadis, menyahut panggilan yang ditujukan padanya.

Lelaki bertubuh jangkung yang semula berdiri di ambang pintu berjalan semakin dekat ke arah tempat tidur dan tanpa dipersilakan terlebih dahulu sosok itu langsung merebahkan tubuhnya tepat di samping gadis yang bernama Heemin.

Ngapain sih?”

Jelas sekali Heemin merasa keberatan ketika si lelaki merebahkan tubuh di sampingnya.

“Aku tidak bisa tidur,” jawab si lelaki dengan nada manja.

“Bukan urusanku.”

Lelaki itu mendengus pelan, “bodoh, kita ‘kan kembar. Kalau aku tidak bisa tidur kau juga pasti tidak bisa tidur.”

Konon katanya, anak kembar itu saling merasakan satu sama lain —apabila seorang kembaran terluka maka kembaran lainnya akan merasakan sakit— dan sampai saaat ini mitos itu terus hidup.

“Bodoh, itu ‘kan hanya mitos.”

“Oh ya? Mitos? Kau yakin?”

“Seratus persen yakin, Heejun!”

“Oh, oke. Lalu kenapa kau belum tidur?”

“…”

“…”

Heemin menghela napas, “aku tidak bisa tidur.”

.

.

Semua mata tertuju pada Heejun, membuat lelaki itu merasa sedikit canggung. Konsentrasinya pecah dan ia mulai memasukkan barang-barang yang sebenarnya tidak ada dalam dafatar belanja bulanan ke dalam trolley.

Entah sejak kapan orang-orang selalu memandanginya seperti ini, ia tidak tahu kapan orang-orang akan berhenti memandanginya layaknya ia adalah alien dari planet antah berantah.

“Hey Jun-ie!”

Tepukan ringan mendarat di bagian belakang lengannya, ia menoleh sambil tersenyum.

“Sudah selesai belanja bagianmu Min?”

Heemin mengangguk. Kedua manik gadis itu kemudian tertuju pada trolley milik sang kembaran yang terlihat terlalu penuh. Seolah pikiran mereka adalah satu, gadis itu dengan mudah menebak apa yang menyebabkan si jangkung memasukkan banyak barang ke dalam trolley.

“Jangan khawatir, Heejun. Menjadi berbeda itu baik. Lagipula kau terlihat keren ‘kok dengan tinggimu itu.”

Heejun tahu yang diucapkan oleh kembarannya hanyalah penenang, tidak lebih, namun ia tak dapat menahan senyum yang tersungging di kedua ujung bibirnya.

“Aku adalah aku, kau adalah kau, setiap orang punya keunikan masing-masing ‘kok. Aku malah iri, kau kenapa tinggi sekali ‘sih?”

Heejun tertawa, “kau benar. Aku adalah aku dan kau adalah kau. Apa kau tahu siapa aku?”

Heemin menggeleng sebelum tertawa kecil.

I am youbut stronger.” Cengiran lebar dipamerkan Heejun.

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s