Family Travel (Chapter 2)

family-travel2

Title : Family Travel

Genre : AU, Familyslight!Comedy

Rating : G

Length : Chaptered
| Chapter 1 |

Starring
SEVENTEEN Woozi as Woo/Lee Jihoon
BlockB Zico as Woo Jiho

CHAPTER 2: THE FIRST STOP

Ini sudah keempat kalinya Jiho bolak-balik ke kamar mandi. Hal ini tentu saja memancing kecurigaan sang anak, Jihoon. Sejauh ingatannya ayahnya bukanlah orang yang beser sehingga cukup aneh melihat ayahnya bolak-balik ke kamar mandi pesawat sebanyak empat kali dalam jangka waktu yang bisa dikatakan cukup singkat.

“Oh! Kau sudah bangun rupanya!”

Jihoon menatap Jiho, mengerjapkan matanya sebanyak dua kali. “Hm.. Iya? Aku sudah bangun dari sekitar satu jam yang lalu.”

Dalam hitungan detik, Jihoon dapat melihat ekspresi yang tidak biasa di wajah Jiho. Kalau kau suka menonton anime, ekspresi yang dilihat Jihoon adalah ekspresi di mana saat tokoh anime sedang tertangkap basah ketika melakukan sesuatu.

“… Apa yang appa lakukan?”

“Apa yang kulakukan? Rupanya kau masih setengah sadar Jihoonya hahahaha!” Jiho buru-buru kembali duduk dan menekan-nekan kan kepala anaknya ke dadanya sembari mengacak-acak rambutnya.

Sekarang yakinlah Jihoon bahwa ayahnya tengah menyembunyikan sesuatu. Feelingnya langsung tidak enak.

“Permisi tuan, maaf ini sapu tangan Anda terjatuh di pintu kamar mandi.”

Pandangan ayah dan anak itu seketika tertuju kepada seorang pramugari yang berdiri di aisle tempat duduk mereka. Pramugari itu tampak cantik dengan seragam berwarna merah dan dasi berbentuk puta warna biru menggantung di sekitar lehernya.

Jihoon menyipitkan kedua matanya ketika melihat sebuah senyuman terbentuk di sudut mulut ayahnya. Dengan gesit ia mencondongkan tubuh kecilnya, melintas di depan tubuh Jiho dan ia mengambil sapu tangan berwarna abu-abu yang berada di pegangan sang pramugari sebelum sapu tangan itu di ambil oleh Jiho.

“Terima kasih. Sebenarnya itu sapu tangan milikku.” Jihoon memberikan senyum pada sang pramugari, tetapi bukan sebuah senyuman ikhlas.

Meskipun demikian, sang pramugari membalas senyum Jihoon dan beranjak kembali ke tempatnya. Sementara itu Jiho mengerucutkan bibirnya, berkali-kali ia menggaruk bagian belakang kepalanya.

Damn,”

“Apa?”

“Ah, tidak apa-apa. Mana sapu tanga-“

Jihoon melempar sapu tangan milik ayahnya tepat ke wajah sang pemilik. “Appa harus tahu diri. Appa tidak pantas untuk masih menggoda perempuan.”

Selesai berkata dengan nada sedikit ditekankan itu, Jihoon menyenderkan punggungnya pada kursi pesawat yang empuk tidak keras juga tidak. Ia langsung memejamkan matanya mencoba untuk kembali tidur. Ia sama sekali tidak merespon panggilan Jiho. Jihoon bersikeras untuk tertidur walaupun hal itu akan sulit dilakukan karena Jiho mengguncang-guncang tubuhnya.

Tidak ada satu anakpun yang ingin kedua orangtuanya bercerai, begitu juga dengan Jihoon. Walaupun ia tidak menunjukkannya waktu itu, tetapi ia merasa sangat sedih. Bahkan hampir setiap malam ia menangis sebelum akhirnya ia tertidur karena kelelahan menangis. Dan jauh di lubuk hatinya Jihoon berharap sebuah keajaiban akan terjadi di mana kedua orangtuanya akan kembali bersama dan mereka bertiga akan tinggal di rumah sederhana mereka yang berada di Busan.

Ketika Jihoon sedang melayangkan pikirannya ke sana ke mari, Jiho di sisi lain menyerah untuk membuat sang anak berbicara. Toh sebenarnya ia sudah tahu alasan mengapa anaknya marah. Ia sedikit menyesali keputusannya untuk menikah muda. But there is no use to cry over spilt milk. Sebenarnya tujuannya mengajak Jihoon jalan-jalan keliling Eropa adalah untuk sekalian membicarakan sesuatu. Sebut saja kehidupan baru milik Jiho. Laki-laki yang masih tergolong muda untuk seorang duda ini dapat dikatakan sedang melakukan pendekatan dengan anak teman ayahnya. Sudah dari beberapa bulan lalu Jiho bertekad membicarakan hal ini dengan Jihoon namun ia tidak tahu caranya sampai selebaran promosi tour terbang terbawa angin dan hinggap di wajahnya.

oOOo

Jiho dengan bersusah payah membimbing arah jalan Jihoon yang masih setengah tidur itu agar anak semata wayangnya itu tidak terjatuh dan tidak salah arah. Tadinya Jiho berniat untuk menggendong Jihoon tetapi astaga anaknya yang bertubuh mungil itu sudah tidak seringan ketika masih berusia 4 tahun.

“Yaah! Woo Jihoon! Bangun, nak. Aduh!”

Jiho mengerang frustasi ketika Jihoon malah berjalan masuk ke dalam toilet wanita. Dengan buru-buru Jiho menyergap anaknya dan menariknya memasuki toilet laki-laki. Bahaya sekali kalau di negara-negara Eropa ketidak sengajaan seperti ini bisa dianggap sebagai crime.

Dengan susah payah Jiho akhirnya berhasil mengangkat Jihoon dan mendudukan anak tersebut di atas meja wastafel. Dinyalakannya keran air dan membiarkan air dingin mengenai tangannya.

“Jangan benci appa karena melakukan hal ini ya!” Jiho memperingatkan anaknya yang entah mendengar atau tidak sebelum menyipratkan air dingin yang tertinggal di tangannya pada wajah sang anak.

Jihoon refleks membuka kedua matanya ketika air dingin mengenai wajahnya. Ia mengerucutkan bibirnya, tidak suka akan apa yang ayahnya baru saja lakukan. Jihoon tidak suka dingin, ia benci dingin, baik itu cuaca maupun sekedar air.

.

.

.

Jihoon bersungut-sungut. Pegangannya pada tali tas punggungnya semakin erat. Wajahnya lebih kusut dari wajah petugas imigrasi sehingga petugas imigrasi yang menanganinya pun keheranan dan bertanya, “hey kid are you okay?

Jihoon mengangguk. “Yes I am okay, sir.

[Jihoon’s POV]

Aku berpikir pada awalnya berlibur keliling Eropa bersama appa akan menyenangkan. Ternyata aku salah. Sebelum sampai di tempat tujuan ia sudah membuatku kesal —ya, yang kumaksudkan adalah kejadian ketika ia mencoba menarik perhatian sang pramugari yang menurutku tak ada apa-apanya itu.

Lalu setelah sampai tempat tujuan ia malah membuatku semakin kesal. Ia ‘kan tahu kalau aku tidak suka dingin, tetapi ia malah membasuh wajahku dengan air dingin. Ayah macam apa dirinya? Jangan-jangan ia lupa.

“Jihoon-ya! Tunggu appadong! Kau kalau lagi ngambek jalannya kenapa cepat sekali ‘sih?”

Aku mendengar suara appa dari kejauhan kemudian aku pun berhenti melangkah. Yang membuatku berhenti melangkah bukan karena ia menyuruhku, tetapi karena pikiran buruk yang dulu sempat muncul kembali terbesit di benakku.

Dulu sekali, ketika baru awal-awal perpisahan kedua orangtuaku, aku kerap berpikir apakah yang akan terjadi kalau aku tidak tinggal bersama appa untuk waktu yang lama. Satu-satunya alternatif yang ada di benakku kala itu adalah: Appa akan melupakanku dan appa akan menggantikan posisiku dengan anak lain. Setelah beberapa waktu berlalu alternatif yang ada dibenakku terbukti tidak benar. Appa rutin menghubungiku melalui pesan singkat dan bahkan aplikasi chat —tak ada yang bisa membuatku lebih bahagia dari ketika ia memanggilku dengan sebutan ‘anakku’.

Kurasakan tepukan-tepukan ringan di kepalaku, ternyata appa sudah menyusul sampai kemari. Aku melanjutkan berjalan, kali ini secara perlahan.

“Hey, kau masih marah Jihoon?”

Aku tidak menjawab. Sekarang aku sudah tidak marah, melainkan takut. Bagaimana kalau ternyata waktu sudah berjalan terlalu lama dari kejadian waktu itu dan alternatif yang ada di benakku waktu itu menjadi kenyataan? Bagaimana kalau appa sudah mulai menganggapku tidak penting?

“Ya! Setidaknya katakan sesuatu, Jihoon-ya. Appa tidak tahu kalau kau hanya diam.”

Appa… Apakah aku masih kau anggap anakmu?” Tanyaku.

“Eh? Tentu saja kau masih anakku. Kau ini berbicara apa ‘sih?” Kurasakan tangan besar appa kini mengusap-usap kepalaku dan kehangatan yang diberikan oleh tangannya itu merambat pada kedua mataku dan aku pun mulai meneteskan air mata.

Aku melingkarkan kedua tanganku pada pinggang appa —hal yang dulu rutin aku lakukan sebelum aku berangkat sekolah… ketika kami masih tinggal bersama.

[End of Jihoon’s POV]

Jiho menyenderkan punggungnya pada dinding pembatas tempat duduk di dekat tempat antri taksi yang berada di dalam London City Airport. Awalnya ia berencana untuk langsung bekeliling di kota London di hari pertama ia dan Jihoon sampai, namun apa boleh buat, anaknya itu beberapa saat lalu menangis dan mau tak mau mereka beristirahat dulu di sini.

“Kau ini… apa ‘sih yang ada di pikiranmu? Dasar anak aneh…” ia bergumam seraya mengusap-usap rambu Jihoon yang kini terlelap.

Jiho sudah sangat paham mengenai kebiasaan Jihoon yang satu ini. Ya, setiap kali Jihoon kelelahan pikiran-pikiran aneh mulai muncul di benaknya dan tak lama setelah itu ia pun akan menangis. Lalu apa yang terjadi? Tentu saja setelah kelelahan menangis Jihoon akan tertidur untuk sekitar setengah jam.

Langit London yang beberapa saat lalu terlihat cerah kini tampak sedikit mendung. Jiho tidak bodoh, ia tahu kalau hujan turun biasanya taksi akan menolak mengangkut penumpang sehingga lelaki dengan tinggi di atas 180cm itu menggendong Jihoon di pundaknya sembari menarik koper miliknya menuju ke tempat antru taksi yang berjarak tidak jauh dari tempat mereka sekarang berada.

oOOo

Samar-samar Jihoon mendengar percakapan dalam bahasa Inggris. Percakapan yang didengarnya terasa sangat enak didengar. Lembut, cepat, dan fluent. Seperti yang ia dengar di dalam film-film serian Harry Potter. Yang satu suara seorang perempuan dan yang satunya lagi suara seorang laki-laki.

Tanpa harus membuka matanya untuk mencari tahu, Jihoon hapal suara laki-laki yang tengah bercakap dalam bahasa Inggris itu.

Your English is so good, dad.

[Jiho’s POV]

Excuse me. I have reserved one room for two persons.” ujarku pada sang resepsionis sembari menunjukkan kertas reservasi kamar yang sudah aku cetak.

Aku sangat gugup. Sudah lama sekali aku tidak bercakap dengan orang lain menggunakan bahasa Inggris. Dulu ketika aku masih berusia belasan tahun, aku sempat tinggal di Los Angeles bersama dengan ayahku, Taewoon. Tentu saja ketika tinggal di sana aku bercakap dengan orang-orang menggunakan bahasa Inggris tapi, itu ‘kan sudah lama sekali.

Mr. Woo from Busan, South Korea. Am I right? Your reservation is confirme-

Your English is so good, dad.

Aku melirik Jihoon yang masih tentu saja ‘bergelantung’ di pundakku —dan ia masih tertidur. Senyum terlukis di wajahku. Bisa-bisanya anak ini mendengar percakapan orang ketika ia sendiri masih tertidur.

Is he your son, sir? He is so adorable!

Aku menganggukan kepalaku, setuju dengan ungkapan sang resepsionis. “I agree. He is adorable. And yes, he is my son.

[End of Jiho’s POV]

Jiho tidak begitu mempedulikan pandangan orang-orang yang berpapasan dengannya di lorong lantai kamar hotel karena ia yakin mereka memandanginya karena tingginya yang agak ‘wow’ untuk ukuran orang Asia dan karena Jihoon yang ‘menggelantung’ di pundaknya dalam keadaan tertidur.

Langkah duda itu berhenti tepat di depan kamar nomor 1422 dan dengan kartu kunci ia membuka pintu kamar. Menjadi seorang ayah menuntut Jiho untuk bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu. Seperti sekarang ini, lengan kirinya yang tidak menarik gagang koper mendorong pintu dan memberikan dorongan agar pintu terus terbuka sementara tangan kanannya menarik gagang koper seraya ia melangkah masuk ke dalam kamar dengan Jihoon di pundaknya.

Setelah masuk ke dalam kamar, kaki panjangnya ia dorong ke belakang untuk mendorong pintu agar lekas tertutup. Jiho meletakkan kopernya di dalam kabinet lemari yang terletak tak jauh dari pintu masuk lalu setelah itu ia menurunkan Jihoon dari pundaknya, merebahkan anak yang sedang tertidur tersebut di atas tempat tidur seraya ia melepas tas punggung kuning yang bertengger pada kedua bahu Jihoon.

oOOo

Jihoon terbangun. Ia cukup shock mendapati keadaan sekitarnya gelap, hanya lampu di dekat cermin yang menyala namun dengan begitu Jihoon berhasil mengetahui bahwa dirinya sedang berada di dalam kamar hotel.

Tangan mungilnya meraba-raba nightstand karena biasanya lampu kamar ada di sana. Ketika tombol pertama tidak berhasil membuat lampu kamar menyala ia beralih ke tombol kedua kemudian ke tombol berikutnya sampai lampu kamar menyala. Pada percobaan ke-empat akhirnya itu adalah tombol yang benar.

Jihoon menengok ke kanan dan ke kiri mencari tahu di mana ayahnya berada. Usahanya tidak sia-sia karena ia akhirnya mendapati sosok Jiho tengah tertidur di sofa yang berada di sebelah kiri ruangan. Tubuh ayahnya yang sedikit tergolong besar itu membuat sofa tampak kecil, bahkan kakinya tidak muat di dalam sofa.

Merasakan perutnya sedikit perih lantaran lapar, Jihoon bangkit dari tempat tidur menuju ke kabinet lemari —tempat yang ia yakini sebagai tempat menyimpan tas— kemudian ia membuka tas punggung kuningnya untuk mengambil satu cup mie instan yang memang selalu ia bawa tiap berpergian. Jumlahnya yang ia bawa biasanya di atas tiga.

.

.

.

.

Setelah kenyang menyantap mie instan Jihoon berjalan mendekati jendela. Di pinggiran jendela ada sedikit spot yang diisikan oleh bongkahan panjang yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk duduk. Jihoon membuka gorden yang membatasi kamar dari pemandangan dunia luar. Kedua matanya berbinar penuh takjub melihat pemandangan malam kota London. Bangunan Big Ben yang terkenal itu terlihat dari jendela kamar.

Hal ini membuat Jihoon yakin kalau kamar yang mereka tempati ini berada di lantai yang cukup tinggi sehingga ia bisa melihat Big Ben dari sini. Semakin tinggi lantai kamar semakin mahal pula harganya —Jihoon tahu hal ini.

Rasa khawatir yang sempat menyelimutinya ketika ia berada di airport pudar bergitu saja. Ia kembali meyakini kepercayaan lamanya bahwa ayahnya, Woo Jiho, akan selalu menyayanginya. Kalau tidak sayang tidak mungkin ‘kan ia sengaja memesan kamar mahal hanya untuk membuat anaknya bahagia? Begitulah pikir Jihoon.

Seketika rasa excited menyelimuti dirinya. Ia tidak sabar untuk memulai petualangannya di London bersama dengan ayah tercintanya.

.

.

.

.

“Aduh!” Jiho mengerang ketika kepalanya terantuk di pinggiran sofa.

Kedua matanya langsung terbuka dan ia melihat Jihoon tengah bersusah payah menarik kakinya membuat tubuhnya menjauh dari sofa.

“Ck! Kau ini sedang apa Jihoon-ya? Kepala appa sakit ‘nih!”

“Badanmu bisa pegal kalau tidur di sofa. Besok ‘kan kita akan jalan-jalan seharian, kau harus fit, appa.”

“Lalu apa yang kau lakukan eh? Kalau kau ingin tubuhku fit kau seharusnya membiarkanku tertidur.”

“Aku menarikmu turun dari sofa supaya bisa membaringkanmu di tempat tidur.”

Jiho melongo. Sejak kapan anaknya menjadi begitu manis?

~TBC~

author’s note:
Annyeong yeorobun! Akhirnya kita berjumpa lagi ya ^^
Kangen deh rasanya sama kalian semua ❤
Setelah sekian lama ga post fanfic di sini akhirnya aku bisa juga
post  di sini ><
Untuk yang sudah menunggu fanfic ini aku ucapkan terima kasih banyak
dan mohon maaf sebesar-besarnya!

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s