In Love With You (Chapter 1)

In Love With You

Title   : In Love With You
Length  : Chaptered
Genre   : AU, Romance
Rating  : G

Starring
BoA as Kwon Boa
TVXQ Yunho as Jung Yunho

 

 

Langit sudah gelap, cahaya dari sinar matahari yang beberapa waktu lalu sudah tenggelam tak tampak lagi di langit. Lampu-lampu jalan mulai secara serentak menyala seolah menyatakan inilah waktu mereka untuk bersinar. Di salah satu sisi kota Seoul, seorang perempuan -ah tidak sebutan yang pantas untuknya adalah wanita, tengah duduk di halte bus menunggu kedatangan bus nomor 818.

Begitu bus 818 tiba, wanita itu dan juga para penumpang lain, mulai secara beraturan memasuki bus dan kemudian mengisi tempat duduk yang kosong. Wanita dengan seragam kantoran itu duduk di salah satu bangku kosong yang terletak di barisan kelima dari kursi supir bus. Helaan napas mengikuti seiring ia menyenderkan punggungnya pada bangku.

Lelah, itulah yang tengah dirasakan oleh wanita bernama Kwon Boa yang adalah seorang agen asuransi di perusahaan Samsung Life Insurance. Usianya yang telah menginjak 31 tahun tidak akan diketahui oleh sembarang orang karena berbagai alasan, yang pertama ia masih sangat enerjik untuk ukuran seorang agen asuransi, dan alasan yang kedua wajahnya nampak seperti baru berulang tahun yang ke-17 kemarin.

Yang membuat Boa lelah hari ini bukan karena ia harus mengejar para klien, tetapi hari ini tepatnya setengah jam yang lalu ia baru saja diberi ‘kuliah singkat’ oleh atasannya, Ahn Chilhyun, mengenai target kliennya yang belum terpenuhi.

“Menyebalkan sekali,” gerutu Boa.

“Padahal kan masih ada satu minggu lagi sampai bulan Maret berakhir.” Gerutuannya berlanjut, secara tidak langsung menarik perhatian para penumpang yang duduk di sekitarnya.

“Boa? Kwon Boa?”

Mendengar namanya dipanggil, Boa tak segan-segan menoleh setelah langsung menghentikan gerutuannya. Kedua irisnya menangkap sosok pria bertubuh tinggi yang tengah berpegangan pada handrail bus. Boa memiringkan kepalanya ketika benaknya mencoba mencari tahu siapa gerangan pria yang baru saja memanggilnya lengkap dengan menyertakan nama keluarga.

Pria tinggi itu terkekeh melihat ekspresi kebingungan Boa. Tadinya Boa hendak membentaknya karena menertawakan namun apa daya, pria itu terlalu tampan untuk dibentak sehingga Boa mengurungkan niatnya.

“Maaf ka-”

“Ini aku, Yunho. Jung Yunho.”

Keduanya berujar bersamaan.

Untuk dua detik Boa terdiam. Mulutnya terkatup rapat. Ia tidak mempercayai indera penglihatan dan indera pendengarannya. Sejauh ingatannya satu-satunya orang dengan nama Jung Yunho adalah teman sekelasnya semasa SMP yang sangat sering sekali menjahilinya sekaligus mantan pacarnya yang putus ketika keduanya mulai menginjak bangku SMP kelas 3.

Waktu memang berjalan begitu cepat sehingga moment itu terlupakan. Boa mencoba mengingat-ingat rupa Yunho ketika SMP dulu, berniat membandingkannya dengan rupa Yunho yang ada di depan matanya, memang ada perubahan pada wajah pria itu namun dagunya dan warna kulitnya tidak berubah.

“Jung Yunho to Kwon Boa. Apa kau ada di sana Boa?”

Entah sejak kapan Yunho sudah duduk tepat di samping Boa dan kini telapak tangannya tengah terlambai-lambai di depan kedua mata Boa. Wanita itu nyaris terpekik karena kaget namun yang terjadi hanyalah tubuh bagian atasnya sedikit bergeser dari senderan bangku.

“Lama tak jumpa ya. Bagaimana kabarmu?” Tanya Yunho setelah selesai tertawa, bagaimana ia bisa tidak tertawa? Tingkah Boa nampak lugu sekaligus lucu di matanya.

“Lama tak jumpa. Kabarku baik-baik saja, bagaimana denganmu Yunho-ssi?”

Boa tidak bermaksud untuk menjadi begitu formal tetapi job descriptionnya mewajibkan untuk bersikap formal setiap hari sehingga secara refleks ia menambahkan titlessi’ pada nama Yunho.

Baik Yunho dan Boa, keduanya menghela napas namun karena alasan yang berbeda. Boa merasa awkward karena kejadian barusan sementara Yunho merasa lega karena Boa yang dikenalnya sama sekali belum berubah -bahkan ukuran tubuhnyapun masih tampak sama.

“Kau ini… Kenapa formal sekali hahaha. Aku bukan klien asuransimu, tidak usah begitu formal! Syukurlah kalau kau baik-baik saja, kabarku luar biasa hehe.”

“Maaf, sudah menjadi kebiasaan. Kau tahu lah apa yang terjadi ketika hampir setiap hari dalam hidupmu selama lebih dari tiga tahun kau bersikap formal, inilah yang terjadi padaku.” Boa menjelaskan secara singkat namun jelas.

Tak dapat dipungkiri, Boa tidak dapat menipu dirinya sendiri, ia benar-benar merasa canggung. Buktinya ia baru saja menjelaskan hal yang sebenarnya tidak perlu. Pekerjaan yang ditempuhnya dari ketika usianya masih 22 tahun membuatnya menjadi sosok yang terlalu canggung dan terlalu serius. Ia tidak pernah menyadari perubahan ini sampai tadi -kalau saja ia tidak bertemu dengan Yunho mungkin esok hari pun ia tidak akan menyadari hal ini.

“Hahaha! Aku paham betul kok, aku paham. Lima tahun setelah kelulusanku dari universitas, aku bekerja sebagai seorang guru SMP dan sampai sekarang setiap kali aku melihat orangtua murid di jalan aku selalu memberi salam pada mereka sembari membungkuk 90 derajat.”

“Guru SMP?” Boa tercengang.

“Kupikir dulu kau ingin menjadi anggota riset penelitian?” Boa berujar asal. Tentu saja ia tidak ingat cita-cita apa yang dimiliki oleh mantan kekasihnya dulu, hanya saja, feelingnya mengatakan kalau tidak salah dulu Yunho bercita-cita seperti itu.

Senyum merekah di wajah Yunho. Tangannya yang lebar langsung menuju ke kepala Boa dan ia mulai mengacak-acak rambut wanita yang berada di sampingnya itu.

“Kau masih ingat ya? Dasar murid jenius.” Yunho tidak peduli kalau Boa menendangnya keluar dari bus setelah ini karena memanggilnya dengan olokannya semasa SMP, yang jelas ia ingin menunjukkan betapa ia merasa tersentuh karena Boa masih mengingat cita-cita miliknya ketika masih SMP dulu.

“Yaak! Berhentilah mengacak-acak rambutku! Butuh berjam-jam di pagi hari untuk membuatnya seperti ini!” Boa menepis tangan Yunho yang bertengger di atas kepalanya.

Usaha Boa berhasil namun tangan Yunho kembali ke atas kepalanya dan memberikan tepukan-tepukan ringan. Ini memancing rasa jengkel Boa namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tahu berapa kalipun ia menghentikan Yunho ia tidak akan berhasil, karena Yunho memang orang yang seperti itu.

“Ngomong-ngomong, tinggimu masih tetap sama ya? Hahaha!” Yunho berujar sesaat sebelum ia bangkit berdiri dari bangku yang ia duduki kemudian dengan setengah berlari ia menuju ke pintu keluar bus dan turun di halte tujuannya.

Boa nyaris berlari menyusul Yunho untuk memberikannya tendangan di kaki namun ia sadar, usianya sudah 31 tahun, ia bukan lagi anak SMP yang bisa melakukan hal sesuka hati. Akhirnya ia hanya duduk di bangkunya kemudian membuang muka ketika Yunho melambai ke arahnya sebelum turun dari bus.

Turunnya Jung Yunho dari bus 818 tidak menghentikan bus itu untuk terus melaju dengan Boa di dalamnya. Bus satu tingkat dengan cat merah sebagai warna dominan di bodynya melaju meninggalkan Yunho terdiam di sisi jalan sambil terus menatap ke arahnya.

 

oOOo

 

Tepat pukul setengah sembilan malam Boa tiba di rumahnya. Wanita itu bergegas membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Ia benar-benar ingin segera berendam di bak mandi untuk melepas rasa lelahnya hari ini.

Sementara air mengalir deras dari kran air bak mandi, Boa menyiapkan pakaian malam yang hendak ia kenakan seusai berendam nanti. Wanita itu memilih pakaian malam berwarna abu-abu, sangat pas dengan mood yang ia rasakan hari ini.

Ia lelah.

Bukan hanya karena baru saja diceramahi oleh atasannya, tetapi juga lelah kaerna ia bertemu dengan Jung Yunho. Mantan kekasih yang meninggalkan banyak hal yang ia tidak bisa ingat namun ia ketahui bahwa hal-hal tersebut ada dan nyata.

.

.

.

.

.

Boa merebahkan dirinya di atas kasur yang terletak di dalam kamar tidurnya yang penuh oleh nuansa musim dingin. Ia baru membeli wallpaper dinding fenomena gunung bersalju itu beberapa minggu lalu dan ia sama sekali tidak berencana untuk menggantinya sampai bulan Juni nanti di mana musim panas sudah akan berlangsung.

Hawa sejuk dari air conditioner yang sudah ia biarkan menyala semenjak satu jam lalu membuat kedua matanya semakin lama semakin terasa berat. Akhirnya ia memejamkan matanya dan berangkat ke alam mimpi di mana untuk sesaat ia bisa melupakan apa yang terjadi hari ini.

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s