How to Win Your ❤ (Chapter 4)

htwyl

poster credits : blaxxjae @ IFA

 Title        : How to Win Your ❤
 Chapter      : 4
 Length       : Chaptered
 Rating       : PG-17

 Starring
 BTS SUGA as Min Yoongi / Sugaboy
 CLC Yeeun as Jang Yeeun

 

 

Yoongi mempererat kepalan tangannya. Napasnya sudah tersengal-sengal. Sementara itu, di hadapannya DK masih berdiri tegap dengan postur tingginya –bahkan sebuah cengiran terpampang di wajahnya.

“Ada apa Sugaboy? Sudah lelah?” Tanya DK.

Tak lama setelah itu suara kekehan mulai terdengar mengisi ruangan.

Sial’ batin Yoongi seraya meludah, ludahnya berwarna kemerahan tercampur darah. Bagaimana tidak? Yoongi sudah setengah babak belur akibat serangan-serangan DK, untungnya lelaki itu hanya menyerangnya menggunakan anggota tubuh bukannya dengan stick pemukul yang digunakan untuk menghajar polisi yang sedang menyamar tiga tahun lalu.

Bagaikan seekor domba yang dikejar-kejar anjing penggembala, Yoongi hanya bisa menghindar dari DK –menunggu sampai lelaki DK lengah karena Yoongi tahu kemungkinan untuk merubuhkan DK semakin besar apabila DK sedang lengah.

“Ayo Sugaboy, tunjukkan kau bisa merobohkan tukang pukul kita!” ujar Ray lantang, suaranya menggema di dalam ruangan.

Tak lama kemudian keadaan mulai riuh oleh teriak-teriakan. Ada teriakan menyemangati dan ada juga teriakan yang mengejek.

Siaaaal!’ Batin Yoongi mengerang, ia sangat tidak suka kalau dipandang sebelah mata, apalagi oleh orang-orang yang menurutnya tak bernilai, seperti para anggota RUNNERS.

Erangan batinnya yang kencang tersalur pada indera-inderanya. Mulut Yoongi terbuka dan suara teriakan terlepas. Ia berlari ke arah lawannya dan melayangkan tinju pada perut sang lawan, menyebabkan lawan dengan tinggi 178cm itu terdorong dari posisi semula ia berada.

“Heh, not bad.”

Itulah kata-kata terakhir yang di dengar oleh Yoongi sebelum tinju DK mendarat lagi pada tubuhnya dan membuatnya tak sadarkan diri.

 

-oOOo-

 

“Yeeun-ah! Ayo gantung tasmu di tempat seharusnya! Jangan berantakan” Mrs. Jang berujar cukup tegas karena ia sudah melihat tas selempang Yeeun bertengger di meja di samping ranjang sejak sehari lalu.

Mrs. Jang masih tidak terbiasa, ia masih merasa tidak enak pada Hanbyul, padahal dapat dikatakan Hanbyul juga adalah anaknya. Selama ini ia masih menganggap kalau ia hanya menumpang di kediaman Hanbyul.

“Iya eomma, sebentar aku ke sana.” Yeeun menyahut dari ruang tamu. Sebenarnya ia tidak mau beranjak dari sofa karena acara favoritnya sebentar lagi akan ditayangkan di TV, tetapi karena Yeeun tidak mau membuat ibunya marah akhirnya ia beranjak menuju ke kamar.

Yeeun meraih tas selempangnya yang berada di atas meja di pinggir ranjang. Kemudian ia melongo, heran mengapa tasnya seperti ada isinya padahal ia yakin tas itu sudah kosong. Yeeun membalikan tas tersebut dan menggoncang-goncangnya.

“Astaga! Aku lupa mengembalikan jaketnya!” Yeeun terpekik ketika jaket Yoongi yang terlipat rapi keluar dari dalam tas.

Yeeun menghela napas. Ia kemudian mencoba untuk berpikir di mana ia mungkin akan menemukan Yoongi. Selang beberapa detik kemudian ia teringat akan kejadian waktu itu, ketika Dongwoo menganggap Yoongi adalah seorang berandalan.

‘… Kalau tidak salah gossipnya anak-anak berandalan suka berkumpul di dekat stasiun Y. Besok akan aku coba ke sana sepulang sekolah.’

 

-oOOo-

 

“Kau mengerti, Sugaboy?”

“Jangan,” Ray menendang tubuh Yoongi yang kini meringkuk di tengah-tengah ‘arena’.

“pernah,” tendangan kembali mendarat di bagian punggungnya.

“berbohong” lagi-lagi tendangan mendarat.

“padaku!” Tendangan cukup keras diberikan oleh Ray menyebabkan tubuh Yoongi sedikit berpindah dari posisi semula.

“Apa kau mengerti?”

Yoongi mencoba untuk berdiri menggunakan bantuan kedua tangannya namun sia-sia saja. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan kedua tangannya yang kini lemah itu tak sanggup menopang berat tubuhnya.

“MENGERTI ATAU TIDAK!?” Kini tangan Ray sudah menjambak rambut Yoongi, menyebabkan sebuah ringisan terlontar keluar dari mulut Yoongi.

“Jawab aku!”

“… A-aku mengerti.”

 

Malam terasa panjang bagi semua orang, khususnya bagi Min Yoongi dan Jang Yeeun. Keduanya sama-sama malam cepat berlalu agar esok hari cepat tiba. Alasan Yeeun menginginkan hal tersebut adalah karena ia ingin segera bertemu dengan teman-temannya di sekolah, sementara alasan Yoongi menginginkan esok hari cepat tiba adalah karena ia tidak sabar untuk mengambil motornya –berharap dengan motornya ia bisa menabrak habis seluruh anggota RUNNERS, walau itu hanya angan-angan belaka yang tak akan terwujud. Sudah terlambat baginya untuk mundur, yang bisa ia lakukan hanya terus berjalan ke depan di jalan yang sudah ia putuskan untuk tempuh.

 

-oOOo-

 

[Mingyu’s POV]

Suara bel terdengar. Kulirik jam tanganku dan waktu menunjukkan pukul 06:00. Aku tidak habis pikir siapa yang membunyikan bel apartmentku jam segini. Kalau tukang penagih piring kedai rasanya tidak mungkin.

Akhirnya karena penasaran aku langsung membuka pintu. Aku kaget bukan main melihat Yeeun berdiri di depan pintu apartmentku.

“Selamat pagi Mingyu!”

“Eh ya, selamat pagi juga Yeeun. Ada apa?”

“Ayo kita berangkat bersama!”

“Eh? Maaf?” ujarku refleks.

Yeeun tertawa. Tawanya itu benar-benar menyaingi rasa semangat yang diberikan oleh sinar matahari pagi. Senyum mulai mengembang di wajahku.

“Ayo berangkat bersama denganku ke sekolah” Yeeun mengulangi ajakannya.

“Baiklah. Tunggu sebentar ya, aku akan mengambil tasku dulu.” Aku membiarkan pintu tetap terbuka sementara kakiku kulangkahkan menuju ke kamar tidur yang terletak tidak jauh.

Kugendong tas punggung berwarna hitam milikku. Ketika aku melewati cermin lemari, aku melihat refleksi seorang pria tampan dengan senyum bodoh di wajahnya –ya itu adalah aku. Dan senyum bodoh itu disebabkan oleh Jang Yeeun.

[End of Mingyu’s POV]

 

Yeeun dan Mingyu masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Secara bersamaan keduanya menekan tombol menuju ke lantai satu. Keduanya kemudian saling berpandangan kemudian tertawa.

“Hahaha, maafkan aku Mingyu. Aku terbiasa menjadi penekan tombol di keluargaku.”

“Ah ya tidak apa-apa kok. Bagaimana kalau mulai sekarang kita atur siapa yang menekan tombol?”

“Hahaha baiklah, setuju. Sepertinya akan menyenangkan!”

Mingyu mengangguk-angguk setuju. Baginya, berangkat ke sekolah setiap hari bersama dengan Yeeun sudahlah menyenangkan. Lelaki yang terkenal dingin ini adalah seorang manusia juga, bisa merasakan kesepian, rasa senang, dan juga ia bisa jatuh cinta.

“Eh eh, berarti mulai hari ini kita akan selalu berangkat bersama ke sekolah kan?” Tanya Yeeun. Dari nadanya siapapun tahu kalau ia girang –tentu saja karena ia tidak pernah berangkat ke sekolah bersama dengan orang lain sebelumnya.

Senyum tipis dipamerkan oleh Mingyu, “ya, mulai hari ini setiap hari kita akan selalu berangkat bersama ke sekolah.”

 

-oOOo-

 

[Yoongi’s POV]

Aku menghela napas cukup panjang setelah aku melihat penampilanku sendiri di cermin. Luka memar menghiasi wajahku, dan wow, aku terlihat lebih buruk dari biasanya. Jujur ini adalah pertama kalinya aku dipenuhi luka memar.

Dengan penampilan yang seperti ini aku yakin aku akan semakin menjadi pusat perhatian siswa-siswa lainnya. Memikirkan hal ini saja membuatku ingin bolos.

Kurasakan ponselku yang berada dalam kantung celanaku bergetar. Aku malas untuk mengeceknya karena kalau itu berasal dari pesan singkat Ray yang mengatakan ia minta maaf aku harus menjawab bahwa aku memaafkannya –yang mana mustahil untuk kulakukan. Aku sama sekali tidak akan memaafkannya atas kejadian kemarin malam.

.

.

.

“Selamat pagi Yoo- wow! Kau kenapa?”

“Pagi Hoseok. Aku tidak apa-apa kok. Hanya terlibat pertikaian kecil kemarin.” Jawabku singkat sembari berlalu.

Aku ingin menghindar darinya karena lelaki yang tadi menanyaiku adalah Jung Hoseok, ia adalah teman sekelasku yang menjabat sebagai ketua kelas dengan si-sialan-Seokmin yang menjadi wakilnya. Seisi kelas juga tahu di mana ada Hoseok di sana ada Seokmin. Aku tidak ingin berhadapan dengan si sialan itu untuk sementara ini, kalau perlu untuk selamanya.

Seperti biasa aku mengisi tempat duduk yang berada di bagian paling belakang kelas dekat jendela. Kuhempaskan tasku ke atas meja, menggunakannya sebagai alas kepalaku untuk tidur.

[End of Yoongi’s POV]

 

-oOOo-

 

Bagi para siswa, siang berjalan sangat lama sementara malam berjalan sangat cepat. Begitu pula yang dirasakan oleh Yeeun yang sedang mencatat materi yang diberikan oleh Kim seonsaengnim.

Pelajaran Matematika adalah pelajaran terakhir untuk hari ini. Dan Yeeun tidak mengerti mengapa pelajaran semembosankan ini diletakkan di jam terakhir.

“Baiklah, sekian untuk hari ini. Jangan lupa kerjakan tugas yang tadi saya berikan ya!”

Kelas yang tenang kini kembali ramai. Para siswa mulai membereskan barang-barang mereka –bersiap-siap untuk pulang.

“Berdiri! Beri hormat!” Atas perintah ketua kelas, para siswa mengucapkan salam dan membungkuk memberi hormat pada Kim seonsaengnim.

Setelah Kim seonsaengnim keluar kelas, para siswa berbondong-bondong menuju ke pintu kelas, ingin cepat-cepat keluar dan berangkat pulang menuju ke rumah masing-masing. Yeeun tidak terkecuali. Ia juga langsung menuju ke pintu kelas tanpa menyadari sedari tadi Mingyu memperhatikannya, lelaki itu ingin mengajaknya pulang bersama.

.

.

.

.

“Yeeun!”

Memanggil namanya dipanggil Yeeun refleks berhenti melangkah dan menoleh ke arah sumber suara. Kini ia berada sepuluh langkah di depan gerbang gedung sekolah. Di belakangnya, Mingyu berlari ke arahnya dengan napas yang sedikit tidak beraturan.

“Kau mau kemana? Buru-buru sekali.” Ujar Mingyu setelah akhirnya berada bersebelahan dengan Yeeun.

“Ah.. Ini… Aku… Aku ingin mengembalikan barang untuk teman.”

“Di mana? Mau aku antar tidak?”

Yeeun menggigiti bibir bagian bawahnya. Membatin-batin haruskah ia mengatakan akan pergi ke stasiun Y atau tidak. Akhirnya setelah beberapa saat berlalu konflik batin Yeeun berakhir. Ia memutuskan untuk tidak memberitahu Mingyu kemana ia akan pergi.

“Ah, tidak usah Mingyu, tidak apa-apa kok aku bisa sendiri. Aku bukan anak kecil hahaha.” Sahut Yeeun.

Mingyu hanya melontarkan “oke” sembari mengangguk-anggukan kepalanya.

“Sampai jumpa besok kalau begitu?”

Yeeun mengangguk sembari tersenyum, “iya, sampai jumpa besok Mingyu. Annyeong!”

 

-oOOo-

 

[Yeeun’s POV]

Tak perlu menunggu lama bus yang menuju ke stasiun Y tiba beberapa menit setelah aku sampai di halte. Aku langsung naik ke dalam bus dan duduk di kursi kedua dari depan. Aku pikir keadaan bus akan ramai karena daerah stasiun Y adalah daerah yang cukup padat.

Aku menoleh ke samping kanan dan bagian belakang, kalau kuhitung-hitung jumlah penumpangnya, termasuk aku, hanya sekitar dua puluh orang.

Setelah semua penumpang duduk, bus pun melaju.

Aku menyandarkan kepalaku pada kaca jendela bus. Kupejamkan mataku karena rasa khawatirku tak kunjung hilang. Bagaimana kalau ternyata gossip itu benar dan aku akan bertemu banyak anak-anak berandalan di sana? Yang lebih parah lagi bagaimana kalau Yoongi tidak ada di situ? Yang membuatku paling khawatir adalah bagaimana kalau terjadi sesuatu padaku di sana sementara tak ada satu orang pun yang aku kenal? Setidaknya, kalau Yoongi benar ada di sana, aku rasa aku pasti akan baik-baik saja.

[End of Yeeun’s POV]

 

Bus berhenti di depan stasiun Y dan penumpang demi penumpang pun turun dari bus, menyisakan sang pengemudi di dalam bus.

Yeeun merapikan seragamnya dan tangannya dengan erat menggenggam tali tas gendong yang bertengger di pundaknya. Ia menghela napas panjang dan mulai melangkahkan kakinya untuk menelusuri sepanjang stasiun Y.

.

.

.

.

Dengan teramat hati-hati Yeeun memperhatikan gerombolan berandal yang ia temui. Gadis berambut panjang itu berusaha sedemikian rupa agar para berandal itu tidak menyadari bahwa ia memperhatikan mereka.

Aduh! Kenapa sih aku memutuskan untuk melakukan ini?!

Karena tidak memperhatikan jalan di depannya, alhasil Yeeun menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Yeeun hilang keseimbangannya namun untungnya orang yang ia tabrak tadi berbaik hati untuk memegangi lengannya sehingga ia tidak terjatuh.

“Ma.. maafkan aku.” Ujar Yeeun sesegera mungkin.

Gwenchana, tidak usah khawatir.” Orang yang ia tabrak tadi tersenyum.

Yeeun balas tersenyum. Kedua matanya memperhatikan orang di hadapannya dari kepala sampai kaki. Orang berkelamin laki-laki itu cukup tinggi. Celana seragam sekolahnya sedikit menggantung di atas kakinya. Kemudian mata Yeeun teruju pada nametag yang ada di sisi kanan baju seragam lelaki itu. Di sana tertera nama sang empunya: Lee Seokmin.

 

-oOOo-

 

VROOM! VROOM!

Yoongi tersenyum puas ketika motor miliknya sudah dapat kembali berjalan. Sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali pada pegawai bengkel, ia membawa keluar motornya dari bengkel.

“Ayo kita pulang!” ujar Yoongi seraya mengenakan helm dan mulai menyalakan mesin motornya.

.

.

.

.

Lampu merah pada siang hari berlangsung lebih lama dibanding ketika malam hari. Kesempatan ini digunakan Yoongi untuk meregangkan tubuhnya yang terasa cukup pegal sekaligus sakit.

Sembari merilekskan tubuhnya ia menengok ke kanan dan ke kiri, berharap ada sesuatu yang menarik yang bisa ia jadikan bahan tawaan. Namun yang ia dapatkan bukanlah sesuatu yang bisa ia jadikan bahan tawaan. Di trotoar sebelah kiri jalan ia melihat seseorang yang cukup familiar. Tubuh orang itu tinggi dan kulitnya berwarna sawo matang.

 

-oOOo-

 

Mingyu berjalan menyusuri trotoar. Ia berada di sisi yang tepat untuk tiba di gedung apartment tanpa harus menyebrang ke sisi jalan yang satunya. Pikirannya tengah mendalami materi-materi pelajaran yang ia dapatkan hari ini di sekolah.

Tiba-tiba saja ia merasa ada seseorang yang tengah memperhatikannya –karena suatu kejadian di masa lalu ia menjadi sangat sigap. Mingyu menoleh ke arah yang ia yakini sebagai arah tatapan pengamatnya.

Di jalanan, ia melihat seorang pengendara motor yang melihat ke arahnya. Sang pengendara menggunakan helm sehingga mustahil baginya untuk tahu siapa orang itu tetapi jantung Mingyu mendadak berdebar keras melihat motor yang ditungganggi oleh orang tersebut.

Ia kenal motor itu –yang ia yakini bahwa pemiliknya adalah seorang ‘teman lama’.

Mingyu langsung mengalihkan pandangannya dan mulai berjalan semakin cepat menyusuri kerumunan.

 

-oOOo-

 

“Sedang apa kau ada di sini? Ini kan wilayah berbahaya, tidak cocok untuk siswi sepertimu.” Ujar Seokmin yang kini sedang berjalan bersebelahan dengan Yeeun.

“Aku sebenarnya ingin mengembalikan barang milik seseorang. Tetapi aku tidak tahu orang itu ada di mana sehingga akhirnya aku memutuskan untuk mencoba mencarinya di daerah sini. Habis yang aku dengar anak laki-laki dari sekolah manapun suka sekali berkumpul di daerah ini.” Kebohongan Yeeun lontarkan dari mulutnya pada kalimat terakhir.

“Ah begitu. Mana coba kulihat barangnya”

Yeeun mengeluarkan jaket yang terlipat rapi dari dalam tasnya dan menunjukannya pada Seokmin. Melihat barang yang ditunjukan oleh Yeeun, senyum Seokmin merekah.

Dari awal mula sebenarnya Seokmin tahu bahwa Yeeun adalah perempuan yang ia lihat bersama dengan Yoongi beberapa saat lalu, tetapi ia amatlah pintar dalam berakting. Kesempatan ini tidak akan ia sia-siakan toh sang kepala RUNNERS menyuruhnya untuk memberikan pelajaran pada Yoongi –dan ia rasa pelajaran fisik saja tidak akan cukup bagi seorang rebel seperti Yoongi.

“Ah! Kalau tidak salah aku sering melihat jaket ini. Teman sekelasku hampir memakainya setiap hari.”

“Eh? Benarkah? Siapa namanya?” Tanya Yeeun.

“Namanya Yoongi. Ia salah satu teman baikku.” Jawab Seokmin kemudian tersenyum.

Kedua mata Yeeun melebar, tidak percaya bahwa lelaki di hadapannya adalah teman Yoongi. Penampilan Seokmin sangat rapi, berbanding terbalik dengan penampilan Yoongi yang menurut Yeeun urak-urakan. Melihat Seokmin dan mempercayai bahwa Seokmin dan Yoongi berteman baik membuat persepsinya akan Yoongi yang adalah berandalan hilang begitu saja. Menurutnya, Seokmin tampak seperti seorang anak baik-baik yang juga merangkap sebagai siswa terajin di kelas.

“Aku sebentar lagi akan bertemu dengannya, mau ikut?” tawar Seokmin.

Yeeun mengangguk mengiyakan.

“Baiklah, ayo ikut aku!” Seokmin melangkah lebih dulu, meninggalkan Yeeun agak jauh di belakang.

Seokmin merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel miliknya. Ditekannya layar ponsel, membuat sebuah panggilan.

“Halo? Apa kau di sana V? Tolong telepon Sugaboy, beritahu kalau punya kabar gembira untuknya. Aku menemukan jaketnya. Suruh ia datang ke base sekarang.”

 

-oOOo-

 

Yoongi tiba di rumahnya. Ia turun dari motor dan menggiring motornya memasuki garasi rumah.

Drrt! Drrt!

Getaran pada ponselnya menandakan ada telepon masuk. Ia melihat layar ponsel dan nama V terpampang di layar. Dengan berat hati ia menggeser layar ponsel untuk menerima panggilan dari satu-satunya anggota RUNNERS yang ia anggap sebagai seorang teman.

“Halo?”

“Halo, Sugaboy!”

“Ya. Ada apa?”

“Aku baru saja ditelepon DK kalau ia punya kabar gembira untukmu!”

Yoongi mendengus. Rasanya tidak mungkin Seokmin mempunyai kabar gembira untuknya. Feelingnya menjadi tidak enak memikirkan mengapa tidak Seokmin sendiri saja yang memberinya kabar gembira tersebut. Padahal para anggota RUNNERS saling menyimpan nomor masing-masing.

“Kabar gembira apa?”

“Katanya ia menemukan jaketmu,”

DEG.

Jaket?

“dan katanya kau harus ke base sekarang juga.”

Debaran jantung Yoongi semakin kencang. Ia memutuskan panggilan dari V dan langsung menaiki lagi motornya. Tanpa menggubris untuk terlebih dahulu mengenakan helm, Yoongi dan motornya melesat ke base.

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s