Knock (Chapter 2)

knock

(poster credit to Ravenclaw | @artfantasy1st)

Title : Knock

Length : Chaptered

Rating : T

Genre : AU, Dark!Romance

Starring
KNK Youjin as Kim Youjin

OC as Oh Heemin
KNK Heejun as Oh Heejun
KNK Seungjun as Park Seungjun

Heemin duduk termangu di atas sofa yang beberapa jam lalu baru saja dipindahkan ke ruang tamu. Ia mengatur napasnya sembari mencoba membuang jauh-jauh prasangkanya akan sang tetangga.

“Oh Heemin, tenanglah! Kau terlalu banyak menonton acara Criminal Minds.” Ia berujar pada diri sendiri.

Perlahan, prasangka buruk akan sang tetangga pun hilang, tetapi tetap saja apa yang terjadi barusan terasa mencurigakan, janggal, sekaligus mengerikan bagi Heemin. Mengingat sepasang mata yang medadak ada begitu saja dari sisi lain pintu yang terbuka dan menatapnya balik membuat bulu kuduknya merinding.

“Mungkin ia merasa terganggu aku mengintip ke dalam.. Ah, pasti begitu! Besok aku harus minta maaf.”

Akhirnya Heemin merasa jauh lebih tenang, debaran jantungnya pun tidak seliar beberapa saat lalu.

Jam dinding yang menggantung di dinding ruang tamu menunjukkan pukul dua belas tepat. Pantas saja ia merasa perutnya sedikit sakit, ia sudah lapar –setelah tadi memindah-mindahkan barang serta membereskan apartment, ia menjadi cepat lapar.

Tanpa sadar, secara perlahan, kedua mata Heemin mulai tertutup, gadis berusia tujuh belas tahun itu pun tertidur. Tak dapat dipungkiri, tidur adalah hobinya selain memasak namun kali ini ia teridur bukan karena ingin, melainkan karena ia sangat lapar sehingga ia menjadi lemas dan terbuai untuk membaringkan tubuhnya di atas sofa ditemani TV yang menyala.

 

.oOOo.

 

Heejun merasa canggung ketika orang-orang di antrian kasir memandanginya. Mau tak mau lelaki dengan tinggi 180cm itu menundukkan kepalanya, pura-pura membalas pesan singkat, padahal pulsa saja ia tidak punya.

Ia pernah mengalami hal ini, bahkan sering, sehingga ia menjadi sukar untuk keluar rumah ketika masih tinggal di Busan. Namun beberapa tahun terakhir ini ia menjadi cukup berani berkeliaran di luar rumah, tentu saja karena dorongan dari saudari kembarnya yang selalu mengatakan tidak apa-apa untuk menjadi berbeda –hal ini ditujukan pada tinggi Heejun yang dirasa tidak normal. Ketika SMP dulu tingginya saja sudah mencapai 175cm yang mana menjadikannya siswa tertinggi di sekolahan.

“Silakan berikutnya!”

Tanpa menunggu lebih lama Heejun segera maju dan menaruh barang-barang belanjaan di atas meja kasir. Barang-barang belanjaannya yang mayoritas berupa sayuran membuat pelayanannya cepat sehingga tak sampai tiga menit ia sudah membayar barang belanjaannya dan segera pergi dari mini-market.

Langkah kakinya semakin melebar ketika suara dentuman guntur mulai terdengar. Dengan sepasang alisnya yang mulai membentuk kerutan di dahinya, ia menengadah ke atas, memastikan apakah benar hujan akan turun.

“Ah! Sial! Tahu begini tadi aku bawa payung!” Heejun mulai menggerutu namun ia tidak menghentikan langkahnya yang semakin lama semakin melebar –karena sampai saat ini ia hidup ia telah mengambil sebuah pelajaran berharga –menggerutu tidak akan mengubah apapun.

Walaupun tubuhnya tinggi namun umur tidak bisa bohong, Oh Heejun hanyalah seorang lelaki berusia 17 tahun yang dikategorikan ke dalam lelaki yang belum bersifat dewasa.

 

|

|

|

 

 

Kedua mata Heemin kini terbuka, tampaknya perempuan berusia 17 tahun itu baru saja terbangun dari tidur siang dadakannya, tetapi ia bukan bangun dengan sendirinya. Kedua indera pendengarannya mendengar suara ketukan pada pintu apartment. –Heemin adalah tipe orang yang akan terbangun dari tidurnya apabila ia mendengar suara, sekecil apapun suara itu.

“Heejun? Kaukah itu?” Sambil mengucek mata kirinya, Heemin berjalan ke arah pintu dan mulai membuka kunci.

‘Klek’

Pintu apartment 502B dibuka dari dalam.

“Heejun?” Tidak mendapati siapapun di depan pintu Heemin memutuskan melangkah keluar untuk mengecek keadaan sekitar –memastikan kembarannya itu tidak sedang mengerjainya.

‘Apa hanya perasaanku saja ya?’ batin Heemin dalam hati seraya kembali menutup pintu apartment dan kembali masuk ke dalam.

Dengan kesadaran yang belum terkumpul 100%, perempuan berambut cokelat tua itu kembali merebahkan dirinya di atas sofa. Ia tidak ambil pusing mengenai ketukan tadi. Heemin yakin tadi hanyalah bunga tidurnya karena tadi ia sedang bermimpi mengunjungi apartment 502A dan di mimpinya ia tengah mengetuk pintu.

 

|

|

|

 

‘TING!’

Pintu lift terbuka di lantai 5, dan dari dalam lift, sambil membawa kantung belanjaan, Heejun keluar dengan cepat, tidak mau kejadian dua belas tahun lalu terulang. Ketika usianya baru lima tahun, Heejun yang malang pernah terjepit di antara pintu lift yang tertutup, untung saja kala itu orang yang berada di dalam lift sangat sigap dan menekan tombol pembuka pintu lift.

Pada dasarnya seorang Oh Heejun tidak kenal takut, tetapi kalau harus ada satu hal yang ia takuti adalah terjepit di antara pintu lift.

Heejun meletakan kantung-kantung belanjaannya di depan pintu apartment 502A dan ia pun menekan bel.

“Heemin-ah! Aku pulang!” ujarnya seraya menekan bel untuk yang kedua kalinya.

Selang beberapa detik kemudian ia kembali menekan bel, “Heemin~ Buka pintunya juseyo!”

Sebelum menekan bel untuk keempat kalinya, Heejun sengaja berhenti selama kurang lebih lima detik, ia ingin mengisengi kembarannya namun ia tidak mau membuat kembarannya jengkel.

Ketika jari telunjuk Heejum hampir mendarat pada tombol bel, pintu apartment 502B terbuka cukup kencang, kalau saja Heejun tidak sigap pada mukanya akan tertinggal bekas ciuman dari pintu.

“Cukup sekali menekan belnya! Aku tidak tuli!”

Dari dalam apartment tampak Heemin dengan wajah yang masih mengantuk dan kedua lengannya terlipat di depan dada. Sementara itu Heejun hanya terkekeh sembari mengangkat kantung-kantung belanjaan.

“Maaf, maaf. Aku entah mengapa sangat suka mengisengimu, Min.”

Heemin hanya mencibir sebagai respon dari pengakuan saudara kembarnya yang kalaupun tidak diakui akan tetap ia ketahui. Begitu Heejun masuk ke dalam, Heemin segera menutup pintu. Keduanya berjalan bersebelahan ke dapur yang berada tak jauh dari pintu.

“Kau beli apa untuk makan siang?”

“Aku beli tangsuyuk, hanya satu porsi saja, cukup ‘kan untuk kita berdua?”

Heemin mengangguk, “kurasa cukup ‘kok. Lagipula kalau tidak cukup aku bisa memasak yang lain karena sepertinya kau membeli cukup banyak bahan eh.” Senyum tipis melengguh di bibir Heemin.

Heejun yang melihat senyum kembarannya itu pun tak dapat menghentikan senyuman yang tadinya ia tahan-tahan agar tidak muncul.

Cheonmanhaeyo, naui yeongdong*.” Heejun mendapatkan tepukan ringan di lengan kirinya seusai berujar seperti itu.

“Kau ganti baju dulu sana, aku yang akan menyiapkan makanan.” Kedua tangan Heemin dengan lincahnya sudah menari-nari di atas kontainer dapur menyiapkan peralatan-peralatan makan.

“Baiklah, jangan terlalu lama ya, aku sudah lapar,” ujar Heejun seraya berlalu menuju ke kamar untuk berganti pakaian.

 

.oOOo.

 

“Ya, halo? Ini aku. Ada apa?”

 

“Sekarang? Boleh saja. Kebetulan aku baru bangun.”

 

“Iya, baiklah. Aku segera ke sana, tunggu aku.”

 

Untuk pertama kalinya dalam minggu ini, pintu apartment  502A terbuka. Sesosok lelaki berperawakan tinggi keluar dari dalam. Ia segera mengunci pintu dari luar sesaat ia sudah berada di luar ruangan. Sebuah payung berukuran besar digenggam di tangan kirinya, tangan kanannya dimasukkan ke dalam kantung jas berwarna cokelat yang menutupi tubuh bagian atasnya.

 

|

|

|

 

Oppa? Mau ke mana?”

“Mau bertemu dengan teman lama, Ahreum-ya. Kau jangan merepotkan bibi Song ya.”

Perempuan bernama Ahreum itu mengangguk, walaupun ia tidak mengucapkan janji tetapi ia pasti tidak akan melakukan apa yang kakaknya, Park Seungjun, larang.

“Hati-hati di jalan ya oppa. Jangan lupa bawa payung. Tampaknya hujan akan turun.”

Seungjun tersenyum manis, ia memamerkan payung yang berada dalam genggaman tangannya. “Baik. Oppa bawa payungnya ‘kok, Ahreum. Terima kasih sudah mengingatkan oppa ya anak manis.”

 

.oOOo.

 

Seusai menyantap makan siang, sepasang kembar Oh itu duduk bersantai di ruangan yang mereka namai ruang tamu. Keduanya duduk bersandar pada sandaran sofa yang empuk sembari masing-masing mata mereka terpaku ke arah TV yang sedang menyiarkan program boradcast musik.

“Heemin, kau masih suka BlockB?”

“Tentu saja. Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa ‘sih. Mereka belum comeback sejak tahun kemarin ‘kan?”

“Iya. Aku benar-benar rindu melihat oppadeul di TV. Mereka… Aku rasa mereka terlalu sibuk di Jepang.”

“A-Pink juga sama ‘kok. Mereka sibuk di Jepang. Aku merasa lama-kelamaan mereka bisa-bisa menomorduakan Pink Panda Korea.”

Heemin terkekeh mendengar celotehan Heejun yang mengaku-ngaku sebagai seorang Pink Panda sejati. Sebagai sepasang anak kembar, Heemin dan Heejun sering sekali melakukan small talk seperti ini, faktanya semua hal bisa mereka bicarakan –yah, namanya juga anak kembar. Seperti teori anak kembar kebanyakan, baik Heejun maupun Heemin dapat mengetahui apa yang ada di pikiran satu sama lain –bukan karena magis, tetapi karena mereka sudah bersama-sama untuk waktu yang lama sehingga mereka dapat memahami baik ekspresi maupun pola pikir satu sama lain.

“Eh iya Jun. Ngomong-ngomong ada yang ingin aku ceritakan,” Heemin duduk semakin dekat pada Heejun, suaranya sengaja ia kecilkan.

“Mengenai tetangga kita.” Lanjutnya.

“Tetangga kita kenapa? Dia tampan? Hahaha.”

Alhasil, Heejun mendapatkan pukulan yang kali ini tidak ringan di lengan kirinya. Lelaki itu pun hanya bisa meringis sambil menatap saudari kembarnya.

“Kalau tampan sih untuk apa aku bicarakan denganmu!? Kau kan bukan gay.”

“Habis sejauh ingatanku kau itu sangat hobi membicarakan pria tampan.”

“Enak saja!”

“Eh, aku ingat ya selama ini apa saja yang selalu kau bicarakan padaku!”

“Ingatanmu itu seperti ingatan ikan tahu!”

“Sembarangan!”

 

Sementara pasangan kembar Oh beradu mulut, di sisi lain kota Seoul, tepatnya di sebuah cafe yang berada di dalam sebuah mall, penghuni apartment 502A duduk di salah satu kursi kosong sembari menyesap secangkir kopi panas. Mata lelaki itu berfokus pada majalah yang halaman demi halamannya mulai ia buka.

 

“Hey! Menunggu sejak lama?”

“Ah. Tidak juga Seungjun. Aku baru tiba sekitar 5 menit yang lalu.”

“Maaf ya, karena hujan lalu lintas sedikit macet.” Park Seungjun tanpa dipersilakan langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi lawan bicaranya.

“Bagaimana kabarmu, Youjin?”

Youjin mengangguk-anggukan kepalanya sambil berujar, “aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu Seungjun?”

Seungjun tersenyum mendengar jawaban teman lamanya itu.

“Syukurlah. Aku juga baik-baik saja.”

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s