이렇게 [Fourshots | (1/4)]

이렇게

poster by Ichigo@Art Zone

Title : 이렇게

Genre : AU, Friendship, Romance, School-Life

Length : Fourshots

Rating : G

Starring

1. INFINITE L as Kim Myungsoo

2. Lovelyz Babysoul as Lee Soojung

3. BlockB Zico as Woo Jiho

4. Teentop C.A.P as Bang Minsoo

Minsoo menghela napas. Ditatapnya lekat satu dari dua sahabat karibnya itu. Ia tidak mengerti bagaimana orang ini selalu memamerkan senyum padahal hatinya pasti terasa sesak.

“Hey, Myungsoo, kau yakin kau baik-baik saja?”

Laki-laki bersurai hitam yang bernama Myungsoo itu menatap balik sahabatnya sembari mengangguk-angguk kecil sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.

“Aku rasa… Aku akan baik-baik saja Minsoo. Jangan khawatir.”

Kedua mata sipit Minsoo terpejam, ini kali keduanya ia menghela napas semenjak dua menit lalu. Minsoo tahu bahwa sahabatnya itu tengah tidak baik-baik saja tapi apa yang bisa ia perbuat? Ia hapal betul sifat sahabatnya.

Keadaan hening. Yang terdengar hanyalah suara kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan. Kedua laki-laki yang masih mengenakan seragam sekolah itu mencondongkan tubuh mereka di pembatas jembatan.

“Oy.”

“Ya?”

“Bagaimana hasil testmu?”

“Masih seperti biasa. Aku tidak akan bisa menyaingi si murid pindahan itu.” Myungsoo tertawa kecil seraya berkata.

Minsoo mencibir mendengar jawaban dari Myungsoo. “Yah, tapi setidaknya kau pasti dapat di atas 80 kan? Aku ‘sih dapat 68. 2 point lagi dari 70.”

“Hahaha! Kau harus berusaha lebih maksimal Minsoo.”

“Apa yang kau tahu hah? Aku sudah berusaha maksimal tahu!” Ujar Minsoo seraya menggendong kembali tas selempang miliknya.

“Ayo kita pulang! Jam sekolah pasti sudah berakhir.”

Myungsoo mengangguk sebagai tanda setuju. Ia berjalan mendekati sepeda miliknya yang berdiam tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Myungsoo menaikkan kedua sudut bibirnya, berusaha untuk tersenyum padahal tidak ada seorang pun yang melihatnya. Ia berharap dengan tersenyum dapat membuat perasaannya menjadi lebih baik. Ya, ia tengah menipu dirinya sendiri.

Langkah Myungsoo mendadak terhenti. Ia hanya beberapa langkah lagi dari sepedanya namun kini ia tengah menengadah melihat langit sore kemerahan.“Hey, Minsoo,” panggilnya.

Bang Minsoo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seraya berjalan semakin dekat ke arah Myungsoo. “Besok hari Sabtu. Ayo kita jalan-jalan dulu sebelum pulang ke rumah masing-masing.” Lengan kuat Minsoo merangkul bahu Myungsoo seraya keduanya berjalan sembari mendorong sepeda masing-masing.

 

oOOo

“Soojungie!”

Perempuan berambut cokelat tua panjang menoleh ketika namanya dipanggil. “Ya ada apa Jiho?”

Pemuda bernama Jiho itu berlari kecil menghampiri Soojung yang tingginya jauh lebih pendek daripadanya. Bukan sedikit, perbedaan tinggi mereka cukup jauh. Tetapi justru itulah yang membuat Jiho sangat tertarik pada Soojung –ya karena ukuran tubuhnya yang sangat mini. Menurut Jiho hal itu sangatlah menggemaskan.

“Apa kau melihat Myungsoo dan Minsoo? Tadi aku ke kelas kalian dan mereka berdua sama sekali tidak ada di sana.”

“Eh? Benarkah?” Kedua mata Soojung membulat tidak percaya.

“Tadi pagi mereka ada ‘kok.” Ujar Soojung. Lengan sebelah kanannya ia tumpakkan pada lengan kirinya yang ia tempatkan di depan dada. “Hm. Kemana ya mereka?”

Jiho mengangkat kedua bahunya. Hampir saja perkataan “aku tidak tahu makannya aku bertanya padamu” terlontar dari muutnya. Woo Jiho adalah seorang pemuda yang bisa dikategorikan sebagai manusia dengan mulut sebagai senjata, ya terkadang tanpa sadar ia menjadi sarkastik. Ia amat berkebalikan dengan gadis yang tengah berhadapan dengannya. Lee Soojung adalah seorang gadis yang lembut, bahkan sebelum berkata ia selalu memprosesnya terlabih dahulu agar lawan bicaranya tidak merasa tersinggung.

Selain perbedaan itu, masih ada perbedaan-perbedaan lain, salah satunya adalah Lee Soojung terkenal sebagai anak tergiat sementara Woo Jiho adalah anak termalas. Perbedaan-perbedaan keduanya lah yang membuat satu angkatan gempar ketika mengetahui bahwa keduanya baru saja jadian ketika istirahat siang tadi.

“Ah baiklah kalau kau tidak tahu. Aku duluan ya!” Jiho berpamitan pada Soojung dan membalikkan tubuhnya namun langkahnya terhenti ketika ia merasakan tarikan pada baju seragamnya.

Jiho menoleh ke belakang. Soojung tengah menarik baju seragam Jiho. Gadis itu tertunduk dan menggoyang-goyangkan pergelangan kakinya.

“Soojungie? Ada apa?” Kedua mata Jiho bekerjap.

“… Ng. J-Jiho.”

“Ya? Ada apa Soojung?”

“Mulai hari ini kita pulang bersama ‘yuk.”

“E-eh?”

Kedua mata Jiho melebar. Selama ini ia selalu pulang bersama dengan sahabat-sahabat karibnya. Tawaran untuk pulang bersama yang diusulkan oleh kekasih barunya membuatnya sedikit bingung, hal ini terlihat dari tegukan ludahnya.

“Uh… Bagaimana ya? Aku selalu pu-“

“Walaupun sekarang kita pacaran kau masih ingin selalu pulang bersama dengan Myungsoo dan Minsoo?” Soojung menarik baju seragam Jiho lebih kuat, bahkan kali ini menyebabkan baju yang tersemat rapi ke dalam celana seragam itu mencuat keluar.

 

oOOo

 

Tak terasa hari sudah sangatlah gelap dan Myungsoo baru setengah jalan menuju ke rumahnya.

“Ah. Sial. Aku lupa lewat jalan lain.” Ia menggerutu kemudian melirik jam tangan miliknya. Apabila ia memutar arah dan melewati jalan lain ia bisa baru sampai ke rumah sekitar 30 menit lagi dan sampai di rumah tanpa diceramahi oleh kedua orangtuanya akan menjadi hal yang sangat mustahil.

Myungsoo menghela napas panjang, ia memperat pegangannya pada stang sepeda seraya mengayuh lebih cepat. Berharap ia bisa melewati sebuah rumah yang berada di pojok pertigaan jalan tanpa harus berhenti terlebih dahulu. Namun harapannya tidak terjadi karena ia berhenti di depan rumah tersebut. Kepalanya menengadah ke atas, ke balkon rumah yang terletak di lantai dua.

“Myungsoo?”

Menderngar namanya dipanggil, Myungsoo dengan kaget segera menoleh. Terlebih lagi karena suara itu sangat tak asing di telinganya. Dan benar saja, orang yang diperkirakan berdiri tepat di belakangnya.

“O-oh. Selamat malam Soojungie.” Myungsoo menundukkan kepalanya sepersekian detik.

“Kau baru dari mana? Tadi Jiho mencarimu. Ia juga mencari Minsoo.”

Myungsoo menggusap-usap tengkuknya.

“Oh ya lalu kenapa kau berhenti di sini?”

“Errm… Yah,” Myungsoo menghembuskan napas.

Sementara itu kini di hadapannya Soojung tengah berdiri, tak bergeming sedari tadi, kedua lengannya dilipatkan di depan dada. Ia tengah menunggu jawaban Myungsoo.

“Begini… Aku… Aku hendak minta maaf padamu Soojungie. Tadi, begini, uh, aku dan Minsoo bolos setelah istirahat kedua. Maafkan aku. Aku tahu ini sangat tidak sopan.” Myungsoo membungkukkan tubuhnya.

Soojung menghela napas lega, hal ini memancing keheranan Myungsoo.

“Syukurlah kalian hanya bolos! Aku pikir sesuatu terjadi kepada kalian tahu! Lain kali sebaiknya sebelum bolos kalian memberitahuku atau setidaknya Jiho. Ia tadi tampaknya sangat mengkhawatirkan kalian berdua.”

“Ya. Aku berjanji.” Ujar Myungsoo kemudian mengulas senyum pada wajahnya.

Senyuman manis itu dibalas juga oleh senyuman Soojung yang tak kalah manis.

“Hati-hati di jalan ya Myungsoo. Sampai jumpa besok.” Soojung, dengan cerianya berujar kepada Myungsoo sebelum ia berlari kecil memasuki pekarangan rumahnya.

Setelah pintu rumah Soojung tertutup, senyuman di wajah Myungsoo langsung menghilang. Ia berdiam sesaat sebelum kembali mengayuh sepedanya. Namun kayuhannya kali ini tidak sekuat kayuhannya sebelum berhenti tadi.

Pikiran Myungsoo dapat diibaratkan berkabut saat ini. Ia memikirkan terlalu banyak hal dalam waktu yang bersamaan dan apabila ia adalah seorang tokoh animasi, maka saat ini pasti sudah ada asap berkepul di atas kepalanya. Baginya, Lee Soojung adalah seorang teman semenjak masa kecil, dan sudah ia anggap seperti sahabat. Sementara itu di sisi lain ada Woo Jiho, seorang sahabat karib semenjak SMA –seorang laki-laki yang menyelamatkan nyawanya dari anggota geng sekolahan sebelah. Sebenarnya, sedari dulu Myungsoo sudah tahu bahwa hal ini akan terjadi. Semuanya berawal ketika mereka semua masih duduk di kelas 10. Ketika itu Myungsoo dan Soojung berada di kelas 10-2, Jiho di kelas 10-7, dan Minsoo di kelas 10-3. Ketika itu Myungsoo masih menghabiskan sebagian besar waktunya dengan Soojung.

“Hey Myungsoo. Temanmu itu tadi siapa?”

“Oh. Anak yang pirang itu? Namanya Woo Jiho. Aku mengenalnya ketika kami berdua sama-sama menuju ke sekolahan untuk upcara penyambutan siswa.”

“Ah, begitu rupanya…” Soojung bergumam pelan.

“Memangnya kenapa?”

Soojung hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, namun kedua sudut bibirnya tertarik ke atas –membentuk sebuah senyuman.

Ya, dari saat itulah Myungsoo tahu bahwa orang yang membuatnya tertarik tengah tertarik kepada orang lain yang adalah teman dekatnya ketika itu.

“Hahaha. Dasar Jiho memang lelaki yang menarik.” Myungsoo bergumam pelan sembari tersenyum.

Myungsoo menggiring sepedanya masuk ke pekarangan rumah, belum masuk benar ke pekarangan rumah ia terhenti. Tatapannya tertuju ke arah sebuah sepeda motor yang mengisi spot untuk sepedanya. Awalnya ia tidak tahu sepeda motor siapa itu sampai ia melihat helm dengan sticker Hello Kitty yang menggantung di stang sepeda motor. Myungsoo segera meletakkan sepedanya di sebelah sepeda motor tersebut dan ia kemudian menggendong tas punggungnya.

Ia berjalan mendekati pintu rumah namun kemudian kembali lagi untuk mengambil helm yang bertengger di stang sepeda motor sang tamu.

“Aku pulang!” Suara Myungsoo memenuhi lorong depan rumahnya.

Derap-derap kaki yang berasal dari ruang tamu membuat Myungsoo yang tengah membungkuk menaruh sepatunya di dalam rak sepatu menoleh ke arah sumber suara. Ibunya berdiri beberapa langkah dari tempat Myungsoo berada. Dari raut wajahnya siapapun tahu bahwa Mrs. Kim tampak sedang emosi.

“Maaf aku pulang terla-“

“Kau pikir sekarang jam berapa Myungsoo-ya! Kau tahu i-“

“Halo Myung!”

Keadaan penuh ketegangan yang terjadi perlahan pupus. Dari belakang nyonya Kim muncul Jiho dengan cengiran khas miliknya. Laki-laki dengan tinggi 180cm itu menghampiri Myungsoo dan membantunya untuk membawakan tas miliknya yang cukup berat.

Seonsaengnim yang satu itu benar-benar keterlaluan ya. Kemarin aku juga disuruh tinggal lebih lama. Mungkin ia tidak suka melihat murid-muridnya mendapat nilai bagus.” Ujar Jiho yang secara sengaja membesarkan volume suaranya.

Pernyataan yang sebenarnya adalah kebohongan tersebut membuat amarah nyonya Kim lenyap. “Astaga. Guru yang mana? Keterlaluan sekali menyuruh murid untuk tinggal sampai selarut ini!”

“Ah, bibi tidak usah khawatir. Orangtuaku baru kemarin menegur kepala sekolah akan perbuatan seonsaengnim itu.”

Mrs. Kim menghela napas lega, “Myungsoo kau duduk-duduk dulu saja dengan Jiho di ruang tamu ya. Biar eomma siapkan air panas untukmu!” nyonya Kim kemudian berjalan menaiki tangga menuju ke kamar Myungsoo yang terletak di bagian atas rumah.

Jiho terkekeh kemudian mengedipkan sebelah matanya kepada Myungsoo. Myungsoo hanya tertawa kecil sebagai respon dan menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu sebagai tanda terima kasih seraya keduanya berjalan ke ruang tamu.

“Kau tahu? Kita sudah berteman semenjak kelas 10 tetapi ini kali pertamanya aku mampir ke rumahmu. Rumahmu membuatku iri Myung.” Ujar Jiho seraya dengan santai menghempaskan tubuhnya ke atas sofa berwarna putih yang membentuk sebuah lingkaran kecil di tengah-tengah ruang tamu.

“Oh ya? Benarkah? Jangan-jangan rumahmu lebih luas dari rumahku.” Myungsoo menggoda Jiho.

“Haha yang benar saja. Dari penampilanku juga terlihat bukan kalau aku tinggal di rumah yang seperti apa?”

“Oh iya, ini helm mu. Bahaya kalau kau tinggalkan diluar. Nanti hilang.” Myungsoo melemparkan helm dengan hiasan sticker  Hello Kitty dengan perlahan ke pangkuan sahabatnya itu.

“Aku yakin sticker Hello Kitty seperti itu sangat susah mencarinya.” Lanjut Myungsoo sebelum memoleskan senyum penuh arti di wajahnya.

“HAHAHAHAHA kau tengah menggodaku mengenai kesukaanku akan Hello Kitty ya Myung? Lihat saja nanti.” Jiho bertampang sok serius menatap Myungsoo dengan tatapan sangarnya seraya mengenakan helm tersebut di atas kepalanya.

Myungsoo hanya tertawa melihat tingkah Jiho. “Tidak usah sok galak, Mr. Hello Kitty.”

Jiho mencibir. “Aku tidak sok galak. Aku ini memang galak. Hanya saja di depan teman-temanku aku tidak pernah mengeluarkan sisi galak itu.” Jiho mencari seribu satu alasan untuk membantah tuduhan Myungsoo.

“Oh iya, kau tidak bertanya ada keperluan apa aku kemari? Dingin sekali…”

“Tidak usah diberitahu pun aku sudah tahu. Kau mengkhawatirkan aku kan?” Tanya Myungsoo dengan datar, padahal niatnya adalah bercanda. Untung saja Jiho mengenal Myungsoo cukup baik sehingga ia menangkap candaan tersebut.

“Kau sudah besar, dan lagi kau seorang laki-laki. Untuk apa aku mengkhawatirkanmu?”

“…”

“Hahaha! Aku hanya bercanda. Yang satu itu alasannya lalu ada lagi. Besok aku diundang untuk merayakan pesta Halloween dan aku ingin mengajak kau dan Minsoo untuk ikut serta. Bagaimana?”

Myungsoo terdiam sejenak, “hanya kami berdua? Kau tidak mengajak Soojung?”

Salahkan kulitnya yang tidak begitu gelap. Rona merah muncul di kedua pipi Jiho. Hanya ada tiga alasan mengapa wajah Jiho memerah. Alasan pertama adalah karena marah, alasan kedua adalah karena malu, dan alasan ketiga adalah karena bahagia.

“… Kau tahu ya?”

“Bagaimana tidak? Ramai satu angkatan tahu.” Myungsoo tersenyum.

“Hmph. Memalukan sekali. Bagaimana semuanya bisa tahu ‘sih? Padahal kan terjadinya di bagian belakang sekolah! Ah, dasar angkatan penggosip!” Jiho menopang dagunya dan kedua pipinya menggembung.

“Hahaha. Sudahlah. Sudah terlanjur tersebar, kau tidak bisa apa-apa tuan Hello Kitty hahaha.”

“Iya ya, kau benar. Daripada membahas itu jadi bagaimana? Besok kau mau tidak?”

Myungsoo mengangguk mengiyakan. “Tentu saja aku mau. Jemput aku ya?”

“Aye aye, sir! Kita naik motor bertiga. Karena badanmu yang paling kecil nanti kau naik boncengan tambahan hahaha!”

“Aku tidak sekecil itu, tahu. Dasar menyebalkan.”

Jiho menjulurkan lidahnya.

“Sudah ah. Sudah malam. Aku harus pulang. Ayo antar aku ke depan!” Jiho berdiri kemudian menarik-narik lengan Myungsoo, menyeretnya sampai ke pekarangan rumah.

“Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak mengajak Soojung?”

“Eh?”

“….”

“Yah, aku ingin menghabiskan malam minggu bersama kalian untuk terakhir kalinya karena aku rasa untuk ke depannya hal itu akan mustahil. Tadi saja ia mengajakku untuk pulang bersama. Aku tidak mengira ia gadis yang clingy.”

“Justru kau yang tidak masuk akal! Yang namanya sepasang kekasih ya memang harus seperti itu ‘kan!” Suara Myungsoo lebih keras dari biasanya, penekanan katanya pun lain. Hal ini membuat Jiho tertegun.

“… Kau kenapa marah Myung?”

Myungsoo menarik napas kemudian menghembuskannya secara perlahan, ia tengah mengontrol emosinya. Menurutnya tadi Jiho tengah menjelek-jelekkan Soojung. Pikirannya yang tengah keruh membuatnya lupa bahwa sahabatnya yang satu ini adalah orang yang blak-blakkan.

“Maafkan aku. Aku mungkin terlalu lelah. Maaf Jiho, aku tidak marah kok, sungguh.”

“… Oh. Ehm, ngomong-ngomong, tadi kalian pulang lebih dulu ya?”

Myungsoo menggeleng. “Tidak. Tadi kami bolos.”

“AH! Sial sudah kuduga. Kalian dingin sekali tidak mengajakku.” Jiho menyipitkan kedua matanya dan hal tersebut berhasil memancing tawa Myungsoo karena tampang Jiho saat ini benar-benar konyol di matanya.

“Hahaha! Itu karena kelasmu berbeda. Tidak lucu ‘kan kalau sebelum memanjat pagar sekolah kami datang dulu ke kelasmu dan berkata ‘Hey Jiho! Kami menunggumu di pagar sekolah ya!’.”

“Benar juga ‘sih haha. Tapi lain kali ajaklah aku, kumohon!” Ujar Jiho setengah memelas.

“Baiklah, baiklah. Sudah sana pulang! Oh ya dan terima kasih untuk tadi.”

“Hahaha, no worries buddy. Sampai jumpa besok!”

Jiho menyalakan mesin sepeda motornya dan melaju menuju ke rumahnya menembus kegelapan malam.

 

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s