Sinister (Hoshi P.O.V)

sinister-psd

Poster by  americadoo @ Art Fantasy

Title : Sinister

Genre : AU, Family, Dark!Thriller

Length : Oneshot

Rating : PG

Starring

SEVENTEEN Hoshi as Sano Hoshi

GENERATIONS Reo as Sano Reo

.

.

.

Kedua mata bulat hitamnya menatapku dengan tajam. Aku yakin dalam sehari ia bisa menatapku seperti ini hingga tiga sampai empat kali. Pada awalnya jujur saja aku takut akan tatapannya yang seperti itu namun lama kelamaan aku menjadi terbiasa.

“Reo-kun ada apa? Apa kau butuh sesuatu?” Tanpa sedikitpun keraguan aku menghampiri adik tiriku yang menatapku dengan tajam walaupun tangannya sedang sibuk dengan krayon dan secarik kertas yang terletak di atas meja belajarnya.

Iie.”

“… Kalau kau kesulitan dengan pekerjaan rumahmu nii-chan bi-”

Iie. Sudah kubilang aku tidak butuh apa-apa.”

Biasanya percakapan kami berakhir di sini, tetapi aku tidak mau lagi. Aku sudah muak akan percakapan menggantung. Sudah satu tahun aku menjadi anggota keluarga Sano tetapi aku masih belum berhasil mendekatkan diri dengan Reo yang walaupun tiri tetaplah adikku.

Aku menarik kursi belajarku dan menempatkannya di sebelah Reo. Untuk sekejap ia menatap kursi milikku sebelum ia kembali menatapku. Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada Reo sehingga ia selalu terkesan muram seperti ini. Padahal okaasan dan otousan adalah orang yang lively.

“Coba nii-chan lihat gambarmu.. Nii-chan penasaran…” Aku berujar senormal mungkin padahal hatiku berdegup amat kencang bagaikan berpacu dengan shinkansen.

“Aku ‘ga jago gambar kayak nii-chan.” ujarnya pelan. Ia membuka laci meja belajarnya dan memasukkan kertas berisi gambarnya ke dalam sana.

Kedua mataku memang sipit tetapi dengan jelas, walau hanya sekilas, aku melihat gambar dua orang yang bergandengan. Rasanya tidak mungkin kalau Reo menggambar diriku dan dirinya bergandengan tangan.

Percayalah padaku, walau ia sering membuatku merasa tidak nyaman akan tatapannya itu, Reo adalah anak yang baik. Benar-benar seorang anak yang baik. Ia sering sekali menyelimutiku ketika aku tidur. Bagaimana aku tahu? Tentu saja karena setiap pagi aku selalu terbangun mengenakan selimut, dan tebak apa. Ia menyelimuti tubuhku dengan selimut miliknya.

“Reo-kun, besok hari Minggu kau tidak ada rencana kemana-mana ‘kan?”

Aku sudah membulatkan tekadku. Mulai minggu ini aku akan selalu mengajak Reo jalan-jalan pada hari Minggu. Aku benar-benar ingin agar ia terbuka kepadaku. Kami adalah saudara dan rasanya lucu sekali apabila kami tidak saling mengenal, ya walaupun bukan saudara kandung, setidaknya tahu apa yang ia sukai adalah hal wajib.

Gelengan kepala Reo membuatku amat bersemangat, tidak sabar agar esok hari datang. Namun apa yang terlontar keluar dari mulut Reo membuat semangat yang tadi menggebu itu menjadi pupus.

“Aku besok ingin beristirahat di rumah.”

“Ah. Istirahatnya di taman kota saja ‘yuk dengan nii-chan.”

“Tidak mau.”

“Oh, ayolah Reo-kun!”

“Kenapa harus?”

“…” Aku diam, tidak berani menjawab. Sebagai anak paling tua yang tersisa di pantai asuhan, aku mempunyai harga diri yang agak tinggi dibandingkan anak-anak lainnya. Lagipula aku tidak tahu bagaimana harus menyampaikannya. Masa aku harus bilang kalau aku ingin menghabiskan weekend bersama? Menurutku itu terdengar terlalu cheesy dan aku tidak menyukai hal apapun yang cheesy.

Kedua mata bulat Reo menatapku, mengisyaratkan padaku bahwa ia menunggu sebuah jawaban. Aku membuka mulutku namun sepatah kata sekalipun tidak keluar. Aku pasti terlihat sangat bodoh sekarang karena anak yang berusia empat tahun lebih muda dariku itu tertawa.

Untuk sekilas ia terlihat sangat lepas, jarang-jarang aku melihatnya seperti itu. Hanya saja tawa itu tidak berlangsung lama. Beberapa detik kemudian wajahnya kembali datar. “Baiklah. Tetapi agak siang ya.”

OKE! Tidak masalah!” Aku beranjak berdiri, mendorong kembali kursi ke tempat semula yaitu di depan meja belajarku sebelum aku melompat ke atas ranjang yang herannya kali ini terasa lebih empuk dari biasanya.

Oyasuminasai Reo-kunJaa mata!” Aku menatap Reo yang kini balik menatapku.

“… Tidak perlu jaa mata segala. Oyasumi Hoshi-nii.”

Aku menarik selimut berwarna biru yang selalu melingkupi tubuhku ketika aku tidur, ya selimut ini awalnya adalah milik Reo, kemudian aku memejamkan kedua mataku. “Reo-kun nanti jangan lupa matikan lampunya ya,”

Ha’i.

Kedua mataku terpejam erat dengan membawa harapan agar cepat tiba di alam mimpi. Berharap esok akan cepat tiba.


Sinar matahari yang masuk melalui celah jendela membuat tubuhku secara refleks mengubah posisi menjadi duduk. Pada hari Senin aku sangat membenci moment ini namun karena hari ini adalah Minggu moment ini terasa menyenangkan, ditambah lagi karena hari ini adalah hari pertama aku akan menghabiskan waktu berdua saja dengan adikku.

Setelah berhasil menajamkan indera penglihatanku, aku mengalihkan pandangan pada ranjang yang terletak di sisi satunya kamar, berseberangan dengan ranjangku. Kulihat Reo masih tertidur pulas. Tubuh kecilnya miring membelakangi dinding sehingga aku dapat melihat jelas wajahnya. Ada satu hal yang tak pernah luput dari pengamatanku. Raut wajahnya ketika tidur tampak selalu seperti ia mendapatkan mimpi buruk. Dahinya berkerut.

Entah mengapa kali ini aku merasa bahwa aku harus melakukan sesuatu walaupun aku tidak tahu hal yang akan aku lakukan ini berguna atau tidak. Aku berjalan mendekati ranjangnya dan aku berlutut persis di sebelah ranjangnya. Tanganku terulur ke dahinya dan dengan perlahan ku tempelkan jari telunjukku di dahinya. Satu putaran, dua putaran, tiga putaran. Akhirnya kerutan di dahinya hilang, kini wajahnya terlihat lebih tenang.

“Ng~”

Ups. Apa aku membangunkannya? Kemungkinan terbesar yang akan terjadi apabila aku benar-benar mengganggu tidurnya adalah batalnya jalan-jalan Minggu yang sangat aku tunggu-tunggu. Meskipun aku memperkirakan hal itu tetapi tetap saja aku tidak beranjak dari posisiku.

Reo bukanlah seekor monster, ia tidak akan mengamuk ataupun memakanku. Ketika berada di pantai asuhan dulu, aku adalah seorang kakak. Kalau diibaratkan adik-adik di pantai asuhanku adalah hewan liar dan aku adalah pawang mereka. Kedengarannya bukan seperti hubungan kakak-adik ya? Tetapi begitulah yang terjadi. Seorang kakak selain harus bisa menjaga adiknya juga harus bisa untuk mengontrol adiknya bukan? Mengontrol dalam artian positif bukan memanfaatkan dan lain sebagainya.

Kelopak mata Reo bergerak-gerak. Tampaknya ia benar-benar terbangun. Secara perlahan ia memperlihatkan kedua bola matanya. Ya, ia membuka matanya.

Ohayou Reo.”

Ohayou Hoshi-nii.”

Aku menyunggingkan senyum, “bagaimana tidurmu semalam?”

Ini adalah pertanyaan rutin yang selalu aku tanyakan padanya di pagi hari. Hanya saja biasanya aku bertanya ketika kami sedang duduk di ruang makan sambil menyantap sarapan kami.

“… Nyenyak.”

Sudah kuduga. Selalu jawaban yang sama dengan pemberian jeda yang sama. Aku terkadang berpikir haruskan aku mengatakan padanya untuk terbuka padaku mengenai hal sekecil apapun termasuk mimpi yang dialaminya, tetapi aku takut hal itu makin melebarkan jarak kami yang sudah susah payah aku berusaha hilangkan.

Nii-chan kenapa ada di sini?”

Aku menelan ludahku, “hm a-ah tadi kau mengerang nii-chan pikir terjadi sesuatu padamu makannya…”

“Sesuatu? Seperti apa?”

“Hm.. M-mimpi buruk, misalnya?” Aku merasakan leher dan bahuku menegang. Ini sering terjadi ketika aku panik.

Aku merasa amat lega bahwa Reo adalah anak yang lola alias loading lama. Apalagi kalau ia baru bangun tidur. Reo adalah adik yang bisa dibanggakan, ia sangat pandai dalam hal pelajaran termasuk olahraga, ditambah lagi ia juga menekuni judo. Ia anak yang aktif namun sayangnya ia begitu tertutup bahkan pada kami yang adalah keluarganya.

“Hoshi-nii harus tahu kalau aku tidak akan pernah mendapatkan mimpi buruk.”

“Ah, sou desu ne…”

Aku tidak tahu kenapa tapi terkadang beberapa hal yang keluar dari mulut kecil Reo terkesan gelap. Aku tidak menangkap apa maksud dari ucapannya barusan tetapi yang jelas aku merasakan sebuah aura negatif dari situ.

“Ah iya! Karena kau sudah bangun bagaimana kalau kita mulai jalan-jalan lebih pagi?” Aku mengusulkan dengan penuh harap. Kalau saja aku bisa, aku pasti akan mengeluarkan cahaya bling-bling pada sorot mataku untuk menunjukkan betapa aku sangat berharap Reo menyetujui hal ini.

“…”

Reo mengucek kedua matanya yang aku jamin pasti masih terasa sepet. “Sekarang jam berapa?”

Buru-buru aku menengok ke arah jam dinding, “Ah.. Hm… Sekarang jam enam lewat sepuluh.” Pandanganku kembali tertuju kepada adikku.

“… Baiklah, kita keluar rumah setengah tujuh ne.”

Kedua kaki kecil Reo meraba-raba lantai, ia pasti mencari sepasang sandal rumahnya. Aku memasukkan tanganku ke dalam kolong ranjangnya untuk membantunya mencari sandal dengan bentuk kepala Tiger pada bagian depan.

“Nah, ini dia.” Aku menarik keluar sandal satu persatu dan meletakannya tepat di bawah kaki Reo. Dan dalam sekejap kedua kakinya telah menelusup ke dalam sandal.

Reo melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi, aku pun menyusulnya karena aku tahu kebiasaannya. “Reo-kun, perlu nii-chan tunggu diluar?”

Langkahnya mendadak terhenti, begitu pula dengan langkahku. Ia kemudian mengangguk sebelum kembali melangkah, masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dari dalam. Yang ada di pikiranku adalah bahwa Reo masihlah seorang anak kecil yang takut akan adanya hantu yang mendadak muncul di kamar mandi, hanya itu. Aku duduk di depan pintu kamar mandi, menunggu Reo menyelesaikan mandinya sambil bersiul.


Terpaan angin yang mengenai wajah kami terasa menyenangkan, untukku. Aku hendak memastikan bila Reo merasakan hal yang sama namun aku tidak bisa karena benda yang kugenjot ini mewajibkanku untuk tetap fokus pada jalanan kalau tidak mau terjatuh.

“Hoshi-nii, kita belok di sini.”

Permintaan? Kurasa bukan. Reo seperti memberikan sebuah perintah untuk berbelok di sini. “Kenapa di sini? Lalu lintas sering padat di daerah sini Reo-kun.” Aku membelokkan setang, mengikuti perintahnya karena aku tidak mau mengacaukan hari yang indah ini.

Memang aku tidak pernah menjadi korban langsung kemarahan Reo tetapi lemari pakaian kami pernah. Waktu itu ia tidak bisa menemukan baju barunya dan tiba-tiba saja aku mendengar suara yang amat keras dan begitu ku tengok papan sekat tempat menyimpan baju sudah terjatuh dari asalnya.

“Aku ingin melihat keadaan jalanan ketika hari Minggu.”

Jawaban yang khas anak-anak. Yah, bagaimana lagi, Reo memang masih anak-anak ‘kok dan aku berani jamin wajah babyfacenya mampu membuat ia terlihat seperti anak-anak bahkan untuk lima tahun kedepan.

Aku tidak mendayung pedal sepeda, aku ingin membiarkannya menikmati pemandangan jalanan yang ingin ia lihat. Menurutku ini cukup aneh. Apakah ia tidak pernah ke kota pada hari Minggu? Aku pikir okaasan dan otousan adalah tipe orangtua yang selalu membawa anak-anaknya jalan-jalan pada hari Minggu.

“Ki-ta sampaai!” Aku mengerem sepeda di tempat parkir sepeda yang terletak di bagian depan taman. Posisinya yang berada di bawah pohon adalah alasan mengapa aku memilih untuk parkir di sini daripada di parkiran yang terletak di bagian belakang taman.

Belum kuinjakkan kakiku di permukaan tanah, Reo sudah melompat berlari masuk ke dalam taman. “Reo tunggu nii-chan. Jangan pergi terlalu jauh dulu!” Aku memperingatkannya.

Taman ini cukup luas dan aku tidak mau ia tersesat di dalam sana.

Setelah selesai memggembok sepeda aku langsung menyusul Reo ke dalam taman. Beruntunglah ia tidak pergi terlalu jauh ke dalam. Sebuah ayunan mencegat langkahnya. Kini ia dengan sangat bersemangat sedang berayun-ayun.

“Hey, Reo. Kau ingin tahu bagaimana rasanya terbang?”

Ia menatapku kemudian mengangguk.

“Baiklah. Pegangan yang erat ya,” aku menarik ayunan ke belakang.

“…”

“Pegangan yang erat, oke?”

Begitu ia mengangguk aku langsung mendorong ayunan sekuat tenaga. Kini ayunan beserta penumpangnya melambung ke angkasa. Aku harap aku tidak mendorong ayunan terlalu kencang.

Nii-chan lagi! Lagi! Yang tinggi!”


Setelah hari Minggu dua minggu yang lalu, aku merasa sedang panen buah yang aku tanam. Akhirnya aku merasakan dinding tak berwujud yang selama ini membatasi aku dan Reo menghilang. Bahkan malam minggu lalu ia sudah bercerita mengenai teman sekelasnya ia anggap berparas manis.

“Jadi bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Apa kau sudah berani mengajak Ami-chan berbincang?”

Kedua pipinya merona, ah, menggemaskan sekali. Dengan kesadaran penuh aku meraih pipi kanannya dan mencubitinya dengan gemas. Ada sedikit penyesalan dalam diriku. Kalau saja aku mengajaknya jalan-jalan lebih awal, mungkin hari ini kami sudah sangat dekat.

Tak kurasa hari dengan cepat berlalu, dan hari ini Reo bertingkah sangat aneh. Dari warna air mukanya aku tahu ia semalam pasti tidak tidur. Ia juga sama sekali tidak menyapaku hari ini, bahkan sepertinya ia menghindariku.

“Reo? Kau kenapa?” Begitu ada kesempatan aku langsung menghampirinya. Ia sedang berbaring di ranjang dan matanya menatap langit-langit rumah. Ketika aku menghampirinya ia tidak sempat melarikan diri.

“…”

“…”

‘Nii-chan tidak akan pergi sebelum kau mengatakan apa yang sedang terjadi padamu, Reo.’ Aku menatapnya sambil memberikan tatapan itu dan ia nampaknya memahami hal tersebut sehingga ia menghela napas panjang.

“… Menurut Hoshi-nii apakah aku adik yang baik?”

Aku mengangguk, “tentu saja. Kau adik yang baik, Reo. Menga-”

“Lalu apakah menurut Hoshi-nii, Hoshi-nii adalah kakak yang baik?”

“Eh?”

“Jawab aku.” Matanya menatap kepadaku. Entahlah, aku merasa tatapannya seperti setengah memelas.

“Hm.. Nii-chan tidak tahu. Tapi nii-chan selalu berusaha semampuku untuk menjadi kakak yang baik untukmu. Apakah menurutmu nii-chan adalah kakak yang baik?”

“Aku berpendapat Hoshi-nii adalah kakak yang baik.”

Aku tersenyum mendengar jawabannya. Aku bersyukur ia menganggapku sebagai kakak yang baik.

“… Tetapi aku butuh bukti yang lain.”

“Bukti yang lain? Apa maksudmu?” Nada bicaraku meninggi. Aku tidak percaya apa yang sudah aku lakukan selama ini untuknya ternyata masih dirasa kurang olehnya.

“Buktikan padaku kalau Hoshi-nii adalah kakak yang baik… Jangan tidur malam ini.”

“Eh?”

“Hoshi, Reo, ayo makan! Makanan sudah siap!”

Ha’i okaasan.”

Reo pun bangkit dari ranjangnya, ia berlari keluar kamar menuju ke ruang makan, meninggalkanku dalam kebingungan.


Kedua mataku sudah hendak terpejam selama beberapa kali tetapi aku berusaha sekuatku untuk menjaga mereka tetap terbuka karena pertama aku ingin membuktikan bahwa aku adalah kakak yang baik dan kedua, dari sebrang Reo terus-terusan menatapku. Ya, walalupun keadaan kamar sudah gelap tetapi aku tetap bisa melihatnya karena setiap mata manusia normal akan terbiasa dengan kegelapan yang melingkupi mereka apabila dibiarkan beradaptasi selama beberapa waktu, minimal tiga sampai lima menit.

Bulu kudukku mendadak merinding ketika mendengar langkah kaki di lorong menuju kamar kami. Okaasan dan otousan pastilah sudah tidur. Lalu siapa? Aku mengganti posisiku sendiri yang semula berbaring di ranjang menjadi setengah duduk. Secara cepat, dan bergantian, aku berkali-kali menatap Reo kemudian pintu. Reo kemudian pintu. Terus-terusan seperti itu. Dan ketika tekadku sudah bulat untuk menghampiri Reo, pintu kamar kami terbuka.

Aku tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang memasuki kamar kami namun kilatan cahaya yang berasal dari benda yang berada dalam genggamannya dapat aku yakini sebagai pisau. Sosok itu berjalan mendekati ranjang Reo. Aku sangat kaget ketika melihat Reo hanya duduk memojok sambil memeluk kedua lututnya.

Tidak. Aku tidak akan membiarkan adikku dibunuh oleh seorang penyusup rumah. Tanpa berpikir lebih panjang, aku berlari mendekati sosok itu, mendorongnya ke lantai menggunakan siku tanganku. Suara jatuhnya cukup kencang namun penyusup itu masih sadar. Ia bahkan membalikkan tubuhnya dan mengarahkan pisaunya ke arahku. Dengan sekuat tenaga aku memegangi pergelangan tangannya, mencegah ia mengarahkan pisau semakin dekat ke arahku.

Aku tidak tahu apa yang menyebabkan pegangannya pada pisau melemah sampai aku mencium bau amis. Pintu kamar kami dibiarkannya terbuka sedikit sehingga ketika aku mencoba mencari sumber bau itu, aku dapat melihat jari-jari kecil yang begitu aku kenal sudah mencolok ke dalam sebelah mata sang penyusup.

“AARGH!”

Aku langsung menoleh ke arah pintu begitu mendengar derap kaki mendekat. Aku yakin penyusup ini membawa kawananannya. Tanpa menunggu lebih lama lagi aku bangkit berdiri dan membopong Reo mendekati jendela kamar kami. Dengan paksa aku dorong jendela hingga jendela terbuka cukup lebar bagi kami berdua untuk kabur lewat sana.

Kami berlari tanpa sempat menengok ke belakang. Dengan erat aku gandeng tangan Reo. Aku tidak tahu sudah seberapa jauh kami dari rumah tapi aku rasa hal terbaik yang harus aku lakukan adalah untuk tidak berhenti berlari sampai aku kehabisan napas.

“Kita harus mencari telepon! Kita harus menghubungi polisi! Okaasan dan otousan masih ada di dalam rumah!” Seketika itu juga aku panik mengingat kedua orangtua kami masih berada di dalam rumah. Aku melepaskan genggamanku pada tangan Reo karena aku hendak mengetuk pintu rumah yang entah milik siapa.

“Jangan.” Reo menghentikanku, ia menarikku menjauhi rumah yang pintunya tak sempat aku ketuk itu.

“Kenapa?! Apa kau tahu nyawa okaasan dan otousan bisa saja terancam kalau kita tidak menghubungi poli-“

Aku menghentikan ucapanku karena aku melihat Reo menangis. Suara tangisnya semakin lama semakin mengencang.

“M-maafkan nii-chan, Reo. Nii-chan tidak bermaksud membentak-“

“Huhu.. Y-yang tadi itu.. hiks.. otousan.”

“Eh?” Aku melebarkan kedua mataku. Pantas saja rasanya aku mengenal suara tadi.

“… Dulu aku juga seorang kakak.”

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s