(UN)MUTUAL FEELINGS

Title : (UN)MUTUAL FEELINGS

Genre : Romance

Length : Twoshot

Rating : T

A Doogi X Wendy story – prequel of Take Me To My Mom!

xxx

“Wendy, maukah kau jadi kekasihku?”

 

“E-eh?”

 

“Aku sering sekali memperhatikanmu. Aku juga sedang di tahun terakhir sepertimu.”

 

“Maaf tapi aku saja tidak tahu nam-“

 

“Namaku Kim Youngmin, kau bisa memanggilmu Doogi. Kini kau tidak ada alasan untuk menolakku.”

 

xxx

 

Seorang laki-laki dengan ukuran tubuh yang kecil bila dibandingkan para laki-laki lain di lingkungannya sedang duduk dengan tenang, memperhatikan ke luar jendela. Secangkir hot chocolate yang baru saja diletakkan di atas meja mengepulkan asap-asap. Kedua tangan laki-laki itu melingkupi gelas yang masih panas tersebut.

 

“Aduh! Panas sekali!” Ia meniup-niup tangannya yang terasa perih.

 

Suara gemerincing lonceng yang terletak di atas pintu membuat perhatiannya teralihkan ke arah pintu dan sebuah senyuman langsung terukir di wajahnya. Kedua matanya yang sipit membentuk sebuah eye-smile yang terasa ramah. Siapapun yang melihatnya pasti berpikir “Ah, senyumannya ramah sekali.”

 

“Maaf, apa kau sudah menunggu lama, Youngmin?” seorang perempuan berlari kecil menghampiri.

 

“Tidak kok. Aku baru sampai beberapa menit lalu.” Laki-laki bernama Youngmin itu berbohong. Ia tidak mau malu karema ketahuan sudah menunggu hampir setengah jam.

 

“Oh syukurlah! Tadi ada rapat panitia event. Aku tidak tahu rapatnya akan lama sekali.” Perempuan itu menarik kursi dan kemudian duduk berhadapan dengan Youngmin.

 

Youngmin mengangguk pelan seolah mengatakan bahwa ia mengerti.

 

“Hot chocolate tanpa tambahan gula.” ujar Youngmin seraya menyodorkan cangkir yangtadi sempat sedikit membakar tangannya.

 

Perempuan yang duduk di hadapannya itu tertawa kecil sambil menggumamkan ucapan terima kasih.

 

“Bagaimana kau tahu?” Tanya perempuan itu setelah menyeruput hot chocolate yang berada dalam cangkir berwarna hitam pekat yang berada dalam pegangan tangannya.

 

“Kan sudah kubilang. Aku sering memperhatika-”

 

“Tunggu Wendy, jangan bergerak.” Youngmin menjulurkan lengannya dan menyeka noda hot chocolate yang berada di tepi bibir perempuan bernama Wendy itu,

 

Wendy tertegun sebelum akhirnya memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah yang muncul di pipinya. Youngmin yang melihat hal tersebut ikut memalingkan wajahnya karena ia juga malu. Keadaan hening untuk beberapa waktu sampai laki-laki yang berusia satu tahun lebih tua itu memutuskan untuk memecah keheningan.

 

“Jadi apakah eventnya jadi diadakan tanggal 20 Desember nanti?”

 

Wendy mengangguk. “Iya untunglah. Karena tanggal 25 aku berencana untuk….” ucapannya terhenti.

 

Youngmin memberikannya tatapan heran, “Berencana untuk… apa?” tanyanya.

 

“Mm. Jadi begini nanti tanggal 25 akan ada acara sulap Penn & Teller di New York Times Square. Dan aku berencana pergi…”

 

Youngmin mengangguk-angguk. Ia sudah bisa menduga hal tersebut. Ia memang tahu Wendy tertarik sekali dengan hal berbau sulap. Rencananya ia ingin membelikan tiket acara itu untuk Wendy tapi ia takut Wendy tidak akan mau pergi dengannya.

 

“… Dan aku berencana untuk mengajakmu pergi.”

 

Youngmin langsung mendelik ke arah Wendy, mulutnya menganga lebar karena terkejut. Ia tidak mempercayai pendengarannya sendiri.

 

“Bolehkah? Ah, maksudku benarkah? Ah tidak, tidak, tentu saja. Kenapa tidak?”

Wendy tertawa melihat reaksi kekasihnya itu. Ia menyangka hanya dirinya saja yang malu.

Hubungan Wendy dan Youngmin baru berusia empat bulan, keduanya terkadang masih merasa canggung dan malu pada satu sama lain. Tetapi siapa yang sangka kedua orang yang tidak saling mengenal ini bisa dengan cepat akrab. Memang Youngmin sering memperhatikan Wendy tetapi itu saja tidak cukup bukan?

Youngmin sedikit kecewa ketika mengetahui bahwa Wendy adalah pecinta film horror dan thriller. Padahal selama ini ia menyangka Wendy adalah perempuan yang menyukai film romantis karena ia merasa bahwa Wendy adalah tipe orang yang lembut.

 

xxx

 

25 Desember

Wendy melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Dengan gelisah ia memperhatikan satu per satu orang yang lalu lalang, berharap ia dapat menangkap sosok Youngmin. Tinggal satu jam lagi sebelum acara sulap Penn dan Teller dimulai namun Youngmin masih belum terlihat batang hidungnya.

Sementara Wendy sedang menunggu kedatangan kekasihnya di cuaca yang dingin itu, Youngmin melompat ke dalam kereta yang mengarah ke arah yang berlawanan dengan New York Times Square. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, Youngmin telah memutuskan untuk menjadi pekerja magang di sebuah perusahaan media massa, The Gotham Gazette. Setengah jam yang lalu, ketika ia sudah akan sampai ke Times Square, mendadak atasannya menelepon bahwa ada sebuah kebakaran di daerah T.

Sebenarnya bisa saja Youngmin menolak meliput hal tersebut karena ia hanyalah pekerja magang, namun, Youngmin sulit menolak karena inilah hidupnya. Sedari kecil dulu ia sudah bercita-cita untuk menjadi seorang wartawan atau reporter atau jurnalis, pokoknya yang berhubungan dengan media massa.

Entah apa yang ada di pikiran laki-laki berdarah Korea itu. Ia merasa pekerjaan jauh lebih penting ketimbang dengan janji dengan kekasih -walaupun kekasihnya saat ini adalah perempuan yang senantiasa ia kejar-kejar.

.

.

.

Ladies and gentlemen! Give applause to Penn and Teller!”

Suara riuh memenuhi New York Times Square. Semua yang ada di sana nampak bahagia dan ceria menyaksikan pertunjukan sulap sang ahli, Penn dan sahabatnya, Teller.

Wendy dengan takjub menyaksikan pertunjukan sulap favoritnya sambil beberapa kali menghela napas panjang. Semuanya akan terasa lebih menyenangkan apabila Youngmin ada di sini bersamanya, begitulah pikirnya.

“Dia tampaknya seperti laki-laki yang cuek. Apa kau yakin?”

“Aku pernah dengar dari temanku kalau dia itu wataknya keras.”

“Dia itu lebih pantas disebut sebagai stalker daripada penggemar. Menyeramkan sekali.”

Secara mendadak, beberapa pernyataan mengenai Youngmin yang diberikan oleh teman-teman Wendy terngiang di benak perempuan itu.

“Aku percaya dia tidak seperti itu.” gumamnya pelan sebelum menghela napas panjang.

.

.

.

Youngmin tak henti-hentinya melihat jam tangan yang menggantung di pergelangan tangannya. Dengan langkah terburu-buru ia mulai memasuki kawasan New York Times Square. Gerombolan orang yang berbondong-bondong berjalan berlawanan arah dengan Times Square membuat jantungnya berdegup semakin kencang.

Tidak salah lagi, pertunjukan Penn dan Teller pasti sudah selesai.

Hawa dingin yang semula membuat tubuhnya menggigil kini tidak memberikan dampak apapun karena ia merasa panas. Ketika meliput kebakaran tadi, ia berada cukup dekat dengan api yang tengah melahap gedung kantor.

Pikirannya yang semula tidak karuan menjadi tenang ketika ia melihat Wendy duduk di sebuah bangku taman panjang yang berada di pinggir jalan. Tanpa ragu-ragu ia melangkahkan kakinya lebih cepat sehingga membentuk sebuah derapan, mendekati kekasihnya itu.

“Hey Wendy. Maaf aku terlambat.”

Wendy memamerkan senyum tipis dan kemudian berujar, “Tidak apa-apa.”

Mendadak keadaan hening. Tidak ada salah satu dari mereka yang memulai pembicaraan.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

Akhirnya Youngmin membuka mulutnya setelah menyimpulkan sesuatu di benaknya.

“Kau marah?” tanya Youngmin pelan. Tubuhnya merendah di depan Wendy. Kini Youngmin sedang berjongkok di atas dua kakinya sambil menatap wajah kekasihnya, mencoba mencari tahu apa yang sedang dipikirkan oleh perempuan itu.

Wendy dengan mantap menggeleng. “Jangan bodoh, aku tidak marah. Lagipula kau tidak janji bukan?”

Dengan pandainya Wendy bersilat lidah, dan dengan mudahnya Youngmin percaya.

Sebenarnya Wendy sangat kecewa dengan apa yang Youngmin lakukan. Ya, kekasihnya itu tanpa memberitahu hal apapun tidak menunjukkan batang hidungnya.

“Kalau kau tak keberatan, bisa antarkan aku pulang?”

“Tentu saja. Kenapa tidak? Ayo, let’s go.” Youngmin berdiri dan menggandeng tangan Wendy.

Dalam hitungan detik, Wendy menarik tangannya. Hal ini memicu keheranan Youngmin. Baginya ini terasa sebagai sebuah penolakan. Namun beruntunglah dirinya karena ia adalah orang yang sees the glass half full, ia tidak terlalu ambil pusing.

“Tidak usah malu, ayo gandeng lenganku.” Youngmin menarik Wendy dan kemudian menyelipkan tangan perempuan itu di antara lengan dan pinggangnya.

Sama sekali tidak ada respon dari Wendy tetapi Youngmin tahu kalau bukan hanya dirinya saja yang menikmati moment  ini. Pelukan yang semakin erat pada lengan Youngmin lah yang mengatakan hal itu.

 

xxx

 

“Ah, baiklah kalau begitu Youngmin. Tidak apa-apa.”

“Iya, okay, baiklah. Hati-hati ya.”

Yeah, meI love you too. Take care. See you.”

Wendy menghela napas setelah menutup telepon. Dan dengan gontai ia berjalan ke ruang makan.

“Hey, sist! Bagaimana? Apa dia bisa datang?”

Wendy menggeleng lemah sebagai jawaban untuk pertanyaan yang dilontarkan oleh kakak laki-lakinya.

“Wah, sayang sekali. Padahal aku ingin bertemu dengannya. David juga begitu, ya kan?”

Laki-laki berperawakan besar yang sedang sibuk menata piring di meja makan langsung mengangguk ketika mendengar namanya disebut.

“Yup, John. Aku juga ingin bertemu dengannya. Jangankan aku. Mom dan Dad pun pasti ingin melihat seperti apa rupanya.”

Wendy semakin mengerucutkan bibirnya. Ia benar-benar merasa bersalah karena sudah mengecewakan keluarganya. “Maafkan aku~~” dengan sedikit merengek Wendy kemudian memeluk kedua orang tuanya dari belakang. Keduanya sedang menonton TV di atas sofa.

“Hahaha. Tidak apa-apa dear. Ayah yakin kalau kau memilihnya tandanya ia tidak salah.”

“Dan juga pasti goodlooking bukan?” tambah Mrs. Matthew.

Mom, dad, John, Wendy, sebaiknya kalian cepat ke sini dan makan sebelum semua dinner lezat ini masuk ke dalam mulutku!”

Suara David, anak ketiga keluarga Matthew, yang lantang benar-benar mencuri perhatian anggota keluarga Matthew lainnya. Mereka pun bergegas duduk mengelilingi meja makan dan menyantap dinner mereka.

Wendy benar-benar menyayangkan fakta bahwa Youngmin tidak bisa hadir untuk bersama-sama menyantap dinner pada malam tahun baru ini.

.

.

.

Wendy duduk di atas sofa ruang tamu keluarga, dihimpit oleh kakak laki-lakinya yang bernama John dan juga adik laki-lakinya yang bernama David. Perawakan keduanya cukup besar dan hal itu makin membuat Wendy merasa nyaman duduk di antara keduanya. Hangat. Begitulah alasannya.

“Kapan kau akan kembali ke London, John? Jangan bilang besok.”

John dan Wendy tertawa mendengar perkataan si bungsu, David.

“Tenang dude. Tidak akan secepat itu. Aku masih merindukan kalian dan negara paman Sam tempat aku tumbuh.”

John dengan kilat mendapatkan sorakan dari kedua adiknya. Tersenyum lebar, memamerkan lesung pipi, ia menambahkan, “Lagipula aku belum bertemu dengan calon adik iparku.”

“Baguslah! Aku besok berencana mengajak kalian berdua jalan-jalan. Let me drive the car!”

Wendy mencibir, “Wah, wah, yang sudah bisa membawa mobil ingin pamer hm? Dasar kau ini!” dengan gemas Wendy mengacak-acak rambut adik tercintanya itu dan alhasil ia mendapatkan sebuah cubitan di pipi kirinya.

“Jangan perlakukan aku seperti anak kecil terus. Aku sudah dewasa tahu.”

“Haha! Kau menggemaskan sekali. Rasanya aku tidak rela mengizinkanmu pindah ke New Zealand bulan Februari nanti!”

.

.

.

Suara ketukan pada jendela mobil membuat Youngmin tersentak. Ia melirik jam tangannya, sudah 10 menit ia terlelap. Kini ia sedang berada dalam mobil milik perusahaan. Ia dan rekannya sedang mengikuti wali kota Y yang terkena gossip perselingkuhan. Memang tampak seperti orang tidak ada kerjaan, namun beginilah kehidupan Youngmin setelah berhasil menulis artikel mengenai kebakaran di malam natal yang terjadi beberapa hari lalu.

“Kau mengantuk sobat?” Rekannya yang tadi mengetuk jendela kini sudah masuk ke dalam mobil sambil membawa dua bungkus hamburger.

“Ini untukmu.” ujarnya lagi seraya menyerahkan sebungkus hamburger pada Youngmin.

Thanks.” Youngmin menerima bungkusan berisi hamburger itu dan mulai melahapnya.

“Kau benar-benar patut diacungi jempol. Kau tidak ada acara pada malam tahun baru?”

“Sebenarnya ada. Tetapi demi pekerjaan aku membatalkannya.”

“Hey, kau tidak perlu seperti itu. Kau kan hanya anak magang. Tidak usah terlalu serius menanggapi pekerjaan.”

“Haha. Kalau tidak serius lalu bagaimana aku mendapatkan gaji?”

“….”

“….”

“Memang acara apa?”

Dinner bersama keluarga kekasihku.”

“Hey! Kurasa itu lebih penting. Kau tahu, mempererat hubunganmu dengan calon keluargamu.”

Youngmin terkekeh, seolah mengejek, “Lalu? Kalau aku tidak punya uang bagaimana aku bisa membahagiakan mereka? Sedari kecil dulu ayahku selalu berkata bahwa kau harus giat bekerja apabila ingin hidup bahagia. Dan aku tidak mau membuat keluargaku nanti sengsara karena tidak berkecukupan.”

 

xxx

 

Di suatu pagi yang cerah di hari Minggu, Wendy yang sudah berpakaian amat anggun mondar-mandir di dalam aula gereja. Bagaimana kalau kedua orang tuanya memutuskan untuk tidak datang?

Ya, hari ini adalah hari pernikahan Wendy dan Youngmin. Hubungan yang mereka bina selama satu tahun lewat 5 bulan ini akhirnya berbuah juga. Namun sayangnya Mr. & Mrs. Matthew tampak tidak begitu setuju dengan pernikahan ini. Bagaimana tidak? Mereka hanya pernah bertemu dengan Youngmin beberapa kali dan pertemuan pertama kali, yaitu pada hari wisuda keduanya, benar-benar memberikan kesan buruk.

Mr. & Mrs. Matthew juga tidak berkesempatan banyak berbincang dengan lelaki berdarah Asia itu karena ketika sedang makan siang bersama mendadak ia harus pergi karena ada panggilan pekerjaan.

‘Kumohon. Datanglah.’ dengan penuh harap Wendy menatap ke arah pintu gereja yang tertutup. Dan ketika pintu itu terbuka, kedua matanya berbinar karena ayah dan ibunya memasuki ruangan. Dengan segera ia berlari dan memeluk keduanya.

Mom, dad, maafkan aku. Aku tahu aku egois ta-”

Belum selesai Wendy berbicara, Mrs. Matthew mengusap-usap rambut anak perempuannya itu dan berkata, “Its okay dear. Seharusnya kami lah yang tidak egois. Apapun keputusanmu kami akan selalu mendukungmu.”

“Kalian tidak membenciku kan?” tanya Wendy dengan suara yang nyaris hilang.

“Tentu saja tidak. Kau ini berpikir apa anakku?” Mr. Matthew memeluk putrinya itu dengan erat.

Suasana yang mengharukan itu buyar ketika terdengar suara gedebug yang cukup nyaring. Dan ketika semuanya menoleh ke sumber suara, di sana terbaringlah Youngmin di atas lantai aula gereja. Tampaknya ia tanpa sengaja menginjak tali sepatunya sendiri. Tawa menggema di aula gereja.

Son, son. Kau baik-baik saja?” tanya Mr. Matthew yang berjalan melaluinya.

Dengan perlahan Youngmin mengangguk.Benar-benar memalukan, begitu pikirnya.

“Terima kasih sudah datang sepagi ini untuk membantu kelangsungan acara, Mr. Matthew.” Youngmin membungkuk 90 derajat. Ia benar-benar berterima kasih karena calon ayah mertuanya itu sudah mau datang pagi untuk membantu. Di dalam hati, Youngmin bertekad untuk tidak akan pernah mengecewakan Mr. & Mrs. Matthew yang telah dengan ikhlas dan rela merestukan pernikahannya dengan anak perempuan mereka.

.

.

.

Akhirnya resepsi pernikahan telah selesai dan kini kedua pengantin yang berbahagia itu sedang dalam perjalanan mereka ke rumah yang akan mereka tinggali. Rumah sederhana itu merupakan hasil kerja magang Youngmin selama ini.

Here we go!” Tanpa memberikan tanda-tanda apapun, Youngmin menggendong Wendy, bridalstyle dan menuju ke kamar.

“Apakah aku berat?” tanya Wendy disela-sela tawa.

“Uh, kalau boleh jujur, kau akan lebih berat beberapa bulan ke depan.” Youngmin menyeringai penuh arti sebelum menghempaskan istrinya dengan pelan ke atas ranjang dengan kasur yang sangat nyaman.

Keduanya sama-sama merasa bahagia pada hari ini. Namun rasa bahagia yang Wendy rasakan tidak bisa dibandingkan dengan rasa bahagia yang dirasakan oleh Youngmin. Perempuan itu benar-benar merasa bahagia. Ini adalah kali pertamanya ia menghabiskan waktu dengan Youmgmin dari pagi hingga malam.

 

xxx

 

Iklan

2 tanggapan untuk “(UN)MUTUAL FEELINGS

  1. aduh, cuman mpe kasur.. HAHAHHAAHHAHAHAHAH… Habisin waktu nya dari pagi – malem, atau pagi mpe pagi lagi (?). :p
    baca hari minggu jadi kebaca hari mingyu.. WKWKWKW…

    Suka

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s