The Unforgivable Sinners (Chapter 1: What Happened Few Years Ago)

theunforgivablesinners

Title : The Unforgivable Sinners

Genre : Family, Dark!Thriller

Length : Chaptered

Rating : PG-17

Starring

Hideaki Ito as Kazuhara Rei & Kazuhara Kei

.

.

.

Ta-da-i-ma!” Seorang anak laki-laki berlari memasuki rumahnya. Tas ransel berwarna biru tua miliknya nampak terlalu besar untuk tubuhnya.

Langkah riang anak itu terhenti ketika mendapati keadaan lorong rumah gelap gulita. Kazuhara Rei memang takut dengan yang namanya gelap. Setiap malam saat tidur ia tidak pernah mematikan lampu kamarnya. Beruntunglah kembarannya yang berbagi kamar dengannya sama sekali tidak keberatan dengan hal itu.

OkaasanOtousan? Apa kalian di rumah?” Rei memegangi pintu, kedua tangan dan kakinya gemetar karena takut.

Anak itu sangat berharap kedua orangtuanya akan menyahut panggilannya, hal itu saja cukup untuk membuatnya berani melangkah masuk ke dalam rumah. Namun hal itu tidak terjadi. Sama sekali tidak ada jawaban dari kedua orangtuanya. Rumah keluarga Kazuhara yang terletak di lembah sebuah perbukitan membuat anak yang masih duduk di bangku SD kelas 1 itu tidak bisa meminta seorang tetangga untuk menemaninya. Apabila rumah yang terletak di kaki lembah bisa dikatakan sebagai rumah tetangga, maka keluarga Kurosaki adalah tetangga mereka.

Rei memberanikan diri untuk melangkahkan sebelah kakinya lebih jauh ke dalam rumah, secara perlahan kedua tangan mungilnya mulai lepaskan pintu yang sedari tadi ia pegang sangat erat. Kini kedua tangan mungil itu meremas erat gagang tas ranselnya.

“K-Kei? Kau ‘kah itu?” Rei berjalan mendekat ke arah dapur, satu-satunya arah yang terdengar suara di dalamnya. Sambil memanggil-manggil saudara kembarnya, ia memberanikan dirinya untuk berjalan ke dapur. Awal mulanya langkahnya begitu pelan seolah ia tidak akan sampai ke dapur dengan cepat namun lama kelamaan langkah kecilnya melebar, ia setengah berlari ke sana.

Seandainya saja aku adalah Tuhan, aku tidak akan membiarkan anak lelaki itu memasuki dapur karena yang akan ia lihat adalah sebuah pemandangan penuh darah.

Tubuh tuan dan nyonya Kazuhara tergeletak di lantai dapur. Darah mengalir keluar dari tubuh mereka, masing-masing dari tempat yang berbeda. Untuk tubuh yang tergeletak di kanan, darah miliknya mengalir keluar dari punggungnya yang menghadap langit-langit rumah. Kemeja biru garis-garisnya sudah tidak jelas warnanya, karena warna merah gelap mendominasi bagian tengah. Sedangkan untuk tubuh yang tergeletak di sebelah kiri, sebuah luka menganga berada di lehernya, karena posisinya yang membelakangi pintu masuk dapur, darahnya yang berasal dari luka itu tampak seperti sebuah air mancur yang sedang saat -warna merah gelap menodai lemari setengah terbuka yang berada di bawah tempat cuci piring.

Terror. Itu lah yang pertama kali dirasakan oleh Rei. Kemudian sebuah rasa mual timbul pada perutnya yang hanya diisi roti panggang sebagai sarapan. Kedua mata indahnya terbelakbak seolah kedua bola matanya bisa keluar dari cangkangnya kapan saja.

Dengan langkah berat Rei mendekati kedua tubuh tak bernyawa yang ia yakini milik kedua orangtuanya walaupun ia tidak tahu yang mana milik ibunya yang mana milik ayahnya. Ia terus berjalan mendekat tanpa menyadari kedua sepatunya kini berenang di genangan darah.

Rei kecil yang malang. Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi kepada orangtuanya dan yang lebih menyedihkan lagi, ia tidak tahu harus berbuat apa selain berdiri di sana memandangi kedua raga yang tak lagi bernyawa.

Suara gaduh yang berasal dari tangga membuat tubuh Rei yang seolah melekat pada lantai dapur merasakan sebuah sensasi menggelitik. Bulu roma yang berada di sekitar lehernya berdiri tegak. Secara refleks ia menolehkan kepalanya ke arah asal datangnya suara.

Sesosok laki-laki yang mendekat kembali membuat tubuh Rei membeku. Walaupun ia ingin bergerak, ia sama sekali tidak bisa menggerakan bahkan ujung jarinya sekalipun, tubuhnya tak lagi bergetar seolah getarannya sudah habis di pintu depan.

Rei terpaku pada benda yang berada dalam pegangan laki-laki yang berjalan semakin dekat ke arahnya. Benda itu mengeluarkan sebuah bunyi yang cukup bising, benda itu berukuran besar baginya dan benda itu mempunyai roda-roda kecil yang bergerak. Ia tidak tahu benda apa itu tetapi ia sering melihatnya ketika melewati gubuk tempat teman ayahnya bekerja, dan asal kau tahu teman ayahnya itu adalah seorang pengrajin kayu.

Tubuh kecil Rei jatuh terduduk di lantai yang… basah dan lengket. Celana selututnya yang berwarna putih baik bagian depan maupun belakang kini menjadi berwarna merah di bagian belakang dan pada bagian depannya terdapat bintik-bintik berwarna merah yang berasal dari cipratan darah ketika ia menyentuh lantai.

Walaupun masih kecil tetapi bukan berarti ia bodoh, ia tahu suara mesin yang semakin kencang berarti ia semakin dekat dengan mesin beserta pemegangnya -walaupun sebenarnya yang mendekat adalah mereka, bukan dirinya. Ia memejamkan erat matanya ketika ia merasakan hembusan angin yang ditimbulkan oleh perputaran roda-roda kecil gergaji mesin di dekat telinganya. Ia memejamkan erat matanya sesaat sebelum ia mendengar suara erangan seorang lelaki diikuti dengan suara jatuhnya gergaji mesin ke lantai.

Rei yang tengah ketakutan itu bergegas membuka matanya untuk mendapati lelaki yang hampir mengirimnya ke surga tergeletak di lantai dengan posisi tengkurap. Dan di atas lelaki itu, tengah duduk Kei. Dalam hati Rei tak henti-hentinya mengucap syukur, baginya Kei selalu adalah penyelamat. Kei selalu adalah cahaya di saat kegelapan. Bagi Rei, kembarannya itu bagaikan sebuah perlindungan baginya yang Tuhan berikan, gambaran yang sangat sesuai dengan nama Kazuhara muda itu, 数原 恵 (Kazuhara Kei)*.

Apapun yang dilakukan oleh Kei, si kembaran yang terlahir di dunia beberapa detik lebih lambat dari kembarannya, selalu dianggap benar oleh siapapun, termasuk oleh Rei. Namun kali ini pemandangan yang dilihat Rei terasa amat salah. Tangan milik Kei yang ukurannya sama dengan ukuran tangan Rei tengah melambung tinggi di udara dengan sebilah pisau yang Rei hapal sebagai milik ibunya dan digunakan untuk memotong sayuran untuk makan malam. Berkali-kali tangan itu naik turun, membuat pisau yang tajam itu berkali-kali menembus punggung lelaki yang kini Rei kasihani.

Baik Rei maupun Kei tidak tahu apa yang sedang terjadi hanya saja bagi Rei hal ini terasa salah sementara bagi Kei hal ini terasa benar. Kalau kau semula mengasihani Rei, kau harus tau bahwa Kei bernasib lebih malang dibandingkan kembarannya. Bayangkan bagaimana rasanya menyaksikan orangtuamu sendiri yang tengah menyantap makan siang dihabisi oleh sebuah gergaji mesin! Bahkan sebenarnya Kei melihat lebih dari itu. Anak laki-laki yang malang itu menyaksikan dari bagaimana sang reaper masuk ke rumah mereka, kemudian berjalan ke ruang makan sembari menyalakan mesin yang membuat kedua orangtuanya kehilangan nyawa. Ia juga menyaksikan bagaimana mudahnya sang reaper mengecat dapur mereka yang sudah dari lama ingin diganti warna oleh ayahnya.

Kalau saja tadi aku tidak membuka pintu! Kalau saja tadi aku tetap berbaring di kamar! Begitulah jerit benak Kei yang raganya tengah menghujam punggung si pengambil nyawa kedua orangtuanya. Ia menghujam dengan amat kuat dan ketika pisau tertancap dalam, ia mengoyakkannya seolah sedang mengorek nyawa lelaki itu agar keluar.

Melihat belahan jiwanya yang seolah sedang kerasukkan, Rei berlari mendekati telepon dan mulai memutar nomor telepon yang langsung muncul di benaknya, 1-1-0.**

“Halo? Pak polisi tolong selamatkan Kei. Ia terasuki hantu penunggu rumah,”

“Ia mendadak jadi liar dan menunggangi paman yang tidak dikenal. Kei menekan-nekankan pisau milik ibu ke punggung paman itu.”

“Ini dengan Rei, Kazuhara Rei.”

 

*恵 (Kei) - Kei can be written using different kanji characters and can mean: , "square jewel" , "blessing" //source: wikipedia
** 110 adalah nomor darurat di Jepang yang digunakan untuk memanggil polisi //source: http://japonesianetwork.com/?p=179
Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s