Family Travel (Chapter 1)

family travel

Title : Family Travel

Length : Chaptered

Genre : AU, Family, slight!Comedy

Rating : G

Starring

SEVENTEEN Woozi as Woo/Lee Jihoon

BlockB ZICO as Woo Jiho

oOOo

“Hey Jihoon! Kau sepertinya terburu-buru sekali. Ada apa?”

Lee Jihoon yang memiliki tinggi 164cm menoleh ke arah teman karibnya, Kwon Soonyoung yang memiliki tinggi 172cm. Perbedaan tinggi mereka yang agak terasa itu tidak merenggangkan sama sekali persahabatan yang sudah mereka jalin semenjak keduanya masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Aku akan berangkat!”

Soonyoung memiringkan kepalanya, ia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Jihoon.

“Berangkat ke mana?”

“Keliling Eropa!” jawab Jihoon setengah berteriak karena ia sudah berjalan menjauh dari Soonyoung.

Lho? Kok mendadak sekali? Dengan siapa?”

“Ayahku!” Senyuman mengembang di wajah Jihoon.

“Ah, baiklah kalau begitu! Selamat jalan! Have fun ya! Setelah kau pulang nanti kau bisa menyalin catatanku. Sampaikan salamku pada tuan Lee ya!”

Lee Jihoon yang sebelumnya bernama Woo Jihoon mengerenyitkan dahinya, ia hendak menyanggah Soonyoung namun ia amat terburu-buru sehingga ia mengurungkan niatnya. Ia melambai ke arah Soonyoung seraya memutar tubuhnya kemudian berlari, melesat ke rumahnya yang berjarak hanya beberapa blok dari sekolah.

Secara kasarnya, Jihoon dapat disebut sebagai seorang anak korban broken home namun untungnya ayah barunya, Lee Minjae adalah pria yang baik sehingga Jihoon sama sekali tidak merasa terbebani oleh kehidupan barunya sebagai seseorang yang bermarga Lee. Ibunya bercerai dengan ayah kandungnya sekitar 1 tahun lalu dan menikahi Mr. Lee dua bulan lalu. Hal ini membuat Jihoon belum merasakan koneksi yang biasanya dimiliki oleh ayah dan anak dengan ayah barunya. Walaupun begitu Jihoon tidak membenci pria berusia 45 tahun itu.

“AKU PULANG!” Jihoon mendorong pintu ke dalam tanpa rasa was-was bahwa ada seseorang yang berdiri tepat di balik pintu.

“AYE! AYE! JIHOON! KAU BISA MEMBUAT AYAH TERGENCET DI ANTARA PINTU DAN TEMBOK!”

Suara yang sudah tidak asing lagi di telinga Jihoon membuat kedua mata Jihoon menyipit dan senyumnya merekah seperti kelopak bunga yang baru mekar. Ya, empunya suara itu adalah Woo Jiho, ayah kandung Jihoon.

APPA!” Jihoon terkekeh seraya memeluk erat lingkar pinggang ayah kandungnya.

Rambut blonde Jihoon diacak-acak oleh tangan besar Jiho. Tangan itu terasa sangat hangat di kepala Jihoon. Dan walaupun ia biasanya benci apabila rambut yang butuh waktu berjam-jam untuk diatata itu diacak-acak, kali ini ia sama sekali tidak merasa keberatan.

“Hey! Anak nakal! Sejak kapan kau mengecat rambutmu huh? Memangnya sekolahmu mengizinkannya?”

Jihoon hanya menjulurkan lidahnya sebagai jawaban.

“Aish tidak sopan sekali. Apa tuan dan nyonya Lee tidak mendidikmu dengan benar huh?” Jiho dengan gemas mencubiti pipi Jihoon tanpa mempedulikan glare dari mantan istrinya yang sudah menuju ke arahnya semenjak Jihoon memeluk pingganggnya.

“Kau siap berangkat? Ayo! Lekas ambil barang-barangmu! Kita berangkat ke airport setelah kau memasukkan barang bawaanmu ke bagasi taksi. Ppali ppali!”

“Aye aye captain! Aku akan segera kembali!” Pandangan Jihoon yang selama ini terus melekat kepada ayah kandungnya kini menyadari bahwa ibunya berdiri di hadapan mereka sembari menyilangkan kedua lengan di depan dada.

“Oh hai eomma! Aku sudah pulang!” Jihoon memberikan sebuah cengiran kepada ibunya sebelum melepas sepatu kemudian melesat menaiki tangga menuju kamarnya untuk mengambil barang-barang yang akan ia bawa untuk perjalanan kali ini.

Sebenarnya baru bulan kemarin ayah kandungnya mengajaknya untuk berlibur ke China, seharusnya perjalanan kali ini tidak memberikan sentuhan excited tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Jihoon tidak tahu mengapa ia merasa sangat excited untuk mengabiskan waktu dengan pria yang seharusnya tidak ia panggil ayah lagi.

oOOo

“Jujur saja padaku, Jiho. Dalam seminggu seberapa sering kau menghubungi Jihoon?”

“Huh?”

“Kenapa dia masih memanggilmu appa? Kalian selalu berhubungan selama ini kan?!”

Lho? Memangnya tidak boleh ya?”

“Dalam perjanjian cerai kan su-”

“Lalu apa yang kau ingin aku lakukan?! Mengabaikan setiap pesan yang anakku kirimkan padaku? Kau ini keterlaluan sekali! Tidak bisa kah membiarkan aku bahagia sekali saja?”

“Kau yang keterlaluan! Kalau kau tidak mementingkan pekerjaan daripada kami pasti saat i-”

“Aku pulang! Lho? Ada tuan Woo?”

Perselisihan di antara keduanya akhirnya berhenti. Terima kasih kepada tuan Lee yang sudah pulang kerja. Jiho membungkuk seraya tersenyum, memberikan salam kepada tuan Lee. “Selamat sore, tuan Lee. Aku ke sini untuk menjemput Jihoon.”

“Oh iya! Aku lupa! Hari ini Jihoon akan pergi bersamamu keliling Eropa kan?” tanya tuan Lee seraya melepas boots yang ia kenakan.

Lagi-lagi Jiho mengangguk sebagai respon. “Ya, anda benar.”

“Kau akan menjaga Jihoon kan?”

“Eh? Maafkan aku?” Kedua mata Jiho melebar. Ia merasa pertanyaan yang diberikan oleh tuan Lee agak sedikit… kurang sopan. Tentu saja ia akan menjaga Jihoon. Jihoon adalah darah dagingnya sendiri, anak kandungnya. Satu-satunya anak yang ia bersumpah akan miliki -dalam artian ia tidak ingin mempunyai anak lain dari orang lain.

“Ah, maafkan aku, aku tidak bermaksud kasar tapi ka-”

‘BRUG!’

Ketiganya menoleh ke sumber suara yang ternyata berasal dari tas punggung berwarna kuning milik Jihoon yang ia lemparkan dari anak tangga nomor 5 ke permukaan lantai lorong menuju pintu. Hening. Jihoon menuruni tangga dan mengambil tasnya sebelum berjalan keluar melewati kedua orangtuanya begitu saja.

Appa! Ayo berangkat!” Suara Jihoon dari luar rumah terdengar amat jelas.

YA! Pamitlah dulu pada ayah dan ibumu!” Dari dalam kediaman Lee, Jiho menyahut pada Jihoon dengan suara yang tidak kalah kencangnya.

Yang terdengar sebagai balasan adalah suara klakson taksi yang nyaring, menyebabkan ketiganya yang berada di dalam rumah harus menutup kedua telinga mereka menggunakan kedua tangan masing-masing.

“Baiklah, saya permisi dulu.” Jiho membungkuk kepada tuan dan nyonya Lee sebelum berjalan keluar pintu.

Di dalam taksi Jihoon duduk besender pada kursi, kedua lengannya ia lipat di depan dada dan bibirnya mengerucut. Ia sebal. Ia merasa jengkel mendengar apa yang dikatakan oleh ayah angkatnya kepada ayah kandungnya. Baru kali ini ia merasa tidak suka pada pria yang bekerja sebagai tukang reparasi listrik itu.

‘BLAM!’

Masih tetap cemberut, Jihoon menatap Jiho yang sudah memasuki taksi dan kini duduk di sampingnya.

“Heyy~ Kenapa kau berekspresi seperti itu hm?” Jiho mengacak-acak rambut Jihoon yang terhalangi oleh beanie warna coklat muda.

“… Maafkan soal tadi.” ujar Jihoon pelan. Ia ingin permintaan maafnya terdengar oleh Jiho namun ia juga tidak ingin dianggap konyol karena meminta maaf untuk hal yang mungkin tidak begitu penting bagi Jiho.

“Soal tadi? Soal apa?” Jiho mengerjapkan kedua matanya menatap anaknya.

Siapapun yang mengenal Jiho, ketika melihat Jihoon pasti menganggap bahwa Jihoon adalah Jiho muda. Mereka begitu serupa secara visual maupun sifat. Mungkin satu-satunya hal yang berbeda dari Jihoon dan Jiho muda adalah tinggi mereka.

“Soal taaadiiii!” Jihoon berujar ketus.

“Tadi yang manaa?” Jiho kembali bertanya, kali ini diikuti tawa.

“Sudahlah lupakan.”

Jiho tidak dapat melakukan apapun selain tersenyum dan mengacak-acak rambut anaknya itu. Tentu saja ia tahu apa yang anaknya maksud. Bagaimana tidak? Bukankah seorang ayah dan anaknya selalu mempunyai suatu hal yang disebut-sebut sebagai ikatan batin?

“Kirimlah pesan pada kedua orangtuamu. Berpamitanlah.” Jiho menggeser posisi Jihoon untuk semakin mendekat ke arahnya dan secara paksa menekan-nekan kepala anaknya agar besender pada bahunya.

Arraseo, arraseo.” Dengan begitu Jihoon pun mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetikkan pesan yang ditujukan kepada ayah dan ibunya.

“Bagaimana sekolahmu?”

“Lancar tentu saja. Aku kan jenius hehe!”

Jiho mendesis. Ia tidak percaya bagaimana cara dan suara tawa mereka bisa begitu mirip. Padahal sudah cukup lama mereka tidak tinggal di bawah atap yang sama.

“Jadi… si anak jenius ini diizinkan untuk mengecat rambutnya ya?”

Jihoon mengangguk. “Iya. Pihak sekolah tidak ada yang melarangku karena nilaiku selalu bagus. Maksudku mereka tidak peduli bagaimana penampilanku asal itu todak mempengaruhi nilaiku.”

“Wah~ Menyenangkan sekali! Dulu ayah sama sekali tidak berani mengecat rambut karena takut dihukum.”

Jihoon tertawa melihat ekspresi wajah ayahnya. “Pembohong! Aku tahu ayah takut dimarahi oleh kakek ‘kan?”

“HAHAHAHAHA!” Jiho tertawa lantang mendengar celotehan Jihoon. Tetapi memang benar yang dikatakan oleh Jihoon, ia tidak mengecat rambutnya dulu karena takut pada ayahnya, Woo Jiseok.

“Ah, tak dapat dipungkiri pria tua itu selalu memarahiku kalau aku tidak menurut padanya.”

“Oh iya, bagaimana kabar kakek? Ia baik-baik saja?”

“Tentu saja. Ia masih sehat bugar.”

“Kakek masih suka karaoke?”

“Haha! Tentu saja. Setiap malam Minggu. Bersamaku.”

“Apakah lain kali aku boleh ikut?”

“Tentu saja! Kenapa tidak?” Jiho menempelkan ujung jari telunjuknya pada kening Jihoon dan secara lembut ia mendorong kening Jihoon.

“Bodoh sekali kau bertanya seperti itu.”

“Kau yang menurunkan kebodohanmu padaku appa haha!”

Eoh? Begitu ya? Kurasa yang aku turunkan padamu adalah ketampananku!”

Jihoon mencibir, “aku jauh lebih tampan dari ayah.”

“Ya, ya, ya terserah apa katamu, anakku. Yang jelas tampan itu sudah berada dalam gen keluarga Woo, dan akulah yang menurunkan gen itu padamu.” Jiho berujar sambil membusungkan dadanya, jelas terlihat ia merasa bangga.

Semenjak taksi melaju dari kediaman keluarga Lee tidak satu detik pun keadaan menjadi mati. Baik Jihoon maupun Jiho keduanya sama-sama ingin mematiskan bahwa mereka benar-benar mengisi waktu yang mereka miliki bersama. Walaupun setiap hari keduanya selalu berhubungan baik itu via telepon, SMS, e-mail, skype, dan lain sebagainya, keduanya tetap merasa harus berbicara ketika bertemu.

Supir taksi hanya bisa menggelenkan kepalanya setiap kali kedua penumpang yang mirip itu tertawa. Menurutnya tawa mereka begitu keras, mungkin bisa terdengar sampai keluar taksi tetapi di lain sisi ia merasa hal itu sangat lucu. Ia tidak tahu bahwa kedua orang yang menumpang taksinya adalah ayah dan anak yang sudah terpisah untuk waktu yang cukup lama. Hubungan yang mereka punya sama sekali tidak menunjukkan hal itu. Mereka tampak seperti ayah dan anak yang tinggal di bawah atap yang sama.

 

oOOo

Appa tunggu aku!” Seru Jihoon sembari setengah berlari. Tas punggungnya yang menggantung dari kedua sisi bahunya bergoyang-goyang.

“Hahaha! Kakimu pendek ‘sih.”

Jihoon memukul lengan Jiho mendengar ejekan itu, ia tidak kesal maupun marah karena memang begitulah kenyataannya. Ia ingat dulu ketika ia masih tinggal bersama Jiho, hampir setiap pagi dan sore ia melakukan lompat tali, berharap ia bisa tumbuh setinggi Jiho. Namun kebiasaan itu tidak pernah lagi ia lakukan semenjak ibunya bercerai dengan Jiho. Kalau boleh jujur ketika itu ia merasa frustasi, merasa tak ada lagi harapan baginya untuk menjalani hidup. Seorang Lee Jihoon, yang masih menganggap dirinya sebagai Woo Jihon, sebelum perceraian kedua orangtuanya terjadi tak pernah terbiasa menjalani hari-hari tanpa sang ayah yang ia anggap sebagai role model.

“Ngomong-ngomong kenapa rambutmu dicat pirang? Kau mau mirip dengan ayah?” Jiho tertawa, isengnya kambuh, ia rindu mengisengi anaknya secara live.

“Sembarangan. Aku mengecat rambutku pirang karena aku pikir pirang itu keren.”

“Oh ya? Kau sudah pernah melihat Bastian Schweinsteiger?”

Jihoon menggeleng. Ia tidak tahu siapa yang dimaksud oleh ayahnya. Tetapi paling itu pemain sepakbola, begitu pikir Jihoon.

“Ha! Lalu darimana kau pikir pirang itu keren? Satu-satunya pria pirang yang ada di hidupmu pasti hanya ayah ‘kan?” Jiho tercengir. Tangan kirinya yang tidak menarik koper mulai menyentuh-nyentuh pipi Jihoon dengan jari telunjuk.

“… Guru native Inggris di sekolahku, Mr. Colm rambutnya pirang ‘tuh. Aku pikir ia keren makannya aku mengecat rambutku warna pirang. Wlee!” Pada akhir perkataannya, Jihoon menjulurkan lidah pada Jiho padahal ia tahu ia tengah membohongi dirinya sendiri. Ia malu mengakui bahwa ia ingin terlihat seperti Jiho.

“Hahaha! Ayah ‘kan hanya bercanda. Kau tidak perlu marah seperti itu.” ujar Jiho yang salah paham mengira warna merah pada wajah Jihoon menandakan bahwa Jihoon sedang marah.

Gwenchana~”

“Kau bawa passportmu kan Jihoonya?”

“Aku bawa,” jawab Jihoon, tangannya dengan lincah mengaduk-aduk isi tas punggungnya yang sudah berpindah dari punggungnya ke atas lantai airport.

 

oOOo

Jihoon mengenakan headset dan tangannya dengan lincah menekan-nekan touchscreen yang ada di hadapannya. Ia merasa cukup beruntung karena lagu-lagu yang ada di sana adalah lagu-lagu yang sedang trend belakangan ini dan ia menyukai mereka. Selama hidupnya ini adalah kali keduanya naik pesawat tetapi ia sama sekali tidak merasa nyaman. Sama seperi kali pertamanya, bayangan kemungkinan terburuk dengan apa yang akan terjadi selama pesawat melayang di udara menghantui pikirannya, berbeda dengan Jiho yang kini sudah tertidur lelap. Rambut blond Jiho menyembul keluar dari beanie hitam miliknya yang baru ia kenakan ketika pesawat take off.

Jihoon mengehela napas. Mengingat kini sang ayah kandungnya tinggal bersama dengan sang kakek di daerah Daejeon, ia tidak sampai hati untuk membangunkannya. Menurutnya jarak tempuh dari Daejeon ke Seoul cukup panjang, ia berpikir Jiho pasti sudah lelah di jalan dan lagi selama di taksi tadi ia sama sekali tidak memejamkan mata.

Sama sekali tidak terlintas di pikiran Jihoon bahwa pesawat bisa bergetar. Jantungnya serasa hampir keluar dari dadanya ketika hal itu terjadi. Tanpa berniat mengeluarkan suara, sebuah erangan kecil lolos dari mulutnya. Tangan kanannya tanpa sengaja mencengkram erat tangan ayah kandungnya yang duduk tepat di sampingnya.

Jiho membuka matanya hanya untuk menemukan wajah anaknya yang menjadi pucat. “Jihoonya, kau baik-baik saja?”

Jihoon tidak menjawab, ia masih berada dalam kondisi kaget.

Getaran kembali terjadi dan Jiho kembali merasakan cengkraman pada tangannya. Kini ia mengerti. Dilepaskannya cengkraman Jihoon pada tangannya dan dengan segera ia merentangkan tangan kirinya sampai ke ujung bahu kiri sang anak. Ia mendekap anaknya dengan erat. “Tidak apa-apa. Jangan khawatir, oke? Getaran seperti ini sering terjadi. Cuacanya tidak begitu baik, ayah yakin begitu. Sekarang, pejamkan matamu little brave hero. Ketika kau membuka matamu nanti, kita sudah sampai di tujuan kita…”

“.. Dengan selamat?” Tanya Jihoon setengah berbisik.

“Ya, pasti. Dengan selamat.”

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s