Tell Me Why (Chapter 2)

Tell Me Why

Title : Tell Me Why

Length : Chaptered

Genre : AU, Horror, Romance

Rating : PG

Starring

CLC Yoojin as Choi Yoo-jin

Sekai no Owari Fukase as Satoshi Fukase

GENERATIONS from EXILE Tribe Reo as Sano Reo

NIGHT 1: A TERRIFYING NIGHT

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Waktunya untuk kembali bekerja, kantin yang semula ramai itu menjadi kosong, hanya ada beberapa orang staff yang berada di sana untuk menata kembali ruang kantin seperti keadaan pagi tadi. Para staff yang dimaksud bukanlah para researcher yang menggunakan jas lab melainkan orang-orang berpakaian bebas -dan mereka semua adalah kaum Adam.

Tak lain dan tak bukan, mereka adalah security guard yang dipekerjakan di tempat itu. Selain menjaga keamanan tempat kerja mereka juga ditugaskan untuk merapikan dan atau membersihkan kantin -pekerjaan double yang terkadang bisa sangat merepotkan.

Reo-kun. Tadi itu siapa? Temanmu?

Pria bernama lengkap Sano Reo yang sedang mencuci piring menghentikan pekerjaannya. Ia menatap rekannya dan menggelengkan kepala.

Iie masen. Aku bahkan tidak mengenalnya. Dari gerak-geriknya aku rasa ia researcher baru.

.

.

.

.

.

Yoo-jin menghela napas. Ia merasa sedikit kesal karena penemuannya beberapa saat itu sama sekali tidak membawa hasil lebih. Hanya ada satu hal yang ia ketahui, bahwa partikel itu tidak berasal dari benda padat.

Tangan dengan jari lentik miliknya menyentuh kotak sampel yang berada di samping mikroskop kemudian menariknya mendekat. Kedua sisi dari bibirnya langsung menekuk. Sampelnya sudah habis. Dengan gontai Yoo-jin berjalan mendekati lemari berisi sampel yang terletak di pojok kanan ruangan seraya memangku kotak sampel miliknya dengan kedua tangannya.

‘Ah. Habis juga. Mengapa persediaannya sedikit sekali sih?’ Yoo-jin menggerutu dalam hati seraya meletakkan kotak sampel di dalam lemari sebelum menutup kembali lemari tersebut.

Apa yang kau cari?

Aku mencari sampel. Tapi tampaknya sudah tidak tersedia sampel lagi.

Ah. I see. Sampel yang disediakan memang sedikit. Sepertinya kita harus menunggu.

Secara lihai Yoo-jin melirik nametag lawan bicaranya yang adalah seorang pria dari rumpun Eropa. Dari logat bahasa Inggrisnya Yoo-jin yakin bahwa pria itu bukanlah orang Amerika maupun orang Inggris.

Oh! Maafkan aku! Aku bukannya bermaksud tidak sopan! Namaku Ivan Chernenkov. Kau dapat memanggilku Ivan.

Tidak apa-apa. Aku juga belum memperkenalkan diriku. Namaku Yujin.

Halo Yujin! Senang berkenalan denganmu!” Ivan tersenyum pada Yoo-jin yang sudah lebih dulu tersenyum kepadanya.

Baiklah kalau begitu aku permisi dulu, nona muda.” Pria bernama Ivan itu berjalan menjauhi Yoo-jin dan juga lemari sampel, menuju ke ‘meja kerja’ nya yang ternyata bersebrangan dengan ‘meja kerja’ Yoo-jin.

Yoo-jin tidak tahu apa dan mengapa, tetapi ia merasakan ada suatu hal yang mengganjal dari pria itu.

.

.

.

.

.

Bunyi alarm tanda waktu kerja telah usai terdengar dan bunyinya memekikkan telinga. Yoo-jin harus menutup kedua telinganya untuk mencegah telinganya berdering.

Kau belum terbiasa ya?

Yoo-jin berusaha mengingat nama pria yang kini berdiri di sampingnya. Dan ia akhirnya ingat bahwa pria itu belum sempat memperkenalkan dirinya.

Aku belum pernah mendengar suara alarm yang seperti ini. Frekuensi bunyinya rendah sekali.

Memang harus seperti itu.” Pria itu menyahut penuh arti.

Eh?

Lupakan. Oh iya, aku belum memperkenalkan diriku bukan? Namaku Satoshi Fukase. Sudah 2 tahun lebih aku bekerja di sini. Yoroshiku!

Yoroshiku Satoshi-san.

Percakapan singkat antara Yoo-jin dan Satoshi berakhir ketika keduanya berjalan keluar ruangan untuk menuju ke kamar masing-masing yang sudah disediakan oleh pihak pemberi kerja. Yoo-jin melangkahkan kakinya ke sisi kiri gedung, menuju ke kamar tempatnya akan singgah selama ia bekerja di pulau itu.

Yoo-jin membuka pintu kamarnya yang memang ia tinggalkan tidak terkunci tadi karena ia ingin bergegas bekerja, prinsip yang ia pegang adalah lebih cepat lebih baik. Sesuatu terasa aneh. Dari apa yang ia ingat, tasnya ia lemparkan ke atas ranjang dan posisinya rata dengan ranjang namun kini tasnya berdiri tegak di atas ranjang. Tanpa keraguan sedikit pun Yoo-jin berjalan menghampiri ranjang untuk memeriksa tas ransel miliknya, atau lebih tepatnya untuk memeriksa apakah ada barang miliknya yang hilang.

Helaan napas lega keluar dari mulut Yoo-jin ketika mendapati tidak ada satupun barang miliknya yang hilang. Dengan langkah ringan ia berjalan ke pintu yang tadi belum ia tutup kemudian menutupnya dan tak lupa menguncinya. Ia membiarkan kuncinya menggantung di lubang kunci pintu karena ia sadar bahwa dirinya adalah orang yang mudah lupa ketika panik. Untuk berjaga-jaga ia bangun kesiangan esok hari.

Rasa lega bergejolak dalam dirinya karena ternyata dalam ruangan kamar yang tergolong kecil itu terdapat kamar mandi di dalamnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi Yoo-jin langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.

Di sisi lain, di sebuah tempat yang berada di dalam gedung, seluruh security guard berkumpul. Tak mengherankan lagi semuanya adalah kaum Adam dan semuanya menenteng senjata dalam berbagai jenis, bentuk, dan juga ukuran. Tak ada jaminan bahwa masing-masing dari mereka hanya membawa satu buah senjata.

Kehadiran seorang wanita membuat keadaan menjadi senyap. Tak ada satupun yang berbicara.

Perhatian semuanya!

Saya mendapat laporan bahwa sampel sudah mulai berkurang. Beberapa researcher kehabisan sampel. Saya mohon kerjasama dari kalian untuk mendapatkan sampel. Ingat! Hanya secukupnya saja, paham?

Paham!

Hanya beberapa dari mereka yang menjawab, yang lain hanya menganggukan kepala tanda mengerti. Namun yang pasti semuanya paham mengenai apa yang diperintahkan.

Bagus! Regu 5 siapkan diri kalian 

untuk mengumpulkan sampel!

.

.

.

.

.

Waktu berjalan dengan cepat. Yoo-jin tidak sadar bahwa dirinya sudah tertidur cukup lama dan ia melupakan makan malamnya. Kalau saja perutnya tidak berbunyi ia mungkin masih tidur saat ini.

“Ah, aku lapar.”

Yoo-jin meregangkan tubuhnya sebelum melangkah ke luar kamar. Belum jauh ia berjalan, seseorang menghentikannya.

“Halo Choi Yoo-jin. Kau mau kemana?”

Yoo-jin menoleh, ia melihat Jung Han-a berjalan semakin dekat ke arahnya. ‘Kau sendiri mau kemana?’

“Aku mau ke kantin.”

“Kau melupakan makan malammu?”

Yoo-jin mengangguk, “iya, tadi aku tertidur Han-a ssi.”

Han-a tersenyum tipis. “Kau tunggu saja di kamarmu, arraseo? Aku akan menyuruh seseorang untuk mengantarkannya padamu.”

“… Memangnya kenapa?”

“Seluruh lampu dalam gedung kerja sudah dipadamkan. Kau tidak mau bukan berjalan sendirian dalam gelap?”

Senyuman yang diberikan oleh Han-a memancing kecurigaan Yoo-jin.

“Sudah peraturannya untuk memadamkan semua lampu dalam gedung kerja di atas jam 7.”

“…”

“Aku sendiri tidak tahu mengapa.”

Lagi-lagi Han-a tersenyum pada Yoo-jin. Kali ini Yoo-jin tahu Han-a mencoba untuk menunjukkan senyumnya senatural mungkin.

‘Bohong.’

“Baiklah kalau begitu. Aku mengerti. Aku akan menunggu di dalam kamarku. Terima kasih Han-a ssi.”

“Tunggulah dengan sabar ya anak manis,” Han-a mengusap-usap kepala Yoo-jin sebelum kembali ke arah ia tadi berasal.

Tanpa perlu dikomando Yoo-jin berjalan memasuki kamarnya dan merebahkan dirinya di kasur. Tempat kerjanya benar-benar aneh. Ia sendiri sebenarnya tidak mengetahui banyak mengenai tempat ini karena Ayahnya tidak bercerita banyak. Hanya satu hal saja yang Yoo-jin tahu, dengan bekerja di sini ia bisa menghentikan kejadian-kejadian aneh yang belakangan ini telah terjadi, bukan hanya di Korea Selatan saja melainkan di seluruh bagian dunia.

Sebuah virus menyebabkan sesosok manusia menjadi aneh. Bukan aneh lagi, manusia yang sudah terjangkit virus tersebut langsung menjadi tidak normal. Yoo-jin sendiri tidak tahu rupanya seperti apa tetapi yang jelas mereka menyerang manusia lain. Dugaannya adalah virus rabies berkembang dan membentuk sel-sel baru yang membuatnya berbeda dari virus rabies sebelumnya. Namun sampai saat ini ia masih belum mendapatkan hasil apapun.

Tok! Tok!

Pintu kemudian terbuka dan Yoo-jin kelabakan untuk segera kembali duduk karena posisinya sekarang ini benar-benar memalukan.

Kau seharusnya mengunci pintumu.

Bukan urusanmu. Ngomong-ngomong kau tidak sopan sekali membuka pintu kamar orang begitu saja padahal belum dipersilakan masuk.” Yoo-jin menyerbu security guard yang muncul di ambang pintu kamarnya.

Yoo-jin tidak mungkin lupa bahwa security guard yang tengah membawakannya sepiring makanan adalah orang yang sama yang menariknya keluar dari sebuah lorong siang tadi.

“… Sumimasen.

Yoo-jin tertegun untuk sesaat, ‘lucu sekali. Orangnya sangat kaku, lebih kaku daripadaku.’

Aku hanya bercanda. Ngomong-ngomong, namaku Yujin. Namamu?

Reo. Ini makananmu. Kalau sudah selesai makan taruh saja di kamar. Jangan keluar dari kamar sampai pagi. Piringnya bisa kau kembalikan besok pagi.” Reo menaruh piring berisi makanan yang ia bawakan untuk Yoo-jin di atas lantai tak jauh dari pintu kemudian ia berjalan mundur dan menutup pintu dari luar.

Hey! Tunggu sebentar!” Yoo-jin membuka pintu, berjalan menyusul Reo yang sudah berjalan menjauhi kamar.

Aku bilang apa? Jangan keluar kamar!” Reo memutar balik arahnya dan berjalan cepat ke arah Yoo-jin.

Tampang yang diberikan Reo membawa terror bagi Yoo-jin dan gadis itu melompat kembali menuju ke kamarnya. Ia berdiri di belakang pintu seolah menggunakan pintu sebagai tameng untuk menghindari Reo.

Di sisi lain Reo menarik-narik pintu itu agar tertutup namun Yoo-jin menahannya. Yoo-jin menyembulkan kepalanya.

Memangnya kenapa?

Kenapa apanya?

Kenapa tidak boleh keluar?

Sudah aturannya. Kau tidak perlu tahu mengenai peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan. Hanya satu hal saja yang perlu kau tahu, kalau aku mendapatimu keluar kamar, aku akan menyeretmu keluar dari pulau ini dan melemparkanmu ke atas perahu yang akan membawamu kembali ke Seoul.” Dengan itu, Reo menarik pintu kamar Yoo-jin dan membuatnya tertutup, menghasilkan suara yang cukup keras.

Yoo-jin mendengus kesal. Rasa laparnya hilang digantikan rasa kesal. Perkataan lelaki bernama Reo itu sangat kasar, berlawanan dengan wajahnya yang menurut Yoo-jin tergolong imut. Selang beberapa waktu sembari memakan makan malamya, rasa kesalnya berganti menjadi rasa penasaran. Ia mulai berpikir harus darimana ia mulai penyelidikannya.

Sebuah ide terbesit di benaknya, ‘lorong tempat aku tersesat siang tadi. Reo menarikku keluar dari sana. Pasti tempat itu memiliki sesuatu yang bisa diselidiki.’

.

.

.

.

.

Seluruh lorong sudah sangat gelap, sama sekali tidak ada lampu yang menyala. Dengan langkah yang seakan ragu-ragu Yoo-jin menyusuri lorong dengan sebuah senter berukuran kecil yang talinya menggelantung di pergelangan tangan kirinya yang tengah di lipat di depan dada. Ia dapat mendengar detak jantungnya sendiri yang tak beraturan.

Rasa penasarannya telah membawa dirinya ke lorong tempat ia tersesat siang tadi. Ia sendiri tidak mengerti mengapa beberapa saat lalu ia dengan bodohnya memutuskan untuk kembali ke tempat yang sempat membuatnya bergidik.

Dengan amat perlahan, sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara, Yoo-jin berjalan selangkah demi selangkah sembari mengarahkan senter kecilnya yang kini sudah menyala ke seluruh bagian lorong seakan hal itu akan membantunya untuk dapat melihat apa yang terdapat di dalam dinding-dinding berlapis baja, yang anehnya, hanya berada di lorong itu.

Sebelum masuk menelusuri lorong kedua matanya sempat menangkap sebuah alarm berdiri dengan kokoh di bagian atas dinding pintu masuk. Ia yakin siang tadi alarm itu luput dari matanya karena ia tengah merasa lapar.

‘Suatu tempat dengan sebuah alarm pastilah bukan tempat yang aman,’ begitu pikir Yoo-jin.

Walaupun sudah memperkirakan hal tersebut, gadis itu bukannya mundur dan kembali ke kamarnya, ia malah melangkah semakin ke depan.

DUG! DUG!

Yoo-jin mendelik ke sumber suara. Keadaan lorong yang hening menjadi faktor bantuan untuk indera pendengaran miliknya yang masih dapat mendengar dengan jelas. Suara itu berasal dari balik dinding baja.

Ia melangkahkan kakinya menyimpang ke sebelah kanan mendekati dinding dan seketika itu jantungnya berdetak semakin tidak karuan. Samar-samar terdengar suara hantaman dari balik dinding pada setiap dinding di lorong itu. Untuk memastikan pendengarannya, Yoo-jin menempelkan telinga sebelah kirinya ke dinding sambil berjalan, menyapu dinding dengan pipi dan telinga bagian kirinya.

‘Apa-apaan ini!? Apakah mereka menyimpan hewan di balik sana? Tetapi untuk apa?’

“Ah!”

Yoo-jin tersandung sebuah tunggakan kecil kemudian terjerembab di permukaan lorong dengan suara yang cukup keras. Kedua kakinya langsung lemas ketika tiba-tiba saja suara hantaman dari balik kedua sisi lorong yang dilapisi baja itu semakin kencang. Selain suara hantaman ia juga mendengar suara-suara aneh lain, baginya mereka terdengar seperti erangan.

Napas Yoo-jin tercekat, ‘manusia kah yang ada di balik sana?’

Yoo-jin nyaris pingsan ketika pundaknya ditepuk. Dengan sigap ia menoleh ke belakang, mencari tahu siapa yang menepuk pundaknya.

Ssh! Calm down! This is me! You remember me?

Yoo-jin dalam hati mengutuki pria yang kini memamerkan sebuah cengiran padanya.

Of course I remember you. You’re Alex Smith, right?

Pria bernama Alex Smith itu mengangguk. Ia mengulurkan tangannya pada Yoo-jin, membantu gadis itu untuk berdiri dan setelah Yoo-jin berhasil berdiri ia menuntun gadis itu menjauhi lorong tempat kini keduanya berada.

Matikan sentermu, yeah? Ada yang ingin aku tunjukkan!

Dalam hatinya Yoo-jin merasa ada sesuatu yang tidak benar namun ia memutuskan untuk tidak mendengarkan feelingnya untuk kali ini. Ia mematikan senter yang masih berada dalam genggamannya.

Kini keduanya berdiri berhimpitan di balik sebuah space kosong yang membatasi lorong penuh horror itu dari lorong yang berada di bagian depannya. Mata Yoo-jin sudah mulai terbiasa dalam tingkat kegelapan yang tengah membutakan keduanya, ia melihat dari arah lorong bagian depan, beberapa orang menuju ke arah mereka.

Mereka adalah para security guard.

Seolah mengetahui kebingungan Yoo-jin, Alex berbisik, memberikan petunjuk bahwa mereka adalah para security guard dan mereka membawa senjata mereka masing-masing. Dengan pasti Alex menyebutkan jenis-jenis senjata yang dibawa oleh mereka.

Kau bisa melihatnya?” Tanya Yoo-jin takjub sekaligus heran. Ia tidak menyangka akan ada orang yang mengetahui jenis-jenis senjata seperti Alex dan lagi Alex bisa melihat dengan jelas dalam keadaan gelap.

Aku dulu adalah militer. Aku sudah terbiasa melihat dalam kegelapan.

Yoo-jin menahan napasnya ketika rombongan security guard berjalan semakin dekat ke arah mereka. Ia tidak ingin tertangkap basah, tidak untuk saat ini. Ia masih penasaran dengan apa yang hendak Alex tunjukkan. Ia yakin para security guard ada hubungannya dengan hal ini.

Alex dan Yoo-jin bagaikan mata-mata. Mereka memperhatikan setiap gerak-gerik para security guard yang kini berada dalam lorong penuh terror yang sempat membuat Yoo-jin lemas. Jantung Yoo-jin berdegup ketika mereka membuka pintu yang berada di bagian ujung akhir lorong.

GRRH! GRRRHH!

Kedua mata Yoo-jin membulat karena kaget, sementara kedua mata Alex membulat karena excited. Jelas-jelas keduanya merasakan hal yang berbeda namun tidak ada satupun dari keduanya yang bergeming dari tempat mereka berdiri.

Beberapa sosok makhluk yang tampak seperti manusia berjalan keluar dari pintu dengan langkah yang seperti terseret-seret. Seorang security guard menutup paksa pintu sebelum lebih banyak makhluk yang keluar dari dalam.

DORR! DORR!

Suara tembakan yang amat nyaring menggema di seluruh bagian lorong dan Yoo-jin nyaris berteriak ketika terdengar dengan jelas suara-suara erangan dan hantaman yang berasal dari balik dinding berlapis baja. Kalau saja Alex tidak membungkam mulutnya, keadaan mereka pasti sudah diketahui oleh security guard yang baru saja menghabisi nyawa beberapa makhluk yang dibiarkan dengan sengaja keluar dari ‘kandang’.

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s