Tell Me Why (Chapter 1)

Tell Me Why

Title : Tell Me Why

Length : Chaptered

Genre : AU, Horror, Romance

Rating : PG

Starring

CLC Yoojin as Choi Yoo-jin

Sekai no Owari Fukase as Satoshi Fukase

GENERATIONS from EXILE Tribe Reo as Sano Reo

DAY 1: A NEW BEGINNING

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

“Ayah. Aku berangkat dulu ya.”

Suara klakson bus tidak membuat gadis berwajah kecil itu bergeming dari posisinya -berlutut di samping makam dengan batu nisan yang bertuliskan:

Choi Jung-min
1960-2020

Seorang suami, seorang ayah, dan seorang guru
yang mengesankan

Angin mendadak berhembus tepat di telinga kanan Yoo-jin seperti sebuah isyarat dari Ayahnya yang sudah berada di surga agar ia segera angkat kaki dari sana dan melanjutkan tugas yang dahulu diemban oleh Ayahnya.

Yoo-jin berdiri di atas kedua kakinya, ia tidak goyah sedikit pun walau ia merasakan perih yang teramat sangat di hatinya. Kehilangan seorang Ayah merupakan pukulan yang sangat berat bagi setiap anak, termasuk Yoojin.

“Selamat bergabung bersama kami, nona Choi.”

Yoo-jin menengadah menatap pria yang sedang menumpaki tempat duduk supir. Kalau dilihat dari penampilannya, Yoo-jin yakin bahwa pria itu bukanlah supir bus. Posisi duduknya yang agak bungkuk mencirikannya sebagai seorang ilmuwan di mata Yoo-jin karena begitulah ia melihat Ayahnya selama ini.

“Terima kasih. Di mana aku harus menaruh tasku?”

“Kau bisa menaruhnya di bawah kakimu nanti atau kau bisa menempatkannya di sampingmu apabila tempat duduk di sampingmu kosong.”

Yoo-jin menyusuri bagian dalam dengan kedua matanya.

‘Mustahil,’ batin Yoo-jin.

Bus itu sudah sangatlah penuh. Hanya ada satu tempat duduk yang tersisa. Basa-basi dari pria yang mengemudikan bus membuat Yoo-jin merasa jengkel.

“Permisi… Permisi…” Ujar Yoo-jin sembari berjalan menuju ke satu-satunya tempat duduk yang tersisa.

.

.

.

.

.

Yoo-jin menepi dan mulai merundukkan bagian atas tubuhnya. Perutnya terasa mual, sedari dulu ia tidak pernah terbiasa. Ia lebih memilih perjalanan melalui jalur udara ketimbang jalur air walaupun resikonya jauh lebih besar.

“Nona kau tidak apa-apa?”

Tanpa menoleh Yoo-jin mengibaskan tangan kanannya mengisyratkan pada pria baik yang mengkhawatirinya bahwa ia baik-baik saja. Ia hanya perlu memuntahkan apa yang ada di sistem pencernaannya.

Yoo-jin menarik napas lega ketika ia sudah berhasil memuntahkan santapan paginya. Ia merasa jauh lebih baik.

Semula ia sama sekali tidak tertarik pada apapun, namun dari atas dermaga tempatnya berdiri sekarang, ia dapat melihat sebuah pulau dengan kehijauan dan ketenangan yang luar biasa -sangat bertolak belakang dengan keadaan kota yang sudah gersang dan penuh kekacauan. Semuanya tampak sempurna di mata Yoo-jin kecuali beberapa gedung yang terletak di pulau itu.

‘Merusak pemandangan saja. Kenapa tidak dibangun di tempat lain?’

Beberapa saat kemudian ia dan beberapa orang lain tiba di pulau tersebut. Hamparan pasir putih membentang melingkari pulau yang ukurannya tidak terlalu besar. Yoo-jin akhirnya mengerti mengapa Ayahnya mengatakan bahwa tempat kerjanya sangat menyenangkan. Saat ini saja Yoo-jin sudah membayangkan betapa menyenangkannya apabila bermain di pinggir pantai sambil menunggu matahari terbenam. Ia menghela napas menyadari bahwa hal itu tidak akan terjadi, ia kemari untuk bekerja -menyelesaikan pekerjaan Ayahnya.

Benar saja dugaannya, gedung mencolok yang ia lihat sebelumnya adalah tempat di mana ia akan bekerja mulai dari hari ini. Ketika pintu terbuka, Yoo-jin sempat kaget karena mengira keadaan akan sangat hening dan menegangkan, namun sebaliknya keadaan terasa sangat friendly dan lively. Ia sudah mendapati beberapa orang yang tersenyum ke arah rombongan yang baru datang.

‘Baiklah. Ini semakin menegangkan.’

Tanpa ada pemandu jalan, Yoo-jin tahu kemana ia harus mengarah. Gedung itu berbentuk bulat dan di kedua belah sisi terdapat ruang-ruang kerja yang dilapisi pintu dan dinding tembus pandang -alias terbuat dari kaca bening dan pola itu membentuk sebuah jalan lurus dengan sendirinya yang berujung pada sebuah ruangan dengan pintu baja. Di samping pintu baja itu terdapat sebuah scanner yang berfungsi untuk mengidentifikasi sidik jari siapapun yang bekerja di gedung itu agar tidak bisa sembarang orang membuka pintu. Sebenarnya tidak hanya pintu baja itu saja yang dilengkapi scanner melainkan seluruh pintu yang dimiliki oleh ruang-ruang kerja di gedung itu.

“Alex Smith,”

“Li Jun Jie,”

“Ivan Chernenkov,”

“Amanda Xaverious,”

“Pedro Sanchez,”

“Hajime Keisuke,”

“Han Yong-jae,”

Satu persatu nama disebutkan oleh seorang wanita yang berada di depan rombongan yang baru tiba. Wanita itu mengenakan kacamata dan rambut panjangnya diikat rapi ke belakang. Hanya dengan melihatnya sekilas semua yang ada di dalam ruangan itu pun tahu wanita itu adalah seorang atasan yang berarti wanita itu adalah seorang senior.

Yoo-jin tidak tahu bagaimana dengan orang-orang lain yang berada dalam ruangan, tetapi ia dengan jelas sangat tidak mau bekerja bersama dengan senior itu. Bukan hanya dengan senior itu saja, Yoo-jin juga tidak mau bekerja bersama dengan orang lain karena ia bukan tipe yang seperti itu. Semuanya berawal ketika ia berada di bangku Sekolah Menengah Atas. Setiap ada project yang harus dilakukan berkelompok hasilnya tidak pernah memuaskan.

“Choi Yoo-jin,”

Mendengar namanya dipanggil Yoojin maju ke depan, seperti yang dilakukan oleh orang-orang sebelumnya, untuk menerima seragam dan juga untuk dipindai sidik jarinya.

“Kau anak Choi Jung-min ssi?”

Yoojin mengangguk. Sekilas ia melihat nametag yang dikenakan oleh wanita senior itu. Jung Han-a. Nama belakang wanita itu mengingatkan Yoojin kepada pelajaran bahasa Jepang yang ia geluti beberapa bulan terakhir. Dalam bahasa Jepang, Han-a berarti bunga. Dan wanita di hadapannya ini rupanya benar-benar seperti bunga, rupawan.

“Ini, kenakanlah.”

Kedua mata Yoo-jin membulat. Hanya ada sebuah seragam berupa jas lab yang diserahkan kepadanya.

“… Hanya satu?”

Jung Hana mengangguk tanpa mengerti apa maksud pertanyaan Yoo-jin. Yang ada di benak gadis berusia 25 tahun itu adalah ‘apakah ini adalah sebuah lelucon? Hanya ada satu jas lab berarti kita harus menggunakannya terus menerus selama bekerja di tempat ini?’

Tanpa mengucap sepatah kata pun Yoo-jin berjalan ke arah yang ditunjuk oleh para security guard, atau begitulah yang nampak di matanya. Mereka tidak mengenakan jas lab dan masing-masing dari mereka memiliki senjata laras panjang yang digantungkan menggunakan tali khusus secara menyilang dari bahu mereka.

Halo, gadis manis.

Yoo-jin nyaris tersentak. Dalam ruangan yang hening itu ia mendengar sebuah suara yang berat dan bukan dalam bahasa lahirnya, bahasa Korea. Ia menoleh ke samping kanannya, di sana berdiri seorang pria berambut pirang dengan tubuh yang Yoo-jin anggap seukuran raksasa.

O-oh. Halo.” Yoo-jin tersenyum pada pria dengan nametag Alex Smith pada jas lab yang dikenakan.

Kini Yoo-jin mengerti mengapa sebelum diterjunkan dalam pekerjaan ini ia diwajibkan mengambil kursus bahasa kilat, mulai dari bahasa Inggris, Russia, Jepang, China, dan Jerman. Hanya beberapa bulan tiap bahasa, tentu saja karena yang dibutuhkan hanyalah dasar dan juga kehadiran Yoo-jin benar-benar dibutuhkan sesegera mungkin. Yoo-jin memperhatikan sekelilingnya dan ia berpikir bahasa Inggris mungkin bukanlah bahasa satu-satunya yang harus ia kuasai untuk bisa berbaur di tempat ini.

.

.

.

.

.

Waktu belum berlangsung lama namun bagi Yoo-jin sudah terasa seperti berhari-hari. Kalau bukan karena hobby, mungkin ia sudah akan kabur keluar dari gedung yang terasa seperti kurungan itu. Alasan demi Ayah hanyalah alasan sampingan. Alasan utamanya mengambil pekerjaan ini karena ia benar-benar tertarik. Walaupun tubuhnya tergolong kecil dan parasnya manis, Yoo-jin sebenarnya adalah seorang gadis adventurer yang penuh rasa ingin tahu.

Memang informasinya belum menyebar luas tetapi Yoo-jin tahu sudah semenjak beberapa tahun lalu ada kejadian-kejadian aneh yang dengan sengaja ditutup-tutupi oleh pihak pemerintah. Ya, ia mendengar hal ini dari pamannya, Choi Jung-hyun yang adalah seorang anggota militer.

Yoo-jin menghela napasnya dan membiarkan kepalanya yang semula terkulai berbaring di atas meja lab yang berukuran besar dan panjang. Meja itu terasa dingin namun Yoo-jin tidak peduli. Ia butuh beristirahat sejenak, walaupun hanya bagian kepala saja, ia merasa cukup.

Keadaan seperti ini benar-benar tidak menyenangkan bagi Yoo-jin. Awalnya ia sudah merasa amat senang karena ia tidak harus bekerja bersama dengan orang lain namun ketika ia masuk ke ruang I-001, rasa senangnya langsung menghilang karena di dalam ruangan itu ada empat orang lain yang juga sama sepertinya, orang-orang di tempat kerja menyebut orang sepertinya sebagai solo researcher. Ia tidak mengerti bagaimana mereka bisa berbagi ruangan dan fasilitas lab sementara mereka bekerja sendiri-sendiri. Kalau Yoo-jin, jelas ia belum terbiasa dengan hal itu. Ia mengharapkan satu ruangan untuk satu orang researcher.

Ano. Kau tidak apa-apa?

Telinga Yoojin yang sudah mulai cepat tanggap terhadap berbagai bahasa, mengidentifikasi pertanyaan yang baru diberikan oleh seorang pria di dalam ruangan sebagai bahasa Jepang. Karena posisi kepalanya yang benar-benar bertemu dengan meja, Yoo-jin tidak menyadari bahwa pria tersebut tengah bertanya kepadanya sehingga ia hanya diam, tidak menjawab.

Permisi… Apa kau baik-baik saja?

Yoo-jin terlonjak, benar-benar terlonjak, karena merasakan sentuhan pada bahu kirinya. Ekspresi kagetnya dibalas oleh ekspresi heran oleh pria yang tadi menyentuh bahunya.

Ah, maafkan aku! Aku baik-baik saja.” Yoo-jin merespon.

Beberapa detik berlalu dan Yoo-jin yang merasa tidak enak mulai menyibukkan dirinya sementara pria tadi menarik sebuah kursi dan duduk di samping Yoo-jin.

Kalau kau lelah ada baiknya kau beristirahat.

Pandangan Yoo-jin yang semula berfokus pada lensa mikroskop kini tertuju kepada pria yang baru saja dengan amat lembut menyuruhnya untuk beristirahat. Sambil tersenyum Yoo-jin menggelengkan kepalanya. Ia tidak butuh istirahat untuk saat ini, tadi saja sudah cukup, walaupun hanya sebentar. Senyuman yang terlukis di bibir pria itu seolah menular pada Yoo-jin yang balas tersenyum.

Yoo-jin kembali berfokus pada lensa mikroskop namun nampaknya pria berkebangsaan Jepang itu belum bisa berfokus kembali pada pekerjaannya. Ia benar-benar penasaran pada Yoo-jin, seorang gadis muda -terlihat dari tampangnya- yang sudah dengan tekad bulat memutuskan untuk menjalani pekerjaan berat yang ia lakukan selama beberapa tahun terakhir.

Namamu siapa?

Pandangan Yoo-jin kembali teralih ke pria Jepang yang duduk di samping kirinya itu. Dalam hati Yoo-jin sudah berteriak agar pria itu berhenti merusak konsentrasinya, namun dalam hati ia merasa iba. Pekerjaan ini sangatlah berat, siapa pun, bahkan orang seperti dirinya, pasti membutuhkan teman berbicara.

Namaku Yujin.” Sahut Yoojin. Kini ia memutuskan untuk tidak segera kembali berfokus pada lensa mikroskop, menunjukkan kesopanan.

Senang bertemu denganmu! Namaku ada-

Satoshi-san! Kemarilah sebentar!

Yoo-jin mengerjapkan kedua matanya. Bahasa Jepang yang baru dilontarkan oleh salah seorang pria lain cukup cepat sehingga Yoo-jin tidak berhasil menangkapnya. Namun dari wajah pria itu ia tahu ada sesuatu yang sangat penting.

Baiklah Takeshi-san!” Pria di hadapan Yoo-jin kemudian beranjak dari tempat duduknya dan membungkuk sekilas ke arah Yoo-jin, “Saya permisi dulu Yujin-san.

Yoo-jin mengangguk cepat. Sebenarnya kalau harga dirinya tidak setinggi ini Yoo-jin pasti sudah ikut bersama pria tadi untuk menghampiri keduanya yang tengah bergerumul di sisi lain ruangan tempat mereka berada untuk mengetahui apa yang baru saja salah seorang dari mereka temukan.

.

.

.

.

.

Yoo-jin dapat mendengar detak jantungnya sendiri. Ia merasa panik. Sudah sejak beberapa menit lalu ia terus menyusuri lorong namun tidak menemukan kantin yang disebut-sebut oleh researcher lain yang berada dalam ruangan yang sama dengan dirinya. Ia sangat menyesal. Kalau saja ia tadi ikut ketika diajak. Saat itu permasalahannya bukan karena harga diri tetapi karena Yoo-jin akhirnya berhasil mendapat sedikit informasi dari partikel yang sudah berjam-jam ia amati.

‘Bukan berasal dari benda padat… Aku jadi penasaran.’

Sambil memegangi perutnya yang mulai terasa perih, Yoo-jin akhirnya memutuskan untuk memutar arah, berencana untuk kembali sambil berharap ia tidak akan tersesat lagi.

‘Ah, aku lapar…’

Ketika Yoo-jin baru saja hendak memikirkan tentang partikel tadi, sebuah tangan yang kokoh menarik pergelangan Yoo-jin cukup kuat dan hal itu menyebabkan rasa sakit yang bukan main.

“Aduh!” Yoo-jin meringis.

Di hadapannya berdiri seorang lelaki yang tidak mengenakan jas lab. Yoo-jin mengenali lelaki itu. Ketika pertama kali masuk ke dalam gedung, lelaki itu dan beberapa lelaki lainnya berdiri di bagian depan gedung.

‘Kenapa bisa ada di dalam? Apa sedang berganti shift?’

Lelaki tersebut mempercepat langkahnya, tidak melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Yoo-jin. Kekuatan lelaki itu sangat besar sehingga Yoo-jin tidak bisa berbuah apapun selain mengekor di belakang. Keadaan cukup membuat Yoo-jin heran. Tidak seperti lorong-lorong yang lain, lorong ini sangat hening dan bahkan sama sekali tidak ada ruangan dengan kaca tembus pandang. Ia dapat mendengar derapan kaki mereka dan hembusan napas mereka. Ia baru menyadari betapa menyeramkannya lorong tempat dirinya tersesat.

Setelah keduanya berada cukup jauh dari lorong tadi, lelaki itu melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Yoo-jin dan hal itu disambut Yoo-jin dengan sukacita.

Kau kenapa bisa ada di sana?” Lelaki itu, tanpa memperkenalkan dirinya, melontarkan pertanyaan pada Yoo-jin yang sedang mengelus-elus pergelangan tangannya yang terasa sakit.

‘Ah, orang Jepang lagi.‘ Batin Yoo-jin.

Aku tersesat… Aku berniat menuju ke kantin.

Kantin ada di sisi gedung yang satunya. Ayo, kita bersama-sama ke sana.

Yoo-jin melangkahkan kakinya menyusul si lelaki security guard yang sudah berjalan mendahuluinya. Siapapun termasuk Yoo-jin tidak akan menyangka bahwa lelaki dengan ukuran tubuh yang tidak terlalu besar itu ternyata memiliki kekuatan yang sangat besar dan dengan kedua kakinya yang tidak begitu panjang itu ia dapat melangkah dengan cepat.

Keadaan kantin sangat ramai. Yoo-jin tidak bisa menyalahkan siapapun kalau ia tidak kebagian tempat duduk, atau lebih buruk lagi -tidak kebagian makanan- karena memang sudah waktunya makan siang. Kalau saja ia tidak tersesat tadi saat ini pasti ia sudah duduk di salah satu tempat di dalam kantin sembari menyantap makan siangnya.

“Astaga…” Tanpa sadar Yoo-jin bergumam. Suaranya cukup besar sehingga si lelaki security guard yang berdiri tidak jauh di depannya bisa mendengarnya.

“….”

Yoo-jin membalas tatapan yang diberikan si lelaki security guard dengan kerjapan mata. Ia tidak tahu apa maksud dari tatapan yang diberikan kepadanya itu sehingga ia tidak tahu harus berbuat apa selain mengerjapkan kedua matanya secara bersamaan sebanyak dua kali.

Kalau diperhatikan, Yoo-jin merasa si lelaki security guard itu memiliki baby-face dibandingkan security guard manapun yang sudah ia jumpai di gedung. Ia memperkirakan usia lelaki itu jauh lebih muda daripadanya. Yoo-jin bertanya-tanya dalam hati apa yang membuat lelaki dengan waktu hidup yang masih panjang itu memutuskan untuk mengambil pekerjaan berbahaya. Kalau hanya untuk memenuhi rasa petualang rasanya terlalu berlebihan.

Lamunan Yoo-jin pecah ketika ia mencium aroma sedap makanan yang terasa sangat dekat dengannya. Begitu sadar, sebuah piring berisi makanan disodorkan oleh si lelaki security guard tadi. Rasa shock seolah menyumbat sistem pernapasan Yoo-jin. Ia shock mengetahui fakta betapa cepatnya lelaki tadi bergerak dan juga fakta bahwa ia sangat peka terhadap masalah orang lain.

“Makanlah sebelum dingin.”

Tatapan yang seolah mengatakan “bolehkah?” diberikan Yoo-jin pada lelaki yang berada di hadapannya itu dan lelaki itu mengangguk sebagai respon. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Yoo-jin yang sudah kelaparan mengambil alih piring.

Tak lupa, sambil tersenyum lebar Yoo-jin mengucapkan,“domo arigatou gozaimasu.”

Iklan

Satu tanggapan untuk “Tell Me Why (Chapter 1)

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s