Can’t We Stay Together? (1/2)

cant-we-stay-together

poster credit to Quenbyxx@HSG

Title : Can’t We Stay Together? (A Sequel of Take Me to My Mom!)

Length : Twoshots

Genre : AU, Family, slight!Comedy, slight!Friendship

Rating : g

Starring

SEVENTEEN Vernon as Vernon

Doogi PD as Doogi/Dad

OC as Wendy/Mom

Buckwild’s Andup as Andup

OC as Evi

Phantom Sanchez as John

Ah musim panas memang menyenangkan.

Aku duduk bersantai di ruang tengah sambil menonton TV. Temperatur AC yang ku atur menjadi 18 derajat Celcius makin membuat kondisi terasa nyaman. Aku menyenderkan tubuhku pada sofa sedangkan ibu jari kananku menekan-nekan tombol pada remote, mengganti-ganti channel TV.

 

I’m home.”

 

Oh, welcome home Doogi.”

 

Aku dapat mendengar dengan jelas suara Doogi yang sedang berada di dapur dan membereskan barang-barang belanjaan. Tak lama kemudian aku merasakan sofa yang kududuki sedikit amblas karena Doogi sudah duduk di sebelahku, ia juga menyenderkan tubunya di sofa.

 

“Ck, mengganggu sekali. Sofanya amblas tahu! Kau pikir dirimu ringan ya?” Aku menggerutu karena well tentu saja sofa amblas tidak lagi membuatku merasa nyaman.

 

“Yang namanya sofa kalau diduduki pasti amblas.” Entah mengapa sahutan Doogi itu makin menyulut emosiku.

 

“Ya tapi kan sebelum kau duduk di sebelahku sofanya tidak amblas sampai begini!” Aku menduduk-duduki sofa dengan marah untuk membuktikan pada pria keras kepala yang adalah ayahku ini kalau sofa benar-benar menjadi amblas.

 

“Kau saja yang pindah, aku malas bergerak.” Doogi semakin menyenderkan tubuhnya pada sofa.

 

“AKU BERENCANA BEGITU!”

 

Aku pindah dan menduduki sofa yang berada di sebelah kiri. Sebenarnya semua sofa di ruang tengah nyaman hanya saja posisinya tidak begitu nyaman untuk menonton TV.

 

“Ck, Doogi ayolah!” Dengan kesal aku mulai melemparinya dengan bantal bantal sofa yang ukurannya cukup kecil namun keras.

 

Doogi hanya terkekeh, ia kemudian melihat ke arahku dan menjulurkan lidahnya. Demi apapun, aku menyesali keputusanku untuk tidak tinggal dengan mom. Aku tidak habis pikir mengapa Doogi benar-benar kekanakan. Apa mungkin dulu ia mengalami cedera kepala?

 

.

.

.

 

Tanpa harus melihat cermin aku tahu bahwa kini kedua mataku terbelakbak. “Summer camp? Apa kau gila Doogi? Aku tidak mau!”

 

“Memangnya ada apa dengan Summer camp? Tidak begitu buruk bukan? Lagipula jauh lebih baik melakukan kegiatan daripada hanya duduk duduk di siang hari.”

 

“Hey! Ja-“

 

“Kau yang bilang sendiri kan waktu itu,”

 

Aku mengerang frustasi. Aku ingat mengucapkan kata-kata itu waktu umurku 5 tahun ketika musim dingin, tapi itu hanya karena aku ingin bermain salju di luar. “For Gods’ sake! Ini adalah musim panas Doogi. S-U-M-M-E-R!!”

 

Doogi mengalihkan pandangannya ke arah TV seolah ia mengabaikanku. Pria berusia 35 tahun itu mulai tertawa kencang ketika melihat adegan Spongebob berubah menjadi siput di layar kaca. Aku mengambil remote yang bertengger di meja yang dikelilingi sofa dan menekan tombol power sehingga TV pun padam. Dengan sedikit keras aku membanting remote kembali ke atas meja dan aku berjalan memasuki kamarku.

 

Begitu memasuki kamar, kasur empukku seolah menggodaku untuk menghampirinya dan tidak dapat melawan hasratku akhirnya aku menghempaskan diriku di atasnya dengan posisi tengkurap.

 

Aku bukannya benci summer camp, hanya saja tiga tahun lalu, berarti ketika usiaku masih 10 tahun, aku mengikuti sebuah summercamp yang diadakan oleh pihak sekolah dan aku mendapatkan pengalaman buruk. Baju yang kubawa kurang sehingga aku terpaksa meminjam baju temanku yang membawa baju lebih. Memang sih itu hari terakhir summercamp tetapi sialnya temanku itu perempuan. Aku masih ingat (bahkan mungkin bajunya masih ada padaku) baju itu berwarna pink dan ada gambar Hello Kitty yang cukup besar di bagian depan. Mengingat hal itu saja cukup membuatku lelah dan secara perlahan aku menutup kedua mataku.

 

.

.

.

 

Helaan napas panjang aku keluarkan dari mulutku ketika Doogi masih memelukiku padahal bus Summer Camp sudah berada di depan. Aku menepuk-nepuk pundak Doogi mengisyaratkan kalau aku akan baik-baik saja, dengan perlahan aku merasakan pelukan pada tubuhku mengendur dan mengendur. Setelah pelukkannya lepas sepenuhnya aku langsung berjalan menuju ke bus berwarna kuning yang menungguku di seberang jalan.

 

Ketika memasuki bus aku merasakan ada tatapan yang tidak mengenakan berasal dari seorang anak laki-laki yang, well, aku tidak tahu pasti tetapi sepertinya ia lebih tua beberapa tahun daripadaku. Wajahnya mengingatkanku pada Squidward dan aku pun tanpa sadar tertawa kecil.

 

Aku menghela napas seraya menduduki bangku kosong yang berada si samping jendela. Kalau dipikir-pikir aku sendiri bingung kenapa aku berangkat, mungkin karena ketika itu aku sedang berpikir bahwa lebih baik melawan ketakutanku daripada harus lelah berebut TV dengan Doogi. Entahlah, aku sendiri tidak habis pikir, namum yang jelas sekarang aku sedang duduk di dalam bus yang akan membawa kami semua yang berada di dalamnya ke lokasi Summer Camp.

 

“Permisi, apa boleh aku duduk di sini?”

 

Pandangan mataku langsung beralih dari jendela menuju ke sumber suara. Aku langsung mengangguk pelan mengiyakan ketika aku menangkap sosok seorang gadis yang amat manis. Jantungku berdegup kencang ketika gadis berponi agak tebal itu duduk di sebelahku. Ya Tuhan! Aku merasa seperti sedang menaiki wahana jet coaster di taman bermain!

 

“Ah iya sebelumnya kenalkan, namaku Evi.” Ia mengulurkan tangannya padaku.

 

Tanpa menunggu lebih lama aku membalas uluran tangannya dan menjabatnya pelan. “Hi Evi. Namaku Vernon.” ujarku sambil memamerkan senyum khasku yang dapat membuat para anak perempuan di kelasku terpesona.

 

Evi balas tersenyum dan aku bersumpah rasanya bagaikan diberikan tandatangan oleh idola favoritmu.

 

“Hey, Evi! Kau tahu yang duduk di sebelahmu itu… Siapa namanya?” Tiba-tiba saja anak laki-laki berwajah mirip Squidward itu berujar sambil menoleh ke teman-temannya yang duduk mengelilinginya.

 

“Namanya Vernon, Andup.” Aku dapat mendengar dengusan kecil ketika Evi berujar.

 

“Ah iya, Vernon. Dia itu seorang daddy-boy. Hahaha!” Andup tertawa diikuti teman-temannya membuatku memutar kedua bola mataku.

 

“Vernon, kau sebaiknya tidak usah menghiraukannya. Dia memang tidak jelas.” Bisik Evi padaku kemudian ia tertawa. Seolah terhipnotis, aku pun ikut tertawa.

 

.

.

.

 

Aku dan para anak lain yang mengikuti Summer Camp berbondong-bondong turun dari bus menuju ke lokasi Summer Camp. Walalupun aku tidak jago dalam pelajaran Matematika, aku dapat memperkirakan jumlah anak-anak yang mengikuti Summer Camp ini. Sekitar 200an anak.

 

“Ayo semuanya berkumpul!”

 

“Kalian akan di bagi ke dalam beberapa kamar. Untuk yang laki-laki kamar kalian akan berada di sebelah sana!” Aku mengikuti arah jari panitia menunjuk dan aku melihat sebuah rumah kayu yang berukuran cukup besar, well, setidaknya lebih besar dari rumahku.

 

Bersamaan dengan anak laki-laki lain, aku berjalan ke arah rumah tersebut sambil menggendong tas milikku.

 

Satu demi satu pintu kamar sudah aku cek, dan yang di hadapanku ini adalah pintu kedelapan. Dengan penuh harap aku menyisiri list nama yang ada di secarik kertas yang tertempel di pintu.

 

‘Hm. Vernon. Vernon. Sial! Tidak ada juga!’

 

Aku kembali berjalan menyusuri lorong dan dari kejauhan aku dapat melihat secarik kertas di pintu kesembilan tidak sepanjang list di pintu-pintu lainnya. Setelah aku sampai di depan pintu kesembilan, aku bernapas lega melihat ada namaku di sana dan tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke dalam. Di dalam kamar belum ada siapa-siapa dan hanya ada sebuah bunkbed, seketika itu juga feelingku tidak enak.

 

Aku meletakkan tasku dan membuka pintu, menyusuri list nama yang ternyata hanya ada dua orang. Memang sih sebenarnya ada lima nama tetapi tiga buah nama dicoret yang berarti mereka batal mengikuti Summer Camp ini. Rasanya aku ingin menarik kembali helaan napas lega yang tadi sempat aku keluarkan. Aku melihat nama Andup di dalam list itu. Itu adalah nama milik si anak laki-laki dengan wajah mirip Squidward yang sepanjang jalan mengejekku. Memang sih ketika Doogi memelukku rasanya memalukkan karena aku bukan lagi anak kecil, tetapi tetap saja si alis nyambung itu tidak seharusnya mengejekku. Aku adalah anak satu-satunya dan aku rasa tak ada salahnya bagi seorang ayah untuk menghilangkan kekhawatirannya dengan memeluk anaknya.

 

Sebuah ide cemerlang, begitulah menurutku, tiba-tiba melintas di benakku, Aku menengok ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada siapa-siapa sebelum akhirnya aku mencabut kertas dari pintu, membawanya masuk ke kamar, melipatnya, dan kemudian memasukkannya ke dalam tas milikku.

 

Mission completed.’

 

Aku melemparkan tas milikku ke ranjang bagian atas bunkbed dan kemudian dengan langkah ringan aku melangkah keluar kamar sambil bersiul-siul.

 

.

.

.

 

“Kau belum menemukan kamarmu Andup?”

Aku mengintip keluar ketika mendengar suara salah seorang panitia Summer Camp di lorong, aku penasaran dengan apa yang terjadi apalagi karena panitia itu membawa-bawa nama Andup. Dari jarak ini aku dapat melihat sosok Andup yang masih menggendong tas cukup jelas.

‘Masih membawa tas? Mengapa ya?’

Aku kemudian ingat bahwa tadi aku menyobekkan kertas list nama yang tertempel di depan pintu kamar. “Ah, iya ya!” aku bergumam.

“Kalau di daftarku kau seharunya di kamar nomor sembilan. Ayo, ikut aku!”

Aku buru-buru menutup pintu namun secara perlahan karena tidak ingin mengeluarkan suara. Tanpa menunggu lebih lama aku langsung melompat naik ke bunkbed atas dan berpura-pura sedang membereskan baju-baju di dalam tasku. Ketika mendengar suara pintu dibuka, aku langsung menoleh ke arah pintu dan aku berusaha semampuku untuk memberikan tatapan heran.

“Oh, hi.” Aku menyapa Andup dan panitia Summer Camp yang mengantarkan Andup ke dalam kamar.

Aku menutup rapat mulutku, mencegah tawaku keluar. Aku tidak tahan melihat ekspresi pada wajah Andup. Kalau ekspresinya terus seperti itu, bisa-bisa aku mengubah namanya menjadi Anddown.

Suara pintu yang ditutup sempat membuat jantungku berdegup keras karena aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Andup padaku -terlebih apabila Andup mengetahui bahwa aku tadi sengaja menyobek kertas berisi list nama yang tertempel di pintu.

“Kenapa kau bisa tahu kamarmu di sini padahal di depan pintu tidak ada tempelan list nama?” tanya Andup, ekspresi pada wajahnya belum berubah.

Aku memberikan tatapan heran pada Andup. “Jangan konyol. Mana bisa aku tahu ini kamarku kalau tidak ada list nama di depan pintu?” Aku melompat turun dan berjalan ke arah pintu.

“Tuh! Li-” Aku membuka pintu dan aku pura-pura kaget ketika tidak melihat kertas list nama.

“Lho? Kok aneh ya? Padahal tadi ada…” gumamku pelan sembari kembali menutup pintu.

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s