Take Me to My Mom!

TPT

Title : Take Me to My Mom!
Length : Oneshot
Rating : T
Starring
Seventeen Vernon as Vernon

.

.

.

.

Vernon menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sudah lebih dari satu jam lamanya ia menunggu Doogi menjemputnya. Gedung sekolah sudah hampir kosong, dan Vernon bukan main kesalnya. Ia benar-benar membenci Doogi. Menurutnya pria itu selalu saja ingkar janji. Tadi pagi ia berjanji akan sudah ada di gerbang sekolah ketika Vernon pulang nanti tetapi nyatanya. sampai sekarang pun batang hidungnya belum terlihat!

Aish! Yang benar saja! Aku ingin tidur dan aku lapaaar!” Vernon menggerutu sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.

Tingkah lakunya yang seperti itu menarik perhatian Alex, teman sekelas Vernon.

“Hey Vernon. Kau kenapa bro?”

“Oh, hey Alex. Aku sedang kesal, ya, sangat kesal.” ujar Vernon.

“Kau kesal kenapa eh? Cerita padaku.” Alex duduk di samping Vernon sambil menepuk-nepuk pundak Vernon.

Vernon menghela napas panjang. Walaupun ia kesal pada Doogi tetapi ia ragu untuk menceritakan hal tersebut kepada orang lain karena Doogi….

“VERNON! MAAF AKU TERLAMBAT!” suara keras milik seorang pria menggema di aula tempat Vernon dan Alex duduk. Beberapa anak lain yang masih berada di aula tercengang, semua mata menuju ke arah Vernon.

Anak laki-laki tampan itu hanya bisa menghela napas, sangat panjang, sambil menepukkan telapak tangannya pada keningnya yang bisa dikatakan lebar itu.

“Un-tuk a-pa ka-u ber-te-ri-ak se-per-ti i-tu.” ucap Vernon dengan menekankan tiap suku kata ketika ia memasuki mobil bersama dengan pria yang ia panggil Doogi itu.

“Hahaha maafkan aku. Aku hanya sangat lega kau belum pulang terlebih dahulu.” sahut Doogi sambil menyalakan mesin mobil.

Vernon memutar kedua bola matanya seolah mengatakan “Terserah saja.”

Setelah mobil mulai melaju, Vernon segera menyalakan radio dan memasangkannya volumenya hingga maksimal. Tidak tahan dengan suara berisik dan keras yang berasal dari radio, Doogi mematikan radio dan Vernon melemparkan tatapan galak pada pria itu.

“Kenapa kau matikan sih!?” tanyanya ketus.

“Karena berisik tentu saja!” sahut Doogi tak kalah ketus.

“Kau tahu apa? Kau lebih menyebalkan dari guru P.E, Doogi. You are the worst!”

Bertepatan dengan lampu lalu lintas yang menjadi merah, Doogi mengerem mobil dan dengan mulut menganga ia menghadap ke arah anak laki-laki yang kini memberikannya tatapan super tajam dengan dahi yang berkerut. Doogi kemudian mendaratkan jitakan di kepala Vernon.

“Bisakah kau tidak memanggilku Doogi?”

“Kau lupa? Dulu kau yang menyuruhku!” sahut Vernon sambil mengelus-elus kepalanya yang terasa sedikit sakit itu.

Doogi mengerang frustasi. Memang benar dirinya lah yang menyuruh Vernon untuk memanggilnya Doogi tetapi seiring berjalannya waktu, ia rasa ia membutuhkan sesuatu. Ya, ia ingin sekali untuk dipanggil…

Daddy? Kau ingin aku memanggilmu itu!?” nada suara Vernon meninggi.

“Tepat sekali. 100 untuk Vernon.”

Vernon bergidik. Hanya baru kali ini pikiran seperti itu melintas di benaknya. Sedari ia kecil, ia tinggal dan dibesarkan oleh Doogi, ayahnya. Vernon ingat betul saat pertama kali pria yang lebih tua daripadanya itu menyuruh Vernon untuk memanggilnya dengan sebutan bro. Tentu saja Vernon menolak. Panggilan bro terlalu tidak pantas untuk memanggil seorang ayah. Dan akhirnya Vernon memutuskan untuk memanggilnya Doogi sesuai yang diperintahkan.

Kalau boleh jujur, dulu sekali Vernon sangat ingin untuk memanggilnya dengan sebutan daddy atau dad namun hal itu seringkali ditolak oleh Doogi sehingga kini ia terbiasa untuk memanggilnya Doogi. Rasa untuk memanggilnya dad atau daddy sudah lama hilang.

Seriously, Doogi. Apa yang merasuki pikiranmu? Dulu kau yang bersikeras menyuruhku untuk memanggilmu Doogi.Tidak, tidak! Bahkan lebih parah! Dulu kau ingin aku memanggilmu bro!” Vernon bergegas turun dari mobil sambil menggendong ranselnya ketika mobil sudah terparkirkan di pekarangan rumah.

“Ya, ya. Kau memang benar. Hanya saja…”

“Hanya saja apa?”

Well aku tidak tahu ini efek umurku yang menua atau apa tetapi aku merasa bahwa hubungan kita akan lebih seperti keluarga kalau kau memanggilku daddy.”

Vernon memicingkan matanya sebagai respon dari pernyataan ayahnya itu. Ia benar-benar tidak tahu sejak kapan ayahnya mempunyai pikiran seperti itu. Sepengetahuannya, alasan ayahnya dulu menolak untuk dipanggil dad atau daddy adalah karena perbedaan umur mereka yang tidak terlalu jauh layaknya ayah-anak lain.

[Vernon’s POV]

Aku masuk ke kamarku dan meletakkan tasku di atas meja belajar sebelum akhirny aku berbaring di kasur. Hari ini benar-benar melelahkan. Belum pernah aku merasa lelah seperti ini. Alasan utamanya adalah karena tadi di kelas bahasa semua murid diharuskan membuat karangan deskriptif mengenai ibu. Seumur hidupku aku belum pernah bertemu dengan ibuku. Well mungkin ketika aku masih bayi aku pernah bertemu dengannya tapi tidak ada satupun tentangnya yang menempel pada ingatanku. Ketika kelas tadi aku benar-benar menguras otakku. Aku berharap karangan deskriptifku mengenai ibuku tidak akan terlalu meleset.

Lalu, ada lagi alasan mengapa aku merasa lelah seperti ini. Ini bisa dikatakan alasan sampingan. Ya, karena pikiran aneh Doogi tadi. Aku benar-benar berpikir, atau mungkin saja sebenarnya tadi aku terkena serangan jantung di otak. Dasar orang tua macam apa dia sebenarnya?

Aku harus akui bahwa aku bukanlah tipe pemikir seperti Sherlock Holmes dan kawan-kawan ciliknya, laskar Baker Street, tetapi bayangkan saja siapa yang tidak lelah menguras otak sebanyak dua kali berturut-turut dalam sehari?

“Hey! Vernon! Ayo kita makan!”

Terus terang saja tadi aku merasa lapar, tapi sekarang aku malah merasakan kantuk dan ingin tidur saja.

“Nanti aku menyusul Doogi.” sahutku sambil memejamkan mataku.

oOOo

Aku merasakan hawa dingin menyelimuti tubuhku.

‘Ada apa ini? Kok dingin sekali. Rasanya tadi aku tidak menyalakan AC.’

Dengan amat perlahan aku membuka mataku dan ketika aku mengubah posisiku menjadi posisi duduk, PLUK. Sebuah kompresan terjatuh. Nampaknya kompres itu berasal dari keningku karena ketika tadi kusentuh keningku terasa dingin.

BRUK!

Aku melongo kaget ketika daun pintu terbanting terbuka. Karena posisi tempat tidurku yang menghadap ke arah pintu aku dapat melihat dengan jelas bahwa Doogi lah yang berada di balik pintu. Wajahnya tampak pucat pasi. Menurutku ekspresinya saat ini seperti baru dikejar-kejar hantu.

“Hey apa-apaan ekspresim-” Aku tidak dapat melanjutkan ucapanku karena Doogi kini berada di depanku dan ia memelukku dengan erat -atau bisa dikatakan terlalu erat.

“Hey! Hey! Apa-apaan kau?!”

[End of Vernon’s POV]

.

.

.

“Apa? Jadi tadi kau pikir aku pingsan karena demam? Kau…” Vernon menarik-narik rambutnya sendiri saking ia tidak mengerti lagi jalan pikiran Doogi.

Sejenak pikiran apakah semua ayah di dunia ini seperti ayahnya melintas di benaknya.

“Hey! What is your intention?” Doogi menghela napas sambil menopang dagunya.

“Aku benar-benar khawatir tahu. Aku pikir kau benar-benar demam karena seperti yang sudah aku katakan tadi! Kau berkeringat, Vernon.”

Vernon mengetukkan kepalanya sendiri ke atas meja.

“Astaga,, aku berkeringat kan karena cuaca panas….” gumam Vernon pelan.

.

.

.

[Doogi’s POV]

Aku mengintip dari celah pintu kamar Vernon dan aku bisa melihatnya tengah tertidur lelap. Wajahnya ketika tidur benar-benar seperti malaikat. Ah, maksudku ketika ia terjaga pun ia terlihat seperti malaikat hanya saja kalau terjaga mulutnya itu membuatnya tidak seperti malaikat. Aku rasa sepertinya hari ini dia benar-benar lelah. Apakah mungkin karena pelajaran P.E nya hari ini? Apakah ia dihukum dan disuruh berlari mengelilingi lapangan sebanyak tujuhbelas kali?

Hari ini ia tidak bercerita banyak mengenai kegiatannya di sekolah tetapi, hey, aku adalah ayahnya. Ia tidak bisa menyembunyikan bahwa ia benar-benar merasa tertekan hari ini.

Dentangan jam yang menunjukkan bahwa sekarang sudah pukul 22.00 membuatku kaget, aku nyaris terlunjak. Kulirik piano yang berada di ruang tamu yang letaknya dekat dengan kamar tidur Vernon. Kenangan hanyalah kenangan bukan? Dulu sekali, jauh sebelum Vernon lahir, keadaan rumah tidak pernah sesepi ini, selalu saja ada suara piano yang memenuhi rumah.

[End of Doogi’s POV]

oOOo

Suasana tenang pagi hari benar-benar musnah dari rumah yang ditempati oleh Vernon dan ayahnya. Vernon sebenarnya sudah terbangun ketika ia mendengar suara dentaman keras dari kamar ayahnya namun ia memutuskan kembali untuk tidur karena tadi masih pukul lima lewat limapuluh lima menit. Siapa sangka usahanya untuk kembali tidur itu sia-sia ketika…

-Pukul 6:00-

KLONTANG!

Terdengar suara alat-alat masak dan mungkin alat makan yang berjatuhan ke lantai dapur. Dengan gusar Vernon bangun seraya mendorong selimut yang semula menutupi tubuhnya. Dengan langkah yang dihentak-hentakkan Vernon berjalan menuju ke dapur sambil menenteng sebuah guling.

“Tsk. Doogi, apa sih yang kau lakukan?” ujar Vernon ketika melihat kekacauan yang terjadi di dapur.

Bau gosong omelette tercium, tong sampah penuh dengan cangkang telur, spatula  tegeletak di pinggiran kompor, pan sudah berada di atas meja bersebelahan dengan piring-piring kosong namun api di kompor masih menyala.

“Astaga! Kau belum bersiap? Ayo lekas mandi! Nanti kau terlambat sekolah!” Doogi mendorong Vernon kembali ke kamarnya.

“Hey, Doogi.” Dengan calm Vernon memutar tubuhnya menghadap Doogi.

“Hari ini kan Sabtu.”

Kedua mata Doogi terbelakbak dan seketika itu juga tubuh Doogi terasa lemas. Memar yang ia peroleh karena terjatuh dari ranjang sia-sia.

Vernon menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. Ia benar-benar tidak paham. Dalam seumur hidupnya, hal seperti ini tidak pernah tidak terjadi. Perlahan ia mendaratkan tepukan-tepukan ringan pada bahu Doogi. “Tidurlah lagi, Doogi.”

“Lalu nanti bangun lagi pukul tujuh untuk jogging. Begitu?”

Vernon mengangguk.

“Bagaimana kalau kita jogging sekarang saja Vernon? Kita sama-sama sudah bangun.”

“… Baiklah, baiklah. Kau tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu.”

oOOo

Vernon dan Doogi duduk di sebuah bangku taman, keduanya terengah-engah.

‘Bodoh.. benar-benar bodoh!’ batin Vernon dalam hati.

“Hey! Untuk apa kau lari secepat itu Doogi? Kita hanya berjogging bukan?”

Doogi mempercepat larinya sebelum membalikan tubuhnya menghadap kepada Vernon, sebuah seringaian muncul di bibirnya.

“Garis finish kita ada di tempat biasa. Kalau kau bisa berlari mendahuluiku sampai ke sana maka kau boleh memanggilku Doogi seumur hidupmu, tetapi kalau ka-“

“HEY! HEY! WATCH YOUR BA-” peringatan Vernon terlambat. Doogi sudah terlanjur menginjak ekor anjing Rottweiler yang berada di belakangnya.

Anak-anak taman kanak-kanak pun tahu kalau anjing paling tidak suka diinjak ekornya. Vernon menelan ludah sebelum ia berbalik arah dan berlari, kabur lebih awal.

GRRHH! WOOF! WOOF!

“KABUUUURRR!!!!” seru Doogi bukan main lantangnya.

“Ha..ha..hah.. A-aku tetap menang.” ujar Doogi.

“Hah? Yang benar saja? Kau memang sampai lebih dulu tapi ini bukan garis finish kita, Doogi.”

Doogi menengok ke kanan kiri untuk mematiskan namun benar apa kata anaknya, tempat mereka duduk sekarang bukanlah garis finish mereka.

“Hah.. hah… Kau benar son. Kita lupakan saja…” ujar Doogi seraya menyenderkan dirinya pada bangku taman.

.

.

.

Vernon meminum air dari keran taman, ia sudah tidak peduli lagi berapa banyak orang yang memerhatikan dirinya, ia benar-benar kehausan dan ia harus minum atau ia bisa terbujur lemas seperti ayahnya yang kini terbaring telentang di bangku taman.

“Permisi, maaf..” Vernon menoleh ke asal suara dan ia terbelakbak kaget. Ia kaget bukan karena si penghasil suara tetapi ia kaget karena anjing yang ia yakini adalah anjing yang tadi mengejarnya kini duduk manis di samping seorang wanita yang adalah penghasil suara.

“Mohon maaf sebesar-besarnya tadi Lucky mengejar-ngejarmu dan rekanmu seperti tadi.” Wanita itu membungkuk.

Vernon balas membungkuk walaupun seidkit canggung. Ini adalah Amerika, jarang sekali orang membungkuk ketika meminta maaf, kecuali orang itu adalah ketururnan Asia. Vernon tidak asing dengan tradisi bungkuk-membungkuk seperti ini karena well semua orang juga bisa melihat bahwa Doogi adalah keturunan Asia, entah Asia bagian mana.

“Ah haha tidak apa-apa. Itu karena kesalahan Doogi.” ujar Vernon sambil tertawa.

“… Doogi?” tanya wanita berambut coklat kemerahan itu.

“Ah maaf maksudku rekanku. Ya, namanya adalah Doogi.”

Wanita tersebut mengangguk-anguk tanda mengerti. “Lalu, kalau boleh tahu, namamu siapa, anak muda?”

[Vernon’s POV]

DEG! Kurasakan jantungku berdegup.

Aku tidak mungkin salah dengar. Jelas-jelas perempuan di hadapanku ini bilang anak muda. Kalau kuperhatikan wajahnya tidak seperti orang yang sudah berumur. Maksudku, hey! Dia terlihat jauh lebih menarik dibandingkan guru-guru di sekolahku dan juga tante-tante petugas kantin.

“Ah, ya, salam kenal, namaku Vernon.”

Aku berinisiatif mengulurkan tanganku, untuk beberapa saat perempuan di hadapanku itu tidak membalas uluran tanganku sampai aku berdehem, berpura-pura membersihkan tenggorokanku.

“Maaf. Namaku Wendy.” ia tersenyum ramah sambil menjabat tanganku.

Aku balas tersenyum kepadanya sambil terus menjabat tangannya. Aku memang belum cukup umur untuk tahu apa sebenarnya itu cinta namun aku merasakan getaran yang aneh ketika aku menjabat tangannya, dan juga senyumannya itu, oh rasanya mengingatkanku pada diriku sendiri.

“Ah iya sebagai permohonan maafku, bagaimana kalau siang ini kita bertemu di restoran A? Aku akan mentraktirmu hamburger. Kau suka hamburger kan?”

Mendengar kata hamburger membuat perutku yang masih kosong berbunyi. Aku… benar-benar malu.

“Ah maafkan aku haha mendengar kata hamburger membuatku lapar.” Aku menunduk tidak berani menatapnya, aku hanya bisa mendengar suara tawanya namun tidak wajahnya ketika tertawa.

“B-baiklah kalau begitu. Sampai jumpa, miss.” pamitku sambil berlari kecil kembali ke bangku taman tempat Doogi terkapar.

.

.

.

Aku tidak bisa menyalahkan siapapun. Aku terkurung di dalam kamarku sendiri karena ulahku. Aku tidak bisa berhenti tersenyum membayangkan hamburger yang akan masuk ke mulutku dan sikap penuh kebahagian itu disadari oleh Doogi. Memang dia bukanlah tipe super-dad tetapi tetap saja ia ayahku. Ia langsung menyadari ‘keanehan’ku dan ia menginterogasiku.

Kalau saja aku tidak kelepasan mengenai makan hamburger, aku pasti tidak akan terkurung seperti ini.

[End of Vernon’s POV]

[Doogi’s POV]

“Hey! Doogi! Let me out of here!” suara Vernon yang berasal dari dalam kamarnya diikuti oleh suara gedoran pada pintu kamarnya dapat terdengar jelas olehku yang sedang menonton TV di ruang tengah.

No way!” sahutku tak kalah keras.

Kasus paedophilia belakangan ini sering terjadi di negara tempat kami tinggal, Amerika. Aku tidak akan membiarkan anakku menjadi korban. Vernon terkadang bisa menjadi menyebalkan tapi orang tua mana yang akan diam saja apabila anak mereka terancam bahaya.

Aku menghela napas sebelum menaikkan volume TV. Suara Vernon sangatlah keras sehingga aku harus menaikkan volume. Mendengarnya merengek seperti ini tidaklah menyenangkan, ya, aku tidak mau mendengarnya merengek, apalagi menangis karena hal itu menyebalkan. Menyebalkan sekali karena tandanya aku adalah ayah yang buruk, ayah yang bahkan membuat anaknya sendiri merengek dan menangis.

Umurku dengan Vernon hanya berselisih kurang lebih 22 tahun. Dengan perbedaan usia seperti ini aku rasa pemikiranku dengan pemikirannya tidak akan berbeda jauh dan hal ini memang benar adanya ketika usianya masih 5 tahun tetapi sekarang ia sudah berusia 12 tahun dan entahlah, aku merasa seringkali pemikirannya malah jauh lebih dewasa dari pemikiranku.

Aku tidak pernah menyangka sendirian mengurus anak akan sesulit ini.

“Hey Vernon bisakah kau berhenti berteriak-teriak sambil menggedor pintu? Kau harus bertanggung jawab kalau pintu kamarmu roboh!”

“Otakmu itu terbuat dari apa Doogi? Cake? Tentu saja pintunya tidak akan roboh!”

[End of Doogi’s POV]

“Hal seperti itu tidak akan terjadi tahu! Anak sekecil diriku mana bisa membuat pintu roboh?!” bentak Vernon kesal sambil terus berteriak-teriak dan menggedor pintu.

Doogi menghela napas. “Kau tidak tahu bahkan hal yang sepertinya mustahil juga bisa terjadi.” gumamnya sangat pelan.

.

.

.

Sudah sepuluh menit berlalu namun Vernon masih juga terjebak di dalam kamarnya. Dengan gelisah ia melirik jam dinding kamarnya.

“Doogi! Lebih baik kau keluarkan aku sekarang!”

“Tidak!”

Tiba-tiba sebuah ide nakal terlintas di benak Vernon. Ia akan berpura-pura tidak akan pergi ke restoran A dan ketika pintu kamarnya dibuka ia akan langsung berlari keluar rumah, mengendarai skateboardnya dan melaju ke restoran A.

“.. Hey, Doogi. Tolong bukalah pintunya. Aku mengubah pikiranku! Aku tidak akan pergi ke restoran A. Ayolah.” ujar Vernon dengan menambahkan sedikit efek memelas pada suaranya.

Keadaan hening sementara.

“Yang betul ?” tanya Doogi dari luar sana memecah keheningan.

“Iya Doogi.” jawab Vernon.

‘Huh, aku tidak akan menyerah secepat itu, Doogi. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk makan hamburger… gratis!’

“….”

“….”

“Kau pikir aku tidak pernah muda Vernon?”

“Huh? Apa maksudmu?”

“Aku tahu begitu pintu dibuka kau akan langsung melesat pergi. Aku-tidak-akan-membukakan-pintu!”

“Argh! Terserahmu saja Doogi!” Vernon menendang pintu dengan kencang, menyebabkan rasa sakit pada kakinya.

“Aduduh,, aduhh..” ringis Vernon pelan sambil duduk di lantai dan mengusap-usap kakinya.

.

.

.

Vernon berguling-guling di kasurnya yang empuk. Ia masih memikirkan cara untuk keluar dari kamarnya dan pergi ke restoran A. Lampu kamar mandi yang masih menyala seolah memunculkan sebuah ide di kepalanya.

“Tunggu.. kalau tidak salah kan…” sambil tersenyum lebar ia berjalan memasuki kamar mandi.

Vernon menaiki meja wastafel dengan hati-hati. Di dalam hati ia terus berdoa agar tidak terjadi hal yang tidak-tidak pada dirinya sendiri dan juga pada meja wastafel yang ia naiki. Dengan sedikit berjinjit. Vernon berhasil membuka ventilasi yang terletak di atas sana dan ia mengintip ke luar. Senyuman girang terlukis di wajahnya.

Vernon menengok ke arah luar kamar mandi. “See you this afternoon, Doogi!” seringaian tersungging di bibirnya sesaat sebelum ia memanjat keluar melalui ventilasi.

oOOo

Vernon memasuki restoran A yang berjarak cukup jauh dari rumahnya namun ia mengendarai taksi sehingga waktu yang dibutuhkan hanya 15 menit. Sesampainya di sana tanpa ragu ia memasuki restoran dan duduk di salah satu tempat yang kosong. Senyuman lebarnya yang muncul semenjak ia kabur dari rumah masih juga belum hilang dari wajahnya.

“Vernon?”

Mendengar namanya dipanggil, ia pun menoleh. “Halo Wendy.” ujarnya, masih terus tersenyum.

“Apakah kau sudah menunggu lama?” tanya Wendy seraya menarik sebuah kursi yang letaknya berhadapan dengan kursi yang Vernon duduki.

“Tidak kok. Aku baru saja sampai.” jawab Vernon.

Wendy mengangguk-angguk. “Syukurlah. Mau pesan hamburger sekarang?”

Yeah, why not?” jawab Vernon semangat.

.

.

.

Vernon melahap hamburger yang tersaji di meja dengan lahap sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa perempuan di hadapannya itu kini sedang memperhatikannya dengan seksama.

“Mau tambah lagi?” tanya Wendy lembut.

“Boleh?” Vernon bertanya balik sambil memberikan tatapan polos.

Wendy tertawa. “Tentu saja boleh, kenapa tidak?” dengan perlahan ia menjulurkan tangannya dan membersihkan bekas saus yang mengotori sudut bibir Vernon.

oOOo

Doogi dengan panik menaiki mobilnya dan langsung melaju ke restoran A. Ia terus-terusan mengupati diirnya sendiri. Bagaimana ia bisa begitu ceroboh tidak mengunci pagar depan dan ia juga seharusnya tahu bahwa ventilasi di kamar mandi Vernon mengarah ke taman. Ia seharusnya tidak membiarkan hal ini terjadi.

“Ya Tuhan! Kumohon jangan biarkan sesuatu terjadi pada anakku!”

.

.

.

“Ngomong-ngomong, kau tadi datang cepat sekali. Padahal tadi masih pukul duabelas kurang seperempat.”

“Yah, aku tidak suka membiarkan orang menunggu. Kalau kau? Kenapa datang secepat itu?”

Vernon mengangkat kedua bahunya. “Sama sepertimu. Aku juga tidak suka membiarkan orang lain menunggu.”

“Berbeda sekali dengan ayahmu ya…”

“Iya berbeda sekali de-” Vernon tertegun, ia nyaris tersedak coke yang baru ia seruput.

Ia ingat betul tadi pagi waktu bertemu di tempat jogging ia sama sekali tidak menyebutkan Doogi sebagai ayahnya, ia menyebut Doogi sebagai rekannya. Keringat dingin mulai mengucur di kening Vernon. Apakah perempuan dihadapannya ini adalah stalker?

“Kau tahu tujuanku mentraktirmu adalah untuk meminta maaf bukan?”

Vernon hanya bisa mengangguk.

“Ada dua hal yang ingin kau maafkan…”

“Dua hal? Bukankah hanya karena tadi anjing peliharaanmu mengejar-ngejarku?”

“Itu yang pertama. Lalu yang kedua adalah”

“Jangan berbuat macam-macam pada anakku, dasar paedophil!” seiringan dengan itu, Wendy terdorong dari kursi yang ia duduki.

Vernon langsung berdiri dari tempat duduknya.

“Doogi? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Vernon, ia shock.

Kalaupun benar yang mentraktirnya adalah seorang paedophil seharusnya Doogi tidak perlu sekasar itu, itulah yang Vernon pikirkan.

“Aku datang untuk menye-” ucapan Doogi terpotong.

“Anakmu? Mungkin maksudmu.. anak kita?”

[Doogi’s POV]

Dengan panik aku menarik lengan Vernon.

“Aku datang untuk me-” belum selesai aku berbicara, aku mendengar suara perempuan yang baru saja aku dorong.

“Anakmu? Mungkin maksudmu.. anak kita?”

Suara itu.

Aku mengenalnya.

Aku langsung menoleh ke arahnya dan, ah, itu benar-benar dirinya.

“… Maaf, aku…” aku melepaskan genggamanku pada lengan Vernon dan menghampiri Wendy.

Dengan perlahan aku menyentuh pundaknya.

“A-aku benar-benar minta maaf.” ujarku lirih.

“Kau tidak apa-apa?”

Ia menggeleng. “Aku baik-baik saja. Hanya saja.. tadi itu cukup mengagetkan.”

“Anak kalian? Apa maksudnya?” Aku dapat mendengar suara Vernon.

Begitu aku menoleh, ia terlihat sangat marah. Aku tidak heran karena selama ini aku telah membohonginya. Ketika ia berusia empat tahun ia pernah bertanya padaku di mana ibunya. Dan waktu itu, aku sama sekali tidak bisa melupakan jawabanku, aku menjawab bahwa ibunya sudah pergi. Sepertinya si bodoh itu mengira pergi ke… tempat di atas sana.

“Kau selama ini membohongiku, Doogi? Oh my God I can’t believe this!”

[End of Doogi’s POV]

Vernon berlari meninggalkan restoran, ia tidak peduli lagi ia telah menabrak beberapa orang. Ia benar-benar kesal, ia benar-benar marah, dan yang pastinya ia merasa sangat kecewa pada Doogi. Tak pernah terpikirkan olehnya ayahnya itu membohonginya. Padahal selama ini ia selalu jujur kepada Doogi, tidak pernah ada satu kebohonganpun yang ia berikan kepada Doogi.

“Bodoh! Kau menyebalkan!”

Vernon terisak.

.

.

.

Doogi mengendarai mobilnya perlahan menyusuri jalanan kota yang untungnya tidak begitu ramai. Waktu sudah sore namun ia masih belum menemukan Vernon.

“Bodoh sekali.” ia bersungut-sungut namun tatapannya masih melekat pada orang-orang yang berlewatan, berharap salah satu dari mereka adalah Vernon.

Hari ini adalah hari Sabtu yang benar-benar tidak biasa. Dikejar-kejar anjing ketika jogging, bertengkar cukup besar dengan Vernon, dan sekarang ia kehilangan Vernon. Sudah tiga jam ia mencarinya namun hasilnya nihil.

“Vernon.. kau di mana?”

.

.

.

Vernon berjalan menuju ke rumahnya, ia terkejut ketika melihat mobil polisi berada di depan rumahnya. Dengan panik ia berlari masuk ke dalam.

“Ada apa ini?!”

Keadaan langsung hening.

“Astaga Vernon!” Doogi berlari mendekati Vernon dan langsung memeluknya erat.

“Syukurlah kau tidak apa-apa…”

Vernon mengatup rapat kedua bibirnya. Ia masih sangat kecewa pada Doogi sehingga ia tidak mau berkata sepatah katapun.

.

.

.

Hey DoogiYou know where she lived, right?”

Doogi diam, tidak menjawab.

Take me to her place.”

“Siapa yang kau maksud?”

Vernon memutar kedua bola matanya. Menurutnya saat ini Doogi berpura-pura terdengar seperti orang bodoh padahal sebenarnya saat ini pikiran Doogi benar-benar kacau, ia sangat lelah.

Take me to my mom!” Vernon sedikit membentak.

.

.

.

Vernon memasukan sebuah tas berukuran besar ke dalam bagasi mobil. Ia sudah membulatkan tekadnya. Ia benar-benar merasa tidak sanggup lagi tinggal dengan ayahnya. Ia sudah muak dengan sikap dan tingkah laku ayahnya yang menurutnya menyebalkan, ditambah lagi ia merasa dikhianati karena selama ini ia telah dibohongi.

Tanpa berkata apa-apa, Vernon membuka pintu mobil dan duduk di barisan kedua mobil.

oOOo

Doogi harus dipuji akan kepintarannya, tetapi Vernon lebih harus dipuji karena walaupun ia masih anak-anak, ia bukanlah tipe yang mudah ditipu. Anak laki-laki berambut bergelombang itu tahu bahwa ayahnya dengan sengaja berkali-kali berputar-putar di daerah yang sama.

Seriously, Doogi. Kalau kau terus pura-pura tersesat seperti ini aku akan turun sekarang juga dan-“

“Turun saja kalau kau mau. Memangnya kau tahu di mana tempat tinggalnya?”

Vernon meraih bantal berukuran sedang yang memang adalah aksesoris di dalam mobil dan memukulkannya ke kepala Doogi.

“Bawa aku sekarang ke tempatnya tinggal!”

Doogi mencoba menghindar dari pukulan-pukulan batal yang Vernon lancarkan kepadanya. Ia sanggup menghindari beberapa pukulan yang rasanya tentu saja tidaklah sakit itu. Ia merasa bahwa kekuatan fisik anaknya tidaklah berbahaya, justru yang menurutnya berbahaya adalah kekuatan dari kata-kata yang keluar dari mulut anaknya itu.

“Kenapa mendadak sekali kau ingin tinggal bersamanya Vernon? Apaka-“

“Aku sudah muak tinggal bersamamu Doogi.”

Mungkin Vernon sendiri tidak sadar bahwa perkataan yang baru saja keluar dari mulutnya benar-benar menyakitkan. Seumur hidupnya, ini adalah kedua kalinya Doogi merasakan hatinya seperti tercabik-cabik, dadanya terasa sakit.

I get it.” ujar Doogi singkat.

oOOo

Vernon meregangka tubuhnya yang terasa pegal. Untuk sesaat ia bingung, memperhatikan sekelilingnya.

Good morning Vernon.”

Suara lembut Wendy akhirnya membuat Vernon sadar bahwa saat ini ia ada di tempat tinggal ibunya. Ia benar-benar tidak ingat. Pantas saja keadaan sekelilingnya tampak rapi dan terorganisir, bebeda dengan kamarnya yang agak berantakan.

Good morning… mom.” sapa Vernon sambil tersenyum.

“Ah, maafkan aku. Boleh kan aku memanggilmu begitu?” Vernon mengerjapkan kedua matanya sambil menatap Wendy.

“Tentu saja boleh son. Mengapa tidak? Kau kan anakku.”

Vernon memejamkan matanya dalam pelukan ibunya. Ini adalah kali pertamanya merasakan dipeluk oleh ibunya sendiri. Pelukan yang ia rasakan berbeda dari pelukan biasa yang didapatkannya. Pelukan ini terasa lebih lembut dan tidak kaku.

.

.

.

“Whoaa. Mom. Kau seorang chef?” tanya Vernon, ia benar-benar kagum melihat makanan-makanan tersaji di meja makan.

“Hahaha. Bukan dear. Aku bukan seorang chef.”

Vernon mencicipi omelette yang ada di hadapannya dan seketika itu juga ia merasakan lidahnya lemas. Omelette yang baru saja masuk ke dalam mulutnya itu benar-benar enak berbeda sekali dengan omelette yang seringkali ia makan –omelette buatan Doogi.

Entah sejak kapan Vernon mulai terbiasa mengendus untuk mendeteksi adanya bau omeltteyang gosong dan hal itu pun ia lakukan kali ini. Wendy, sang ibu, bingung melihat tingkah anaknya.

“Kau baik-baik saja Vernon? Apakah peralatan makannya ada yang bau?”

“A-ah. Tidak mom. Aku baik-baik saja dan peralatan makannya tidak ada yang bau.” jawab Vernon.

“Hanya saja…”

“Hanya saja?”

“Ah tidak mom. Lupakan.” Vernon memberikan senyum manis kepada ibunya sebelum melanjutkan menyantap makanan-makanan yang tersaji di meja makan untuk menutupi rasa kekosongan yang ia rasakan.

.

.

.

Vernon duduk besila di atas sofa yang berada di ruang… tamu? Ia sendiri bingung harus menyebut apa ruangan ini karena ruangan ini sangatlah besar. Bila dibandingkan dengan ruang tamu di rumah ayahnya, perbandingannya seperti 3:10. Chandelier yang menggantung di atas agak membuat Vernon ngeri karena ia berpikir bisa saja benda itu jatuh dan menimpa dirinya yang sedang berada tepat di bawahnya.

Walaupun sudah menyalakan TV, Vernon merasa bahwa keadaan di rumah ini benar-benar sepi. Ia tidak mendengar suara-suara ribut seperti yang biasa terjadi di rumah ayahnya.  Biasanya pada sore hari seperti ini, Doogi sering menyebabkan keributan di dapur karena alat masak atau bahkan kran air yang dibiarkan menyala sementara Vernon menonton acara kartun kesukaannya.

Vernon tidak tahu bahwa menjadi novelis akan menghasilkan uang sebanyak ini. Ya, Wendy. ibunya adalah seorang novelis dan akhirnya Vernon juga tahu bahwa ternyata Doogi adalah seorang jurnalis. Perbincangan singkat mengenai bagaimana Doogi bertemu dengan Wendy siang tadi benar-benar memberikan Vernon gambaran mengenai ayah dan ibunya.

“Kau tahu Vernon? Ayahmu adalah seorang pekerja keras. Ia selalu saja bekerja hingga larut malam, bahkan pernah beberapa hari ia sampai tidak pulang ke rumah.”

‘Aneh sekali. Kalau sekarang hampir setiap kali ia adalah di rumah.’ pikir Vernon.

‘Apa jangan-jangan ia merasa sudah cukup kaya? Huh, dasar Doogi, sombong sekali.’

.

.

.

Vernon berendam dalam bak sementara Wendy memijat-mijat kepala Vernon, membiarkan busa shampoo yang berada di atas kepala Vernon semakin membanyak.

Baru kali ini Vernon merasakan asyiknya berendam. Pantas saja anak perempuan lama sekali kalau mandi, begitu pikir Vernon.

“Bagaimana rasanya berendam son?”

Vernon mengacungkan ibu jarinya. “Amazing!”

Vernon jadi ingat, dulu ketika menginap di hotel bersama Doogi, ketika keduanya berenang di kolam renang hotel, Doogi mencipratkan air pada Vernon sehingga penglihatannya kabur dan menyebabkan Vernon menabrak dinding kolam renang, rasa sakit itu masih bisa ia rasakan.

Tidak berhenti sampai di situ, Vernon kembali mengingat kejadian-kejadian mengesalkan lainnya. Seperti ketika Doogi tanpa sengaja membuat kepala Vernon membentur pintu mobil.

Tanpa ia sadari, air mata menetes dari kedua mata Vernon.

Ini barulah satu hari tinggal bersama Wendy, namun rasanya sudah seperti lama sekali, berbeda dengan hari demi hari yang ia jalani bersama Doogi yang terasa begitu singkat. Di saat itu lah Vernon menyadari bahwa…

“Aku belum siap tinggal tanpa Doogi.” ia menatap Wendy.

“Maafkan aku mom. Boleh kah aku kembali ke rumah Doogi?”

Kedua mata Wendy terpejam. “Boleh kah mom memelukmu, Vernon?”

Vernon merasakan pelukan yang begitu erat. membuat bagian atas tubuhnya yang tidak tersentuh air dalam bak mandi terasa hangat, tidak lagi dingin.

“Ayahmu memang terkadang menyebalkan tetapi dirinya juga ngangenin, bukan begitu?”

Vernon mengangguk-angguk karena apa yang dikatakan ibunya benar. Saat ini ia benar-benar merindukan Doogi.

“Tentu saja tidak masalah. Aku akan mengantarmu ke sana.”

.

.

.

Vernon membuka pintu mobil. “Thanks momGood night and please be careful on your way home.” ujarnya sebelum menutup pintu mobil.

Wendy yang duduk di kursi pengemudi menekan tombol pembuka jendela kemudian melambai kepada anak tunggalnya yang memutuskan untuk tetap tinggal bersama mantan suaminya.

Don’t mention that Vernon. Kau bisa mengunjungi tempat mom kapan saja kau mau.”

“Boleh menginap kan?” tanya Vernon kemudian tertawa.

Wendy mengedipkan sebelah matanya, “Why not? Hahaha! Rest well honey. I love you so very much.”

Vernon melayangkan kiss-bye pada ibunya dan ia pun mendapatkan juga sebuah kiss-bye. Ia melambai-lambaikan tangannya sampai mobil chevrolet yang dikendarai ibunya berjalan menjauh kemudian hilang dari pandangannya.

Sambil menenteng tas yang kemarin ia bawa, ia memasuki pekarangan rumahnya dan mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ia melihat jam tangan miliknya, waktu sudah menunjukkan pukul 22:00.

“Apa sudah tidur? Yang benar sa-” Vernon kaget bukan main ketika kenop pintu ia putar dan pintu langsung terbuka.

“Apa-apaan ini?! Ia tidak mengunci pintu?” Tanpa menunggu lebih lama Vernon memasukki rumahnya bersama dengan tas yang ia jinjing.

Ia menutup pintu dari dalam dan langsung menguncinya dengan kunci yang masih tergantung di lubang kunci pintu.

“Hey Doogi! Apa kau ada di rumah?” panggil Vernon, namun tidak ada jawaban juga.

Menghela napas Vernon membuka pintu kamarnya, menekan tombol sakelar lampu dan ia melihat sosok Doogi yang terbaring di tempat tidurnya. Vernon berjalan mendekati tempat tidurnya kemudian duduk di tepian tempat tidur.

Ketika tangannya hendak mengguncang-guncang bahu Doogi,

“Vernon… I am so sorryI love you so much son.”

Vernon melongo, tak lama kemudian kekehan kecil terdengar. Ia menutupi mulutnya sendiri, berusaha menahan tawa yang akan meledak keluar.

I am sorry too. I love you toodad.” Vernon mengecup pipi ayahnya itu, sama seperti dulu setiap kali ayahnya membelikannya hamburger.

.

.

.

Vernon menghela napas melihat roti panggang yang gosong di atas meja makan.

Seriously Doogi? Ini breakfast kita? Aku pikir ini adalah makanan sisa semalam.” ujar Vernon ketus.

“Hey! Setidaknya hargailah sedikit usaha orang. Aku tahu kau pasti bosan setiap pagi menyantap omelette makannya aku membuat roti panggang hari ini.”

“Mau kau buat apapun rasanya tidak enak, Doogi.” Vernon mendorong piring berisi roti panggang gosong itu.

Take me back to my mom.”

“….”

“Pft. Hanya bercanda.” Vernon tertawa lantang seraya menarik kembali piring berisi roti panggang gosong itu dan memasukkanya ke dalam mulut.

I love living with you Doogi.”

~FIN~

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s