Run to You (Part 1)


runtoyou2

Poster by HRa @ Poster Channel

Title : Run to You
Length : Fourshots
Genre : AU, Romance, Angst, slight!BL
Starring
C-Clown Ray as Kim Hyunil
CLC Seunghee as Oh Seunghee

“Terima kasih sudah mencintaiku sampai saat ini, Hyunil.”

Kumohon, berhentilah berkata seperti itu….

“Kurasa sudah waktunya kau melupakanku…”

Tidak, tidak. Sampai mati pun aku tidak akan berhenti mencintaimu.

“Hyunil, berjanjilah satu hal padaku,”

Mata penuh kehidupan itu.. sampai berapa lama lagi aku bisa melihatnya?

“… Life your life like you supposed to do.”

KRIIINGG! Bunyi jam weker yang seperti telepon zaman dulu itu membangunkan pria berkulit putih dengan rambut hitam pekat dari tidurnya yang terasa sangat panjang. Masih dalam posisi terbaring tengkurap di ranjang ia meraih jam weker di atas meja kecil di samping tempat tidurnya dan mematikan alarm yang bunyinya memekik itu.

“Lagi-lagi…”

Mengubah posisinya sendiri menjadi posisi duduk, pria itu menguncir rambutnya yang sudah 2cm lebih panjang dari bulan lalu.

Walaupun gorden-gorden menutupi jendela-jendela yang berada di kamar, pria itu tahu bahwa di luar sana cuaca sangat cerah dari sinar matahari yang masuk ke dalam melalui celah-celah yang ada. Ia dapat mendengar kicauan burung-burung yang memang selalu terdengar olehnya setiap pagi hari.

Ketika ia berpikir betapa tenangnya suasana pagi ini, ketukan yang lumayan keras mendarat di pintu kamarnya.

“Hyunil seonsangnim, apa kau ada di dalam?”

Suara lembut seorang gadis terdengar dari luar pintu. Dari suaranya pun Hyunil tahu bahwa gadis di luar sana mengkhawatirkan dirinya yang sudah dua hari tidak keluar dari apartmentnya, jangankanapartment, kamar pun tidak ia tinggalkan.

“… Ya, aku baik-baik saja, bocah kecil. Berhentilah mengkhawatirkanku.”

Keadaan hening sesaat sebelum gadis di luar menyahut, “Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkanmu?! Kau tidak menghadiri kelas selama dua hari dan ketika aku sampai ke apartmentmu paman Ahn mengatakan kalau kau tidak keluar dari apartment selama dua hari!”

Hyunil menghela napas sebelum melipat selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya dan menatanya di atas ranjang yang masih berantakan.

Ck. Dasar penjaga apartment yang selalu ikut campur itu. Untuk apa memberitahukan hal tidak penting seperti ini kepada orang luar?

Baru menyadari suatu hal, Hyunil menghentikan aktivitasnya merapikan dan menata ranjang.

“Bagaimana kau bisa masuk ke sini?” tanyanya, nada kebingungannya tidak dapat ia sembunyikan.

“Itu tidak penting. Kenapa Anda tidak keluar dulu dan menceritakan padaku apa ya-”

Karena sifatnya yang memang sedikit temperamen dan ditambah lagi hari masih pagi -ia masih merasa lelah karena mimpi semalam-, Hyunil membuka kunci pintu kamarnya dan mendorong pintu dengan kuat. Beruntunglah gadis itu berada tidak menempel pada pintu karena kalau iya bisa saja ia menderita luka parah.

“Apanya yang tidak penting? Ini adalah apartmentku, privasiku! Oh dan satu lagi! Daripada kau mengurusi urusan orang lain lebih baik kau mengurusi urusanmu sendiri. Apakah kau sudah layak pindah program studi?”

Hyunil menyesali kata-kata yang terlontar dari mulutnya dengan nada yang tidak enak itu ketika kedua mata gadis yang berdiri di hadapannya tampak berkaca-kaca. Namun karena harga diriya yang terlampau tinggi ia hanya berdiri di sana menatap ke gadis berambut panjang coklat itu.

Gadis itu menunduk, poninya yang tebal menghalangi kedua matanya dari pandangan Hyunil, dan ia pun tidak mau menatap Hyunil karena ia tahu tidak sampai satu menit air mata akan mengalir dari kedua matanya.

“M-maafkan aku seonsaengnim.” suaranya bergetar.

“Semoga harimu menyenangkan.” Tanpa berbicara apa-apa lagi selain itu, gadis itu menenteng tasnya lebih kuat dan berlari keluar apartment milik Hyunil, membiarkan pintunya terbuka lebar sementara dirinya berlari menuju lift yang kebetulan tengah terbuka.

Hyunil berjalan menuju pintu yang terbuka dan menutupnya dari dalam.

🍀🍀🍀

Seunghee membiarkan wajah manisnya terhalangi oleh tumpukan buku-buku mata kuliah hari ini. Ya, ia tidak mau siapapun melihatnya menangis seperti ini selain karena memalukan tetapi juga karena tidak pernah ada satu orangpun di universitas yang pernah melihat seorang Oh Seunghee menangis.

Kali ini adalah pertama kalinya ia duduk di barisan paling atas dan ia duduk di paling pojok -menghimpit tembok-, ia berharap tidak akan ada siapapun yang duduk di sebelahnya.

“Apanya yang tidak penting? Ini adalah apartmentku, privasiku!”

Perkataan itu terus terngiang di kepalanya bagaikan sebuah lagu yang sedang diplayback. Kata-kata tersebut terasa sangat menyakitkan baginya.

‘Apakah salah kalau aku mengkhawatirkanmu, seonsaengnim?’

Seunghee sudah tidak peduli lagi, ia terus menangis dalam diam. Tidak ada satupun penjelasan dosen yang ia catat. Jangankan mencatat, mendengarkan pun tidak ia lakukan. Ia tidak sanggup melakukan apa-apa ketika hatinya sedang seperti ini.

Seunghee meletakkan kembali buku yang baru selesai ia baca, walaupun sudah berjinjit, ia masih saja belum bisa mencapai tempat tersebut. Dengan terpaksa ia melompat agar bisa meletakkan kembali buku ke tempat asalnya.

“Akhirnya!” gumamnya bahagia ketika buku berhasil menempati posisi yang seharusnya.

Namun kebahagiaannya tidak berlangsung lama ketika ia tanpa sengaja kehilangan keseimbangan ketika melompat. Ia mencoba berpegangan namun malah membuat buku-buku yang ia pegang terjatuh berhamburan dari rak.

Seunghee menutup rapat kedua matanya, menyiapkan mental menerima rasa sakit karena sebentar lagi punggungnya akan menghantam lantai. Ia dapat mendengar suara buku-buku yang terjatuh mengenai lantai dan dalam hatinya ia bergumam “Sebentar lagi giliranku. Ya Tuhan! Buat ini tidak sakit! Kumohon!”

Selang beberapa saat, ia menyadari bahwa dirinya masih belum juga mengenai lantai maka ia pun secara perlahan membuka matanya dan yang ia lihat adalah wajah seorang pria tampan yang sering ia lihat berada di perpustakaan.

“Kau tidak apa-apa?”

Seunghee menggelengkan kepalanya kuat.

“… Baguslah kalau begitu.”

Entah mengapa di telinga Seunghee suara itu terdengar lembut padahal ada desahan panjang seperti orang kesal yang terdengar.

Seunghee bergegas memposisikan dirinya sendiri berdiri karena tidak ingin pria yang dari tadi menopang tubuhnya itu keberatan. Ketika ia sudah berhasil berdiri menggunakan kedua kakinya sendiri pria itu membalikan tubuhnya, berjalan menjauh dari tempat semula mereka berada.

Secara diam-diam Seunghee mengikuti pria tersebut dan perasaannya sangat senang ketika ia melihat laki-laki itu mengisi buku pengembalian pinjaman. Setelah pria itu keluar dari perpustakaan Seunghee segera membuka buku pengembalian pinjaman ia mendapati nama Kim Hyunil di barisan paling bawah -yang berarti sudah pasti bahwa itu adalah milik pria tadi.

Tanpa ia sadari, air matanya sudah mengering dan kelas pertama pun telah usai.

🍀🍀🍀

“Tidak usah disembunyikan. Aku tahu kau habis menangis. Lihat saja kedua matamu bengkak begitu.”

Seunghee tersenyum tipis menanggapi perkataan seniornya yang mengambil kelas yang sama dengannya. Pria bertubuh kekar itu terlihat garang tetapi sebenarnya ia adalah orang yang baik. Walaupun mereka sudah berteman lama -semenjak tahun lalu- tetap saja Seunghee terkadang geli mendengar aksen yang masih agak asing itu.

“Hey. Kau tidak menertawai aksen ku bukan?”

Seunghee mendapatkan sebuah pukulan pelan di kepalanya.

“Haha aku ti- aku tidak menertawakan hal itu.” Seunghee tertawa kecil, kemudian tawanya semakin keras.

“Nah, seperti itu dong.”

“Seperti itu bagaimana?” tanya Seunghee yang seketika berhenti tertawa karena bingung.

“Kau lebih baik tertawa. Untuk apa menangis? Hidup itu terlalu singkat untuk dipakai bersedih.”

“… Ah, aku tidak tahu jalan pikiranmu Donggeun seonbae. Hari ini aku benar-benar me-”

“Berhentilah mengeluh! Aku tahu kau adalah orang yang selalu menyambut segala sesuatu dengan senyuman dan pikiran positif, bukan begitu? My happy virus,” Donggeun tersenyum.

“Oh, dan berhentilah memanggilku dengan sebutan seonbae. Oppa saja cukup. Apa kau tidak tahu aku sudah lelah untuk mengingatkanmu?” Donggeun mengacak-acak rambut Seunghee, menurutnya Seunghee sangatlah menggemaskan.

Seunghee hanya menjulurkan lidahnya keluar, menggoda Donggeun.

Oh! You are so annoying Seunghee!” Donggeun mencubiti kedua pipi Seunghee.

Keadaan kantin yang sangat ramai memang tidak memungkinkan Seunghee maupun Donggeun menyadari bahwa ada sepasang mata yang memperhatikan keduanya mulai dari keduanya duduk sampai detik ini.

.

.

.

.

Seunghee memasukkan buku-buku dan peralatan-peralatan tulisnya ke dalam tas bermotif salur miliknya. Ia melirik jam dinding yang bertengger di dinding kelas, waktu masih menunjukkan pukul 16.30, kuliah berakhir tiga puluh menit lebih awal dari seharusnya.

“Kalau aku jadi kau aku akan pulang daripada mondar-mandir di lorong seperti anak hilang.”

“Ah, aku memang mau pulang kok.” ujar Seunghee.

“… Hanya saja aku bingung…” gumamnya sangat pelan.

.

.

.

.

Seunghee mengela napas panjang sebelum menghentikan langkahnya tepat di depan gedungapartment S. Ia berdiri menghadap ke arah pintu masuk gedung sambil terus-terusan menggigiti bibir bagian bawahnya.

Seunghee melangkahkan kaki kanannya ke depan namun menarik kembali kakinya ke posisi semula.

‘Masuk tidak masuk tidak’ batinnya dalam hati. Mengingat bagaimana ia dibentak pagi tadi rasanya ia tidak ingin berkunjung, tetapi sebagian dari dirinya mengkhawatirkan asisten dosen dan jugatutornya itu.

Kim Hyunil adalah seorang pria yang begitu spesial di mata Oh Seunghee. Bukan hanya karena pria itu adalah tutor dan juga asisten dosen di salah satu kelas yang ia ambil tetapi juga karena pria dengan sikap yang dingin itu adalah cinta pertamanya.

Langit yang semula cerah mendadak menjadi gelap dan dari atas langit turun rintikan-rintikan hujan seolah menyuruh gadis berambut panjang itu masuk ke dalam gedung apartment dan mengunjungi pria penyendiri itu.

🍀🍀🍀

“Hyunil-ssi, selamat sore!”

“Sore.” sahut Hyunil singkat. Tangannya dengan lincah mengoreksi lembar demi lembar tugas para mahasiswa yang mengambil kelasnya.

“… Tidak bisakah kau berhenti bersikap kaku seperti itu? Kau tidak pernah tersenyum.”

“Huh? Tersenyum?” Hyunil menghentikan aktivitasnya.

“Untuk apa tersenyum?” tanyanya sambil menghadap kepada lawan bicaranya, seorang asisten dosen sama sepertinya yang bernama Lee Minwoo.

Pria berperawakan kurus namun tinggi itu duduk di atas meja kerja miliknya sambil memijat-mijat tulang hidungnya, ia tidak mengerti lagi jalan pikiran rekannya itu. Bekerja sebagai asisten dosen memang melelahkan apalagi kalau juga menjadi tutor tapi menurutnya itu bukanlah alasan untuk tidak tersenyum.

“Kau tau Hyunil-ssi? Kau terkenal sebagai asisten dosen tergalak. Para mahasiswa dari segala angkatan dan segala jurusan tahu kau adalah Snow Queen versi laki-laki.” Minwoo menghela napas.

Hyunil mengangguk-angguk dan mulutnya membentuk huruf ‘O’ yang bulat sempurna. “Ya, ya, aku tahu itu. Aku pernah secara tidak sengaja mendengar dua orang mahasiswi membicarakanku dan mereka juga menyebutkan Snow Queen versi laki-laki.”

“Kau tidak keberatan dengan hal itu?” tanya Minwoo.

Hyunil hanya menggeleng. “Aku tidak terlalu peduli mengenai apa kata orang. Lagipula tujuanku berada di universitas ini adalah untuk mengajar dan membimbing bukan untuk mendengarkangossip.”

.

.

.

.

Mata Hyunil terpaku kepada lembar jawab dengan nama Oh Seunghee di bagian pojok kanan atas kertas. Tanpa membaca apa yang tertulis di atas kertas ia langsung memberikan paraf pada kertas itu dan menumpukkan nya bersama dengan lembar-lembar jawab milik mahasiswa lain yang sudah ia selesai periksa.

Kelakuannya yang selalu seperti itu sangatlah menarik perhatian Minwoo. Karena rasa ingin tahunya sudah tidak tertahankan lagi akhirnya Minwoo berjalan mendekati meja kerja Hyunil dan menarik kertas tersebut.

“Aku heran mengapa setiap aku perhatikan pasti selalu saja ada satu lembar jawab yang kau lewati. Padahal kau begitu strict dalam memberikan penilaian.” ujar Minwoo, pandangannya melekat pada kertas yang bertuliskan tulisan-tulisan kecil dan rapi itu.

“Jawabannya selalu sama.” ujar Hyunil.

“Tanpa harus membaca keseluruhan jawabannya pun aku tahu jawabannya merujuk pada hal-hal itu lagi.” lanjut Hyunil.

“Yang benar?”

“Iya, aku serius.”

“Tapi aku tidak mengerti apa maksudmu dari ‘hal-hal itu lagi’. Apakah kau selalu memberikan soal yang sama untuk kuis?”

“Iya. Aku selalu memberikan soal yang sama untuk kuis hanya paling saja aku mengatur ulang kata-katanya dan juga menambahkan beberapa soal.”

Minwoo melongo. Ternyata ada juga cara mudah seperti itu. Selama ini ia terus bersusah payah mencari soal untuk kuis sampai-sampai terkadang ia sama sekali tidak tidur. Ia tahu betul rekan kerjanya sangatlah cerdas dan ia pun mengakui hal itu, hanya saja ia menyayangkan sikapnya yang dingin. Ia juga tidak habis pikir mengapa Hyunil tega sekali tidak memberitahukan trik seperti itu kepada rekan-rekan lain padahal ia tahu Hyunil pasti mengetahui masalah yang dialami sesama rekan asisten dosen.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?”

Minwoo tersentak kaget, dan pria yang ada di hadapannya kini sedang membereskan barang-barangnya.

“Ah tidak apa-apa. Aku hanya berpikir kalau kau benar-benar cerdas, itu saja.” jawab Minwoo sembari kembali meletakkan lembar jawab yang masih berada di tangannya ke atas tumpukan lembar-lembar jawab yang tertata rapi di atas meja kerja Hyunil.

“Kau pulang sekarang?”

“Iya. Aku sudah selesai mengoreksi.” sahut Hyunil sembari berjalan mendekati pintu.

“Aku duluan ya. Selamat malam.” pamit Hyunil tanpa menengok.

.

.

.

.

Hyunil menekan tombol-tombol nomor pada intercom yang berada di samping pintu apartmentnya. Sesaat setelah ia mendengar bunyi kunci pintu yang terbuka ia segera mendorong buka pintu dan sekilas matanya menangkap ada jejak sepatu yang bukan miliknya di lantai depan pintu. Tanpa mempedulikan hal itu iya masuk ke dalam apartmentnya dan menutup pintu dari dalam.

🍀🍀🍀

Seunghee menghentikan langkahnya di teras depan rumahnya. Ia meremas rok dan bajunya yang basah karena hujan yang turun dengan deras. Ia benar-benar menyesal lupa membawa payung dan ada hal yang lebih ia sesali -ia menyesal tidak pulang lebih awal dan malah menunggu jawaban dari dalam apartment Hyunil yang terkunci dengan password intercom yang telah berubah.

“Aku pulang~” ujar Seunghee ketika ia memasuki rumahnya walaupun tidak ada siapa-siapa di dalam. Hal ini sudah menjadi kebiasaannya.

Ia meletakkan sepatunya yang basah di depan pintu cupboard sepatu yang menghiasi lorong depan. Dengan perlahan ia berjalan menelusuri lorong dan menaiki tangga yang terbuat dari kayu untuk menuju ke kamarnya.

.

.

.

.

“Selamat malam sayang.”

Seunghee yang berada di dalam dapur dapat mendengar suara Ibunya yang berasal dari lorong depan. Ia kemudian melihat jam dinding yang berada di dapur. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, memang sudah waktu Ayah dan Ibunya pulang kerja.

“Halo eomma, halo appa. Selamat datang!” sahut Seunghee sambil keluar dari dapur kemudian menata piring-piring berisi makanan di meja makan.

“Tumben sekali kau baru masak.” Nyonya Oh duduk di salah satu kursi yang melingkari meja makan, ia meletakannya tas tangannya di kursi sebelahnya yang kosong.

“Ah iya tadi aku pulang sedikit terlambat eomma.”

Ketiganya duduk melingkari meja makan dan mulai menyantap makan malam yang belum lama selesai dibuat oleh anak bungsu keluarga Oh.

Keluarga Oh adalah sebuah keluarga di antara banyaknya keluarga lain yang berada di Korea Selatan. Tuan Oh berusia 48 tahun dan adalah seorang wakil rektor universitas I sementara nyonya Oh adalah seorang wanita berusia 46 tahun yang bekerja sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan yang berada di Seoul. Mereka memiliki dua orang anak, Oh Yong dan Oh Seunghee. Oh Yong adalah anak sulung dan sedang menimba ilmu di Amerika sementara Oh Seunghee adalah anak bungsu yang sedang menempuh semester 2 dalam jenjang perkuliahan di bidang literatur.

“Jadi bagaimana Seunghee? Apa kau sudah bisa pindah program studi?”

Nyonya Oh menyenggol lengan suaminya, “Jangan sekarang.” gumamnya pelan.

Seunghee pura-pura tidak mendengar keduanya, ia bangkit berdiri dari duduknya, mengambil piring-piring kotor dan membawanya ke dapur. Tanpa berkata apa-apa ia mencuci semua piring kotor.

Sekeras apapun suara air yang mengalir dari kran bak cucian Seunghee masih dapat samar-samar mendengar perbincangan antara ayah dan ibunya.

“Kau tidak perlu membuatnya terburu-buru seperti itu. Dia kan masih mu-”

“Aku tidak mau ia terlambat. Aku ingin tahun ini juga dia sudah bisa pindah program studi sehingga tahun depan ia sudah bisa berangkat ke Amerika menyusul Yong.”

“Memangnya salah kalau tahun depannya lagi ia baru berangkat?”

“Tentu saja tidak ada masalah. Tapi lebih cepat lebih baik, bukan begitu?”

🍀🍀🍀

Hyunil masih duduk di hadapan laptopnya padahal waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Suasana di apartment nya sangatlah hening, tidak terdengar suara apapun selain bunyi keyboard pada laptop yang ditekan oleh jemarinya yang sudah selama dua jam menari di atas sana.

“Akhirnya.”

Dengan sedikit kasar Hyunil menutup laptopnya dan mendorong kursinya menjauh dari laptop. Suara roda kursi yang bergeser memenuhi ruang kerjanya.

Di mana-mana yang namanya apartment pastilah tidak besar. Apartment Hyunil sendiri sebagian besar ia gunakan sebagai ruang kerja -memang tidak sedemikian resmi seperti ruang kerja di tempat kerjanya. Lemari-lemari berisi buku-buku, artikel-artikel, dan lain sebagainya berjejer dengan amat rapi, begitu pula dengan isinya.

Hyunil menghentikan laju kursinya tepat di depan meja kayu berukuran sedang yang berfungsi sebagai tempat menaruh telepon rumah. Di samping telepon itu berdiri sebuah bingkai foto dengan selembar foto yang menghiasi bagian dalamnya.

ffkr2

Dengan ragu-ragu ia mengangkat frame foto tersebut, memegangnya erat menggunakan kedua tangannya.

“Hey Hyunil! Jun ke mana? Lama sekali.”

“Mwo? Dia belum juga kembali? Sudah…” Hyunil melirik jam tangannya. “Sudah lima belas menit sejak ia pergi ke supermarket dekat hotel.”

“Ayo kita susul saja. Jangan-jangan ia…”

“Hey! Hanbyul! Hyunil! Maaf lama!” Jun berlari-lari kecil menghampiri Hyunil dan Yong yang berada di depan pintu hotel.

“Yaak! Kau lama sekali pendek! Ke mana dulu?” Hanbyul mengacak-acak rambut Jun dan pria bernama Jun itu hanya tertawa.

“Maaf, maaf. Tadi aku bingung mau membeli makanan apa saja. Banyak sekali makanan yang tidak ada di Korea hehe.”

Hyunil hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Oh iya, ayo kita berfoto dulu sebelum kembali ke Korea.” Hyunil mengeluarkan kamera digital dari saku celananya.

Hanbyul yang memang kebetulan sudah berada di samping Jun langsung merangkul pria yang lebih pendek darinya itu dan keduanya langsung berpose menghadap ke arah kamera.

“Sekarang giliranku.” Hyunil berujar seraya berjalan mendekati keduanya dan menyerahkan kamera digitalnya pada Hanbyul.

“Kau tidak mau berfoto bersamaku dulu sobat?” Hanbyul pura-pura kecewa, ia mengerucutkan bibirnya.

“Hahaha tidak perlu. Aku mual berfoto terus denganmu. Sudah semenjak minggu kemarin, sudah cukup.” Hyunil memberikan cengiran pada Hanbyul.

“Ouch. Hatiku sakit, sobat. Sakit sekali.” ujar Hanbyul diikuti tawa.

“Baiklah, bersiap! Berpose lah yang keren!”

“Ah! Hey! Itu bus yang menuju ke airport kan?” tanya Jun tiba-tiba.

Hanbyul dan Hyunil mengangguk-angguk.

“Gawaaat! Mesinnya sudah dijalankan! Bisa-bisa kita tertinggal!” ujar Jun panik sambil mulai melangkah.

“Hey, hey! Kan hanya sebentar saja Jun.” Refleks Hyunil merangkul bahu Jun dan bersamaan dengan itu Hanbyul menekan tombol pengambilan gambar pada kamera digital berwarna silver yang berada di tangannya.

“Okay! A great one!” Hanbyul tertawa sambil berlari mendekati bus diikuti oleh Jun dan juga Hyunil. Beberapa saat sebelum bus benar-benar melaju ketiganya melompat masuk ke dalam bus.

“….” Hyunil menghela napas.

TING TONG!

Suara bel apartmentnya berbunyi. Hyunil meletakan kembali bingkai foto yang ada di tangannya ke atas meja.

‘Siapa tengah malam  begini berkunjung? Apakah gila?’

“Ya, ya tunggu sebentar!” Tanpa berpikir panjang Hyunil berujar sambil berjalan cepat mendekati pintu padahal ia tahu suaranya tidak akan terdengar sampai keluar.

“Kim Hyunil dari universitas S?”

Hyunil mendapati seorang pria berada di depan pintu apartmentnya. Rasanya pria itu tidak asing baginya tapi ia tetap tidak bisa berpikir siapa pria itu dan tentu saja sama seperti orang kebanyakan, ia tidak membiarkan orang tak dikenal masuk ke dalam apartmentnya.

Sambil bersender pada bingkai pintu, ia melipat kedua lengannya di depan dada. “Ya, saya Kim Hyunil, asisten dosen dan juga tutor di Universitas S. Ada perlu apa?”

Pria yang ada di hadapan Hyunil mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam saku kemejanya. Hyunil menerima kartu nama tersebut kemudian mengerjapkan kedua matanya ketika melihat nama pada kartu nama tersebut. Ternyata orang yang tengah malam seperti ini datang berkunjung ke tempatnya tinggal adalah wakil rektor universitas I, universitas yang mempunyai hubungan cukup erat dengan universitas S tempatnya bekerja. Pantas saja ia rasanya pernah meihat wajah pria tersebut.

“Maafkan kelancangan saya.” Hyunil membungkukkan badannya, meminta maaf.

“Mari, silakan masuk, Tuan Oh.”

.

.

.

.

Hyunil memijat-mijat pelipisnya, entah mengapa ia tiba-tiba merasa sangat pusing. Bukan pusing karena sakit tetapi pusing karena, “Yang benar saja. Akan sangat sulit membimbing anak itu agar dapat pindah jurusan tahun ini.”

Hyunil mengambil kalender yang bertengger di meja ruang tamu.

“Sekarang bulan…. April. Semester baru akan dimulai tahun depan pada bulan Januari akhir. Berarti ia harus berhasil pindah program studi pada sekitar bulan Agustus? ” ia bergumam sendiri.

“Waktu yang bisa dimanfaatkan hanya kurang lebih..” Hyunil menghitung dengan jarinya.

“Tch! Hanya empat bulan!” Hyunil membanting kalender ke lantai.

Ia menghempaskan dirinya sendiri ke atas sofa, berbaring, menghalangi penglihatannya sendiri menggunakan lengan kanannya.

“Ya Tuhan… Apa yang harus kulakukan?”

🍀🍀🍀

Seunghee benar-benar gugup. Ia berkali-kali melirik jam tangannya sambil terus mondar-mandir di lorong kelas. Ia juga berkali-kali membenarkan posisi tasnya yang kelihatan lebih besar dan berat dari tas yang biasanya ia gunakan.

Appa! Apa sih yang kau lakukan?!’ Seunghee berjongkok kemudian besandar pada dinding.

Tadi pagi sebelum ia berangkat kuliah, ayahnya memberitahukan bahwa kemarin malam ayahnya telah berkunjung ke rumah Kim Hyunil untuk meminta bantuan. Ayahnya juga menjelaskan bahwa ia ingin tahun depan Seunghee sudah bisa berangkat untuk melanjutkan studi di Amerika, menyusul Yong.

Eotteokhae…” Seunghee memejamkan erat kedua matanya sampai ia mendengar langkah kaki berasal dari lorong yang berisi ruangan-ruangan kerja para staff universitas.

Walaupun kondisi lorong agak gelap tetapi Seunghee dapat melihat sosok Hyunil yang berjalan menuju ke tempat parkir yang terletak di samping lorong tempat sekarang ia berada. Tanpa menunggu lebih lama, Seunghee segera berdiri dan berlari kecil mendekati Hyunil.

“K-kim Hyunil sseonsaengnnim! Tunggu sebentar!” panggil Seunghee tanpa menghentikan larinya.

Mendengar namanya dipanggil, Hyunil membalikkan tubuhnya menghadap ke asal suara.

“Selamat sore Seunghee. Ada yang bisa kubantu?” tanyanya.

Seunghee menelan ludahnya sendiri. Ia tidak tahu bagaimana dengan Hyunil tetapi yang jelas ia tidak bisa melupakan kejadian kemarin ketika Hyunil membentak dirinya. Kini perasaan Seunghee antara takut dan gelisah. Ia tidak bisa berhenti berpikir bagaimana kalau Hyunil menganggapnya merepotkan.

“A-aku minta maaf sebelumnya!” ucap Seunghee cukup lantang sambil membungkukkan badannya.

“Aku sadar selama ini aku selalu saja merepotkan Anda, aku benar-benar minta maaf! Dan kali ini aku harus meminta maaf lagi karena lagi-lagi aku harus merepotkan Anda.”

Seunghee kaget karena kalimat yang keluar dari mulutnya tadi begitu berantakan, belum lagi ia menyebut dirinya menggunakan ‘aku’ sementara ia menggunakan ‘anda’ sebagai penyebut Hyunil, benar-benar kacau. Ia tidak habis pikir ia bisa seperti ini, padahal selama ini ia tidak mempunyai masalah ketika berbicara dengan Hyunil.

“Tidak apa-apa. Membantu para mahasiswa adalah tugasku.”

“….”

“Lagipula yang mengusulkan bahwa kau sebaiknya tinggal di tempatku untuk beberapa saat adalah aku. Waktu yang kita miliki begitu sedikit, akan sulit kalau kau atau aku harus pulang-pergi ke tempat satu sama lain hanya untuk membahas materi dan juga konsultasi.”

“A-ah, saya mengerti.” sahut Seunghee, ia merasa sedikit lega karena bukan ayahnya lah yang mengusulkan ide yang menurutnya gila ini.

“Jadi? Kau mau pulang ke rumah dulu untuk mempersiapkan barang-barang atau…” kedua mata Hyunil tertuju kepada tas yang menggantung di lengan Seunghee. Ia tahu betul itu bukanlah tas biasa yang dikenakan oleh Seunghee.

“… Kau sudah mempersiapkan barang-barang dan bisa ke tempatku sekarang?” lanjut Hyunil.

Wajah Seunghee memerah karena malu. Bagaimana tidak? Sebentar lagi ia akan tinggal dengan orang yang ia sukai dan ia sudah mempersiapkan barang-barang, ia merasa benar-benar terlihat seperti orang yang amat antusias. Kalau Hyunil tidak mengetahui mengenai perasaannya mungkin ia akan merasa biasa saja tetapi masalahnya Hyunil sudah mengetahui mengenai perasaannya dan yang lebih parah, ia sendirilah yang membuat Hyunil mengetahuinya.

🍀🍀🍀

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s