Shining Diamond (Joshua Ver.)

shining-diamond1Poster by Jungleelovely @ Poster Channel
Title     : Shining Diamond
Genre     : Angst
Length    : Onsehot
Rating    : G
Main Cast : Hong Jisoo a.k.a Joshua as himself

I envy Jihoon’s vocal and dancing skill

Jisoo yang sedang duduk di lantai dance practice room memperhatikan orang yang dicharge sebagai ketua vocal team, Lee Jihoon, dengan seksama. K

edua bola matanya mengikuti setiap gerakan Jihoon yang sedang melakukan gerakan dance. Tanpa ia sadari ia menghela napasnya.

“O-ouch!” Tiba-tiba, rasa sakit timbul di kakinya dan pandangannya yang tertuju kepada laki-laki mungil itu langsung beralih pada lututnya yang cidera.

“Apakah sakit sekali Jisoo hyung?” laki-laki bermata sipit yang bernama Kwon Soonyoung tengah mengusap-usap kaki dan lutut Jisoo.

Jisoo meringis ketika jemari Soonyoung mulai menyentuh lututnya. “.. Sedikit.” Ia berbohong. Jelas-jelas rasa sakit pada lututnya itu membuat kakinya tidak bisa digerakkan.

“Hey, hey, ayo kita latihan lagi.” Seungcheol, PIC dari grup Seventeen -atau singkatnya adalah leader– menepuk kepala Jisoo dan Soonyoung yang berdekatan dalam sekali lewat, tepukannya tidak terasa sakit karena hanya menyentuh ujung rambut keduanya.

Sambil menengadah ke arah laki-laki yang lebih tua itu, Soonyoung berkata, “Kaki Jisoo hyung sakit.”

“Hah? Apa?” suara ruangan yang cukup bising mengharuskan Seungcheol untuk mendekat kepada Soonyoung, berjongkok dan mendekatkan tubuhnya.

“Kaki Jisoo hyung sakit.” ujar Soonyoung lagi sedikit lebih keras, kedua tangannya masih belum meninggalkan kaki laki-laki yang mengenakan kaos berwarna putih. Soonyoung masih terus mengusap-usap kaki Jisoo sambil memijat-mijat dengan pelan.

“Hee? Yang sakit bagian mana?” Seungcheol duduk bersila, menyeret dirinya sendiri mendekati Jisoo dan ikut memijat-mijat kaki laki-laki itu.

“Katanya lututnya sakit sekali.” sahut Soonyoung.

Sementara keduanya sedang mengusap dan memijat kaki Jisoo, pandangannya kembali teruju ke arah Jihoon yang menggerakan tubuhnya mengikuti irama lagu Action yang baru saja diputar. Ia memperhatikan setiap gerakan tangan, hentakan kaki, dan ekspresi yang dilakukan oleh laki-laki bertubuh mungil itu melalui kaca raksasa yang berada di dalam ruangan. Untuk kedua kalinya ia menghela napas.

“Ya, Jisoo. Sakit sekali?”

“Ah? Uh. Apa? Maaf.” Jisoo mengalihkan pandangannya kepada Seungcheol yang kini menatapnya dengan tatapan khawatir.

“Uh..” Jisoo langsung paham apa yang laki-laki tersebut tanyakan dan ia menganggukan kepalanya.

“Ah, i.. iya, sakit. T-tapi tidak sampai sakit sekali.”  Seungcheol salah mengartikan suara Jisoo yang terdengar lemah itu sebagai tanda bahwa ia sedang menderita dari rasa sakit, padahal, memang suaranya seperti itu dari dulu ditambah lagi lututnya terasa sakit.

“Hey, hey! Tolong ambilkan itu yang di atas sana!” Seungcheol menunjuk-nunjuk ke arah barang yang ia maksud sambil berteriak kepada semua orang yang ada di dalam ruangan.

Mingyu yang kebetulan mendengar dan juga melihat ekspresi panik di wajah Seungcheol langsung mengambil barang yang dimaksud dan memberikannya kepada sang leader. Laki-laki bertubuh bongsor itu kemudian duduk di lantai, mengikuti Soonyoung dan Seungcheol sehingga ketiganya seolah sedang mengelilingi Jisoo.

Miguk hyung kenapa?” tanya Mingyu.

“Lututnya terasa sakit. Mungkin kram.” jawab Soonyoung kemudian karena Jisoo tak kunjung memberikan jawaban kepada pertanyaan Mingyu.

Jisoo mendongakan kepalanya, hendak kembali memperhatikan Jihoon namun pandangannya terhalang oleh tubuh Mingyu yang kini posisinya berhadap-hadapan dengan dirinya. Akhirnya ia kembali memfokuskan pandangannya pada lututnya yang sedang dihandle dengan handal oleh sang leader. Ia merasakan rasa dingin dari cairan yang baru saja disemprotkan ke lututnya.

“Hng!” secara refleks, lutunya terangkat sedikit dari permukaan lantai.

“Maafkan aku, maafkan aku. Tidak sakit kan?” ujar Seungcheol.

Jisoo menggeleng-gelengkan kepalanya bukan sebagai penghindaran rasa sakit, tetapi karena memang benar adanya. Ia tidak merasakan sakit ketika cairan tadi disemprotkan ke lututnya, ia hanya merasa sedikit geli.

“Dengan ini…” dengan bantuan Soonyoung, Seungcheol menempelkan koyo pada lutut Jisoo. “Selesai!”

“Coba gerakkan kakimu, bisa?”

Mengikuti arahan sang leader, Jisoo menggerakan kakinya pelan dan rasa sakit sudah tidak seperti beberapa waktu lalu. Ia merasa ia dapat menghandle rasa sakit yang seperti ini.

“Ayo, ayo, sekarang kita latihan.” Seungcheol berdiri, diikuti oleh Soonyoung dan Mingyu. Ketiganya membantu laki-laki yang berasal dari LA itu untuk berdiri.

Mereka, semua yang ada di ruangan, menempati posisi mereka masing-masing seperti latihan yang lalu-lalu. Jisoo dengan segera menurunkan celananya yang tadi digulung sebelum musik dimainkan. Ia bersama yang lainnya mengikuti irama musik.

-oOOo-

Latihan menari sebelum makan malam seharusnya sudah selesai dari tadi, tapi, saat ini Jisoo masih berada di dalam practice room. Ia duduk di pinggiran ruangan, menyenderkan tubuhnya pada tembok berwarna hijau itu sambil memperhatikan Soonyoung yang sedang memberikannya lecture.

“Jadi, setelah gerakan ini, hyung harusnya naik seperti ini lalu kembali seperti ini.” ujar Soonyoung.

Jisoo bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Soonyoung. “Baiklah, aku lakukan lagi.”

Dengan aba-aba Soonyoung, Jisoo mulai melakukan gerakan tari.

“Yap! Nice!” Soonyoung bertepuk tangan setelah Jisoo selesai menari.

“Ayo sekarang kita kembali ke dorm!”

Kedua laki-laki yang sekujur tubuhnya basah oleh keringat itu berjalan bedampingan keluar dari dance practice room. Di lorong menuju ke pintu keluar mereka bertemu dengan seorang staff perempuan yang sedang membawa berkas-berkas.

“Halo.” sapa keduanya pada staff sambil membungkuk.

“Oh, halo!” balas staff tersebut sambil membungkuk juga.

“Soonyoung dan Jisoo kok baru keluar? Yang lain sudah kembali dari tadi kan?”

“Ah, iya. Kami baru selesai berlatih bersama.”

“Eeh? Lagi?” Staff itu membelakbakan kedua matanya seolah tidak percaya.

Saat itu juga, Jisoo merasakan rasa menusuk pada dadanya, seolah ada beribu panah yang menusuk tepat di jantungnya. Ia hanya memamerkan senyum tipis sebagai respon terhadap reaksi staff tersebut. Tanpa menunggu lagi, ia bergegas berjalan, meninggalkan Soonyoung dan staff perempuan tersebut dalam kebingungan karena ia sama sekali tidak berkata apa-apa sebelum ia melangkahkan kakinya menuju ke pintu keluar gedung.

Sambil menundukkan kepalanya, ia terus berjalan menuju ke dorm walaupun ia dapat mendengar Soonyoung memanggil-manggil namanya. Jisoo sudah tidak peduli apapun lagi. Ia ingin cepat sampai di dorm supaya ia bisa bersembunyi di kamar mandi, sambil menangis, seperti biasa.

-oOOo-

Jisoo masuk ke dalam kamar mandi yang masih kosong itu dan membanting pintunya dari dalam. Ia segera menanggalkan pakaian yang ada di tubuhnya dan menerobos air yang keluar dari pancuran. Titik-titik air mata mulai menetes dari kedua pelupu matanya, lama-lama titik-titik air mata itu berubah menjadi aliran air mata. Ia merasakan rasa hangat pada pipinya dan ia tahu itu bukanlah berasal dari air pancuran, melainkan berasal dari kedua matanya.

Damn.”

Ia mulai menggosok-gosok rambutnya yang sudah terlapisi oleh busa shampoo. Makin lama gosokannya semakin kuat, hampir membuat rambutnya yang ditutupi busa shampoo menjadi kusut. Menyadari apa yang tengah ia lakukan, ia buru-buru membilas rambutnya. Dan kini tangannya berpindah dari rambut ke lehernya. Ia menggosokan sabun pada lehernya yang terasa lengket itu.

I hate this.”

Ia menghela napas seraya membilas seluruh tubuhnya yang berlumuran sabun. Koyo yang menepel pada lutut kirinya mulai terasa dingin, padahal sebelumnya koyo itu memberikan rasa panas menusuk.

Adalah sebuah kebohongan kalau Jisoo mengatakan tidak pernah berpikiran untuk menyerah saja dan kembali ke LA. Hampir setiap hari semenjak ia menjadi trainee, ia selalu memikirkan hal tersebut sebelum tidur. Kemampuan dance miliknya tidak juga berkembang. Ia takut menghambat kemajuan Seventeen. Ia merasakan mampet pada hidungnya dan memutuskan untuk menyudahi mandinya kali ini. Ia membilas wajahnya sekalian membiarkan apa yang membuat hidungnya mampet mengalir bersama air pancuran.

-oOOo-

Hari demi hari berlalu, sepanjang masa traineenya, setiap kali selesai latihan, Jisoo mengurung dirinya sendiri di dalam kamar mandi dorm atau bahkan di secret room dalam dance practice room. Ia menangis dalam diam, menggigiti kerah bajunya agar suaranya tidak keluar dari mulut.

Walaupun dirinya dijuluki sebagai optimistic guy, laki-laki yang selalu menghadapi semuanya dengan seuyuman, ia adalah laki-laki biasa yang lahir pada tahun 1995. Ia dapat merasakan down, putus asa, sedih, patah semangat, kecewa, dan yang pasti ia juga dapat menangis.

“I envy Jisoo hyung’s English…”

Di saat dirinya merasa sudah lelah dan ingin menyerah karena tidak berguna, kata-kata yang diucapkan oleh Jihoon, anggota yang paling ia kagumi itu, membuat dirinya bersemangat, membuat dirinya semakin tidak mau kalah dari laki-laki bertubuh mungil itu. Terkadang ketika kata-kata itu terngiang di kepalanya, ia mendapati dirinya sendiri tersenyum.

“일분 일초가 보석 같은 시간을 즐겨”

(every one minute, every one second, enjoy your like-a-jewerly life)

Butuh waktu lama bagi Jisoo untuk menyadari bahwa setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Dan bagi dirinya, inilah hidupnya. Sebagai seorang trainee ia harus berusaha sebaik mungkin agar bisa terus maju. Dia telah mengambil jalan hidupnya dan ia harus menjalaninya dengan sebaik mungkin.

One minute one second every fckin’ time, this is my life…

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s