How to Win Your ❤ (Chapter 3)

htwyl

poster credits : blaxxjae @ IFA

 Title        : How to Win Your ❤
 Chapter      : 3
 Length       : Chaptered
 Rating       : PG-15
 Main Cast(s) : BTS Suga & CLC Yeeun

================================================================

Last chapter…

Yoongi dan Yeeun menghabiskan malam mereka berdua di Seonyudo Park, di saat itu juga Yoongi mulai sedikit demi sedikit memperkenalkan dirinya kepada Yeeun karena kalah lomba lari. Keduanya sama-sama have fun, namun mereka berdua tidak sadar ketika di perjalanan pulang mereka diikuti oleh seseorang. ************

================================================================

 

“Selamat pagi.” Yeeun berjalan keluar dari dalam kamar dengan seyuman di wajahnya. Ia masih mengenakan piyama berwarna merah muda miliknya.

Di ruang tengah apartment, Hanbyul tengah duduk di sofa sambil meneguk secangkir teh. Mendengar suara Yeeun yang khas, ia meletakkan cangkir berisi teh di atas meja dan menyapa adik tirinya itu. “Halo, selamat pagi princess.”

Yeeun berjalan mendekati Hanbyul dan duduk di samping laki-laki itu. Yeeun menyenderkan kepalanya di bahu Hanbyul, sambil berkali-kali mengucek matanya ia menggumamkan sesuatu yang tidak berhasil ditangkap oleh Hanbyul.

“Hm? Kau bicara apa Yeeun-ah? Oppa tidak bisa dengar”

“Aniyo~” Yeeun menggeleng-gelengkan kepalanya.

Senyum jahil terlukis di wajah Hanbyul. “Ah, pasti kau masih mengambang ya? Pasti date kemarin malam sangat menyenangkan ya.” Ia menoel-noel pipi Yeeun. Kemarin malam ketika sedang dinner Dongwoo mengatakan bahwa Yeeun pergi ke Seonyudo Park, melakukan date bersama dengan Yoongi. Hal ini tentu saja membuat Hanbyul dan Mrs. Jang kaget.

“Aish, oppa. Kemarin itu bukan date atau apapun itu.” Yeeun memutar kedua bole matanya seraya menjauhkan kepalanya dari bahu Hanbyul.

“Lho? Kata Dongwoo kalian kemarin nge-date.” Hanbyul mengerjapkan kedua matanya sambil menatap Yeeun.

Gadis bermata coklat tua itu mencibir. Ia heran mengapa sepupunya itu, Jang Dongwoo, sangatlah usil. Padahal kemarin ia sudah mengatakan bahwa Yoongi bukanlah teman spesial. Rasanya ia ingin mengatakan bahwa ia baru saja kenal dengan Yoongi beberapa hari yang lalu, tetapi ia mengurngkan niatnya karena ia tahu pasti apa yang akan terjadi. Ya, ia pasti dilarang untuk menemui Yoongi lagi.

Memang dari dulu Yeeun seringkali diberitahu ibunya bahwa ia tidak boleh langsung berteman dengan orang yang baru saja ditemui, tetapi Yeeun sangat membenci hal itu. Ia tidak mengerti mengapa ia harus menghindari orang asing, padahal menurutnya orang asing itu tidak semuanya jahat, seperti Yoongi. Memang ia juga berpikir bahwa Yoongi pada awalnya menyebalkan, namun ia merasa Yoongi tidaklah jahat maupun berbahaya.

“Dongwoo oppa mana?” tanya Yeeun yang sudah menyiapkan mental untuk memukuli laki-laki yang ia tanyakan keberadaannya dengan bantal yang ada di sofa.

Hanbyul tertawa melihat Yeeun yang mengambil bantal dan celingak-celinguk dengan galak seolah sedang mencari seorang maling.

“Dia hari ini mendapatkan panggilan..”

Yeeun melongo. “Eh? Kan sekarang hari Minggu.”

“Yah, begitulah,”

“Menjadi officer memang sulit.” Hanbyul menghela napas.

Yeeun hanya mengangguk-angguk. Dalam hati ia berdoa untuk keselamatan sepupu kesayangannya dalam menjalankan tugas mendadak hari ini.

“Ngomong-ngomong, apa kau mau dengan sukarela pergi ke market? Oppa hari ini sedang malas” ujar Hanbyul sambil merebahkan dirinya di sofa.

“Eh?”

“Ayolah, adik manis. Ya, ya, ya?” Hanbyul menatap Yeeun dengan tatapan memelas.

“Hahaha. Baiklah, baiklah. Aku ganti baju dulu ya.”

Thank you so much princess.” Hanbyul langsung kembali duduk dan mencium kening Yeeun. Yeeun hanya tertawa sebagai respon.

-oOOo-

Setelah berpamitan kepada Hanbyul dan ibunya yang baru saja bangun, Yeeun langsung bergegas keluar dari dalam apartment dan menuju ke lift. Ia masuk ke dalam lift dan ketika ia hendak menekan tombol agar pintu lift menutup, ia mendengar suara derap kaki.

“Tunggu!”

Yeeun dengan cepat menekan tombol agari pintu lift terbuka. Nampak sesosok laki-laki dengan rambut yang masih berantakan. Dalam sekali lihat siapapun pasti sadar bahwa pakaian laki-laki itu kusut, seperti baru dipakai untuk tidur.

“Eh..” Yeeun mengenal wajah milik laki-laki tersebut yang mulai memasuki lift.

“Oh, halo.” Laki-laki itu tersenyum kepada Yeeun.

Pintu lift tertutup dan mulai turun.

“Kau tinggal di sini Yeeun?” laki-laki yang berdiri sambil bersandar itu melemparkan pandangannya ke kaca yang terletak di belakang Yeeun. Ia membenahi rambutnya yang berantakan dengan bantuan jemari-jemarinya yang panjang.

Yeeun menggeleng. “Aku baru saja pindah kemarin ke apartment kakakku ini.”

Laki-laki itu mengangguk-angguk sebelum tersenyum lagi kepada Yeeun.

“Kemarin Juma’t kenapa kau tidak masuk?”

“Ah, aku sedang tidak enak badan. Apakah ada banyak tugas, Mingyu?”

Laki-laki yang bernama Mingyu itu menggelengkan kepalanya.

“Kemarin Juma’t kelas benar-benar kacau,” ujarnya.

“Kau tahu Shim songsaenim? Wali kelas kita.”

Yeeun mengangguk, menyimak Mingyu dengan serius. “Ya, tentu aku tahu dia. Ada apa?”

Mingyu menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya.

“Hari Juma’t kemarin beliau dikeluarkan dari sekolah. Dan, ya, begitulah. Semua anak kelas kita melakukan protes. Di lapangan.”

Kedua mata Yeeun terbelakbak. Ia tidak percaya apa yang dikatakan oleh Mingyu. Well, kelas yang mereka duduki memang isinya bercampur-campur mulai dari anak ter-rajin sampai anak ter-malas ada di sana. Yeeun tidak menyangka bahwa sebenarnya mereka semua bisa kompak.

Pintu lift terbuka. Kini mereka sudah berada di lantai 1 gedung apartment. Keduanya berjalan keluar dari lift dan menuju ke pintu keluar yang mengarah ke jalanan.

“Lalu, lalu? Apa yang terjadi?” tanya Yeeun penasaran.

“Yah, begitulah,” Mingyu membukakan pintu.

“Karena kita melakukan protes seperti itu, kelas kita dipulangkan.” lanjut Mingyu sambil melangkahkan kakinya ke jalanan menyusul Yeeun.

“Eh? Benarkah?”

Mingyu mengangguk-angguk sambil tertawa.

“Jadi sama sekali tidak ada kelas? Wah…”

“Hahaha. Jadi kau tidak masuk pun sama saja,” “Ngomong-ngomong, kau mau ke mana Yeeun?”

“Ah, aku mau ke market.”

“Membeli belanjaan hari Minggu ya?”

“Yap.” “Apa kau tahu market mana yang menjual barang-barang dengan lengkap?”

Mingyu mengangguk. “Tentu saja aku tahu. Ayo kita ke sana bersama. Aku kebetulan mau ke tempat itu juga.”

“Baiklah, ayo!” Yeeun berjalan berdampingan dengan teman sekelasnya, Kim Mingyu sambil terus bercakap-cakap mengenai kejadian hari Juma’t ketika ia tidak masuk sekolah.

-oOOo-

[Yeeun’s POV]

Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan Mingyu di sini. Aku pikir rumahnya di kondominium mewah karena penampilannya memang seperti anak yang tinggal di kondominium. Aku sebenarnya merasa beruntung karena sedari masuk SMA aku selalu sekelas dengannya. Mingyu adalah orang yang ramah. Walaupun kami tidak terlalu dekat tapi aku merasa sangat nyaman ketika berbincang dengannya, mungkin karena umur kami yang tidak terlalu berbeda jauh. Semua anak-anak seangkatanku berumur dua tahun lebih tua, tetapi Mingyu hanya lebih tua setahun dariku.

“Hey awas!” Aku merasakan tanganku ditarik oleh Mingyu. Aku hanya bernapas lega ketika menyadari bahwa kakiku hampir saja masuk ke dalam selokan.

“Terima kasih Mingyu.” ucapku sambil mengusap-usap dadaku.

“Ya sama-sama. Hati-hati, jangan meleng.”

Aku tak bisa menahan tawaku ketika ia berkata seperti itu. Bagiku itu terkesan sangat bapak-bapak, ditambah lagi suaranya sangatlah berat.

“Hey, kenapa kau tertawa hah?”

“Tidak, tidak apa-apa.” Aku berusaha keras menghentikan tawaku.

“Dasar. Pasti karena suaraku kan?”

Aku merasakan telapak tangannya yang besar mengacak-acak rambutku.

“Hee! Hentikan.” Aku memukul pelan tangannya yang langsung berhenti hinggap di kepalaku, dan aku pun langsung menyisiri rambutku menggunakan jemariku.

[End of Yeeun’s POV]

 

<<flashback…>>

Yeeun duduk di bawah pohon mei hua, memperhatikan teman-teman sekelasnya yang mulai bergabung bersama kelompoknya dan mengerjakan tugas yang diberikan selama study tour ke China yang sedang mereka lakukan.

Yeeun hanya bisa menghela napas karena ia benar-benar tidak dekat dengan siapapun yang berada di kelasnya. Usianya yang jauh lebih muda dua tahun membuat dirinya merasa minder untuk bergaul bersama mereka.

Yeeun mengeluarkan alat tulisnya dan mulai menorehkan pulpennya di atas lembar kerja yang dibagikan di hari pertama mereka sampai di China.

“Hey.”

Yeeun menoleh ke sebelah kanannya, seorang laki-laki tiba-tiba duduk di sana sambil menyenderkan tubuh bagian atasnya ke batang pohon. Kedua mata tajam milik laki-laki itu menatap kepada Yeeun.

Menyeramkan, galak, namun sekaligus hangat dan ramah. Itulah yang Yeeun rasakan dari tatapan laki-laki itu. Yeeun bahkan tidak sempat mengerjapkan kedua matanya.

“Mau sekelompok denganku?”

Kedua mata Yeeun masih tidak berkedip, namun tanpa terasa mulutnya semakin menganga. Laki-laki yang menatapnya mengeluarkan suara tawa yang serak, entah karena ia sedang pilek atau karena ia berusaha keras menahan tawanya.

“Tampangmu tidak perlu seperti itu.” ujarnya sambil menggeleng-gelengkan pelan kepalanya dengan kondisi mulut yang sedikit terbuka karena tertawa. Deretan giginya terlihat rapi walaupun ada taring di sisi kanan dan kiri.

“Kau Jang Yeeun kan? Kau cukup terkenal di kelas lho.”

Yeeun memiringkan kepalanya ke kanan, ia tidak menduga hal tersebut.

“Kau terkenal karena kau adalah yang paling muda di kelas,” lanjut laki-laki itu.

“Oh iya. Aku belum memperkenalkan diri secara face to face ya.” laki-laki itu membernarkan posisi duduknya dan dengan tegap ia mengarahkan tubuh bagian atasnya menghadap ke arah Yeeun dengan lurus.

“Namaku Kim Mingyu, aku ketua kelas 10-2. Senang berkenalan denganmu.”

<>

-oOOo-

Yoongi menggosok-gosok wajahnya menggunakan kedua tangannya. Matanya yang sipit masih terasa sepet karena ia masih mengantuk. Kalau saja tadi ponselnya tidak berbunyi, ia pasti masih berada di alam mimpi.

Yoongi meraih ponselnya dan mendapati 5 pesan baru dan 3 misscall.

‘Ck, siapa sih pagi-pagi begini?’ batin Yoongi sambil mematikan ponselnya.

Entah mengapa tiba-tiba wajah Ray yang sedang menyeringai terbayang di pikiran Yoongi. Ia dengan tergesa-gesa kembali menyalakan ponselnya untuk mencari tahu dari siapa pesan dan misscall berasal. Ia berharap semuanya bukan berasal dari Ray ataupun anggota RUNNERS lainnya. Ia berharap semua pesan yang baru masuk berasal dari operator, yang mana hal itu ia benci. Dan untuk misscall, ia berharap itu hanyalah salah nomor.

Namun harapan Yoongi musnah sudah. 5 pesan baru dan 3 misscall dari orang yang sama, yaitu Kim Hyunil atau yang lebih dikenal sebagai Ray oleh para anggota RUNNERS.

“Sial,” gumam Yoongi.

Napasnya terasa semakin sesak ketika ia membuka salah satu pesan yang berisi:

Kau wajib datang hari ini, di tempat biasa. Tidak pakai telat. Pukul 19.00 the fun begins.

Yoongi mengerang karena frustasi. Ia tidak mencoba untuk meloloskan diri karena ia tahu tidak akan berhasil. Entah apa yang direncanakan oleh Ray dan anggota RUNNERS lainnya, tetapi Yoongi mempunyai feeling yang tidak enak mengenai pertemuan kali ini.

‘Tenang Min Yoongi. Kau harus tenang.’ batin Yoongi.

Feeling tidak enak muncul karena kemarin kau tidak ikut berkumpul. Ya, pasti hanya karena itu.’

“Ck! Sialan!” Yoongi menghalangi kedua matanya menggunakan guling dan memutuskan untuk kembali tidur sampai siang nanti.

-oOOo-

“Aduh, maafkan aku Mingyu.” ujar Yeeun sambil terus berjalan mundur.

“Ah, tidak apa-apa kok. Hanya barang-barang seperti ini.”

Suara Mingyu terdengar jelas namun wajahnya terhalang oleh tumpukan kantung belanjaan miliknya sendiri dan juga milik Yeeun. Tidak jauh berbeda dengan laki-laki lainnya, Mingyu tidak tega membiarkan seorang perempuan membawa banyak barang, walaupun tidak berat tetap saja ada beban. Tanpa berpikir panjang, setelah membayar barang belanjaan masing-masing, Mingyu mengatakan akan membawakan barang belanjaan Yeeun, bahkan sedikit memaksa.

“Awas hati-hati! Di sebelah kananmu ada orang!”

Sementara Mingyu membawa barang belanjaan, Yeeun bertugas menjadi pemberi komando arah agar Mingyu tidak menabrak sana-sini. Entah bagaimana caranya, keduanya berhasil sampai ke gedung apartment dan menaiki lift sampai ke lantai 10, lantai di mana keduanya tinggal tanpa menjatuhkan barang belanjaan apapun.

“Jadi, nomor berapa?” tanya Mingyu yang berjalan perlahan keluar dari dalam lift. Ia memperhatikan langkahnya dengan sangat cermat, takut-takut kakinya menginjak atau tersandung sesuatu.

“1004” jawab Yeeun yang berjalan mundur sambil sesekali menengok ke arah belakang.

“Oh, bersebelahan berarti” sahut Mingyu.

“Kau harus sering-sering main,” lanjut laki-laki berambut hitam itu.

Yeeun mengangguk, padahal anggukannya tidak dapat dilihat oleh Mingyu. Menyadari hal itu, Yeeun tertawa sendiri karena kebodohannya.

“Ahaha, oh, maafkan aku.” ujar Yeeun.

“Baiklah, aku akan sering main ke tempatmu.”

Setelah beberapa waktu, terasa lama sekali bagi Mingyu, akhirnya mereka sampai di depan apartment nomor 1004. Tanpa dikomando, Mingyu menurunkan semua barang belanjaan secara perlahan ke lantai. Ia duduk bersandar pada tembok dekat pintu, melemparkan senyum lelah kepada Yeeun yang membalas senyumannya dengan senyuman yang seolah mengungkapkan terima kasih.

Yeeun menekan bel di dekat pintu dan pintu langsung tebuka tidak lama setelah itu. Dari dalam muncul Hanbyul yang masih mengalungkan handuk di lehernya. Ia tersenyum menyambut Yeeun.

“Halo, kau sudah pu-”

Pandangan Hanbyul kemudian tertuju ke arah Mingyu yang tengah bersender sambil mengatur napasnya.

“Hm? Siapa laki-laki ini? Pacar barumu?” goda Hanbyul.

Spontan, Mingyu mendelik ke arah Hanbyul sambil melemparkan padangan bingung. Yeeun cemberut menanggapi godaan Hanbyul. Ia memukul lengan Hanbyul cukup keras, suaranya terdengar nyaring, bahkan Mingyu pun sampai meringis mendengar suara tersebut.

“Astaga, astaga! Maafkan aku. Aku ka hanya bercanda!” Hanbyul mengusap-usap lengannya yang kini memiliki tapak berwarna merah karena dipukul.

Mingyu terkekeh kemudian ia berdiri sambil mengangkat kembali kantung-kantung belanjaan.

“Maaf aku mengiterupsi, tapi apakah boleh aku membawa masuk barang bawaan nona muda yang bersamaku ini?” Mingyu mencoba terdengar puitis, namun hal tersebut malah menimbulkan gelak tawa Hanbyul dan Dongwoo yang entah sejak kapan tiba-tiba berada di balik pintu bersama dengan Hanbyul.

“Hahaha! Baiklah, baiklah. Silakan masuk, anak tampan.” ujar Hanbyul mempersilakan.

-oOOo-

[Mingyu’s POV]

Aku berpamitan kepada Yeeun dan keluarganya. Anak itu memang benar-benar mirip dengan ibunya. Keduanya mempunyai lesung di pipinya, manis sekali, sama sepertiku.

Sebelum keluar dari pintu aku memperhatikan kedua laki-laki lain yang berada di ruangan sekilas. Aku masih tidak tahu yang mana kakaknya karena keduanya tidak ada yang mirip dengan dirinya. Tapi laki-laki berwajah unik itu, kalau tidak salah ingat namanya Dongwoo, rasanya aku pernah melihatnya.

Keadaan apartmentku benar-benar berbeda dengan keadaan apartment nomor 1004. Suasana di sana tadi sangatlah hidup, sedangkan di sini? Hm. Memang sudah dari lama aku tinggal sendiri tapi tetap saja aku merasa kesepian. Banyak orang yang bilang kalau aku terlihat menyeramkan, padahal sebenarnya aku seperti seekor lone-wolf.

[End of Mingyu’s POV]

“Jadi siapa laki-laki tadi Yeeun?” Mrs. Jang yang sedang memasak makan siang bertanya kepada anaknya yang sedang asik menonton acara musik.

Yeeun memang sayang ibunya, tetapi, ia malas membicarakan hal ini dengan ibunya karena ia tahu betul seperi apa ibunya. Ia yakin 100% ibunya akan ‘menguliahi’ dirinya tentang tidak boleh teralu dekat dengan laki-laki atau bagaimana kebanyakan laki-laki adalah seorang jerk. Dengan sengaja ia membesarkan volume TV.

Mrs. Jang yang tidak tahu anaknya melakukan hal itu dengan sengaja hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. Ia kemudian menoleh ke arah Dongwoo yang sedang membantunya memasak.

“Apa kau tahu laki-laki tadi siapa Dongwoo?”

“Ya, aku tahu. Namanya adalah Kim Minggyu, aunt.”

“Apa dia teman sekelas Yeeun?” tanya Mrs. Jang.

“Aku tidak tahu soal itu, mianhae,”

“Tapi” lanjut Dongwoo. “Aku tahu si Kim Mingyu ini karena dulu di-”

Suara ketel yang bersiul menginterupsi percakapan keduanya.

OH MY GAWD!” Dongwoo berseru karena kaget, kakinya lemas dan dia jatuh terduduk di lantai dapur. “Aish! Jeongmal!” ia mengusap-usap dadanya.

Hanbyul yang baru berjalan memasuki dapur tertawa melihat Dongwoo yang duduk di lantai, sementara Mrs. Jang menatap Dongwoo dengan heran.

“Dia sering sekali melakukan ini mom.” ujar Hanbyul kalem.

Mrs. Jang hanya menggelengkan kepalanya kemudian kembali berkonsentrasi kepada pekerjaannya. Dirinya merasa sedikit lega karena Dongwoo mengenal laki-laki tinggi tadi, ia berpikir setidaknya kalau Dongwoo mengenalnya tandanya laki-laki berkulit sawo matang yang tadi datang berkunjung itu tidak berbahaya.

-oOOo-

Yoongi membuka kedua matanya perlahan, ia yang merasa sudah menghabiskan cukup waktu untuk tidur meraih ponselnya yang terletak di meja kecil di samping tempat tidurnya. Kedua matanya terbelakbak kaget melihat jam di ponselnya menunjukkan pukul 18.00. Dengan terburu-buru ia membuka lemari pakaian, mengambil pakaian dan berlari ke kamar mandi. Tidak sampai lima menit, ia sudah keluar dari dalam kamar mandi dan seperti biasa, menaikkan resleting celananya sambil berjalan keluar kamar.

Yoongi nyaris terpekik kaget ketika membuka pintu rumahnya dan mendapati dua orang yang sedang berdiri bersender di pagar rumahnya.

“Oh, halo Sugaboy.” sapa salah seorang dari mereka yang berponi, bibirnya yang agak tebal menyunggingkan senyum.

“Halo, V” Yoongi menyapanya balik sebelum ia mengunci pintu rumahnya dan meletakan kunci ke dalam saku celananya.

“Sedang apa kalian di sini?” tanya Yoongi. Feelingnya tidak enak mengenai hal ini.

“Aku dan RM,” laki-laki yang dipanggil V itu menepuk-nepuk pundak lelaki yang berdiri di sebelahnya.

“Disuruh oleh Ray untuk menjemputmu”

Yoongi menghela napas sebelum berjalan mendekati keduanya.

“Ayo, cepat naik!” seru V yang sudah menyalakan mesin motornya.

Yoongi melompat naik ke motor berwarna merah yang telah dimodifikasi itu dan berpegangan pada bagian belakang jok motor. Begitu Yoongi menggumamkan “Jalan..” motor tersebut langsung melaju. Sementara itu, motor yang dikendarai oleh RM sudah melaju lebih dulu. Laki-laki berambut jabrik itu dibonceng oleh seseorang yang mengenakan helm. Feeling Yoongi semakin menjadi tidak karuan. Setiap kali melihat orang mengenakan helm ada di antara anggota RUNNERS, Yoongi tidak bisa berhenti memikirkan kejadian tiga tahun lalu, tepat di hari ia bergabung menjadi anggota RUNNERS.

 

<<flashback>>

Yoongi menggenggam erat helm yang ada di pangkuannya. Ia memberanikan dirinya untuk turun dari motor yang memboncengnya, berjalan menyusul si pemboncengnya yang sudah berjalan mendahuluinya memasuki sebuah garasi yang terlihat sempit dari depan namun tentu saja garasi itu sangatlah luas.

“Hey!”

Yoongi memperhatikan orang yang memboncengnya tadi bersalaman dengan orang-orang yang berada di dalam garasi, sementara dirinya hanya bisa mengangguk-angguk pada mereka – memberikan salam -.

“Aku bawa anak baru.”

Yoongi merasakan semua mata yang ada di dalam sana menuju ke arahnya. Ia mencoba menatap mereka semua satu persatu namun terlalu banyak orang di sana sehingga ia hanya berhasil menatap seperempat dari mereka.

Ketika sedang memperhatikan sekeliling, Yoongi mendengar suara hantaman keras. Dengan segera ia menoleh ke arah suara dan melihat sesuatu -atau tepatnya seseorang, terjatuh keluar dari sebuah tong berwarna biru tua. Yoongi benar-benar kaget karena wajah orang itu babak belur.

“Wah, halo.”

Yoongi merasakan sebuah tepukan di pundaknya.

“Maaf ya, kau yang anak baru harus menyaksikan hal ini.”

Yoongi menolehkan kepalanya dan mendapati sesosok laki-laki berkulit putih. Rambutnya yang berwarna hitam pekat selaras dengan warna bola matanya. Laki-laki itu tersenyum.

“Namaku Kim Hyunil, tapi kau bisa memanggilku Ray.”

Yoongi membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, namun sebuah suara berat menggema di dalam garasi.

“Hey, Ray! Apa dia orangnya? Kau yakin?”

Yoongi mengikuti arah pandangan Ray dan melihat seorang laki-laki berperawakan cukup besar sedang duduk di atas sebuah motor berwarna hitam gelap.

“Ya, aku tidak mungkin salah. Dia, adalah polisi yang menyamar itu.”

Yoongi tidak melihat wajah Ray namun ia dapat menggambarkan bahwa laki-laki yang tingginya sepantaran dengannya itu sedang tersenyum.

“Baiklah. Aku percaya sepenuhnya kepadamu.”

Laki-laki yang sedang duduk di atas motor berwarna hitam pekat tadi memberikan isyarat tangan dan seseorang yang mengenakan helm muncul dari pojok ruangan membawa sebuah stick pemukul yang terbuat dari kayu.

“Now the fun begins..” Yoongi mendengar Ray bergumam dan dalam sekejap bulu kuduknya berdiri.

Suara hantaman demi hantaman dari stick kayu terhadap tubuh laki-laki yang katanya adalah polisi yang sedang menyamar itu benar-benar membuat Yoongi merasa mual. Memang dirinya adalah laki-laki tetapi melihat kejadian ini secara live benar-benar membuatnya merasa mual.

Entah sudah berapa lama kejadian di hadapannya berlangsung, walaupun ia ingin memalingkan wajahnya, ia tidak bisa. Rasa penasaran dan rasa panik menyelimuti dirinya. Tiba-tiba saja terdengar suara sirine mobil polisi yang mendekat.

“Ayo kabur!”

“Tinggalkan saja polisi sialan itu! Dia sudah setengah mati!”

Semua yang ada di dalam ruangan mulai menaiki motor masing-masing.

“Hey, ayo cepat! Kau tidak mau tertangkap kan?”

Yoongi merasakan lengannya ditarik oleh Ray yang sedari tadi berdiri di belakangnya. Tarikan Ray yang cukup kuat itu membuat kedua kakinya yang terasa menempel pada tanah bergerak, mulai berlari ke arah motor milik Ray.

Tanpa disuruh Yoongi langsung melompat menduduki jok motor Ray dan motor itu melaju kencang menyusul motor-motor lain yang sudah berhamburan keluar.

<<end of flashback>>

 

“Hey, turunlah, kita sudah sampai.” Suara V membuyarkan lamunan Yoongi dan dengan segera ia turun dari motor, berjalan mendekati Ray yang ada di tengah-tengah ruangan.

Hello, Sugaboy! Bagaimana kabarmu hm?” Ray melayangkan tepukan kuat di punggung Yoongi.

“Aku baik-baik saja, Ray.”

“Syukurlah kau membuatku khawatir karena kemarin kau sama sekali tidak membalas pesanku.”

“Pulsaku habis,” jawab Yoongi berbohong.

Sementara keduanya sedang berbincang, beberapa anggota RUNNERS lain nampak mempersiapkan sesuatu. Mereka menata, seolah ingin menjadikan tengah-tengah ruangan sebagai sebuah arena pertarungan. Yoongi yang cepat tanggap menyadari situasi, menyadari apa yang teman-temannya sedang lakukan, berinisiatif untuk membantu, namun Ray menghentikan langkahnya.

“Wow, wow! Tunggu dulu. Kau mau ke mana?”

“… Aku rasa mereka membutuhkan bantuan..”

Ray tertawa mendengar jawaban Yoongi.

“Ya, ya, kau memang benar, mereka butuh bantuan tapi..” ia meletakkan kedua tangannya di kedua bahu Yoongi.

“Tapi hari ini kaulah guestnya, take your time, Sugaboy.”

DEGG

Jantung Yoongi berdebar bukan main. Selama empat tahun bergabung dengan RUNNERS, ia sering melihat acara yang disebut sebagai fun-night, yang beberapa waktu ke depan akan dilaksanakan, dengan dirinya sebagai guest. Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya ia membayangkan dirinya harus melakukan hal ini.

“Hm, sebenarnya kami akan melakukan ini kemarin, tapi, yah, kau yang sebagai guest tidak hadir jadi kami mengundurnya..” Ray memberi isyarat tangan pada orang berhelm yang tadi membonceng RM.

Orang berhelm itu pun berjalan ke tengah dan membuka helmnya, menunjukkan wajahnya pada semua yang berada di dalam ruangan.

Give us the best show, yeah?” Ray berjalan menjauhi bagian tengah ruangan.

“Halo, Yoongi..” sapa orang yang tadi mengenakan helm itu. Ia meleparkan helmnya ke arah belakang dan Ray menangkap helm itu sebelum terjatuh ke permukaan tanah.

Yoongi memperhatikan wajah laki-laki yang kini berhadap-hadapan dengannya. Ia 100% yakin bahwa laki-laki itu adalah teman sekelasnya, Lee Seokmin, si class clown.

“Kaget ya? Maaf ya selama ini aku menyembunyikannya..”

Yoongi diam, tidak menjawab.

“Hey, apa kau marah, Sugaboy?”

“Maaf ya, aku sebenarnya sudah lama tahu kau anggota team ini tapi setiap bertemu di kelas aku sama sekali tidak menyapamu. Tidak seru bukan kalau kau tahu apa yang ada di dalam peti sebelum membukanya?”

Tiba-tiba saja lengan Seokmin yang panjang melaju kencang ke arah Yoongi dan berhasi memukul wajah Yoongi.

Let me introduce myself.” Seokmin tertawa kecil.

“DK imnida…”

-oOOo-

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s