How to Win Your ❤ (Chapter 2)

htwyl

poster credits : blaxxjae @ IFA

 Title        : How to Win Your ❤
 Chapter      : 2
 Length       : Chaptered
 Rating       : PG-15
 Main Cast(s) : BTS Suga & CLC Yeeun

Last chapter….

Jang Yeeun, seorang gadis yang duduk di bangku SMA bertemu dengan seorang anggota geng motor, Min Yoongi di tengah pelariannya dari rumah. Pertikaian di antara keduanya berujung pada tertabraknya motor Yoongi oleh sebuah truk yang tengah melaju kencang. Sebagai jaminan agar Yeeun tidak melupakan janjinya yang akan mengganti rugi, Yoongi memberikan jaket kesayangannya agar ketika mereka bertemu kembali Yoongi bisa menagih uang ganti rugi motornya

.

.

.

.

Sebuah taksi berhenti di depan rumah sakit pusat, dan dari dalam taksi keluarlah tiga sosok dengan pakaian rapi, salah satu di antara mereka membawa keranjang berisi buah-buahan dan beberapa macam makanan ringan berupa roti dan kue.

“Wah! Kalau seperti ini sih, aku mau sakit asalkan Yeeunie menjengukku setiap hari,” canda Dongwoo sambil melirik ke arah keranjang yang hampir penuh itu.

“Kalau aku sih lebih baik sehat bugar” sahut Hanbyul, lengannya merangkul bahu sang adik sambil beberapa kali mengusapnya.

“Ayo kita masuk ke dalam.”

Ketiganya berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menuju ke meja resepsionis untuk mengetahui di mana Mrs. Jang dirawat. Tidak di antara mereka ada yang sadar bahwa seorang laki-laki berjalan masuk juga ke dalam, tidak jauh di belakang mereka.

[Yoongi’s POV]

Aku memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit begitu waktu menujukkan pukul 7 tepat. Aku malas kalau harus mengantri. Ternyata perjalanan dengan MRT cukup memakan waktu, sekarang sudah pukul 7.20 dan aku baru sampai di rumah sakit.

Rasa sakit di bahuku semakin menjadi, aku hanya bisa menahan sakit sambil berjalan masuk ke dalam rumah sakit.

“Dongwoo oppa, eomma benar baik-baik saja kan?”

“Iya Yeeunie, aunt baik-baik saja. Hanya saja wajahnya sedikit memar.”

Tiga orang yang berada di depanku berjalan dengan lambat, rasanya aku ingin mendorong ketiganya. Tapi ngomong-ngomong, perempuan yang berada di tengah rasanya mengingatkanku pada si Baek Chihui.

“Selamat pagi tuan, ada yang bisa kami bantu?” Seorang perawat mendadak muncul di hadapanku.

“Oh.. eh, selamat pagi.” Ujarku sedikit gugup karena kaget.

“Begini, bahuku terasa sakit. Aku ingin menemui dokter tulang” jawabku asal karena aku benar-benar tidak tahu harus menemui dokter apa.

“Ada yang salah dengan tulangmu?” tanya perawat itu lagi.

“Oh, hm entahlah. Sebenarnya semalam bahuku menabrak tiang listrik cukup keras dan terasa sakit sekali sampai detik ini.”

Perawat di hadapanku tertawa.

“Tidak perlu dokter tulang,” katanya.

“Mari ikut saya.” Ia berjalan mendahuluiku dan aku pun menyusul langkahnya.

Ketika itu, ketiga orang yang tadi berjalan di depanku sudah menghilang.

[End of Yoongi’s POV]

 

Dongwoo, Hanbyul, dan Yeeun memasuki kamar tempat Mrs. Jang dirawat. Tubuh Mrs. Jang terbaring di ranjang rumah sakit. Rambutnya berantakan dan memar terlihat jelas di wajahnya yang cantik.

“Eomma ya…” Yeeun terisak sambil memegangi keranjang berisi makanan untuk ibunya.

“Sssh, sudah, sudah, jangan menangis lagi Yeeun.” Hanbyul mengusap-usap punggung Yeeun. Sementara Dongwoo menepuk-nepuk pelan kepala Yeeun.

Masih terisak, Yeeun berjalan mendekati ranjang kemudian meletakkan keranjang yang dijinjingnya di atas meja kecil dekat ranjang. Ia berlutut di lantai sambil memegangi tangan ibunya.

“Eomma, cepat pulih ya..” lirihnya.

-oOOo-

“Baiklah, terima kasih dokter, sampai jumpa.”

Yoongi keluar dari salah satu ruang praktek sambil membawa sebuah amplop besar berwarna coklat. Ia duduk di deretan bangku di depan ruang praktek sambil mengeluarkan selembar foto rontgen. Ia menghela napas lega karena ternyata bahunya tidak mengalami luka parah, ia hanya mendaptkan memar di bahu kanannya.

“Syukurlah…” ia bergumam sambil kembali memasukan foto rontgen tersebut ke dalam amplop.

“HEY! Bukankah itu anak RUNNERS?”

Yoongi kaget setengah mati mendengar suara berat seorang laki-laki dari arah lorong menuju ke ruang praktek.

“Cih, sial.” Ia menggenggam erat amplop di tangannya dan langsung berlari dari tempatnya berada.

“HEY! TUNGGU!”

Suara derapan kaki semakin mendekat dan Yoongi pun berlari makin kencang. Ia tidak mempedulikan rasa sakit pada bahunya, yang ada di pikirannya sekarang adalah “Lari atau kau harus dirawat di rumah sakit, Min Yoongi!”

Yoongi tidak tahu siapa orang-orang yang mengejarnya, tapi ia yakin bahwa mereka adalah orang-orang yang harus diwaspadai. Karena selain RUNNERS banyak geng motor lainnya di kota ini yang tentunya doesn’t get along well dengan RUNNERS, salah satu contohnya adalah RIDERS.

Tanpa menegok ke belakang, Yoongi terus mempercepat larinya walaupun suara derap kaki yang mengejarnya mengecil, karena ia paham betul, orang-orang semacam mereka tidak akan berhenti begitu saja.

Ia merasa cukup beruntung karena ia berada di lorong rumah sakit, bukan berada di bagian depan atau bagian manapun dari rumah sakit yang penuh dengan orang. Para perawat pasti akan menyuruhnya untuk berhenti berlari, atau yang lebih parah ia bisa saja menabrak orang sakit.

‘Sial!’ batin Yoongi ketika menemui dead-end pada lorong. Di depannya berdiri sebuah tembok tanpa celah, sedangkan di bagian kanan tempatnya berdiri ada sebuah toilet yang terisi. ‘Ck!’ Ia berdiri di depan toilet, berharap orang di dalam cepat-cepat keluar.

“Hey! Kemana dia?” Yoongi dapat mendengar suara orang tadi dan pintu toilet di depannya terbuka, seorang nenek keluar dari dalam. Ia tersenyum kepada nenek tersebut sebelum akhirnya masuk ke dalam toilet dan sengaja tidak menguncinya, untuk menghindari kecurigaan orang-orang yang tadi mengejarnya.

Di dalam toilet, Yoongi berdiri menempel pada tembok, jadi ketika pintu dibuka ia akan berada persis di balik pintu.

-oOOo-

“Mau kemana Yeeunie?” Dongwoo melihat Yeeun berjalan ke arah pintu.

“Ah, aku mau ke toilet oppa” jawab Yeeun yang sudah meraih gagang pintu.

“Perlu aku antar?” Dongwoo yang masih tidak bergeming dari tempat duduknya menatap ke arah Yeeun.

Yeeun hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan sepupunya. “Tidak perlu oppa, aku bisa sendiri kok.”

Gadis berambut panjang itu melepaskan gagang pintu dan berjalan mendekati kamar mandi di dalam kamar yang terkunci.

“Hanbyul oppa, aku ke toilet dulu ya” pamitnya.

“…”

“Oh, baiklah! Maafkan oppa ya kau jadi harus ke kamar mandi di luar. Perut oppa mendadak tidak enak” sahut suara dari dalam kamar mandi yang terkunci itu.

Yeeun dan Dongwoo tidak bisa menahan tawa mereka.

“Makannya, kau jangan suka makan sembarangan Hanbyul.” goda Dongwoo.

Hanbyul tidak menyahut.

-oOOo-

Sudah 5 menit berlalu, namun Yeeun masih belum berhasil menemukan di mana toilet berada. Perawat yang ia temui di lorong utama tadi mengatakan bahwa toilet berada di lorong ujung. Kini ia berada di lorong ujung, yang mungkin dimaksudkan oleh perawat tadi atau mungkin saja ia tersesat, tetapi ia masih belum berhasil menemukan toilet.

“Aigoo.. Di mana ya?” gumamnya sambil terus berjalan lurus.

Jantung Yeeun berdebar kencang karena walaupun di lorong ini ada beberapa ruangan praktek, namun minimnya lampu dan sepinya lorong membuat dirinya takut akan munculnya sesosok makhluk mengerikan.

“Aniyaaa~” sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia terus berjalan.

-oOOo-

Yoongi dapat mendengar detak jantungnya sendiri. Sudah lama ia tidak terlibat dalam pertikaian fisik, ditambah lagi rasa nyeri di bahunya membuat dirinya tidak yakin dapat memenangkan apabila terjadi pertarungan di antara dirinya dengan kedua orang tadi.

“Sial,” umpatnya pelan, napasnya menggebu tidak beraturan.

Tiba-tiba saja ia mendengar suara langkah mendekati toilet. Ia langsung mengambil posisi kuda-kuda sambil mengepalkan kedua tangannya, membiarkan amplop berisi foto rontgen tergeletak di lantai toilet yang kering.

Suara langkah tadi berhenti tepat di depan pintu, dan kemudian pintu terdorong. Yoongi meloncat keluar dan…

“AAAA!”

Yoongi spontan menutup kedua telinganya namun merasa sedikit lega karena di depan pintu berdiri seorang gadis, bukan kedua laki-laki tadi, ditambah lagi gadis itu adalah si Baek Chihui.

“Berisik sekali kau ini” ujar Yoongi.

“Siapa yang tidak kaget kalau ada orang muncul dari balik pintu!?” Merasa jengkel karena jantungnya terasa hampir copot, Yeeun memukuli bahu laki-laki yang berdiri di hadapannya itu.

“Aduh! Sakit, bodoh!”  Yoongi menjauhkan bahunya dari pukulan Yeeun. Kebetulan bahu yang dipukul adalah bahu yang semalam menghantam tiang listrik.

“Eh! Maafkan..” Yeeun yang panik meraba bahu Yoongi tersebut.

Yoongi menyeringai, “Oh, kau hobi pegang-pegang laki-laki di dalam toilet ya?”

Yeeun melotot mendengar perkataan Yoongi dan spontan memukul lagi bahu Yoongi yang terluka itu. Yoongi meringis. “A-duh! Kau ini mengerti sakit tidak!?”

Yoongi menjewer telinga Yeeun, gadis itu merengek. “Aww! Hentikan! Sakit tahu!” ia memukul-mukuli tangan Yoongi, laki-laki itu hanya tertawa.

“Aku kira kau tidak tahu sakit..” Yoongi menyeringai seraya melepaskan jewerannya.

Yeeun mengusap-usap telinganya yang terasa panas itu sambil menatap jengkel ke arah Yoongi.

“Sedang apa kau di sini? Kenapa tidak mengunci toiletnya? Apa kau berniat mengagetkan seseorang?”

Yoongi sedikit kaget mendengar pertanyaan Yeeun yang beruntun itu, namun entah mengapa ia memutuskan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan satu per satu, satu per satu.

“Sedang apa aku di sini? Aku sedang bersembunyi.”

“Kenapa tidak mengunci toiletnya? Karena aku yakin mereka tidak akan curiga apabila tidak terkunci. Kalau terkunci mereka akan mendobrak masuk.”

“Aku tidak berniat mengagetkan siapapun, kau saja yang nasibnya sial.”

Yeeun berkacak pinggang mendengar jawaban terakhir dari Yoongi tapi kemudian seolah ia teringat sesuatu, kedua matanya terbelakbak.

“Kau sedang dikejar-kejar oleh orang jahat kah!?”

Entah apa yang ada dipikiran gadis itu, ia menarik tangan Yoongi, mereka keluar dari dalam toilet.

“Hey, hey! Tunggu kita mau ke-“

“Sudah! Diam saja! Kau sembunyi saja di kamar eomma ku dirawat!”

Tanpa menghiraukan Yoongi, Yeeun terus berlari sambil menarik tangan laki-laki yang baru saja ia temui kemarin itu, mereka menyusuri lorong demi lorong dan akhirnya sampai di kamar Mrs. Jang dirawat secara beruntung karena tidak berpapasan dengan kedua orang yang tadi mengejar Yoongi.

Yeeun membawa Yoongi masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dari dalam, ia menyenderkan tubuhnya tepat di pintu sambil mengatur napas. Yoongi yang terbiasa berlari itu nampak santai, ia menatap gadis di hadapannya dengan bingung.

“….” Yoongi membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tetapi ia mengurungkan niatnya.

Yeeun secara perlahan membalikan badannya, mengintip keluar lorong dari jendela kecil yang ada di pintu. Yoongi yang memperhatikan hal ini hanya bisa tersenyum, menahan tawanya yang rasanya dapat meledak kapan juga.

‘Ada apa dengan si Baek Chihui ini?’ batin Yoongi dalam hati.

 

[Yeeun’s POV]

Aku secara hati-hati mencoba mengintip keluar, ke arah lorong, dari jendela kecil yang ada di pintu.

Hanbyul oppa dan Dongwoo oppa, mereka keduanya tidak ada di dalam kamar. Aku sangat takut kalau-kalau orang jahat yang mengejar si pengendara motor ini menculik mereka. Aku yakin orang jahat itu pasti kembali, karena dompet Dongwoo oppa masih ada di atas meja. Ia pasti kembali untuk mencuri dompet tersebut.

Dengan lincah aku menggerakan kedua bola mataku ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba saja wajah seseorang terpampang, sedang mengintip ke dalam dari jendela.

“AAAH!” Aku spontan berteriak dan melompat mundur.

[End of Yeeun’s POV]

 

[Yoongi’s POV]

Suara teriakan si Baek Chihui ini, kalau aku adalah ibunya yang sedang terbaring di ranjang itu, aku jamin aku pasti sudah meninggal karena serangan jantung.

Ia melompat mundur, seperti seekor katak.

GREP!

Tangan dengan jari-jari mungilnya memegang erat kausku, membuatnya menjadi kusut. Entah seerat apa pegangannya tetapi yang jelas kalau ia terus-terusan memegangi bajuku seperti ini, bajuku akan sobek cepat atau lambat.

Fokusku kembali ke arah pintu. Pasti ada sesuatu yang membuat si Baek Chihui ini melompat dan memegangi kausku dengan erat seperti ini. Aku hanya bisa berharap yang berada di balik pintu bukanlah kedua orang tadi yang mengejar-ngejarku.

Pintu terbuka, aku menahan napasku karena tegang.

“Astaga Yeeunie! Kau kok lama sekali baru sampai! Kami sangat khawatir!”

Seorang lelaki dengan tampang yang unik, setengah melompat mendekati si Baek Chihui kemudian memeluknya, dengan erat aku jamin. Kedua matanya terpejam, sedikit air mata keluar dari pelupuk matanya. Nampaknya ia sangat khawatir.

Sementara seorang lelaki lagi yang masih berada di dekat pintu menghela napas sambil mengusap-usap dadanya. Kakinya gemetar, pasti ia juga sangat khawatir.

“Kau kemana saja Yeeunie? Yaampun, kami sangat khawatir!”

“M-mianhaeyo oppa, jeongmal mianhae!”

Genggaman pada kausku lepas. Kedua tangan si Baek Chihui memeluk erat tubuh lelaki bewajah unik yang sedari tadi memeluknya.

“… Pacar?” pikiranku entah mengapa aku gumamkan.

Lelaki berwajah unik itu kemudian menatap ke arahku dengan kaget, seolah baru menyadari kalau aku ada di sini.

“Kau siapa?” tanyanya.

Aku mengerjapkan kedua mataku, bingung.

“Eh.. aku..”

“Apa kau berbuat macam-macam pada Yeeunie!?” ia melepaskan pelukannya pada si Baek Chihui dan berjalan mendekat ke arahku. Sebagai respon aku hanya bisa melangkah mundur.

“E-eh Dongwoo oppa! D-dia temanku!”

Aku dan lelaki berwajah unik itu membelakbakan mata mendengar jawaban dari gadis yang kini berada di tengah-tengah kami berdua, seolah hendak melerai.

[End of Yoongi’s POV]

 

“Eh? Temanmu?” Suara Dongwoo melembut.

Yeeun mengangguk-angguk sebagai respon, “Iya dia temanku.”

“Maaf, kok penampilannya seperti… anak berandalan?”

Yoongi menelan ludahnya sendiri, kaget bagaimana lelaki itu bisa mengetahui orang seperti apa dirinya hanya melalui penampilan.

“A-ah itu, cara berpakaiannya memang seperti itu, oppa” Yeeun mengerjapkan kedua matanya, bertingkah polos.

Dongwoo manggut-manggut, mulutnya membentuk O yang bulat.

“Hm, maafkan aku, aku kira tadi ka-“

“Ah, tidak apa-apa hyung.” Yoongi menyahut sambil memamerkan sebuah senyum.

“Ah, baiklah” Dongwoo balas tersenyum. “Ngomong-ngomong, namamu siapa?”

Yoongi menatap Dongwoo, tatapannya boleh dikatakan ramah tetapi jauh di dalam benaknya, Yoongi sedang berpikir keras haruskah ia beritahu namanya pada lelaki di hadapannya itu atau tidak. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak biasa pada Dongwoo.

“Oh! Maaf, aku lupa!” Dongwoo mengulurkan tangannya kepada Yoongi.

“Namaku Jang -”

Karena gugup, Yoongi langsung menjabat tangan Dongwoo dan berkata. “Yoongi, Min Yoongi.”

“Oh, halo Yoongi! Namaku adalah Jang Dongwoo, aku adalah seorang officer.” Sambil tersenyum lebar Dongwoo menggoyangkan jabatan tangannya.

Masih berjabat tangan, Yoongi tertawa dan mengatakan “Senang bertemu denganmu hyung,” namun di dalam hatinya ia terus-terusan mengumpat ‘Sial, sial, sial! Lepas dari mulut singa jatuh di lubang buaya!’

-oOOo-

“Oh hahaha! Jadi kau diperhatikan oleh orang-orang yang mengantri MRT karena kau memakai baju terbalik? Hahaha” Dongwoo terus-terusan menepuk-nepukkan kedua tangannya sambil tertawa, mulutnya menganga lebar.

Sementara Hanbyul hanya tertawa kecil sambil memegangi perutnya yang terasa sakit karena mendengar cerita tadi, belum lagi sedari tadi Yoongi terus-terusan menceritakan hal konyol, mulai dari resleting celananya yang terbuka ketika berjalan-jalan di mall sampai ketika ia salah meraba tangan yang ia seorang gadis, tetapi tangan itu ternyata milik seorang laki-laki.

 

[Yoongi’s POV]

Ada yang pernah mengatakan padaku bahwa orang yang berhati polos lebih mudah untuk dibuat senang dibandingkan orang yang hatinya sudah ternodai. Aku rasa hal itu memang benar. Buktinya saja ketiga orang ini tertawa lantang karena ceritaku.

Aku perhatikan wajah mereka satu persatu, mereka tampak lepas, tanpa beban ketika tertawa. Kemudian tatapanku berhenti pada Baek Chi- ah aku harus mengingatnya, namanya adalah Yeeun, Jang Yeeun. Kedua matanya terpejam karena tertawa, deretan giginya yang rapi dapat terlihat jelas karena mulutnya menganga, dan lesung pipit timbul di pipinya.

Setelah kuperhatikan, ternyata ia tidak sejelek yang aku kira. Mungkin waktu itu karena air wajahnya buruk aku jadi tidak dapat melihat keceriaan yang wajahnya pancarkan.

Kedua sisi bibirku naik, membentuk senyuman, aku mencoba untuk menghentikannya namun syarafku tak mau bekerjasama. Bibirku seolah bergerak sendiri dan mengukirkan senyum di wajahku yang bisa dibilang kaku ini.

Aku memejamkan kedua mataku, mencoba mengingat-ingat kapan terkahir kali aku merasakan sensasi ini, sebuah sensasi keceriaan yang bahkan membuat syarafku dengan sendirinya berinistiatif untuk menorehkan sebuah senyuman.

Kubuka kedua mataku, aku tidak dapat mengingatnya. Mungkin sudah terlalu lama aku tidak merasakan hal seperti ini. Sekali lagi aku menolehkan wajahku ke arah Yeeun dan kudapati kedua matanya menatap ke arahku, ia masih tertawa. Matanya seolah melemparkan pertanyaan “Ada apa?”

Aku refleks mengalihka pandanganku ke arah jendela di dekat ranjang Mrs. Jang dirawat. Langit sudah sangat cerah, aku dapat memperkirakan waktu telah menunjukkan pukul 9.

“Ah, baiklah,” aku menghela napas, beranjak berdiri dari sofa tempatku duduk bersama mereka bertiga.

“Aku harus pulang.” Aku berpamitan kepada kedua laki-laki yang berada di dalam ruangan dengan menjabar tangan mereka satu per satu secara bergantian.

“Terima kasih sudah menjenguk mom.” Laki-laki bernama Jang Hanbyul, kalau tidak salah, menepuk-nepuk bahuku yang untungnya bukan bahu yang cedera.

“Ah, no worries. Aku hanya kebetulan lewat.” sahutku sambil berjalan mendekat ke arah pintu.

[End of Yoongi’s POV]

 

Yeeun buru-buru mengenakan sepatunya dan menyusul Yoongi yang sudah keluar dari kamar rawat inap Mrs. Jang.

“Oppa, aku antar temanku dulu ya!”

Hanbyul dan Dongwoo belum sempat menyahut ketika Yeeun sudah berlari ke luar kamar. Keduanya hanya saling bertatapan kemudian senyum jahil muncul pada wajah keduanya. Mereka berpikiran sama. Yoongi bukanlah teman biasanya Yeeun, teapi dia adalah teman spesial.

“Heeeey!”

Yoongi menolehkan kepalanya ke asal suara dan mendapati Yeeun sedang berlari mendekat ke arahnya. Ia berhenti berjalan dan membalikan badannya.

“Ada apa?”

Yeeun mengatur napasnya. “Aku antar ya sampai pintu depan ya” ia melemparkan senyum pada Yoongi.

Yoongi memberikan tatapan “WTF? Seriously?” pada Yeeun.

“Hee? Apa maksud dari tatapanmu itu!?” Yeeun mendengus kesal.

“….” Yoongi menghela napas kemudian membalikan badannya.

“… Terserah kau.”  ucap Yoongi sambil lanjut berjalan.

Yeeun tersenyum mendengar ucapan Yoongi, ia berjalan menyusul laki-laki berambut coklat itu. Keduanya berjalan sampai ke pintu depan rumah sakit yang hanya berjarak 10 langkah dari tempat mereka berhenti tadi.

Yoongi berjalan ke taxi stand diikuti oleh Yeeun. Keduanya duduk di bangku panjang yang memang disediakan oleh pihak rumah sakit sebagai kursi tunggu taxi.

“Ngomong-ngomong, bahumu kenapa?” Yeeun berusaha mencairkan suasana.

“Oh, hanya menabrak tiang” jawab Yoongi singkat tanpa menatap ke arah Yeeun.

Yeeun mengangguk-angguk tanda mengerti.

“… Lalu, apa kata dokter?” tanya Yeeun lagi.

Yoongi menyodorkan kepada Yeeun amplop besar berwarna coklat yang berisi foto rontgen ke pada Yeeun. Untung saja ketika tadi Yeeun menariknya berlari keluar dari toilet, ia sempat menarik amplop tersebut sehingga tidak tertinggal di dalam toilet.

“Kau lihat saja..”

Yeeun menerima amplop tersebut dan mengeluarkan isinya.

“.. Itupun kalau kau mengerti,” ucapan Yoongi diikuti oleh tawa meledek.

Yeeun menggembungkan kedua pipinya, namun kemudian ia tersenyum tipis.

“… Kau ini menyebalkan, tetapi ternyata baik ya..” ujar Yeeun.

Yoongi yang kaget mendengar ucapan Yeeun langsung menoleh kepada gadis itu yang sedang asik menerawang foto rontgen. Seulas senyum terukir di wajah Yoongi. Ia kemudian menarik foto rontgen dari tangan Yeeun dan juga amplop yang berada di pangkuan Yeeun.

“Hey! Aku kan belum selesai melihat!” gerutu Yeeun sambil mencoba merebut kembali foto rontgen.

“Lanjut lihatnya kalau kita bertemu lagi, taxi sudah datang.” Yoongi bernjak berdiri sambil memasukkan foto rontgen ke dalam amplop.

“Eh?! Tapi ka-“

“Nanti malam, pukul 7, Seonyudo Park. Daag!” Yoongi melambaikan tangannya sambil terus berjalan menuju taxi yang berhenti.

-oOOo-

Yoongi melirik jam tangannya, waktu masih menunjukkan pukul 11 pagi. Ia sudah berjalan mengelilingi mall namun tetap saja waktu berjalan lambat. Ia masih tidak mau pulang karena hari ini hari Sabtu. Ayahnya tidak bekerja pada hari ini dan ada di rumah dari pagi sampai malam.

Ia menghela napas sambil duduk di bangku kosong food court. Ia benar-benar menyesal tidak ikut ibunya ketika dulu orangtuanya bercerai. Entah mengapa ia lebih memilih untuk tinggal bersama ayahnya. Memang Yoongi sangat tidak menyukai suami baru ibunya yang berusia 3 tahun lebih muda dari ibunya, tetapi sekarang ia sangat membenci ayahnya.

Ia merasa ayahnya benar-benar berubah. Dulu ayahnya dalah orang yang sangat menyenangkan dan juga seperti seorang jin yang mampu mengabulkan permintaan apapun.

“Sial,” ia meremas gelas plastik bekas capuccino yang ia beli beberapa waktu lalu.

-oOOo-

Yeeun duduk di atas sebuah kursi plastik yang ditempatkan di sebelah ranjang rumah sakit tempat ibunya berbaring. Ibunya sudah bangun dan keduanya tengah bercakap-cakap dengan asik. Ia menggenggam erat tangan ibunya sambil berkali-kali mengusapkannya di pipi kirinya.

“Eomma, hari ini kita pindah ke apartmentnya Hanbyul oppa ya,”

“A-apakah tidak apa-apa?”

Yeeun menoleh ke arah Hanbyul yang berdiri tepat di belakangnya. Hanbyul mengangguk-angguk. “Gwenchana, mom. Sungguh tidak apa-apa” ia tersenyum.

Pintu terbuka dan Dongwoo masuk ke dalam sambil salute (hormat).

“Semua barang-barang sudah dipindahkan, sir!”

Hanbyul ikut salute ke arah Dongwoo.

Thank you officer Jang!”

Tawa keempatnya bercampur di ruangan itu.

-oOOo-

Selesai makan siang di kantin rumah sakit, Dongwoo, Hanbyul, dan Yeeun beserta ibunya berangkat menuju ke apartment milik Hanbyul, tempat di mana keempatnya akan tinggal bersama.

Sementara itu, Yoongi sampai ke rumahnya dan mendapati ayahnya sedang menonton TV di ruang tengah. Tanpa mengucapkan salam, Yoongi melesat naik ke kamarnya yang berada di lantai dua dan langsung tidur siang.

-oOOo-

Selesai membantu Dongwoo dan Hanbyul membereskan barang, Yeeun duduk di sofa bersama dengan kedua superheronya sementara ibunya sedang tidur di salah satu kamar yang ada di apartment milik Hanbyul.

“Jadi Yeeunie, si Yoongi tadi…”

“Uh? Dia kenapa?” tanya Yeeun yang sedang fokus menonton TV.

“… Apakah dia.. teman yang sangat spesial?”

Dongwoo dan Hanbyul langsung duduk menghimpit Yeeun. Gadis bermata coklat itu menoleh ke arah keduanya secara bergantian dengan bingung.

“Mwoya? Apa yang kalian pikirkan?” tanyanya kemudian tertawa lepas karena Dongwoo dan Hanbyul mengelitikinya dari dua arah.

“Jawab jujur atau kami akan mengelitikimu sampai kau kehabisan napas!”

“Ahahahaha! Op- hen..henti- ahahahah!” Yeeun mengguling-gulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, berusaha mengindari dari tickles attack yang dilancarkan oleh Hanbyul dan Dongwoo.

“Ahahah! Sungguh oppa! Aku berkata ahahah!” “..jujur! Dia hanya te-teman bi..bia ahahaha! sa!”

-oOOo-

Yeeun sibuk mempersiapkan makanan di dapur, padahal waktu masih menunjukkan pukul 17.00, masih jauh dari waktu makan malam.

“Hey, kok tumben sekali sudah masak?” tanya Dongwoo yang baru bangun dari tidur siang.

“Ah, iya, ini nanti untuk…”

“Hm?” Dongwoo kemudian meneguk air limun yang baru ia ambil dari dalam lemari es. “Untuk apa? Untuk dinner kan?”

Yeeun menggeleng. “Maaf sekali oppa, ini bukan untuk makan malam nanti, tapi ini untuk bekal.”

Hampir saja Dongwoo menyemburkan air limun yang ia teguk.

“B-bhekal?! Kau memang mau ke mana sore-sore begini!?”

Yeeun mengerjapkan matanya, “Eh? Memang aku belum bilang ya?”

Dongwoo menggeleng-geleng sebagai respon.

“Aku diajak bermain ke Seonyudo Park. Jam temunya sih jam 7 malam, tapi kan tandanya aku harus berangkat dari sini jam 6 sore, jarak ke sana cukup jauh kan,” ujar Yeeun sambil terus menata makanan dalam kotak makan.

“Siapa yang mengajakmu keluar malam begitu?! Berani sekali orang i-“

“Yoongi yang mengajakku”

Dongwoo terhenti. Ia melemparkan tatapan jahil kepada Yeeun. Yeeun hanya mendengus pelan sambil tertawa kecil melihat tingkah sepupunya dari sudut matanya.

“Dia bukan teman spesial, oppa. Aku jujur.” ujar Yeeun.

“Hahaha! Baiklah, aku percaya.” Dongwoo menepuk-nepuk pelan kepala Yeeun.

“Makan malam hari ini biar aku yang masak, hari ini aku tidak ada shift kerja.”

-oOOo-

You’re waking me up
You’re waking me up~

Alarm ponsel Yoongi berbunyi. Waktu menunjukkan pukul 17.00 tepat. Dalam keadaan yang masih setengah sadar Yoongi mencoba mencari ponselnya yang berada entah di bagian mana dari tempat tidurnya.

Dengan jengkel ia me-snooze alarm dan kembali memejamkan matanya. Ia sangat kesal pada dirinya sendiri mengapa ia tidak menghapus alarm. Padahal motornya sedang diperbaiki sehingga ia tidak bisa ikut untuk berkumpul bersama RUNNERS.

“ASTAGA!” Ia langsun membuka kedua matanya dan berlari ke kamar mandi.

Sambil menyabuni tubuhnya, ia merasa besyukur ia tidak menghapus alarm, karena hari ini ia berjanji akan menemui Yeeun di Seonyudo Park. Memang Yoongi adalah anggota geng motor yang terkadang menyebalkan, namun tetap saja, ia selalu memegang teguh prinsipnya yang berbunyi never break your promise.

Yoongi dengan terburu-buru memakai pakaiannya. Ia membuka pintu kamar sambil menaikkan resleting celananya. Dengan langkah terburu-buru ia menuruni tangga. Hampir saja ia terjatuh kalau ia tidak berpegangan pada handrail tangga.

Setibanya di lantai bawah, ia tersandung dan kemudian ia terjatuh. Suara jatuhnya cukup keras sehingga membuat ayahnya yang sedang berada di dapur berlari menghampiri Yoongi.

“Kau tidak apa-apa?”

“Aku baik-baik saja.” Yoongi berdiri kemudian merapikan pakaiannya.

“Kau mau kemana?”

“Seonyudo Park. Ayah tidak perlu menungguku, aku pasti pulang di atas jam 8.” ujar Yoongi sambil memakai sepatunya.

“Aku berangkat!”

Dengan itu , Yoongi berjalan meinggalkan rumahnya menuju ke stasiun MRT.

-oOOo-

Yeeun mengambil jaket yang diberikan Yoongi sehari lalu dari hanger di dalam lemari dan melipat jaket tersebut, memasukannya ke dalam tas selempang yang ia kenakan. Ia kemudian bejalan keluar kamar menuju ke dapur untuk mengambil kotak makanan yang sudah ia siapkan.

“Oppa, aku berangkat dulu ya.” Ia pamitan kepada Dongwoo yang baru mulai memasak makan malam.

“Baiklah, aku akan bilang pada Hanbyul dan aunt ketika mereka bangun nanti kalau Yeeunie sedang berkencan di Seonyudo Park.”

Yeeun memukul pelan lengan Dongwoo.

“Sudah kukatakan, kan, ini bukan kencan.”

“Lalu kenapa kau sangat bersemangat Yeeunie?” Dongwoo menghentikan kegiatannya. Ia mengacak-acak rambut Yeeun. Gadis itu cemberut sambil merapikan rambutnya.

“Tentu saja aku bersemangat. Ini akan mejadi kali pertama aku akan berada di luar rumah lewat dari jam 7 malam tahu~” Yeeun tidak dapat menyembunyikan senyumnya.

Ia tidak bisa berhenti membayangkan pemandangan kota di atas jam 7 malam. Sudah lama sekali ia ingin melakukan hal ini, berada di luar rumah di atas jam 7 malam dan melihat pemandangan malam di kota.

“Ah, I see, I see. “ ujar Dongwoo.

“Hati-hati di jalan ya. Kalau ada apa-apa telepon saja aku, okay?” Dongwoo mengantarkan Yeeun sampai ke pintu depan.

“Ayay! Officer!” Yeeun melambaikan tangannya sebelum berjalan menuju elevator.

-oOOo-

Yoongi duduk di bangku taman. Ia sudah tiba setengah jam lalu karena jarak rumahnya dengan taman ini tidak terlalu jauh, apalagi dengan naik MRT, ia tiba lebih cepat daripada ketika ia harus mengendarai motor ke taman ini.

Ia memindahkan tas yang berada di pangkuannya ke space kosong di sampingnya. Ia memandangi langit petang yang menurutnya adalah pemandangan terindah.

Yoongi bertanya-tanya mengapa semangat meluap dari dirinya.

“Mungkin ini kali pertama di masa remajaku untuk keluar hanya untuk bersantai bukannya untuk berkumpul dan melakukan hal-hal yang terkadang menegangkan seperti kemarin malam misalnya..” ia menyimpulkan.

Ponsel yang berada di saku celana denimnya bergetar, namun ia menghiraukannya karena ia tahu pasti itu adalah pesan dari Ray yang menanyakan apakah ia akan ikut kumpul malam ini atau tidak.

“Maaf, Ray. Kali ini aku bolos,” gumamnya sambil tersenyum memandangi langit petang.

-oOOo-

Yeeun dengan tidak tenang terus-terusan melihat jam pada layar ponselnya. Waktu sudah menujukkan pukul 18.45, namun ia baru saja menaiki bus 605 karena ada beberapa jalur yang sedang direnovasi.

Yeeun melipat kedua tangannya, berharap ia tidak akan terlalu terlambat sampai di Seonyudo Park.

Pukul 19.05, Yeeun sampai di daerah Seonyudo Park. Dengan tergesa-gesa ia berjalan memasuki taman, ia menengok kanan kiri mencari Yoongi sambil terus berjalan. Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya, membuatnya kaget sehingga ia menjatuhkan salah satu kotak makan.

“Kau kagetan sekali…”

Yeeun kenal suara itu. Ya, itu adalah suara Yoongi. Dan benar saja ketika ia menoleh ke belakang ia melihat Yoongi sedang berdiri di sana sambil mengusap-usap tengkuknya.

“… Hari ini sudah dua kali kau mengagetkanku!” Yeeun kemudian berjongkok untuk membereskan makanan yang berhamburan dari dalam kotak makan yang jatuh.

“Kita impas kalau begitu,”

“Kau juga sudah membuatku panik dua kali hari ini.”

“Mwo? Jangan sembarangan! Memangnya kapan?” sahut Yeeun yang masih memunguti makanan yang berserakan dan memasukannya kembali ke dalam kotak makan.

Yoongi menghela napas melihat pemandangan di hadapannya. Ia memang belum bisa dikatakan sudah dewasa, namun ia tahu tidak lah lazim membiarkan seorang gadis bekerja sementara dirinya hanya berdiri dan memperhatikan. Ia kemudian berjongkok di sebelah Yeeun, membantu gadis itu merapikan kembali kotak makan yang terjatuh tadi.

“Pertama,” Yoongi menggulung lengan bajunya.

“Ketika di rumah sakit tadi. Ketika aku bersembunyi di dalam toilet dan kau tiba-tiba masuk ke dalam, aku benar-benar panik karena awalnya aku kira kau adalah orang yang mengejar-ngejarku.”

Yeeun mendengus mendengar jawaban Yoongi. Menurutnya jelas-jelas seharusnya dia yang kesal karena Yoongi mengagetkannya, kala itu ia merasakan jantungnya sendiri hampir copot. Yeeun bangkit berdiri disusul oleh Yoongi, keduanya berjalan ke bangku taman tedekat.

“Lalu yang kedua. Aku panik kau belum sampai juga. Padahal kau sepertinya orang selalu tepat waktu, ah tidak. Aku pikir kau terlihat seperti orang yang akan hadir 30 menit sebelum waktu rapat.” Keduanya duduk bersebelahan di bangku taman di samping lampu taman.

“Lalu kenapa panik?” tanya Yeeun.

Yoongi memutar kedua bola matanya. ‘Pertanyaan bodoh’ batinnya.

“Biar kuberitahu ya, walaupun aku begini aku ini orang yang peduli,”

“Kau telihat seperti anak rumahan dan aku tidak bisa membayangkan kalau ternyata kau tersesat,” Yoongi mengambil napas sebelum melanjutkan. “Coba katakan siapa yang tidak panik kalau membuat anak orang tersesar?”

“Ya, ya, maafkan aku.”  ujar Yeeun.

“Tapi asal kau tahu, aku bukannya anak rumahan seperti yang kau kira. Memang aku hampir tidak pernah keluar di atas jam 7 malam, tapi bukan berarti aku tidak tahu arah dan tempat. Aku hapal kota ini karena aku sudah lama tinggal di sini.”

Yoongi tidak menyahut. Ia menegadahkan kepalanya menatap langit yang sudah mulai gelap. Dalam benaknya ia bertanya-tanya, apakah tadi adalah sebuah kebohongan? Ia tidak menemukan jawabannya. Memang ia sangat panik ketika sudah lewat dari jam 7 malam dan Yeeun belum terlihat juga. Tapi ia tidak mengetahui apa alasan sebenarnya yang membuat ia merasa panik.

Yeeun mengeluarkan sebuah kotak makan dari dalam kresek, ia menaruh kotak makan itu di pangkuan Yoongi. Yoongi yang merasakan sesuatu diletakan di pangkuannya, langsung menunduk dan melihat sebuah kotak makan bertengger di pangkuannya.

“….”

Yeeun membuka kotak makan yang terjatuh tadi kemudian menatap ke arah Yoongi yang tampak kebingungan.

“Kenapa? Mau makan atau tidak?” tanya Yeeun sambil menyodorkan sepasang sumpit ke pada Yoongi.

“… Apa… ini kotak makan yang jatuh tadi?” tanya Yoongi. Sebenarnya ia tidak bermaksud mengatakan hal itu tetapi karena tidak tahu harus berkata apa, ia membiarkan pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.

“Tentu saja bukan. Aku membawa dua.”

Pandangan Yoongi teralih pada kotak makan yang berada di pangkuan Yeeun. Ia langsung tahu bahwa gadis itu berniat memakan makanan yang tadi berserakan di tanah. Feelingnya jarang salah, dan ia dapat melihat bahwa gadis di sebelahnya adalah orang yang seperti itu. Dengan secepat kilat ia mengambil kotak makan yang berada di pangkuan Yeeun dan meletakannya di space kosong yang berada di sebelahnya.

Yoongi menyodorkan kotak makan yang tadi berada di pangkuannya kepada Yeeun. “Ini kita bagi dua saja.”

[Yeeun’s POV]

Aku kaget bukan main ketika ia mengatakan untuk membagi dua makanan di kotak makan yang aku berikan kepadanya. Waktu pertama kali bertemu ia memang orang yang menyebalkan, tapi aku rasa sebenarnya ia orang baik.

Baru saja ketika aku hendak mengambil kotak makan yang ia sodorkan, aku mendengar ia tertawa.

“Lagipula aku tidak mau sakit perut sendirian” begitu katanya.

Aku langsung merebut kotak makan itu dengan sedikit kasar. Enak saja ia mengatakan kalau makanan buatanku itu bisa menyebabkan sakit perut. Aku tahu maksudnya hanya bercanda tapi tetap saja aku kesal. Kenapa orang ini, setiap kali aku berpikiran hal baik mengenainya, pasti langsung berbuat hal yang menyebalkan.

Aku mulai memakan makanan dari kotak makan, sementara itu, laki-laki aneh yang duduk di sebelahku ini hanya mendongakkan kepala sambil memejamkan matanya. Hal itu membuatku berpikir sebenarnya apa tujuannya mengajakku bertemu di tempat ini.

Tiba-tiba aku teringat akan perkataannya waktu itu, mengenai uang ganti rugi motornya. Aku langsung tersedak.

[End of Yeeun’s POV]

 

[Yoongi’s POV]

Aku memejamkan mataku, mencoba merangkai ucapan terima kasih di benakku. Walaupun sebenarnya caranya aneh, tapi tadi di rumah sakit ia telah menyelamatkanku. Dan juga keberadaan si officer Jang di kamar adalah sebuah keberuntungan. Berkali-kali aku melihat dua orang menengok ke dalam kamar, melihat ke arahku dan hendak membuka pintu. Namun mereka tidak melakukannya karena melihat officer Jang ada di dalam.

“Uhuk! Uhuk!”

Aku spontang membuka kedua mataku karena mendengar suara si Baek Chihui yang seperti tersedak. Dan benar saja ketika aku menoleh ke arahnya, ia sedang sibuk menepuk-nepuk dadanya sendiri. Sementara kotak makan berada di tengah-tengah kami berdua.

“Hey! Yang benar saja? Tersedak? Umur berapa kau ini hah?!” Aku langsung menepuk-nepuk punggungnya.

“Pelan-pelan, hey” Sebelah tanganku merogoh tasku yang ada di sebelah kiriku, mencari botol minum.

“Ini, minumlah.” Aku menyodorkan botol minumku kepadanya sementara tangan sebelah kananku masih menepuk-nepuk punggungnya.

[End of Yoongi’s POV]

 

Yeeun langsung meminum air dari dalam botol minum yang Yoongi berikan kepadanya.

“Haa!” setelah minum, akhirnya ia bernapas lega.

“Ck, kau ini.” Yeeun merasakan tepukan di punggungnya telah hilang.

Ia menatap ke arah Yoongi yang menatapnya tajam seolah mengatakan “Yang benar saja? Tersedak?” Yeeun tidak merespon apapun, ia memberikan botol minum berwarna biru yang ia pegang kepada pemilik aslinya. Yoongi langsung mengambil botol itu,membuka tutupnya, dan meneguk air cukup banyak.

“Makannya..”

“Lain kali kalau aku bilang bagi dua ya dibagi dua, jangan keasyikan makan sendiri.” tukas Yoongi.

Yeeun memberikan kotak makan beserta sepasang sumpit yang berasal dari dalam kresek kepada Yoongi yang disambut dengan tangan terbuka oleh laki-laki itu. Yoongi mulai menyumpitkan makanan ke dalam mulutnya.

“Tidak enak” ujarnya dengan mulut penuh makanan.

Yeeun mencoba merebut kotak makan tersebut karena kesal, namun Yoongi memutar badannya sehingga ia memunggungi Yeeun.

“Kembalikan. Kalau. Tidak. Enak!” ujar Yeeun sambil memukul-mukul punggung Yoongi setiap ia mengucapkan kata.

Yoongi masih terus saja melahap makanan.

“Diam, jangan ganggu! Aku lapar!”

Yeeun akhirnya menyerah, ia duduk bersender pada bangku dan melipat kedua lengannya di depan dada, pandangannya fokus ke depan. Dari balik punggungnya, Yoongi sesekali melirik ke arah Yeeun kemudian tersenyum tipis. Menurutnya tingkah Yeeun sama dengan tingkah seorang anak TK (Taman Kanak-kanak).

Yoongi yang telah selesai menyantap makan malamnya merasa sedikit bersalah karena ia menghabiskan ¾ makanan yang ia usulkan untuk bagi dua. Ia sendiri tidak menyangka akan mengabiskannya, tapi apa boleh buat, makanan yang dibuat Yeeun rasanya enak. Ia yakin Yeeun pasti kesal, namun ia juga yakin kalau gadis itu akan memaafkannya setelah ia bawa ke suatu tempat.

“Ayo, kita pergi!” Yoongi beranjak berdiri seraya memasukkan kotak makan itu ke dalam tasnya.

“Eh? Kemana?” Yeun memakai tas miliknya dan menjinjing kresek yang berisi kotak makan penuh yang tidak dimakan karena tadi jatuh.

“Ayo cepat atau nanti aku tinggal.” Yoongi sudah berada 5 langkah di depan, dan Yeeun langsung berdiri, berlari kecil menyusul Yoongi.

-oOOo-

[Yeeun’s POV]

“Hey, kita mau ke mana sih?” aku berjalan cepat di belakang Yoongi, berusaha agar jarak kami tidak terlalu jauh.

Ia membalikkan badannya ke arahku, ia memamerkan sebuah senyum.

“Pokoknya ke suatu tempat, kau pasti suka” ujarnya sambil berjalan mundur.

Bukannya aku tidak suka yang namanya surprise tapi aku takut. Bagaimana kalau seandainya nanti aku malah di bawa ke tempat yang sepi dan ia menagih uang ganti rugi motornya. Aku bergidik ngeri membayangkan hal itu.

“Ngomong-ngomong, apa kau takut ketinggian?” tanyanya.

Aku hanya mengerjapkan kedua mataku. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ada kalanya aku takut dengan ketinggian, namun ada kalanya aku menyukai ketinggian. Misalnya ketika cuaca berangin, aku akan takut sekali berada di ketinggian.

Sambil terus berjalan mundur, tiba-tiba ia berhenti dan merogoh saku celananya.

“Ah, ini dia. Untung aku selalu bawa.” Ia berujar sambil menarik keluar sebuah sapu tangan berwarna putih dari saku celananya.

Ia berlari mendekatiku dan langsung menutup kedua mataku mengenakan sapu tangan.

“EH!? APA-APAAN INI?” aku berteriak kaget.

“Aduh,berisik sekali!” aku mendengar suaranya yang berada di belakangku.

[End of Yeeun’s POV]

 

Yoongi mengikat sapu tangannya di belakang kepala Yeeun dan langsung kembali ke depannya.

“Pegang yang kuat ya.” Ia mengambil kresek yang dijinjing oleh Yeeun dan meletakkan kedua tangan gadis itu di kedua bahunya secara bergantian. Ia mulai berjalan mundur, sambil sesekali menengok ke arah belakang, takut-takut ia menabrak sesuatu atau seseorang. Sementara itu, Yeeun yang berpegangan pada bahu Yoongi berusaha menyeiramakan langkahnya dengan langkah Yoongi.

“Ya! Katakan padaku kita mau ke mana?”

Yeeun yang sedari tadi merasa khawatir, entah mengapa mempercayai feelingnya bahwa Yoongi tidak akan berbuat hal macam-macam. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa bahwa Yoongi adalah orang yang baik.

“Sebentaar lagi kita sampai.”

Setelah kurang lebih berjalan selama 2 menit, Yoongi menghentikan langkahnya, dan otomatis Yeeun pun ikut berhenti melangkah.

“Jangan bergerak, oke?”

Yoongi melepas ikatan sapu tangannya sehingga berhenti menghalangi mata Yeeun.

“Wah!” Yeeun kemudian tertawa senang.

Kini mereka berdua berada di atas Seonyugyo (Seonyudo Bridge). Yeeun berlari kecil mendekati tepian jembatan dan menunduk ke bawah, menatapi sungai Hangang. Pandangannya kemudian beralih ke lampu-lampu yang menyala dari kejauhan.

“Indah sekali,” Yeeun bergumam.

Yoongi yang menyenderkan bagian bawah tubuhnya di pinggiran jembatan mengikuti arah pandangan Yeeun dan mengangguk-angguk.

“Aku setuju, memang indah bukan?” ujarnya.

Tanpa menoleh kepada Yoongi, Yeeun mengangguk mengiyakan.

Yoongi berjalan mendekati Yeeun dan berkata, “Terima kasih ya untuk tadi pagi.”

“Tidak, aku yang terima kasih telah membawaku ke sini” sahut Yeeun, matanya masih menatap pemandangan indah yang berada di depannya.

[Yoongi’s POV]

Aku mengosok-gosok tengkukku, aku tidak yakin dia paham betapa aku benar-benar merasa berterima kasih. Ya, dia kan tidak tahu siapa sebenarnya aku dan siapa yang mengejar-ngejarku tadi pagi.

Sebenarnya aku tidak ingin mengganggunya yang tengah asyik memandangi pemandangan malam dari jembatan ini, tapi aku tidak ingin berada di sini terlalu lama karena semakin malam angin akan semakin kencang.

Aku mengeluarkan dua batang kembang api dari dalam tasku beserta dengan sebuah pematik milik ayahku.

“Hey, ini” aku menyodorkan sebatang kembang api tepat di depan wajahnya, aku beruntung itu tidak mengenai matanya.

“Eh?” ia mengambil batang kembang api tersebut seraya berbalik ke arahku.

“Ayo, sini.” Aku mengisyaratkannya untuk mendekat kemudian berjongkok.

Ia ikut berjongkok di depanku, posisi kami sekarang berhadapan. Aku mendekatkan batang kembang apiku kepada batang kembang api yang ia pegang dan aku menyalakan pematik, membiarkan api tersebar di ujung batang kembang api yang masing-masing kami pegang.

Setelah batang kembang api kami menyala, ia menarik batang kembang api miliknya dan mulai memutar-mutarkannya sambil tertawa.

Entahlah, suara tawanya tidak semenyebalkan suara teriakannya.

[End of Yoongi’s POV]

 

“Hey, bagaimana kalau kita berlomba lari ke tengah-tengah jembatan?”

Yoongi sedikit kaget mendengar tantangan Yeeun, namun ia tidak keberatan. Ia beranjak berdiri dan mulai bersiap-saip untuk berlari sambil memegangi batang kembang api miliknya yang masih menyala.

“Yang sampai terakhir harus menceritakan tentang dirinya sendiri, deal?” Yeeun melemparkan senyum ke arah Yoongi sambil melambai-lambaikan batang kembang api miliknya yang masih menyala.

Yoongi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak, “Ya, ya, terserah. Kita mulai di hitungan ketiga ya.”

“Satu,”

“Dua,”

“.. Tiga!” keduanya berseru bersama dan keduanya mulai berlomba menuju ke tengah-tengah jembatan.

Ada satu hal yang diluar perkiraan Yoongi, Yeeun berlari sangat cepat. Memang kalau berjalan Yeeun terkesan lambat, namun ketika berlari, Yeeun berlari sangat cepat. Yoongi menyesal telah melambatkan larinya karena berpikir akan sangatlah tidak adil kalau seorang gadis tertinggal terlalu jauh sampai di garis finish.

Mereka duduk di tepi jembatan, bersender pada tepian jembatan.

“Baiklah, namaku Min Yoongi…” Yoongi mulai bercerita mengenai dirinya.

[Yeeun’s POV]

Aku menyimak Yoongi. Aku baru tahu ternyata dia adalah kakak kelasku di sekolah. Aku benar-benar tidak pernah melihatnya.

“Aku tidak naik kelas sekali” ungkap Yoongi.

“Eh? Yang benar?”

Tentu saja aku percaya, aku hanya pura-pura kaget. Kalau aku lihat dari penampilannya, memang benar kata Dongwoo oppa, ia tampak seperti berandalan yang suka bolos sekolah, seperti di komik-komik yang dulu sering aku baca.

Beberapa waktu berlalu dan ia telah selesai menceritakan tentang dirinya yang menurutku terlalu sedikit. Aku berinisiatif ingin menceritakan mengenai diriku, namun ia memotong.

“Kau simpan saja cerita mengenai dirimu untuk nanti. Ayo pulang, sudah malam.”

Ia menunjukkan jam tangannya kepadaku dan astaga, waktu sudah menunjukkan pukul 20.20. Aku tidak menyangka aku akan berada di luar rumah sampai jam segini. Entahlah, aku merasa senang karena ini adalah pertama kalinya.

[End of Yeeun’s POV]

-oOOo-

Yoongi dan Yeeun berjalan menyusuri pinggiran jalan di jejeran gedung apartment Yeeun tinggal berada. Keduanya berjalan dalam diam, mungkin karena keduanya telah lelah. Tadi pun ketika berada di dalam bus, Yeeun tertidur. Untung saja Yoongi tidak tertidur jadi ketika mereka telah sampai di halte tujuan, Yoongi langsung membangunkan Yeeun.

“Terima kasih ya untuk hari ini.” Yeeun tersenyum kepada Yoongi sebelum berlari kecil mendekati pintu gedung apartment.

“Tidak usah berterima kasih. Kita berdua sama-sama having fun bukan?” sahut Yoongi.

Yeeun hanya tertawa sebagai respon. Ia kemudian melambaikan tangannya seraya masuk ke dalam gedung apartment. Yoongi balas melambaikan tangannya sebelum melanjutkan langkahnya menuju ke stasiun MRT terdekat.

-oOOo-

Baik Yoongi maupun Yeeun tidak ada yang sadar bahwa mereka telah diikuti sedari turnnya mereka di halte dekat gedung apatment tempat Yeeun tinggal. Sosok itu berhenti di gang dekat gedung apartment dengan mesin motornya yang menyala.

“Rupanya di situ kau, Sugaboy. I got you…”

Pengendara motor itu pun melesat pergi ke arah berlawanan dengan arah yang Yoongi ambil menembus kegelapan malam dengan leather jacket hitam yang membungkus tubuhnya.

-oOOo-

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s