How to Win Your ❤ (Chapter 1)

 

htwyl

poster credits : blaxxjae @ IFA

 Title        : How to Win Your ❤
 Chapter      : 1
 Length       : Chaptered
 Rating       : PG-15
 Main Cast(s) : BTS Suga & CLC Yeeun

“She knows I am a wreck who is all messed up.”

“Ah, sial! Terlambat lagi!” Yoongi beranjak dari tempat tidurnya dan langsung membuka lemari pakaian yang terletak persis di sebelah kiri ranjangnya. Dengan sedikit kasar ia melemparkan baju demi baju yang ada di dalam ke atas tempat tidur yang masih berantakan itu.

“Yoongi! Apa kau belum bangun hah? Kau tidak mau sekolah? Apa kau mau menjadi orang bodoh?” Gedoran keras di pintu kamar Yoongi membuat laki-laki berwajah baby-face itu geram.

“BERISIK! AKU SEDANG BERSIAP!” Ia membanting pintu lemari pakaiannya cukup keras. Seiringan dengan itu orang yang tadi berada di depan pintu kamarnya terdengar menuruni tangga tanpa sepatah katapun.

“Ck,” Yoongi berdecak. Ia melepas baju berwarna hitam yang menempel di tubuh bagian atasnya, menggantinya dengan baju berwarna putih bersih. Ia memakai jaket yang selalu berada di atas tempat tidurnya entah sejak kapan.

Jaket tebal berwarna abu-hitam itu tampak lecek namun Yoongi tidak peduli. Tanpa merapikan tempat tidurnya ia keluar dari kamar dan berjalan cepat menuruni tangga.

[Yoongi’s POV]

Aku berjalan ke arah meja makan dan langsung mengambil roti lapis yang selalu ada di sana setiap pagi. Roti lapis ini sangat asin namun aku tidak peduli, toh diantara kami berdua tidak ada yang bisa memasak, percuma protes, dia tidak akan menghiraukan.

“Ya? Halo? Iya ini dengan saya…”

Tanpa repot-repot, sambil menggigit roti lapis asin aku berjalan menuju pintu depan dan memakai sepatu. Betapa aku berharap hari ini hujan turun dengan deras supaya aku tidak usah berangkat ke sekolah.

Sebelum meraih gagang pintu sekilas aku menengok ke arah Ayahku yang sedang berbincang di telepon.

‘Aku benci kau.’

[End of Yoongi’s POV]

-oOOo-

Di kediaman keluarga Jang

“Yeeun-ah? Kau tidak berangkat sekolah sayang?”

Seorang gadis dengan rambut panjang coklat tua yang sedang terbaring di tempat tidurnya itu menggelengkan kepalanya.

“Ah, demammu masih belum sembuh juga ya?” Nyonya Jang mendekati putri semata wayangnya itu dan menaruh telapak tangannya di atas kening putrinya yang kini duduk di kelas 2 SMA itu.

Yeeun mengangguk lemah, badannya terasa sangat sulit untuk digerakkan dan juga matanya terasa sangat panas. Sebenarnya gadis itu sangat bersemangat untuk berangkat ke sekolah karena pada hari ini nilai ulangan Bahasa Inggris akan diumumkan. Ia tidak sabar untuk mengetahui nilai berapa yang ia dapat, ia ingin menunjukannya kepada ibunya bahwa ia juga sehandal kakaknya dalam berbahasa Inggris.

“Eomma~” Yeeun memeluk lengan ibunya dengan kuat.

“Kenapa sayang?” Nyonya Jang mengelus-elus rambut panjang Yeeun.

“Hari ini eomma pulang jam berapa?” Yeeun menengadah, menatap mata ibunya.

Nyonya Jang mengatupkan kedua bibirnya dengan kuat, seakan tidak mau membiarkan sebuah jawaban keluar dari mulutnya. Entah karena takut membuat anaknya khawatir atau entah karena hal lain.

“…. Yeeun sayang,” setelah beberapa detik hening nyonya Jang menjawab.

“Sepertinya hari ini eomma akan pulang sangat malam, kau nanti tidur dulu saja tidak usah menunggu eomma, arasseo?” Nyonya Jang berharap suaranya yang bergetar tidak akan disadari oleh Yeeun, namun Yeeun tidak bodoh walaupun sedang sakit ia dapat mendengar dengan jelas bahwa suara ibunya bergetar, ibunya tengah berbohong.

[Yeeun’s POV]

Aku memeluk lengan ibuku makin kuat, aku tidak mau dia meninggalkanku sendiri di sini bersama dengan ayah. Aku tidak mau. Kakiku yang kemarin malam keseleo kembali terasa sakit.

‘Aku tidak mau ibu tinggalkan, aku tidak mau!’ aku menjerit dalam hati sambil terus memeluk erat lengan ibuku yang terasa hangat, berbeda dari lengan ayah yang selalu saja terasa dingin.

“HEY! KAU MASIH DI SINI? KELUAR KAU! JANGAN BERSEMBUNYI!” Aku mendengar suara ayah dari ruang tamu dan seluruh tubuhku langsung gemetaran, dan aku tidak dapat menghentikan air mata yang mulai membasahi kedua pipiku. Kurasakan tangan ibuku yang hangat mengusap-usap pipiku, ia mencium keningku.

“Sayang, sayang, Yeeun…”

“Eomma pergi dulu ya, cepat sembuh ya sayang”

Aku dapat merasakan ibuku dengan sekuat tenanga melepaskan pelukanku dari lengannya.

“Eomma jangan pergi! Eomma!” Aku dapat mendengar suaraku sendiri yang gemetaran.

“Maafkan eomma Yeeun, kita akan berjumpa lain kali anak manis,”

“Eomma berjanji.” Suara ibuku terdengar makin kecil seiring dengan semakin dekat dirinya dengan pintu kamarku.

[End of Yeeun’s POV]

Suara hantaman yang berasal dari ruang tamu terdengar dengan jelas, begitu juga dengan suaru jeritan Nyonya Jang. Tubuh Yeeun yang sedang memang sudah gemetaran menjadi lebih gemetaran dari sebelumnya. Ia menutup kedua telinganya menggunakan kedua tangannya yang gemetar dengan hebat.

“Hentikan…” isaknya. Matanya terpejam dan air mata mengalir deras.

“…Hentikan!” jeritnya sekeras mungkin namun tentu saja suaranya tidak terdengar sampai luar kamarnya.

Dengan tertatih-tatih Yeeun berjalan keluar kamar, ia berlari secepat yang ia mampu ke ruang tamu. Jantungnya berdebar-debar karena rasa takut tetapi ia tidak bisa membiarkan ibunya terus dihajar oleh ayahnya. Ia tidak mau kejadian bulan lalu terjadi lagi. Ia tidak mau ibunya, kesayangannya, tergelak tak berdaya di rumah sakit.

“Hentikan!” Dengan tubuhnya yang masih lemah Yeeun mendorong Tuan Jang sekuat tenaga dan membuat lelaki berbadan besar itu hilang keseimbangan dan jatuh ke samping.

“Ayo, eomma, kita pergi” Yeeun mencoba menarik berdiri tubuh ibunya yang terbaring di lantai.

Tanpa ia sadari, Tuan Jang sudah bangkit berdiri, berada persis di belakangnya dan sedang mengayun tinggi-tinggi tangannya. Sebelum tangan itu mengenai Yeeun, tubuh Yeeun di dorong ke arah samping oleh Nyonya Jang. Yeeun terjatuh dengan suara lumayan keras.

“CEPAT LARI YEEUN! LARI!” Nyonya Jang dengan sekuat tenaga menahan kaki tuan Jang agar lelaki tersebut tidak mendekati Yeeun.

Otak Yeeun seolah membeku, ia tidak dapat berpikir.

“LARI!” Dengan sentakan kedua kalinya dari nyonya Jang, tubuh Yeeun bergerak dengan sendirinya. Berlari menuju ke lorong ruang tamu. Kedua kakinya berlari dengan cepat ke arah pintu dan kedua tangannya yang sudah berhenti bergetar membuka pintu. Tanpa menutup pintu Yeeun terus berlari menjauhi rumahnya.

-oOOo-

“Ah, aku melupakan tasku!” Yoongi menepuk keningnya dan kemudian membalikan arah motornya kembali ke rumah.

-oOOo-

Yeeun membungkuk, memegangi dadanya yang terasa sesak karena terus-terusan berlari. Napasnya sudah tersenggal-senggal.

-oOOo-

Cuaca yang cerah seketika langsung mendung. Suara petir terdengar dan beberapa detik kemudian turun hujan yang sangat lebat, suaranya pun menyerupai suara di bendungan air. Tubuh Yeeun kembali lemas karena diguyur air hujan yang lebat.

“Ah,” Yeeun menggigil. Ia memeluk tubuhnya sendiri dan berjalan mendekati sebuah halte bus yang berada di sebrang jalan.

Tanpa menengok kanan kiri, Yeeun langsung menyebrang karena ia sudah amat kedinginan, ia tidak kuat lagi. Ia tidak mau jatuh pingsan di jalanan. Tiba-tiba saja sebuah cahaya lampu kendaraan menyorot ke arahnya, Yeeun tidak dapat melihat sehingga dia otomatis berhenti, melindungi kedua matanya menggunakan kedua tangan dan menghadap ke arah kendaraan.

-oOOo-

Yoongi menghentikan motornya karena walaupun penglihatannya terhalang oleh rintikan hujan, samar-samar ia dapat melihat ada orang yang tengah menyebrang. Untung saja kecepatan motornya ia pelankan kalau tidak, mungkin orang yang sedang menyebrang tersebut bisa-bisa ia tabrak.

“Hey! Cepatlah menyingkir dari jalanan!” ujarnya, namun Yoongi segera menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa bodoh karena suara hujan yang keras membuat suaranya tidak terdengar, belum lagi helm yang menutupi wajahnya membuat suaranya semakin redup.

Yoongi menghela napas dan ia membuka penghalang helmnya. “Hey!” ujarnya sedikit lebih keras.

-oOOo-

Merasa cahaya lampu kendaraan yang menyemprot ke arahnya matikan, Yeeun berhenti menghalangi matanya dan ia melihat seorang laki-laki di atas sebuah motor menyilangkan kedua tangannya seolah kesal.

“Kenapa tidak jalan saja?” ujar Yeeun ketus karena tersinggung dengan sikap laki-laki tersebut.

Laki-laki yang berada di atas motor itu melepaskan helmnya, “Kau…!”

“Sudah bagus aku tidak menabrakmu dengan motorku!” Sentak laki-laki itu sambil menenteng helmnya turun dari motor dan berjalan menghampiri Yeeun.

“Cepat menyebrang!” Laki-laki itu dengan kuat mencengkram lengan bagian atas Yeeun yang membuat gadis itu kesakitan.

“Lepaskan!” Yeeun mencoba melepaskan lengannya dari cengkraman pengendara motor tersebut.

Pengendara motor tersebut, masih mencengkram lengan bagian atas Yeeun, mendorong gadis itu mendekati halte. Sambil bersungut-sungut ia menyuruh gadis itu untuk duduk di bangku halte dan memberikannya ‘kuliah’ singkat.

“Kau itu, jangan mentang-mentang karena kau perempuan kau jadi bertindak semaumu.”

Yeeun hanya cemberut sebagai respon.

“… Mending kau cantik, kau itu jelek.” Pengendara motor itu menyeringai.

Mendengar kata jelek Yeeun langsung menatap galak pengendara motor yang berdiri di hadapannya sambil berkacak pinggang.

“Memang kau pikir kau tampan?!”

“Eh? Apa?” Laki-laki tersebut berlagak tidak mendengar dan mendekatkan telinganya kepada Yeeun.

“Kurang ajar sekali mengatakan seorang gadis jelek padahal baru pertama kali bertemu!” Yeeun menepuk telinga laki-laki itu cukup keras.

Laki-laki itu mundur selangkah dan mengusap-usap telinganya yang terasa sakit.

-oOOo-

[Yoongi’s POV]

Perempuan ini! Walaupun badannya kecil tenaganya ternyata cukup besar.

“Apa-apaan kau memukulku?! Sakit tahu!” aku menatap tajam ke arahnya.

“Kau yang memulai!” bentaknya.

“Eh!? Justru kau yang memulai!” Aku menahan diriku sekuat tenaga agar tidak memukul perempuan berambut coklat di hadapanku ini.

Andai saja tadi dia tidak berhenti di tengah jalan, pertikaian bodoh dan tak berguna ini tidak akan terjadi.

[End of Yoongi’s POV]

-oOOo-

TIIN TIIIN!

Suara klakson khas mobil truk terdengar dari kejauhan, kemudian semakin lama semakin mendekat.

“OH! SIAL! MOTORKU!” Yoongi meninggalkan gadis yang bertikai dengannya di halte bus dan berlari ke tengah-tengah jalan untuk membawa motornya ke pinggiran jalan. Namun terlambat, truk yang bunyi klaksonnya terdengar tadi sudah menabrak motor Suzuki GSX-R 1000 berwarna putih itu.

Hujan yang tengah turun dengan lebat seketika menyurut dan kemudian berhenti seiringan dengan suara keras yang dihasilkan oleh hantaman bagian depan truk dengan motor tersebut. Motor tersebut tergusur kemudian terguling. Hampir saja motor itu tergiling roda truk.

Yoongi dengan frustasi menjambak rambutnya sendiri sambil menggigiti bibir bagian bawah miliknya.

“Sial,” umpatnya pelan.

Sang Pengendara mobil truk yang menabrak tadi turun dan meminta maaf kepada Yoongi dan menawarkan untuk membantu Yoongi membawa motor tersebut ke bengkel terdekat. Setuju dengan tawaran itu, Yoongi dibantu dengan si pengendara mobil menaikan motor berwarna putih yang kini telah cacat itu ke dalam box truk.

Yeeun terbelakbak ketika motor putih milik laki-laki yang bertengkar dengannya tertabrak sebuah truk yang melaju kencang. Motor yang tadinya mulus itu kini menjadi babak belur.

“Aish…” Dengan langkah kecil, Yeeun berjalan ke tengah-tengah jalan, mendekati si pengendara motor yang tadi bertengkar dengannya.

“H-hey.”

“Hm? Ada apa?”

“…”

Yoongi otomatis memalingkan wajahnya kepada Yeeun yang tidak menjawab. “Ada apa?” ulangnya.

Yeeun menunduk, “… Maafkan aku,” ujarnya lirih.

Yoongi tidak menjawab. Lebih tepatnya tidak bisa menjawab. Sebenarnya dirinya ingin sekali memarahi perempuan yang menurutnya menyebalkan itu tetapi mendengar permintaan maafnya yang tampak tulus, dan juga rasa bersalahnya yang terlihat dari bagaimana perempuan itu tidak berani menatap, membuat amarahnya terpendam. Bukan hilang, hanya terpendam.

Yoongi menghela napas, “Lupakan saja lah,” jawabnya asal.

“A-aku benar-benar min-“

Belum selesai Yeeun berbicara, Yoongi memotongnya. “Kalau kau benar-benar merasa bersalah, sebaiknya kau ganti rugi.” Yoongi mengalihkan padangannya dari motornya yang kini berada di box belakang truk kepada Yeeun.

Ekspresi wajah yang Yeeun berikan ketika mendengar kata ganti rugi adalah ekspresi kebingungan.

Yoongi kembali menghela napas melihat ekspresi itu “Tidak perlu hari ini, kapan-kapan saja kalau kita bertemu lagi” ujar Yoongi sambil menaiki box belakang truk.

Rasa bersalah Yeeun benar-benar murni, ia merasa ia benar-benar harus menggantikan. Ia tahu motor yang dimiliki oleh Yoongi tidaklah murah.

“Tapi bagaimana kita bisa bertemu? Aku saja tidak tahu namamu,” ujar Yeeun sambil berlari kecil mencoba menyesuaikan langkah dengan truk yang sudah mulai berjalan itu. Di atas sana, Yoongi menyeringai.

“Kau tidak perlu tahu namaku,” ia melepaskan jaketnya yang basah terguyur hujan dan melemparkannya ke arah Yeeun. Jaket itu mendarat tepat di wajah Yeeun.

“Pakailah jaket itu setiap kali kau keluar rumah, aku pasti bisa langsung mengenalimu.”

“T-tapi!”

Yoongi membalikan badannya, membelakangi Yeeun yang memang sudah jauh tertinggal oleh truk dan melambaikan tangannya.

See you soon, hopefully” gumam Yoongi sambil menghela napas.

-oOOo-

Sepeninggalan Yoongi, Yeeun kembali berjalan menyusuri trotoar. Dirinya berpikir bagaimana keadaan ibunya?  Harus kemana dia pergi sekarang? Kapan waktu yang tepat untuk pulang ke rumah? Pikirannya melantur kemana-mana namun tangannya tetap di situ, memegangi jaket milik laki-laki yang namanya tidak ia ketahui itu.

“Yeeun-ah?” Lamunan Yeeun buyar ketika seseorang memanggil namanya.

“… Hanbyul oppa?” Yeeun langsung berlari mendekati orang yang baru saja memanggil namanya itu. Yeeun memeluk laki-laki bernama Hanbyul itu dengan sangat erat.

“Oppa… hiks, hiks,” Yeeun tidak dapat menahan tangisannya. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan kakak satu-ayah-beda-ibu nya.

“Tenang dear, tenang. Ayo, kita ke apartmenku.” Hanbyul memegangi tubuh Yeeun dan mereka memasuki gedung apartment yang tepat berada di depan mereka.

Mereka memasuki lift dan menuju ke lantai 10 tempat di mana apartment Hanbyul berada. Sepanjang perjalanan sampai ke apartment tempat Hanbyul tinggal, Yeeun tidak melepaskan pelukannya, malahan semakin lama ia memeluk Hanbyul semakin erat. Laki-laki yang bersekolah di Amerika itu menghela napas. Ia tahu persis apa yang terjadi sehingga membuat adiknya tidak berada di rumah, dan dalam penampilan yang sangat kacau.

Ketika memasuki apartment, keduanya disambut oleh Dongwoo, sepupu dari keduanya. “Hai Hanbyul selamat da-“

Hanbyul mengisyaratkan Dongwoo untuk tidak berisik.

“… Yeeunie? Apa yang terjadi?” Menyadari kondisi yang dialami oleh sepupu perempuannya hanya dengan sekali melihat, Dongwoo mendekatinya, berlutut dan mengatup kedua pipi Yeeun yang pucat dan basah karena air mata dan hujan.

Hanbyul memberikan isyarat agar Dongwoo menyiapkan kamar untuk Yeeun, dan Dongwoo mengangguk tanda mengerti.

“Sebentar ya manis” ujar Dongwoo.

“Oppa bereskan kamar dulu” dengan itu Dongwoo melesat ke sebuah kamar.

Pelukan oppanya sangat hangat berlawanan dengan rasa dingin yang beberapa waktu lalu ia rasakan dan hal itu membuatnya rileks. Namun sayangnya Yeeun terlalu me-‘rileks’kan dirinya sehingga seluruh tubuhnya melemas dan akhirnya ia jatuh pingsan.

-oOOo-

“Tenang saja anak muda, motormu akan selesai dalam waktu 3 hari. Bengkel kami adalah bengkel terbaik di daerah ini. Kau tenang saja. Lagipula kerusakannya tidak begitu parah ‘kok.” Yoongi membuang napas lega mendengar ucapan montir bengkel.

Menurutnya sehari saja tanpa motor benar-benar siksaan. Tapi ia bersyukur dia hanya akan merasa tersiksa selama 3 hari, tidak sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Ia keluar dari bengkel dan berjalan kaki tanpa tujuan. Ia tidak mungkin pulang sebelum jam sekolah selesai. Ia sudah lelah bertikai terus dengan ayahnya mengenai masalah ini.

Sebenarnya sejak lulus SMP dulu, ia sudah tidak ingin melanjutkan sekolah di dalam negeri, ia sangat ingin melanjutkan sekolahnya di luar negeri. Namun ayahnya tidak mengizinkan hal tersebut.

“Sialan!” gerutunya sambil menendang kerikil di pinggir jalan.

Entah mengapa, entah bagaimana, Yoongi membawa dirinya sendir kembali ke lokasi di mana motornya terseruduk oleh truk. Ia bersender pada tembok di kiri jalan dan menatap ke halte bus yang berada di sebrang jalanan.

“Perempuan tadi…” gumamnya.

Ia menyenderkan kepalanya ke tembok. “Penampilannya kacau sekali. Apa dia kabur dari seseorang atau suatu tempat?”

“Siapa?”

Yoongi menoleh ke arah suara, ia tersenyum tipis pada laki-laki yang ternyata ada di sebelah kanannya itu.

“Bukan siapa-siapa, Ray.” Ia kembali menatap ke arah halte bus yang kosong itu. Orang yang ada di sebelahnya ini, Ray, adalah ketua baru dari geng motor tempat dirinya tergabung.

Sebenarnya Yoongi tidak begitu suka dengan lelaki ini karena entah mengapa ia dapat merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan lelaki yang setahun lebih muda darinya itu.

“Hhh, seorang perempuan? Jarang sekali.” Ujar Ray yang kini sudah berjongkok di sebelah kanan Yoongi.

“….”

“Kau ikut kumpul hari ini Sugaboy?”

Yoongi menggeleng. “Maaf Ray, aku rasa aku tidak bisa. Motorku sedang diperbaiki dan butuh 3 hari lamanya sampai motorku dapat kugunakan kembali.”

Ray tertawa mendengar jawaban Yoongi. Suara tawanya seperti tawa mengejek. “Kau bisa pakai motorku, aku punya banyak.”

Ray bangkit berdiri, ia mendelikkan kepalanya kepada Yoongi sebagai isyarat untuk mengikutinya. Yoongi mengangguk sebagai respon, namun ketika Ray sudah berbalik memunggunginya, ia memutar bola matanya.

[Yoongi’s POV]

Aku heran, why out of all people aku harus bertemu dengannya di hari yang menyebalkan ini. Sudah cukup. Aku sudah bertemu terlalu banyak orang menyebalkan hari ini. Si Kim Hyunil ‘Ray’ ini, si pengemudi truk, dan ….Aku tidak tahu namanya, tapi aku akan menyebutnya Baek Chihui (백치의: silly)

Sepintas terbayang di benakku wajahnya yang terlihat pucat. Apa jangan-jangan dia sedang sakit? Aku sendiri tidak tahu mengapa aku baru menyadari hal ini sekarang, aku rasa mungkin penyebabnya karena waktu itu emosiku terlalu menggebu.

“Hey Sugaboy, kemana jaket kesayanganmu itu?” Aku memutar bola mataku, rasanya aku ingin mengabaikan saja laki-laki ini.

“Ah itu aku pinjamkan kepada orang” jawabku asal.

“Oh begitu, pantas saja harimu sial hahaha.” Ray menepuk-nepuk pundakku.

Sok tahu sekali anak ini. Tapi daripada itu, apa meminjamkan adalah kata yang tepat? Aku sendiri tidak yakin. Aku mencoba kembali ke waktu tadi dalam pikiranku, mencari tahu mengapa aku memberikan jaketku kepada si Baek Chihui.

“Oh iya untuk ganti rugi…:” gumamku.

“Hm? Apa yang sedang kau pikirkan Suga?”

“Tidak ada yang aku pikirkan Ray.”

Aku menghela napas menyadari tindakanku. Kesempatan untuk bertemu lagi dengannya sangat kecil, mungkin kalau dijadikan skala maka skalanya adalah 1:10. Kota ini cukup besar, dan aku tidak tahu namanya, bahkan tidak tahu tempat tinggalnya. Apakah mungkin bagiku untuk dapat menemukannya? Kalau seharian mengendarai motor mungkin aku bisa menemukannya, dalam kondisi dia sedang tidak bersembunyi dari seseorang.

“Kita sampai.” Aku tersenyum lebar melihat garasi di hadapanku mulai terbuka dan sedikit demi sedikit aku dalam melihat deretan motor milik Ray.

Aku melangkah masuk ke dalam mengekori Ray sambil tersenyum puas. “I’m ready for party, sir!” ujarku.

[End of Yoongi’s POV]

-oOOo-

“Aku tidak tahu harus bagaimana…” Yeeun terisak, air matanya mengalir deras.

Mendengar cerita adiknya, Hanbyul menghela napas, merasa iba. Ia merangkul Yeeun dan mengusap-usap rambut panjang Yeeun.

“Aku tidak keberatan kalau kau tinggal di sini bersama denganku. Mom juga bisa tinggal di sini.”

“Mulai besok kau bisa mulai me-“

“Tapi bagaimana aku kembali ke rumah, oppa? Aku takut. Aku juga tidak tahu bagaimana keadaan eomma sekarang.”

Dongwoo keluar dari dalam kamar, ia mengenakan seragam polisi miliknya. Ia berjalan mendekati Hanbyul dan Yeeun yang sedang duduk di sofa. Ia kemudian berjongkok di hadapan sepupunya itu, menggenggam erat kedua tangannya.

“Hey, hey, tenang ya. Oppa akan mengecek keadaan rumahmu sekarang, Yeeunie.” Dongwoo tersenyum sambil menepuk-nepuk pelan pipi Yeeun.

“Kalau oppa melihat ayahmu masih memukuli ibumu, oppa akan langsung menangkapnya dan menjebloskannya ke penjara supaya ia tidak bisa mengganggu kalian lagi, arra?” Dongwoo mencoba meyakinkan Yeeun untuk tenang, meyakinkan Yeeun kalau ibunya akan selamat.

“…. Bukankah giliran kerjamu nanti malam?” tanya Hanbyul.

“Tugas seorang polisi adalah melindungi rakyat tak peduli siang ataupun malam, dan aku akan melakukan itu.” Jawab Dongwoo seraya bangkit berdiri dan mengenakan topi polisinya.

“Aku pergi dulu ya, sampai jumpa.” Dongwoo berjalan keluar dari pintu masuk apartment yang memang selalu terbuka itu.

Yeeun menatap punggung Dongwoo yang melangkah keluar dari apartment. Ia merasa bersyukur mempunyai sepupu sebaik dan semenyenangkan Dongwoo. Dalam hatinya ia berharap agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Dongwoo. Apabila hal itu terjadi, maka ia tidak akan memaafkan siapapun yang membuat hal itu terjadi, termasuk ayahnya.

“Dongwoo akan baik-baik saja Yeeun-ah.” Ujar Hanbyul.

“… Aku tahu,” sahut Yeeun.

“Dia pria yang hebat.” Lanjutnya.

“Apa kau ingin pintunya untuk ditutup?”

“Ah, tidak usah oppa, aku yakin di sini aman” Yeeun sendiri tidak menyadari sudah sejak kapan ia berhenti menangis.

Namun secara pasti hal itu terjadi semenjak Dongwoo menenangkan hatinya, dan meyakinkan dirinya bahwa ibunya akan baik-baik saja. Mendengarkan soothing word  dari officer Jang Dongwoo membuat rasa paniknya perlahan menghilang kemudian lenyap. Sedari kecil dulu, ia memang sudah sangat percaya kepada sepupunya yang satu itu.

“Yeeun, oppa akan membuat cemilan sore dulu, tunggu ya. Oppa akan membuatkanmu kue dan coklat panas terlezat sejagad raya.” Hanbyul menyalakan TV sebelum kemudian meninggalkan Yeeun ke dapur. Yeeun memperhatikan kakaknya itu berjalan ke dapur.

Jang Hanbyul, kakak dari ibu yang berbeda. Tidak begitu banyak memori yang ia miliki bersama laki-laki yang bersekolah di Amerika itu, namun dirinya ingat ketika dirinya masih berusia 5 tahun, Hanbyul sering mengajaknya bermain ke luar rumah setiap kali ayah mereka mengamuk. Tempat yang paling Yeeun ingat adalah toko permen di belokan jalan dekat tanjakan menuju ke rumah mereka. Permen di sana enak-enak dan harganya terjangkau oleh anak-anak seumuran Hanbyul.

Ketika Hanbyul berusia 17 tahun, ia mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di Amerika, dan dengan senang hati Hanbyul menyambut undangan tersebut.

“Hanbyul oppa~”panggil Yeeun.

Karena jarak dapur dan ruang tengah yang sangat dekat dan juga tanpa pembatas, Hanbyul dapat mendengar panggilan Yeeun. “Ada apa anak manis?” sahut Hanbyul yang masih sibuk membuat kue.

“… Bagaimana rasanya,” “Bagaimana rasanya tinggal di luar negeri?” Yang kini ada di pikiran Yeeun hanyalah satu, pergi bersama ibunya jauh-jauh dari ayahnya. Ia sangat ingin keluar dari ‘sangkar’. Ia ingin penderitaan ibunya dan juga penderitaannya segera berakhir.

Seolah menyadari apa yang sedang Yeeun pikirkan, Hanbyul meninggalkan dapur – meninggalkan adonan kue mengembang di dalam oven – dan berjalan menghampiri Yeeun yang duduk di sofa dengan menekuk kedua lututnya. Dengan tangan yang masih berlumuran terigu, Hanbyul mengacak-acak rambut Yeeun.

“Rasanya tidak semenyenangkan yang kau pikirkan. Memang terkadang seperti kata Sebastian di film Mermaid, The seaweed is always greener in somebody else’s lake,” Hanbyul menyayikan bait lirik tersebut.

“Sampai kau dan mom siap untuk tinggal di luar negeri, kalian bisa menetap di sini. Sampai kapanpun. Berapapun waktu yang kalian butuhkan, aku tidak akan mengusir kalian” ujarnya sambil kemudian mendaratkan kecupan lembut di kepala bagian atas adiknya.

TIING!

“Ah, nampaknya sudah matang. Tunggu ya Yeeun.” Hanbyul berlari kecil menuju ke dapur untuk menyajikan kue yang ia buat.

-oOOo-

Hari mulai gelap. Matahari sudah terbenam. Lampu-lampu di jalanan sudah mulai menyala. Suara bising yang ditimbulkan oleh motor yang berkeliaran memang tidak sampai ke apartment namun cahaya lampu motor-motor dapat terlihat jelas dari jendela di lantai 10 itu. Yeeun hampir tidak pernah keluar rumah di atas jam 7 sehingga ia tidak memperhatikan bahwa banyak sekali pengendara motor yang berkeliaran hingga nanti pagi datang. Tiba-tiba ia teringat akan motor milik laki-laki di halte bus tadi pagi. Ia masih memikirkan bagaimana cara mengganti rugi motor tersebut. Menggunakan seluruh tabungannya? Itu adalah hal yang gila. Yeeun tidak mau bertindak bodoh seperti itu untuk pria tidak dikenal yang juga menyebalkan. Walaupun Yeeun terus menganggapnya menyebalkan, ia tidak bisa memungkiri bahwa motor pria itu hancur gara-gara dirinya. Andai saja waktu itu dia langsung menyebrang, kejadian tadi tidak akan terjadi.

Sementara Yeeun sedang termenung di apartment Hanbyul yang berada di lantai 10 sebuah gedung, Yoongi bersama teman-teman segengnya di bawah sana mulai mengendarai motor dari base mereka, yaitu garasi tempat Ray menyimpan motor-motor miliknya.

“Bagaimana Sugaboy?”

Walaupun Yoongi tidak pernah menyukai Ray, tapi kali ini ia menjawab pertanyaannya sambil tertawa lebar. “This is great!” Ia mengacungkan jempol tangan kirinya sementara tangan kanannya mengendalikan kendali motor.

VROOM! VROOM!

Dengungan mesin-mesin motor itu saling berkejaran, tidak ada yang mau kalah. Yoongi membetulkan posisi helmnya dan ia mencodongkan tubuhnya ke depan, bak seorang pembalap motor professional. Ia mulai menambah speed sehingga motornya kini ada di bagian paling depan dari rombongan. Lampu demi lampu lalulintas dilalui oleh kelompok RUNNERS ini. Tidak peduli lampu berwarna merah atau hijau atau kuning, mereka terus melaju menerobos jalan. Beberapa keributan terjadi di perempatan karena mereka.

Yoongi yang masih berada di paling depan memulai aksinya. Bagian depan motor Triumph Daytona 675 berwarna merah yang ia kendarai terangkat. Yoongi melepaskan sebelah tangannya dari kemudi, ia menolehkan kepalanya ke belakang, ke arah teman-temannya sambil menyunggingkan seringaian.

-oOOo-

“Aku pulang!” suara Dongwoo yang lantang membangunkan Hanbyul yang sudah tertidur.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan suara apapun di sekitar apartment sudah tidak ada kecuali tadi, suara Dongwoo yang lantang. Hanbyul beranjak dari sofa tempat dirinya ketiduran menuju ke pintu untuk membukakannya.

“Hey~” Hanbyul menyapa Dongwoo sambil mengucek-ucek matanya yang terasa sepet. Dongwoo tersenyum sangat lebar,

“Aku ada kabar bagus.” “Hm? Masuklah, cerita di dalam,” Hanbyul menarik lengan Dongwoo agar masuk.

“Jadi begini,” ujar Dongwoo sambil melepaskan sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu yang terletak di sisi kanan pintu.

“Tadi aku ke rumah uncle, namun sudah tidak ada siapa-siapa.”

“Hm?” Hanbyul yang sangat mengantuk itu berusaha agak tidak tertidur. Ia duduk di sofa, kepalanya terantuk-antuk.

“Waktu aku bertanya kepada tetangga sebelah, katanya auntie sudah dilarikan ke rumah saktit dan uncle…” Dongwoo menghela napas.

“Dia sudah ditahan,”

“jadi ceritanya tadi tetangga mendengar ribut-ribut dari rumah unclei dan dia langsung menelepon polisi. Untungnya ada polisi yang sedang patroli di dekat sana sehingga tidak sampai 5 menit para polisi sudah masuk ke rumah dan menahan uncle.”

-oOOo-

Yoongi menepikan motor yang ia kendarai dan bergabung bersama anggota RUNNERS lainnya yang duduk mengelilingi ‘api unggun’. Langit malam memang selalu yang paling indah, sinar bulan dan bintang dapat terlihat dengan jelas, tidak seperti matahari yang bila dilihat akan menyakitkan mata.

Walaupun tempat tidak pernah sama, tetapi mereka, para anggota RUNNERS, selalu berkumpul di bawah langit malam. Suara obrolan dan tawa bercampur, terdengar sangat keras di malam yang sudah sepi. Yoongi mengambil sebuah balok kayu panjang yang teronggok di pinggiran jalan dan membawanya, meletakannya di antara teman-temannya. Ia duduk di atas balok itu, ikut berkumpul sambil berbincang.

“…. Iya, tadi aku bertemu dia di jalan,” Ray menepuk-nepuk pundak Yoongi.

“Air mukanya menyebalkan sekali, seperti orang yang patah hati, hahaha!”

Yoongi hanya memamerkan senyuman tipis. ‘Bagaimana aku tidak patah hati? Itu motor kesayanganku yang sedang kita bicarakan!’ batin Yoongi.

Kejadian tadi kembali muncul di benak Yoongi. Ia menghela napas dalam sambil memejamkan kedua matanya. Ia sangat berharap motornya akan selesai diperbaiki tepat waktu, sesuai dengan janji si pemilik bengkel. Kalau tidak, sebagai anggota geng motor, ia bisa memporak-porandakan bengkel tersebut bersama para anggota RUNNERS.

“Suu~ga~!” Yoongi menoleh ke arah suara. Di belakangnya berdiri Seunghee, kekasih dari Ray. Tapi menurut Yoongi, perempuan itu hanya seperti temannya Ray, karena…

Tangan Seunghee merayap di bahu dan lengan Yoongi yang hanya dibalut kaus putih. Yoongi mengatupkan kedua bibirnya, mencoba menahan keluhan yang akan keluar dari mulutnya. Seunghee berkali-kali membisikan betapa dingin lengan Yoongi dan betapa tidak biasanya ia tidak mengenakan jaket lusuh miliknya.

Ray yang duduk persis di samping Yoongi menyeringai kecil melihat tingkah kekasihnya itu. Ia mendekatkan bibirnya ke pipi Seunghee, memberikan kecupan yang kemudian perempuan itu balas dengan memberikan kecupan di hidung Ray.

[Yoongi’s POV]

Jemari Seunghee yang menempel di bahu dan lenganku membuat diriku merasa tidak nyaman, namun tingkah sepasang kekasih ini lebih membuatku tidak nyaman. Apakah normal untuk berbagi pasangan?

Aku mengepalkan tanganku, menahan diri untuk tidak menangkis Seunghee. Sebenarnya perempuan ini sangat baik dan manis, tetapi tetap saja aku tidak nyaman apabila kekasih seseorang memegang-megangku, bahkan di depan kekasihnya sendiri.

“Dia hari ini sial sekali aein (panggilan Ray untuk Seunghee).”

“Oh ya?” tanya Seunghee, tangannya mengusap-usap rambutku.

Ray tertawa. “Iya, tadi motornya ‘tersenggol’ oleh sebuah truk,”

“Aww,” Seunghee sedikit merengek di dekat telingaku.

“Kasihan sekali… Kapan akan selesai diperbaiki Suga?” Aku menoleh ke arahnya, menyingkirkan tangannya dari kepalaku sambil memamerkan sebuah fake-smile.

“Pemilik bengkel bilang akan segera selesai, jangan khawatir” ujarku.

Jangan khawatir? Apa yang tadi ucapkan? Seunghee terkekeh mendengar jawabanku, ia kemudian berpindah dan duduk di paha kanan Ray. Sambil menyenderkan bagian atas tubuhnya ke tubuh Ray, ia berbisik, seolah berbisik padahal tidak karena aku dapat mendengarnya dengan jelas.

“Kau lihat Ray, dia lucu sekali. Ia takut membuatku khawatir,” matanya melihat ke arahku.

“Dia memang lucu, aein. Kalian harus cepat-cepat menjadi pasangan,” Ray tertawa sambil mengusap-usap rambut panjang Seunghee, sambil melihat ke arahku juga.

Sangat menjijikan melihat pemandangan di hadapanku ini. Aku menahan badanku dengan kedua kakiku dan kemudian aku berdiri. Aku berjalan menghampiri pinggiran jembatan yang berwarna putih. Suara tawa dan obrolan masih terdengar jelas walaupun tempatku berdiri sekarang cukup jauh. Aku baru sadar ternyata selama ini kami seberisik ini. Aku tidak heran orang-orang seringkali menganggap kami sebagai gangguan masyarakat. Suara-suara ini mengingatkanku pada suara hujan tadi pagi, lalu, rangkaian kejadian yang terjadi pagi tadi muncul di benakku.

“Ah.. gadis tadi…” gumamku pelan. “Bagaimana keadaannya ya?”

[End of Yoongi’s POV]

“HEY! HEY! AYO CEPAT PERGI!” Suara salah satu anggota RUNNERS yang lantang itu membuyarkan Yoongi dari lamunannya.

Bukan itu saja, suara lantang tadi juga membuat panik anggota lain yang sedang berkumpul dan berbincang. Semua anggota RUNNERS berlarian ke motor mereka, begitu juga dengan Yoongi. Ia segera berlari menaiki motornya tanpa memakai helmnya terlebih dahulu. Kini mereka tidak lagi berkendara dalam kelompok, mereka berpencar. Bukan untuk menyelamatkan diri sendiri, melainkan untuk mengalihkan perhatian mobil patroli polisi yang hanya satu itu.

-oOOo-

Yeeun membuka matanya. Sinar matahari masuk dari jendela kamar tanpa tirai tempat ia tidur tadi malam. Ia berguling-guling di atas kasur empuk itu sambil memeluk gulingnya. Rasanya sudah bertahun-tahun lamanya ia bisa bersantai seperti ini di ranjang. Hari ini adalah hari Juma’t, hari sekolah.

Namun perempuan yang baru sembuh demam itu tidak peduli lagi. Ia sedang tidak ingin bersekolah. Yang ingin ia lakukan hari ini adalah kembali ke rumahnya untuk mengambil barang-barangnya dan pindah untuk tinggal di tempat ini bersama Ibunya.

“Eomma!” Yeeun terlonjak dan buru-buru keluar dari kamar.

“Selamat pagi, Yeeunie.”

“Pagi Yeeun-ah”

Dongwoo dan Hanbyul yang sudah duduk di sofa sambil menonton berita pagi tanpa menoleh ke arah Yeeun menyapa Yeeun.

“Dongwoo oppa.. Apakah eomma…” Yeeun tercekat. Ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia sungguh tidak ingin berpikiran buruk mengenai nasib ibunya, namun, pikiran mengerikan mengenai apa yang mungkin terjadi pada ibunya menghantui dirinya.

Dongwoo menoleh ke arah Yeeun dan melemparkan senyum, “Hal buruk tidak terjadi pada aunt, Yeeunie.”

Kedua mata Yeeun melebar karena kaget dan bahagia. Mulutnya menganga namun sepatah katapun tidak keluar.

“Hari ini kita akan menjenguknya di rumah sakit, siap berangkat sekarang anak manis?” Yeeun mengangguk-angguk.

“Ayo, kita berangkat” Hanbyul beranjak dari sofa disusul oleh Dongwoo dan keduanya berjalan ke arah pintu.

“Eh, eh! Tunggu dulu Byul oppa, Dongwoo oppa! Aku belum mandi!” Yeeun dengan panik menyusul kedua laki-laki itu.

Tawa meledak dari keduanya, tentu saja mereka hanya mengisengi Yeeun. Tidak mungkin mereka berangkat sekarang karena mereka juga masih belum mandi dan sarapan. Dan lagi mereka belum membeli buah-buahan untuk diberikan.

“Hahaha tadi katanya sudah siap” Hanbyul menggoda Yeeun.

Yeeun cemberut.

“Hahaha. Bercanda Yeeunnie. Ayo kita semua bersiap-siap dulu. Setelah sarapan kita ke supermarket di bawah dan membeli buah-buahan untuk auntie.” Dongwoo mengacak-acak rambut Yeeun yang masih berantakan.

-oOOo-

Yoongi dengan gusar membolak-balikan dirinya ke kanan kiri di atas kasurnya yang empuk. Dari semalam ia tidak bisa tidur, bahunya terasa sakit karena semalam ketika dalam pelarian, motornya naik ke trotoar sehingga bahunya menghantam tiang listrik cukup keras.

“Aduh,” ia meringis. Ia mencoba menggerak-gerakan bahunya, dan rasa melekit itu membuatnya memejamkan erat kedua matanya.

“Kenapa sakit sekali…” Yoongi menggerutu, “Sial.” Umpatnya.

Ia melihat jam dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 06.30 pagi. Sambil menghela napas ia memejamkan kedua matanya, mencoba untuk tidur.

‘Pukul 7 nanti aku akan ke rumah sakit’ pikirnya.

-oOOo-

Yeeun dan Yoongi sama-sama tidak tahu kalau mereka berdua akan bertemu di rumah sakit, mereka mempunyai tujuan masing-masing. Apa yang akan terjadi ketika keduanya bertemu? Akankah mereka masih ingat satu sama lain?

Iklan

Psst! I Know You Read This

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s